Prolog
Aula sekolah dipenuhi suara gaduh. Siswa-siswi baru sibuk mencari bangku, sebagian berbisik-bisik, sebagian lagi berusaha terlihat percaya diri. Di depan panggung, guru-guru sibuk memberi instruksi yang nyaris tak terdengar karena riuhnya.
Mahera duduk di barisan tengah, mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke lantai. Rambutnya baru saja dicat abu-abu. Seragam putih abu-abu yang seharusnya kaku sudah ia modifikasi: lengan digulung setengah, rok sedikit dimasukkan ke dalam, dan pita leher yang sengaja dibiarkan longgar. Beberapa pasang mata menoleh, sebagian berbisik-bisik, tapi Mahera tidak peduli.
“Bosan,” gumamnya, lalu bangkit dan keluar dari aula.
Koridor sekolah masih sepi, hanya terdengar sayup suara dari aula. Mahera berjalan sambil memainkan kancing bajunya. Saat itu, ia melihat seorang cowok duduk sendirian di bangku panjang dekat jendela. Tubuhnya tegap, seragamnya rapi sekali, dan ada sebuah buku tipis di tangannya.
Cowok itu sama sekali tak memperhatikan sekitar, seolah dunia lain lebih menarik dibanding keramaian siswa baru.
Mahera melirik. Sesuatu dalam dirinya mendorong untuk menghampiri—bukan karena penasaran pada bukunya, tapi karena ia benci diam.
“Oit! Sendirian aja? Nggak gabung di aula?” sapa Mahera, tanpa basa-basi.
Cowok itu menoleh pelan. Tatapannya tajam tapi kosong, seakan sedang menimbang siapa yang bicara. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya ia menjawab, datar, “Ramai. Pusing.”
Mahera menaikkan alis. “Udah gitu doang? Kaku banget.”
Cowok itu menutup bukunya. “Gue Mahesa,” katanya singkat.
Mahera terkekeh. “Gue Mahera. Mirip, ya? Kayak nama pasangan sinetron.” Ia menepuk bangku kosong di sebelahnya lalu duduk tanpa diundang.
Mahesa menatap sekilas, lalu kembali menunduk. Mahera mendengus, merasa diabaikan. “Lo selalu gitu ya? Cuek sama orang baru?”
Butuh waktu lama sebelum Mahesa berkata pelan, “Gue gak bisa ingat wajah orang. Jadi kalau gue terkesan cuek… nggak maksud.”
Mahera spontan menoleh. “Susah ingat wajah? Semacam amnesia sesaat gitu? Atau.. cuman alasan lo aja buat bikin gue pergi?”
Mahesa menghela nafas, lalu menatap lurus ke jendela. “Gue punya prosopagnosia. Sulit kenalin wajah, bahkan orang dekat sekalipun. Kalau nggak ada petunjuk lain, gue bisa salah.”
Mahera terdiam. Informasi itu terdengar asing sekaligus mengejutkan. Ia mengira Mahesa bercanda, tapi ekspresi cowok itu terlalu serius. Jadi… kalau ia ketemu Mahesa di lorong, cowok itu bisa saja tidak mengenalinya? Pikiran itu membuat dada Mahera terasa aneh.
Ia mencondongkan tubuh, menatap Mahesa lekat-lekat. “Kalau gue ganti gaya rambut, lo bakal bingung juga, dong?” tanyanya setengah menantang.
Mahesa menoleh lagi, kali ini tatapannya tenang. “Mungkin aja. Tapi gue bisa kenal lo dari suara.”
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan lirih, “Dan dari cara lo ngomong. Kayaknya, nggak ada yang bisa tiru itu.”
Mahera tercekat. Untuk pertama kali, ia tidak menemukan jawaban cepat. Ada sesuatu di nada suara Mahesa—jujur, apa adanya. Ia mengalihkan pandangan, pura-pura sibuk memainkan ujung rambutnya. “Ya udah sih, pokoknya jangan salah panggil aja. Kalau nggak, malu-maluin,” katanya sok cuek. Tapi bibirnya menahan senyum kecil.
Hari itu, Mahera tak tahu, satu percakapan singkat di koridor sepi akan menjadi cahaya yang menuntun langkahnya di masa depan.
