Diary Anak Pertama

Reads
713
Votes
1
Parts
7
Vote
Report
Penulis Cell

Bab 6 – Rindu

Ayah kini bekerja di luar kota. Semula, Alisa sempat berharap kehadiran ayah bisa jadi penyeimbang dalam rumah tangga yang mulai terasa berat sebelah.

Tapi dengan pekerjaan baru itu, Ayah hanya pulang sekali dalam waktu dua minggu. Dan ketika pulang pun, ia lebih sering terlelap di kamar karena kelelahan.

Hari-hari di rumah sepenuhnya berada dalam kendali Bu Ratna.

Alisa dan Alira sering saling menatap dalam diam, seolah paham bahwa mulai sekarang mereka hanya punya diri mereka sendiri.

Suatu sore, rumah mendadak ramai. Suara Arina terdengar nyaring dari ruang tamu.

“Bu! Gelang aku hilang! Yang warna emas itu, yang dikasih Tante kemarin!”

Kirana ikut bersuara, “Iya, Bu, aku lihat terakhir di meja. Terus tiba-tiba ilang. Jangan-jangan ada yang ambil…” Matanya menoleh ke arah Alira, yang kebetulan baru masuk rumah seusai bermain bola di halaman.

“Bukan aku!” seru Alira cepat, wajahnya pucat. “Aku nggak tahu gelang itu.”

Arina mendengus. “Tapi kamu tadi lewat ruang tamu, kan? Jangan-jangan kamu yang iseng.”

“Bukan! Sumpah bukan aku!” suara Alira bergetar, matanya berkaca-kaca.

Namun tuduhan itu sudah terlanjur menempel. Kirana dan Arina sama-sama mengerucutkan bibir, tatapan mereka penuh curiga.

Bu Ratna mendekat, alisnya mengernyit. “Alira, kamu jujur sama Ibu. Kalau kamu yang ambil, bilang. Jangan malu. Nanti Ibu maafkan, tapi jangan bohong.”

Alira menggeleng keras-keras, air matanya jatuh. “Bukan aku, Bu! Aku nggak pernah pegang barang itu.”

Alisa yang berdiri di pojok merasa darahnya mendidih. Ia tahu betul adiknya bukan tipe anak yang suka mengambil barang orang lain. Alira mungkin polos, kadang ceroboh, tapi ia jujur.

“Bu, aku yakin Alira nggak salah,” kata Alisa, berusaha menahan getar suaranya.

“Tapi barangnya hilang, Lis. Masa iya kebetulan pas dia ada di rumah?” jawab Bu Ratna datar, matanya tetap tertuju pada Alira.

Adegan itu menyesakkan dada Alisa. Bagian tersakitnya adalah melihat adiknya dituduh tanpa bukti, dipaksa mengaku atas sesuatu yang tak pernah ia lakukan.

Alira menunduk, bahunya bergetar. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.

Dan anehnya, meski yang dituduh Alira, justru Alisa yang menangis lebih dulu. Air matanya jatuh deras, membasahi pipinya. Ia menatap Alira, merasakan perih yang sama—bahkan lebih.

“Kenapa selalu kita, Ra…” bisik Alisa dalam hati.

Malamnya, Alisa kembali menangis. Tapi kali ini tangisannya berbeda. Bukan sekadar luapan lelah, bukan lagi amarah yang dipendam. Malam itu ia menangis keras-keras, seolah ingin dunia tahu betapa rindunya ia pada ibunya.

Ia teringat masa kecil, saat ibunya masih hidup. Rumah mereka sederhana, tapi hangat. Setiap pagi ada pelukan, ada senyum. Saat ia jatuh sakit, ibunya rela bergadang semalaman untuk merawatnya. Saat ia ketakutan, ibunya memeluk erat sampai rasa takut itu hilang.

Andai ibu masih ada, mungkin rumah ini akan penuh tawa. Mungkin ia tak akan merasa sendirian. Mungkin Alira tak akan dituduh sembarangan. Mungkin mereka akan jadi keluarga yang "Cemara", keluarga yang bahagia.

