Bab 3 – Babak Baru
Hari itu, pagi terasa berbeda. Mobil pikap berhenti di depan rumah nenek, siap mengangkut tumpukan kardus dan koper. Di halaman, Alisa dan Alira membantu ayahnya menata barang. Suara ayam berkokok bercampur dengan derit kardus yang diseret ke teras.
“Barang-barang ini cukup, Kak?” tanya Alira sambil mengikatkan tali sepatunya. Wajahnya serius, tidak ada tawa-tawa berlebihan.
“Cukup, Ra. Tinggal koper Ayah aja,” jawab Alisa, tersenyum tipis.
Nenek berdiri di ambang pintu, melambaikan tangan. Wajahnya menyimpan senyum sekaligus kesedihan. “Jaga diri kalian baik-baik, ya. Jangan lupa sering pulang,” pesannya, suaranya serak menahan haru.
Mobil pun melaju. Jalanan yang berkelok mereka lalui membawa pada babak baru. Di kursi belakang, Alira menatap keluar jendela, memperhatikan sawah yang berganti gedung-gedung.
“Kak,” ujarnya pelan, “menurutmu… kita bakal betah nggak di rumah baru?”
Alisa meliriknya. Ada rasa bangga sekaligus terharu karena adiknya sudah bisa berpikir sejauh itu. “Entahlah, Ra. Tapi kita coba jalani aja,” jawabnya lembut.
Beberapa jam kemudian, mobil berhenti di depan rumah baru. Rumah itu lebih besar dari rumah nenek, dengan cat dinding krem dan pagar besi hitam yang kokoh. Halamannya luas, ada pohon mangga di sudut, dan teras yang dihiasi pot-pot bunga.
Di depan pintu, ibu baru mereka sudah menunggu bersama dua anaknya yaitu Kirana dan Arina.
“Selamat datang di rumah kita,” sambutnya dengan senyum hangat. Kirana dan Arina berdiri di sampingnya, malu-malu.
Ayah turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Alisa dan Alira. “Ayo, ini rumah kita sekarang,” katanya dengan nada penuh keyakinan.
Alisa melangkah masuk dengan hati-hati. Lantai marmer berkilau, aroma kayu baru memenuhi udara, dan di ruang tamu tergantung foto keluarga lama mereka. Hatinya tercekat. Langkahnya terasa berat.
Kamar mereka sudah disiapkan. Kamar Alisa dan Alira bersebelahan dengan kamar Kirana dan Arina.
Alira menaruh tasnya di kursi, lalu duduk sebentar. “Kamarnya bagus, ya, Kak. Tapi… aku masih kangen kamar kita di rumah nenek.”
Alisa duduk di sampingnya, menepuk bahunya. “Kakak juga, Ra.”
Malam itu, lampu-lampu rumah baru menyala terang. Dari kamar sebelah, suara Kirana dan Arina terdengar jelas, tawa, cerita, dan sedikit gaduh.
Alira ikut mendengar, lalu bergumam pelan, “Sepertinya mereka seru, ya. Tapi… aku nggak tahu bisa langsung akrab atau nggak.”
Alisa memandang adiknya, kagum karena Alira tidak sekadar larut dalam euforia, tapi juga jujur soal perasaannya. “Santai aja, Ra. Kita nggak harus langsung akrab. Pelan-pelan.”
Kemudian ia menatap bayangan dirinya di kaca jendela, memeluk lututnya. Dalam hatinya ia berbisik, “Mulai sekarang, ini rumahku juga… tapi kenapa rasanya bukan seperti rumah?”
“Barang-barang ini cukup, Kak?” tanya Alira sambil mengikatkan tali sepatunya. Wajahnya serius, tidak ada tawa-tawa berlebihan.
“Cukup, Ra. Tinggal koper Ayah aja,” jawab Alisa, tersenyum tipis.
Nenek berdiri di ambang pintu, melambaikan tangan. Wajahnya menyimpan senyum sekaligus kesedihan. “Jaga diri kalian baik-baik, ya. Jangan lupa sering pulang,” pesannya, suaranya serak menahan haru.
Mobil pun melaju. Jalanan yang berkelok mereka lalui membawa pada babak baru. Di kursi belakang, Alira menatap keluar jendela, memperhatikan sawah yang berganti gedung-gedung.
“Kak,” ujarnya pelan, “menurutmu… kita bakal betah nggak di rumah baru?”
Alisa meliriknya. Ada rasa bangga sekaligus terharu karena adiknya sudah bisa berpikir sejauh itu. “Entahlah, Ra. Tapi kita coba jalani aja,” jawabnya lembut.
Beberapa jam kemudian, mobil berhenti di depan rumah baru. Rumah itu lebih besar dari rumah nenek, dengan cat dinding krem dan pagar besi hitam yang kokoh. Halamannya luas, ada pohon mangga di sudut, dan teras yang dihiasi pot-pot bunga.
Di depan pintu, ibu baru mereka sudah menunggu bersama dua anaknya yaitu Kirana dan Arina.
“Selamat datang di rumah kita,” sambutnya dengan senyum hangat. Kirana dan Arina berdiri di sampingnya, malu-malu.
Ayah turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Alisa dan Alira. “Ayo, ini rumah kita sekarang,” katanya dengan nada penuh keyakinan.
Alisa melangkah masuk dengan hati-hati. Lantai marmer berkilau, aroma kayu baru memenuhi udara, dan di ruang tamu tergantung foto keluarga lama mereka. Hatinya tercekat. Langkahnya terasa berat.
Kamar mereka sudah disiapkan. Kamar Alisa dan Alira bersebelahan dengan kamar Kirana dan Arina.
Alira menaruh tasnya di kursi, lalu duduk sebentar. “Kamarnya bagus, ya, Kak. Tapi… aku masih kangen kamar kita di rumah nenek.”
Alisa duduk di sampingnya, menepuk bahunya. “Kakak juga, Ra.”
Malam itu, lampu-lampu rumah baru menyala terang. Dari kamar sebelah, suara Kirana dan Arina terdengar jelas, tawa, cerita, dan sedikit gaduh.
Alira ikut mendengar, lalu bergumam pelan, “Sepertinya mereka seru, ya. Tapi… aku nggak tahu bisa langsung akrab atau nggak.”
Alisa memandang adiknya, kagum karena Alira tidak sekadar larut dalam euforia, tapi juga jujur soal perasaannya. “Santai aja, Ra. Kita nggak harus langsung akrab. Pelan-pelan.”
Kemudian ia menatap bayangan dirinya di kaca jendela, memeluk lututnya. Dalam hatinya ia berbisik, “Mulai sekarang, ini rumahku juga… tapi kenapa rasanya bukan seperti rumah?”
Other Stories
Cuti Untuk Pikiran
Kamu mungkin tidak kekurangan tempat untuk dituju, tapi sering kekurangan ruang untuk bena ...
Kidung Vanili
Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...
32 Detik
Hanya 32 detik untuk menghancurkan cinta dan hidup Kirana. Saat video pribadinya bocor, du ...
Namaku Amelia
Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...
Devils Bait
Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...