1 - Krisis
Hari itu, untuk pertama kalinya aku merasakan luapan emosi yang tak tertahankan. Selama ini, situasi sesulit apa pun selalu kuhadapi dengan senyuman yang tabah. Karena hal itu, teman-temanku bahkan menjulukiku 'Si Sabar.'
Akan tetapi, hari itu terasa sedikit berbeda. Entah dari mana keberanian itu datang tapi yang jelas aku melakukan hal itu. Iya, sebuah hal yang terasa mustahil kulakukan, tapi ternyata bisa.
Kalau dipikir-pikir jika bukan karena Aldi, mungkin aku nggak akan pernah duduk di depan laptop untuk menulis cerita ini. Yah, anggap saja ini special thanks untuk Aldi. Thanks ya bro udah menjadi awakening moment untuk aku.
Semua berawal dari bulan ke 3 magang yang kujalani di Agency design ternama di kotaku. Awalnya aku nggak terlalu berekspektasi banyak, yang perlu kulakukan hanyalah bekerja dengan baik. Tidak perlu terlalu mencolok, cukup stabil dan tetap jalan.
Hari demi hari berlalu seperti biasa, nggak ada yang spesial. Polanya selalu sama. Masuk kantor, kerja, istirahat, lanjut kerja, dan pulang. Tapi untungnya aku punya teman sesama magang yang baik dan seru banget.
Aldi Farhan, namanya. Kami baru berteman sejak masuk agency ini, tapi sebagai sesama anak magang kami jadi lebih cepat akrab dan merasa saling bergantung satu sama lain.
Jam istirahat menjadi pelarianku di tengah monotonnya kegiatan kantor. Kalau ngobrol sama Aldi, jam istirahat yang lama bakal terasa cepet banget, seakan-akan waktunya dilahap sama dia. Ia juga adalah orang yang suka membantu tanpa pamrih.
Jam kerja baru dimulai tapi brief tugas baru sudah diberikan. Untuk pertama kalinya kami menangani project yang sama. Kami bahkan akan mengikuti meeting yang biasanya hanya diikuti oleh para senior. Jadi bisa dibayangkan betapa besarnya scale project ini.
Setengah hari telah berlalu dan istirahat pun tiba. Untuk makan siang kami hanya sambil meneduh pop mie kuah di lounge. Menu itu pas dengan hawa kantor yang super dingin karena sedang hujan.
Kami bergantian meneduh air panas dan selagi membuka bumbu aku betutur, "kayaknya kalau ambil konsep photobooth asik ga sih?"
Dari ujung mataku Aldi tampak menyipitkan pandangannya meragukanku. "Akhir-akhir ini kan lagi marak-maraknya polaroid AI," tampaknya penjelasanku tak membantu mayakinkan Aldi sama sekali.
"Umm, justru malah rugi ga sih? Karena orang-orang pada pakai AI, photobooth sekarang udah nggak terlalu laku, bro. Orang-orang pasti akan milih yang gampang dan gratis." Aldi menegaskan sambil menghela napas, tetap pada pendiriannya.
"Nah, menurutku justru itu poin pentingnya. Gimana kita bisa ngubah pandangan orang yang semula pake polaroid AI, supaya mau balik lagi pake photobooth. Kita harus pinter mainin konsep dong." Aku melipat tangan di depan dadaku sambil berpikir sejenak.
Aldi mencondongkan badannya ke arahku, mulai tertarik. "Emangnya kamu ada ide apa sih? Sampai sampai bisa se-pede ini?"
"Mau tau banget?" Aku tersenyum tengil, mempermainkannya. "Mauuu," iya menggangguk berulang kali semangat.
Aku menoleh ke arah kiri dan kanan, memastikan bahwa tidak ada orang lain di ruangan itu. "Kamu tau game dress up kan? Yang kita bisa milih sendiri karakter yang mau kita buat. Nah.. disini kita pake konsep yang sama. Polaroid yg diambil akan menggunakan avatar yang udah kita buat. Selain membuat karakter yang kita mau, kita juga bisa foto bareng karakter itu seakan dia hidup. Jadi ini bukan sekedar photobooth biasa."
Aldi mengangguk paham sembari membulatkan mulutnya, menunujukkan rasa kagum terhadap ideku. "Tapi emang ngerealisasiinnya bakal susah dan butuh banyak budget sih," ujarku tak berharap banyak.
