Diary Anak Pertama

Reads
714
Votes
1
Parts
7
Vote
Report
Diary anak pertama
Diary Anak Pertama
Penulis Cell

Bab 7 – Hadiah Dari Kesabaran

Hari-hari berjalan seperti roda yang berputar di tempat. Pagi hari, Alisa bangun lebih cepat daripada yang lain. Siangnya, ia kuliah dengan tubuh yang lelah. Malam, ia kembali ke rumah hanya untuk menghadapi tumpukan piring, jemuran, dan komentar. Semua rutinitas itu seperti lingkaran tanpa ujung.

Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tidak pernah mati yaitu tekad Alisa. Ia menulis di diary, ia menangis diam-diam, tapi setelah itu ia selalu bangkit. Bagi kebanyakan orang, mungkin itu terlihat seperti kelemahan. Tapi bagi Alisa, itu adalah cara untuk bertahan hidup.

Waktu berlalu. Hari-hari penuh gesekan menjelma menjadi bulan, lalu tahun. Alisa semakin dewasa. Tubuhnya tetap ringkih, tapi tatapannya tajam. Ia sudah terbiasa memikul beban. Namun di sela itu, ia tetap menjaga satu hal yang paling berharga: PENDIDIKAN.

Ia tahu, hanya dengan kuliah ia bisa keluar dari jeruji tak kasat mata yang membelenggunya. Hanya dengan ilmu ia bisa membuka pintu yang selama ini tertutup.

Maka meskipun harus belajar dengan mata sembab setelah menangis, meskipun harus mengetik makalah di sela mencuci piring, meskipun harus mengerjakan tugas kelompok sendirian karena tak sempat kumpul, Alisa tidak menyerah.

Hari kelulusan pun tiba. Kampus dipenuhi bunga, toga, dan senyum bahagia. Di antara lautan wisudawan, Alisa berdiri dengan toga hitam dan senyum tipis. Ia melangkah ke panggung dengan hati bergetar.

Ketika namanya dipanggil, tepuk tangan menggema. Ayahnya hadir, duduk di kursi tamu, menatap bangga. Bu Ratna juga datang, dengan wajah tersenyum seolah semua perjuangan Alisa adalah hasil bimbingannya.

Namun di hati Alisa, hanya ada satu bayangan: ibunya.

Saat menerima ijazah, matanya berkaca-kaca. Ia tahu, perempuan yang paling ingin ia tunjukkan kebahagiaan ini sudah lama tiada. Tapi entah bagaimana, ia yakin ibunya ada di sana, menatap dari jauh.

"Bu, aku berhasil. Meski tanpa pelukanmu, aku tetap berdiri. Meski dengan banyak luka, aku tetap berjalan."

Hari kelulusan hanyalah awal. Setelah itu, dunia kerja menunggu. Alisa tidak ingin terjebak di rumah lebih lama. Ia mulai melamar pekerjaan, dari satu perusahaan ke perusahaan lain.

Penolakan datang berkali-kali, tapi ia tidak berhenti. Hingga suatu hari, sebuah email masuk dari perusahaan teknologi di Jepang menerima aplikasinya untuk program kerja internasional.

Tangannya gemetar saat membaca kalimat itu. Seakan dunia berhenti sesaat. Ia memejamkan mata, lalu menangis. Kali ini bukan tangis perih, tapi tangis syukur.

“Ya Tuhan… ini hadiah-Mu, ya? Setelah semua air mata yang kutumpahkan, Kau tunjukkan jalan keluar."

Malam sebelum keberangkatan, Alisa duduk di meja belajar yang sudah menemaninya bertahun-tahun. Diary tua itu terbuka. Halamannya penuh coretan, penuh kisah luka, penuh doa yang ia tulis dalam diam.

Dengan pena, ia menambahkan satu catatan terakhir:

"Hari ini, aku resmi diterima kerja di Jepang. Rasanya seperti mimpi. Semua luka, semua air mata, semua kesepian… ternyata tidak sia-sia. Tuhan memberiku hadiah, bukan hanya pekerjaan, tapi kesempatan untuk hidup baru. Aku percaya, andai Ibu masih ada, beliau akan tersenyum dan berkata: 'Kamu hebat, Lis.' Dan untuk pertama kalinya, aku percaya pada diriku sendiri. Bahwa aku memang kuat."

Ia menutup diary itu, lalu menaruhnya dalam koper.

Bandara dipenuhi cahaya lampu ketika hari keberangkatan tiba. Ayah mengantarnya, matanya berkaca-kaca. “Alisa, Ayah bangga sekali sama kamu.”

Alisa tersenyum tipis. “Terima kasih, Yah. Doakan Alisa bisa sukses di sana.”

Bu Ratna juga hadir, bersama Kirana dan Arina. Mereka mengucapkan selamat, tersenyum manis. Tapi Alisa tahu, senyum itu tidak bisa menghapus semua luka. Ia memilih menunduk, tidak banyak bicara.

Yang paling membuat hatinya hangat adalah Alira. Gadis kecil yang dulu sering ia lindungi kini sudah remaja. Ia memeluk Alisa erat-erat, menahan tangis.

“Kak, jangan tinggalin aku lama-lama…” bisiknya.

Alisa mengusap kepala adiknya, menahan isak. “Ra, kakak pergi bukan untuk meninggalkan kamu. Kakak pergi supaya suatu hari nanti kita bisa hidup lebih baik. Kamu harus kuat, ya. Kita sama-sama kuat, kan?”

Alira mengangguk, meski air matanya jatuh deras.

Pesawat lepas landas, membawa Alisa menembus awan. Dari jendela, ia menatap langit yang luas. Hatinya penuh rasa syukur dan rindu.

Ia sadar, semua yang ia alami adalah perjalanan panjang menuju titik ini. Kehilangan ibunya adalah luka terbesar, tapi juga yang membuatnya belajar tentang arti hidup. Beban rumah tangga yang tak adil, tuduhan yang menyakitkan, tangis yang tak pernah didengar—semua itu membentuknya menjadi sosok yang lebih kuat.

Di atas langit, Alisa berbisik pelan:

“Bu, aku rindu. Tapi aku juga percaya, semua ini adalah rencana Tuhan. Kepergianmu membuatku belajar mandiri. Dan sekarang, akhirnya aku bisa berdiri di kakiku sendiri. Ini hadiah untukmu, untukku, untuk semua doa yang pernah kita ucapkan.”

Ia menutup mata, merasakan damai.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alisa tidak merasa sendirian.

Yang tersisa hanyalah keyakinan, bahwa setiap luka, jika dijalani dengan sabar, suatu hari akan berubah menjadi pelangi yang indah.

Dan Jepang, negeri asing yang menantinya, adalah awal dari pelangi itu.


Other Stories
DARAH NAGA

Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...

Cinta Buta

Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...

Teka-teki Surat Merah

Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...

Katamu Aku Cantik

Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...

Jika Nanti

Adalah sebuah Novel yang dibuat untuk sebuah konten ...

Download Titik & Koma