Mahera duduk di barisan tengah, mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke lantai. Rambutnya baru saja dicat abu-abu. Seragam putih abu-abu yang seharusnya kaku sudah ia modifikasi: lengan digulung setengah, rok sedikit dimasukkan ke dalam, dan pita leher yang sengaja dibiarkan longgar. Beberapa pasang mata menoleh, sebagian berbisik-bisik, tapi Mahera tidak peduli.
“Bosan,” gumamnya, lalu bangkit dan keluar dari aula.
Koridor sekolah masih sepi, hanya terdengar sayup suara dari aula. Mahera berjalan sambil memainkan kancing bajunya. Saat itu, ia melihat seorang cowok duduk sendirian di bangku panjang dekat jendela. Tubuhnya tegap, seragamnya rapi sekali, dan ada sebuah buku tipis di tangannya.
Cowok itu sama sekali tak memperhatikan sekitar, seolah dunia lain lebih menarik dibanding keramaian siswa baru.
Mahera melirik. Sesuatu dalam dirinya mendorong untuk menghampiri—bukan karena penasaran pada bukunya, tapi karena ia benci diam.
“Oit! Sendirian aja? Nggak gabung di aula?” sapa Mahera, tanpa basa-basi.
Cowok itu menoleh pelan. Tatapannya tajam tapi kosong, seakan sedang menimbang siapa yang bicara. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya ia menjawab, datar, “Ramai. Pusing.”
Mahera menaikkan alis. “Udah gitu doang? Kaku banget.”
Cowok itu menutup bukunya. “Gue Mahesa,” katanya singkat.
Mahera terkekeh. “Gue Mahera. Mirip, ya? Kayak nama pasangan sinetron.” Ia menepuk bangku kosong di sebelahnya lalu duduk tanpa diundang.
Mahesa menatap sekilas, lalu kembali menunduk. Mahera mendengus, merasa diabaikan. “Lo selalu gitu ya? Cuek sama orang baru?”
Butuh waktu lama sebelum Mahesa berkata pelan, “Gue gak bisa ingat wajah orang. Jadi kalau gue terkesan cuek… nggak maksud.”
Mahera spontan menoleh. “Susah ingat wajah? Semacam amnesia sesaat gitu? Atau.. cuman alasan lo aja buat bikin gue pergi?”
Mahesa menghela nafas, lalu menatap lurus ke jendela. “Gue punya prosopagnosia. Sulit kenalin wajah, bahkan orang dekat sekalipun. Kalau nggak ada petunjuk lain, gue bisa salah.”
Mahera terdiam. Informasi itu terdengar asing sekaligus mengejutkan. Ia mengira Mahesa bercanda, tapi ekspresi cowok itu terlalu serius. Jadi… kalau ia ketemu Mahesa di lorong, cowok itu bisa saja tidak mengenalinya? Pikiran itu membuat dada Mahera terasa aneh.
Ia mencondongkan tubuh, menatap Mahesa lekat-lekat. “Kalau gue ganti gaya rambut, lo bakal bingung juga, dong?” tanyanya setengah menantang.
Mahesa menoleh lagi, kali ini tatapannya tenang. “Mungkin aja. Tapi gue bisa kenal lo dari suara.”
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan lirih, “Dan dari cara lo ngomong. Kayaknya, nggak ada yang bisa tiru itu.”
Mahera tercekat. Untuk pertama kali, ia tidak menemukan jawaban cepat. Ada sesuatu di nada suara Mahesa—jujur, apa adanya. Ia mengalihkan pandangan, pura-pura sibuk memainkan ujung rambutnya. “Ya udah sih, pokoknya jangan salah panggil aja. Kalau nggak, malu-maluin,” katanya sok cuek. Tapi bibirnya menahan senyum kecil.
Hari itu, Mahera tak tahu, satu percakapan singkat di koridor sepi akan menjadi cahaya yang menuntun langkahnya di masa depan.
Other Stories
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...
Bukan Cinta Sempurna
Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...
Aku Bukan Pilihan
Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...
Ayudiah Dan Kantini
Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...
Katamu Aku Cantik
Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...
Beyond Two Souls
Saat libur semester, Fabian secara tiba-tiba bertemu Keira, reuni yang tidak direncanakan ...