Tangisnya pecah, membanjiri kamar yang gelap.

Bu Ratna mendengar suara tangisan itu, tapi tidak menghampiri. Ia hanya berdiri sebentar di depan pintu, lalu berkata dengan nada dingin:

“Percuma kamu nangis, Lis. Ibumu nggak akan hidup lagi. Berhentilah meratap.”

Kalimat itu bagai pisau yang menembus jantung. Alisa terdiam, lalu menangis semakin kencang. Bukan untuk melawan, tapi untuk meredam sesak yang makin berat.

Ia merasa semakin hampa. Bahkan saat ia berani menunjukkan sisi rapuhnya, tak ada yang peduli.

Setelah tangisnya reda, Alisa mengambil buku harian dari laci meja belajarnya. Sampulnya sudah lusuh, pinggirannya mulai terkelupas. Namun hanya di sanalah ia bisa menaruh segala beban.

Tangannya bergetar saat menulis:

"Hari ini Alira dituduh mencuri. Padahal aku tahu, adikku itu tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Tapi kenapa Dia lebih percaya pada tuduhan daripada pada kebenaran? Kenapa Dia tidak pernah melihat kami apa adanya? Rasanya sakit sekali. Lebih sakit dari semua pekerjaan rumah yang harus aku lakukan. Aku ingin sekali memeluk Ibu kandungku. Aku rindu… rindu sekali. Kalau saja Ibu masih ada, aku yakin hidupku tak akan seberat ini."

Tinta menodai halaman, kertasnya basah bercampur dengan air mata yang jatuh tanpa bisa ditahan.

Hari-hari setelah itu berjalan seperti biasa, atau lebih tepatnya pura-pura biasa. Gelang Arina tiba-tiba ditemukan di dalam laci kamarnya sendiri. Tapi tak ada yang meminta maaf pada Alira. Seolah kejadian tuduhan itu tak pernah ada.

Yang lebih menyakitkan lagi, saat Ayah pulang untuk akhir pekan, suasana rumah mendadak berubah.

Bu Ratna menampilkan wajah lembut. Ia menyiapkan makanan favorit Ayah, bercanda dengan Kirana dan Arina, bahkan berpura-pura memuji Alisa.

“Lis, kamu rajin sekali ya. Ibu senang punya anak setelaten kamu,” katanya sambil tersenyum manis.

Ayah mengangguk puas, “Bagus. Memang harus saling bantu di rumah.”

Alisa hanya menunduk. Senyum itu bukan untuknya, bukan tulus. Itu hanyalah topeng yang dikenakan Bu Ratna di depan Ayah.

Sakitnya bukan main.

Malam harinya, saat Ayah sudah tidur, Alisa duduk di meja belajar dengan diary terbuka. Ia menulis lagi:

"Lucu sekali. Saat Ayah ada, semuanya mendadak baik. Seolah aku adalah anak yang dibanggakan. Padahal baru kemarin aku dihina saat menangis karena merindukan ibuku. Aku sudah tidak tahu lagi, mana keluarga sungguhan, mana sandiwara. Kadang aku iri pada mereka yang punya rumah sederhana tapi penuh tawa. Karena rumahku megah, tapi hatiku selalu dingin dan kosong."

Ia menutup diary itu erat-erat, lalu merebahkan diri di kasur. Pandangannya kosong ke langit-langit.

Alisa bergumam dalam hati, "Aku berjanji kalau suatu hari nanti, Aku akan keluar dari rumah ini untuk mencari kebahagiaan dengan caraku sendiri. Dan aku akan membawa Alira bersamaku."

Tangisnya sudah kering. Yang tersisa hanyalah tekad yang perlahan tumbuh di balik luka.


Other Stories
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...

Sumpah Cinta

Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...

Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

Flower From Heaven

Setelah lulus SMA, Sekar Arum tidak melanjutkan kuliah seperti dua saudara kembarnya, Dyah ...

Menantimu

Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Download Titik & Koma