Bab 1 – Keinginan Hati
Siang itu, sinar matahari menembus jendela kamar rumah nenek, memantul pada debu-debu halus yang melayang di udara.
Sepulang kuliah, Alisa menanggalkan lelahnya. Dengan tangan yang belum sempat beristirahat, ia bergegas mencuci, memasak, dan menyiapkan makan siang.
Setelah semua selesai, ia kembali ke kamar sederhana yang ia tinggali bersama adiknya, Alira. Di dalamnya hanya ada sebuah meja kayu tua, lemari cokelat keemasan, dan tempat tidur yang sedikit berantakan.
Ia duduk di tepi kasur, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Siang yang seharusnya menjadi waktu beristirahat berubah menjadi rangkaian pekerjaan tanpa henti.
Di depan meja belajar, Alira yang lebih muda enam tahun menatapnya dengan sorot mata polos penuh harap.
“Kak, bantuin aku ngerjain PR matematika, ya?” pintanya pelan sambil membolak-balikan buku.
Alisa tersenyum tipis, meski kepalanya terasa berat. “Sebentar ya, Kakak setrika baju dulu,” ujarnya lembut. Ia lalu menyingkirkan tumpukan pakaian di kursi dan mulai menyetrika satu per satu sambil sesekali melirik Alira yang mulai gelisah menunggu.
Dari ruang tamu terdengar suara nenek, tegas namun akrab. “Alisa! Jangan lupa sapu rumah!” Ia menunduk sebentar, menahan napas, lalu kembali ke setrikaan. Rasanya setiap sudut rumah memanggil namanya.
Setelah semua pakaian rapi, Alisa duduk di samping Alira. Dengan sabar ia membimbing tangan adiknya menulis jawaban demi jawaban, memperhatikan raut puas di wajah Alira setiap kali satu soal terselesaikan.
Namun pandangannya kemudian tertuju pada sebuah buku harian tua di atas meja lain. Sampulnya sudah pudar, tapi di dalamnya penuh coretan perasaan yang ia simpan selama ini. Perlahan, Alisa membuka halaman pertama didalamnya tertulis:
"Kapan ya aku punya kakak…"
Matanya terasa panas, kenangan masa kecilnya berkelebat. Ia teringat saat pertama kali menulis diary rahasia.
Tapi diary rahasia itu tak bertahan lama. Ayahnya pernah membacanya, lalu menegur dengan wajah serius. “Alisa, lain kali jangan menulis hal seperti itu.”
Kata-kata ayah terdengar seperti nasihat, tetapi bagi Alisa saat itu terasa seperti angin dingin yang memadamkan keberanian kecilnya. Ia menutup diary dengan tangan gemetar, sambil menahan air mata.
Kini, duduk di kamar yang sama dengan Alira, Alisa kembali merasakan perasaan itu. Bedanya, ia telah tumbuh menjadi gadis yang lebih dewasa.
Ia merasa lelah, tetapi ia tidak bisa menunjukkan kelemahan itu. Tidak pada nenek, tidak pada Alira, dan juga tidak pada dirinya sendiri.
Alisa memandang ke luar jendela, membayangkan masa kecil yang bebas, bermain, tertawa, dan menangis tanpa beban tanggung jawab. Betapa ia ingin memiliki seorang kakak yang bisa menuntun dan melindunginya.
Namun kenyataan selalu berbeda. Alisa menghela napas panjang, menutup buku catatannya, dan kembali menatap Alira. Ia harus membantu adiknya menyelesaikan PR, menyetrika pakaian yang belum selesai, dan merapikan rumah sesuai arahan nenek.
Semua itu menuntutnya untuk tetap sabar, meski di dalam hati, ia berteriak ingin dimengerti.
Sepulang kuliah, Alisa menanggalkan lelahnya. Dengan tangan yang belum sempat beristirahat, ia bergegas mencuci, memasak, dan menyiapkan makan siang.
Setelah semua selesai, ia kembali ke kamar sederhana yang ia tinggali bersama adiknya, Alira. Di dalamnya hanya ada sebuah meja kayu tua, lemari cokelat keemasan, dan tempat tidur yang sedikit berantakan.
Ia duduk di tepi kasur, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Siang yang seharusnya menjadi waktu beristirahat berubah menjadi rangkaian pekerjaan tanpa henti.
Di depan meja belajar, Alira yang lebih muda enam tahun menatapnya dengan sorot mata polos penuh harap.
“Kak, bantuin aku ngerjain PR matematika, ya?” pintanya pelan sambil membolak-balikan buku.
Alisa tersenyum tipis, meski kepalanya terasa berat. “Sebentar ya, Kakak setrika baju dulu,” ujarnya lembut. Ia lalu menyingkirkan tumpukan pakaian di kursi dan mulai menyetrika satu per satu sambil sesekali melirik Alira yang mulai gelisah menunggu.
Dari ruang tamu terdengar suara nenek, tegas namun akrab. “Alisa! Jangan lupa sapu rumah!” Ia menunduk sebentar, menahan napas, lalu kembali ke setrikaan. Rasanya setiap sudut rumah memanggil namanya.
Setelah semua pakaian rapi, Alisa duduk di samping Alira. Dengan sabar ia membimbing tangan adiknya menulis jawaban demi jawaban, memperhatikan raut puas di wajah Alira setiap kali satu soal terselesaikan.
Namun pandangannya kemudian tertuju pada sebuah buku harian tua di atas meja lain. Sampulnya sudah pudar, tapi di dalamnya penuh coretan perasaan yang ia simpan selama ini. Perlahan, Alisa membuka halaman pertama didalamnya tertulis:
"Kapan ya aku punya kakak…"
Matanya terasa panas, kenangan masa kecilnya berkelebat. Ia teringat saat pertama kali menulis diary rahasia.
Tapi diary rahasia itu tak bertahan lama. Ayahnya pernah membacanya, lalu menegur dengan wajah serius. “Alisa, lain kali jangan menulis hal seperti itu.”
Kata-kata ayah terdengar seperti nasihat, tetapi bagi Alisa saat itu terasa seperti angin dingin yang memadamkan keberanian kecilnya. Ia menutup diary dengan tangan gemetar, sambil menahan air mata.
Kini, duduk di kamar yang sama dengan Alira, Alisa kembali merasakan perasaan itu. Bedanya, ia telah tumbuh menjadi gadis yang lebih dewasa.
Ia merasa lelah, tetapi ia tidak bisa menunjukkan kelemahan itu. Tidak pada nenek, tidak pada Alira, dan juga tidak pada dirinya sendiri.
Alisa memandang ke luar jendela, membayangkan masa kecil yang bebas, bermain, tertawa, dan menangis tanpa beban tanggung jawab. Betapa ia ingin memiliki seorang kakak yang bisa menuntun dan melindunginya.
Namun kenyataan selalu berbeda. Alisa menghela napas panjang, menutup buku catatannya, dan kembali menatap Alira. Ia harus membantu adiknya menyelesaikan PR, menyetrika pakaian yang belum selesai, dan merapikan rumah sesuai arahan nenek.
Semua itu menuntutnya untuk tetap sabar, meski di dalam hati, ia berteriak ingin dimengerti.
Other Stories
Dua Bintang
Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...
Terlupakan
Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...
My 24
Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...
Kk
jjj ...
Cinta Di Balik Rasa
memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...