"Ngga papa lah. Menurutku idenya bagus kok! Kamu ajuin aja nanti pas meeting," ujar Aldi mendorongku.
"Nggak ah, pasti nggak bakal di acc juga. Percuma ide bagus tapi kalau susah direalisasiin," jawabku ogah-ogahan tapi realistis.
"Jadi kamu beneran gamau acc in idemu nih?" Aldi bertanya lagi, memastikan.
"Heem." Aku mulai menyeruput mieku yang sudah mengembang. Seharusnya aku nggak kebanyakan omong dan langsung makan aja.
Jam istirahat selesai. Kami dihimbau memasuki ruang meeting. Untuk pertama kalinya kami merasakan suasana meeting bersama para senior. Itu adalah pengalaman yang sangat berharga tentunya.
Meeting sudah dimulai selama 30 menit, dan tak ada satupun keheningan di ruangan itu. Semuanya sibuk memaparkan ide masing-masing dan berjuang memenangkannya. Mereka menjelaskan alasan ide-ide mereka layak dan harus dipilih dengan sangat logis.
Aku hanya duduk diam, menikmati tontonan seru yang ada di depanku. Sesuai dengan prinsipku, tidak mencolok dan terus jalan. Aku tidak akan membuka mulut sedikitpun kecuali jika dimintai pendapat oleh para senior.
Setelah mereka mulai capek dengan argumen-argumen mereka, Aldi mengangkat tangannya ragu sebelum mengeluarkan napas panjang. Ambisius juga ternyata dia. Pandangan lurusku kini berubah menyerong. Aku penasaran ide apa yang hendak disampaikan oleh Aldi.
"Saya ingin memberi ide photobooth karakter. Mungkin terdengar sangat biasa dan tidak menarik. Namun seperti yang kalian tahu, sekarang sedang marak penggunaan AI untuk polaroid maupun editing foto. Sehingga photobooth ataupun studio foto sudah mulai tidak laku."
Aldi menjelaskan dengan tenang dan berwibawa. Aku benar-benar speechless. Aku hanya bisa memandangi Aldi yang menjelaskan ideku seakan-akan itu miliknya sejak awal.
Aku menoleh untuk melihat reaksi sekitar dan mereka tampak tertarik dengan gagasan yang disampaikan oleh Aldi.
"Nah.. makanya kita harus pintar bermain konsep. Daripada hanya foto dengan properti biasa, kita akan membuat character session, kita bisa memilih seperti apa bentuk karakter kita. Lalu kita bisa foto bersama karakter buatan kita. Memang memakan banyak waktu, namun bukan hanya foto, tapi pengalaman juga bisa mereka dapatkan. Bagaimana mereka tertawa bersama teman mereka saat membuat karakter itu bersama, lalu mengabadikannya ke dalam foto."
Sh*t. Harus kuakui, dia sangat jago berbicara. Dia tau bagaimana cara mengambil hati orang lain. Bahkan aku pun tergoyang untuk memilih idenya.
Waktu tak terasa, kami sudah berada di penghujung meeting. Untuk mengambil keputusan mengenai ide yang akan dieksekusi, kami melakukan voting. Sesuai feelingku, ide Aldi memengkan votingnya.
Senior-senior lain bahkan memuji dan memberikan applause atas keberaniannya menyampaikan ide di meeting pertama. Aldi tersenyum menerima segala pujian itu. Bahkan, sedari tadi ia tidak menoleh sedikit pun ke arahku. Aku tidak tau, apakah ia tidak memiliki rasa malu sama sekali. Perasaanku campur aduk. Sedih, kesal, dan kecewa.
Meeting selesai, para senior keluar dari ruangan dan kembali ke mejanya masing-masing. Aku masih diam di tempatku tadi, begitupun Aldi. Entah kenapa ia tidak beranjak sedikit pun. Apakah ia akhirnya merasa bersalah?
Dengan helaan napas panjang, aku beranjak dari kursiku. Kupandangi wajah datarnya dengan tatapan paling sinis dan tidak mengenakkan.
"Dasar maling."
Satu kata itu reflek terucap dari mulutku. Di tengah keheningan ruang meeting, suaraku menggema memantul berulang kali keluar masuk telinga kami.
