Wajah Tak Dikenal

Reads
545
Votes
0
Parts
6
Vote
Report
Penulis Yanda Putri Andini

Si Nyentrik Mahera

Bel istirahat usai, riuh kantin perlahan mereda. Mahera kembali ke kelas dengan langkah malas. Di belakangnya, dua sosok tambun menyusul dengan wajah sumringah.

“Mahera, makasih ya!” seru Dito sambil mengangkat tangan seolah baru saja dapat jackpot.
“Iya, besok-besok lagi ya. Lumayan, gue bisa nabung,” timpal Dimas.

Mahera berhenti, melirik mereka dengan tatapan sinis.

“Dih, lo berdua aja yang ga tau diri,” jawabnya ketus sambil manyun.

Kedua cowok itu terbahak-bahak, lalu pergi sambil masih membicarakan soal diskon fiktif yang mereka harap nyata.

Begitu mereka menjauh, Mahera langsung menghampiri Mahesa yang sejak tadi duduk diam di bangkunya. Tatapan Mahesa lurus, tapi jelas mengikuti setiap gerakan Mahera.

“Oit,” sapa Mahera ringan.
“Mahera,” balas Mahesa tanpa ragu.

Mahera mengernyit. Ia lalu menjatuhkan diri ke bangku depan Mahesa, meneliti wajahnya. Kenapa hari ini dia bisa gampang banget ngenalin gue? pikirnya.

Dan di sudut bibir Mahesa, ada senyum tipis. Bukan senyum lebar, tapi cukup membuat dada Mahera bergetar aneh.

“Eh, apanya yang lucu?” tanya Mahera cepat, seolah ingin membongkar rahasia.

Mahesa menatapnya tenang.

“Selain gaya lo yang nyentrik tiap hari, gue bisa ngenalin lo dari satu hal, kok. Lo manggil orang pake ‘oit’. Itu cuman khas lo doang.”

Mahera tercekat. Dadanya hangat, tapi buru-buru ia tepis perasaan itu. Mungkin saja masih banyak yang sadar akan hal kecil ini—bukan cuma Mahesa—hiburnya. Ia memperbaiki duduk, menyilangkan kaki bak putri kerajaan.

“Yaudah, pokoknya nanti lo yang harus chat gue duluan kalo mau bahas tugas kelompok,” ujarnya sambil menoleh sedikit angkuh.

Ia bangkit, melangkah pergi, memaksakan sikap anggunnya. Tapi di dalam hati, ada denyut yang tak bisa ia jelaskan.


Pelajaran selanjutnya: Seni Rupa.

Hari itu mereka diajak tur ke Ruang Pamer Seni William National Academy, gedung baru yang katanya akan resmi dibuka tahun depan. Langkah-langkah sepatu berderap di lantai putih bersih. Ruangannya luas dengan jendela tinggi membiarkan cahaya masuk bebas, seakan setiap sinar matahari adalah pengunjung pertama. Dinding penuh lukisan abstrak, patung setengah jadi, vas-vas aneh dengan bentuk tak terduga. Anak-anak berdecak kagum, beberapa sibuk foto diam-diam.

Berbeda dengan Mahera yang malah bengong. Semua karya seni itu tidak menyalakan apapun dalam dirinya. Pandangannya tertuju keluar jendela. Senja merayap pelan, cahaya jingga seolah menetes dari langit, memeluk dunia dengan lembut.

Tiba-tiba, cahaya itu terhalang. Seseorang berjalan sejajar dengannya. Mahesa. Dengan tenang, ia menepuk lengan Mahera, mengisyaratkan agar kembali ke barisan.

Hari ini gue nggak perlu uji dia, batin Mahera.

Nyatanya, dia selalu bisa muncul di waktu yang paling nggak gue duga. Telinganya panas. Ia pura-pura bosan.

“Oit, bolos aja yuk. Kayak nggak ada nyawanya banget tur begini.”

Mahesa menggeleng, matanya berbinar untuk pertama kalinya. “Enggak. Gue punya ide bagus buat project sosialnya Ms. Anna.”