Aldi tetap diam. Tak bereaksi apa pun.
- Aku Versi Nanti
Akan tetapi, hari itu terasa sedikit berbeda. Entah dari mana keberanian itu datang tapi yang jelas aku melakukan hal itu. Iya, sebuah hal yang terasa mustahil kulakukan, tapi ternyata bisa.
Kalau dipikir-pikir jika bukan karena Aldi, mungkin aku nggak akan pernah duduk di depan laptop untuk menulis cerita ini. Yah, anggap saja ini special thanks untuk Aldi. Thanks ya bro udah menjadi awakening moment untuk aku.
Semua berawal dari bulan ke 3 magang yang kujalani di Agency design ternama di kotaku. Awalnya aku nggak terlalu berekspektasi banyak, yang perlu kulakukan hanyalah bekerja dengan baik. Tidak perlu terlalu mencolok, cukup stabil dan tetap jalan.
Hari demi hari berlalu seperti biasa, nggak ada yang spesial. Polanya selalu sama. Masuk kantor, kerja, istirahat, lanjut kerja, dan pulang. Tapi untungnya aku punya teman sesama magang yang baik dan seru banget.
Aldi Farhan, namanya. Kami baru berteman sejak masuk agency ini, tapi sebagai sesama anak magang kami jadi lebih cepat akrab dan merasa saling bergantung satu sama lain.
Jam istirahat menjadi pelarianku di tengah monotonnya kegiatan kantor. Kalau ngobrol sama Aldi, jam istirahat yang lama bakal terasa cepet banget, seakan-akan waktunya dilahap sama dia. Ia juga adalah orang yang suka membantu tanpa pamrih.
Jam kerja baru dimulai tapi brief tugas baru sudah diberikan. Untuk pertama kalinya kami menangani project yang sama. Kami bahkan akan mengikuti meeting yang biasanya hanya diikuti oleh para senior. Jadi bisa dibayangkan betapa besarnya scale project ini.
Setengah hari telah berlalu dan istirahat pun tiba. Untuk makan siang kami hanya sambil meneduh pop mie kuah di lounge. Menu itu pas dengan hawa kantor yang super dingin karena sedang hujan.
Kami bergantian meneduh air panas dan selagi membuka bumbu aku betutur, "kayaknya kalau ambil konsep photobooth asik ga sih?"
Dari ujung mataku Aldi tampak menyipitkan pandangannya meragukanku. "Akhir-akhir ini kan lagi marak-maraknya polaroid AI," tampaknya penjelasanku tak membantu mayakinkan Aldi sama sekali.
"Umm, justru malah rugi ga sih? Karena orang-orang pada pakai AI, photobooth sekarang udah nggak terlalu laku, bro. Orang-orang pasti akan milih yang gampang dan gratis." Aldi menegaskan sambil menghela napas, tetap pada pendiriannya.
"Nah, menurutku justru itu poin pentingnya. Gimana kita bisa ngubah pandangan orang yang semula pake polaroid AI, supaya mau balik lagi pake photobooth. Kita harus pinter mainin konsep dong." Aku melipat tangan di depan dadaku sambil berpikir sejenak.
Aldi mencondongkan badannya ke arahku, mulai tertarik. "Emangnya kamu ada ide apa sih? Sampai sampai bisa se-pede ini?"
"Mau tau banget?" Aku tersenyum tengil, mempermainkannya. "Mauuu," iya menggangguk berulang kali semangat.
Aku menoleh ke arah kiri dan kanan, memastikan bahwa tidak ada orang lain di ruangan itu. "Kamu tau game dress up kan? Yang kita bisa milih sendiri karakter yang mau kita buat. Nah.. disini kita pake konsep yang sama. Polaroid yg diambil akan menggunakan avatar yang udah kita buat. Selain membuat karakter yang kita mau, kita juga bisa foto bareng karakter itu seakan dia hidup. Jadi ini bukan sekedar photobooth biasa."
Aldi mengangguk paham sembari membulatkan mulutnya, menunujukkan rasa kagum terhadap ideku. "Tapi emang ngerealisasiinnya bakal susah dan butuh banyak budget sih," ujarku tak berharap banyak.
"Ngga papa lah. Menurutku idenya bagus kok! Kamu ajuin aja nanti pas meeting," ujar Aldi mendorongku.
"Nggak ah, pasti nggak bakal di acc juga. Percuma ide bagus tapi kalau susah direalisasiin," jawabku ogah-ogahan tapi realistis.
"Jadi kamu beneran gamau acc in idemu nih?" Aldi bertanya lagi, memastikan.
"Heem." Aku mulai menyeruput mieku yang sudah mengembang. Seharusnya aku nggak kebanyakan omong dan langsung makan aja.
Jam istirahat selesai. Kami dihimbau memasuki ruang meeting. Untuk pertama kalinya kami merasakan suasana meeting bersama para senior. Itu adalah pengalaman yang sangat berharga tentunya.
Meeting sudah dimulai selama 30 menit, dan tak ada satupun keheningan di ruangan itu. Semuanya sibuk memaparkan ide masing-masing dan berjuang memenangkannya. Mereka menjelaskan alasan ide-ide mereka layak dan harus dipilih dengan sangat logis.
Aku hanya duduk diam, menikmati tontonan seru yang ada di depanku. Sesuai dengan prinsipku, tidak mencolok dan terus jalan. Aku tidak akan membuka mulut sedikitpun kecuali jika dimintai pendapat oleh para senior.
Setelah mereka mulai capek dengan argumen-argumen mereka, Aldi mengangkat tangannya ragu sebelum mengeluarkan napas panjang. Ambisius juga ternyata dia. Pandangan lurusku kini berubah menyerong. Aku penasaran ide apa yang hendak disampaikan oleh Aldi.
"Saya ingin memberi ide photobooth karakter. Mungkin terdengar sangat biasa dan tidak menarik. Namun seperti yang kalian tahu, sekarang sedang marak penggunaan AI untuk polaroid maupun editing foto. Sehingga photobooth ataupun studio foto sudah mulai tidak laku."
Aldi menjelaskan dengan tenang dan berwibawa. Aku benar-benar speechless. Aku hanya bisa memandangi Aldi yang menjelaskan ideku seakan-akan itu miliknya sejak awal.
Aku menoleh untuk melihat reaksi sekitar dan mereka tampak tertarik dengan gagasan yang disampaikan oleh Aldi.
"Nah.. makanya kita harus pintar bermain konsep. Daripada hanya foto dengan properti biasa, kita akan membuat character session, kita bisa memilih seperti apa bentuk karakter kita. Lalu kita bisa foto bersama karakter buatan kita. Memang memakan banyak waktu, namun bukan hanya foto, tapi pengalaman juga bisa mereka dapatkan. Bagaimana mereka tertawa bersama teman mereka saat membuat karakter itu bersama, lalu mengabadikannya ke dalam foto."
Sh*t. Harus kuakui, dia sangat jago berbicara. Dia tau bagaimana cara mengambil hati orang lain. Bahkan aku pun tergoyang untuk memilih idenya.
Waktu tak terasa, kami sudah berada di penghujung meeting. Untuk mengambil keputusan mengenai ide yang akan dieksekusi, kami melakukan voting. Sesuai feelingku, ide Aldi memengkan votingnya.
Senior-senior lain bahkan memuji dan memberikan applause atas keberaniannya menyampaikan ide di meeting pertama. Aldi tersenyum menerima segala pujian itu. Bahkan, sedari tadi ia tidak menoleh sedikit pun ke arahku. Aku tidak tau, apakah ia tidak memiliki rasa malu sama sekali. Perasaanku campur aduk. Sedih, kesal, dan kecewa.
Meeting selesai, para senior keluar dari ruangan dan kembali ke mejanya masing-masing. Aku masih diam di tempatku tadi, begitupun Aldi. Entah kenapa ia tidak beranjak sedikit pun. Apakah ia akhirnya merasa bersalah?
Dengan helaan napas panjang, aku beranjak dari kursiku. Kupandangi wajah datarnya dengan tatapan paling sinis dan tidak mengenakkan.
"Dasar maling."
Satu kata itu reflek terucap dari mulutku. Di tengah keheningan ruang meeting, suaraku menggema memantul berulang kali keluar masuk telinga kami.
Aldi tetap diam. Tak bereaksi apa pun.
- Aku Versi Nanti
Other Stories
Kisah Cinta Super Hero
cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Kehidupan Yang Sebelumnya
Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...
Nyanyian Hati Seruni
Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...
Testing
testing ...