Mahera tertegun. Ia nyaris tak pernah melihat wajah Mahesa dengan keyakinan seterang itu. Hal itu membuat mereka akhirnya masuk ke ruang pembuatan karya seni. Di sana, 25 kanvas kosong sudah berbaris menunggu. Bau cat masih segar. Mrs. Cathleen, guru seni mereka, tersenyum antusias.

“Kuncinya cuma satu,” katanya. “Canvas itu adalah dirimu. Hanya kamu yang boleh menentukannya.”

Kelas hening. Lalu, seperti biasa, ada yang menggambar gunung kembar, sawah, matahari bulat di tengah. Ada juga yang bengong tak tahu harus apa. Mahera termasuk yang terakhir.

“Seperti otak gue, kosong…” gumamnya kesal.

Ia melirik Mahesa. Cowok itu sudah mulai melukis, gerakannya hati-hati. Kuasnya menari pelan, hanya hitam dan putih yang ia gunakan.

Kenapa warnanya sesempit itu? pikir Mahera.

Apa dunia yang dia lihat segelap itu?

Rasa penasaran membuatnya terus memperhatikan. Mahesa begitu tenggelam, seakan melukis adalah bahasa yang tak bisa diucapkan. Sementara Mahera… masih kosong. Frustrasi, ia akhirnya menumpahkan cat warna-warni asal-asalan. Coretan kasar, tebal, liar. Warna solid yang berteriak minta perhatian, seperti dirinya.


Satu jam berlalu. Semua diminta keluar. Lukisan mereka akan dipajang satu per satu. Mahera nyaris lupa di mana ia menaruh kanvasnya. Sepuluh menit kemudian, Mrs. Cathleen kembali dengan dua lukisan yang sangat kontras. Yang satu rapi, memikat mata. Yang satu lagi… berantakan, bahkan bolong di tengahnya.

Mahera ternganga.

Lah, punya gue? Mana bolong lagi! Wait, lah? Kok bolong, sih? Ia tak ingat apakah dia melemparnya, tapi jelas ada lubang besar di sana. Lukisannya memecah hening dengan tawa. Namun, Mrs. Cathleen mengangkat tangan, membuat semua diam.

“Dua lukisan ini menarik. Gayanya berlawanan. Ibu ingin mendengar makna di baliknya. Mahesa dan… Mahera, maju ke depan.”

Mahera menelan ludah panik “Seriusan nih…” gumamnya. Tapi dorongan teman-temannya membuat ia tak bisa menolak.

Di depan, Mrs. Cathleen menatapnya penuh rasa ingin tahu. “Mahera, apa maksud bolongan ini?”

Mahera menelan ludah. “Emm… lukisan ini… itu saya….”

Semua bingung. Mahera melanjutkan, tergagap tapi memaksa percaya diri. “Ya, ini gue, guys. Come on, kalian tau kan gue yang suka memberontak ini, haha. Break the wall, yash! Walau nyentrik, jiwa gue tetep polos, loh! Sepolos warna putih di balik canvas…hehe.”

Keheningan melingkupi ruangan. Semua canggung. Mahera nyaris mau kabur. Tapi, tiba-tiba Mrs. Cathleen tersenyum lebar seperti maniak seni. “Bagus. Polos dan memberontak—perpaduan unik. Ibu suka.”

Mahera tertawa kaku.

Hah? Dia suka? Gila, seni emang random.

Kini giliran Mahesa. Semua berharap. Ia menampilkan lukisan seorang manusia tanpa wajah berdiri di depan cahaya bulan besar yang memenuhi kanvas. Blacklight dari belakang membuatnya tampak seakan terasa nyata.

Mahesa bicara pelan tapi mantap,

“Kita nggak perlu melihat wajah seseorang buat tahu karakternya. Energi dari dalam tubuh manusia itu bisa menciptakan aura. Kadang kita salah menilai, tapi percaya aja kalau hati kita selalu coba kasih validasi. Jadi gue pengen notice kalau… don’t judge by cover.”

Seisi ruangan terdiam, lalu bertepuk tangan.
Mahera terdiam.

Jadi itu cara lo liat dunia ya? Tanpa wajah, tapi dengan cahaya.

Ia ikut bertepuk tangan, tapi dalam hati bergumam, “Mahesa, lo beruntung banget. Nggak perlu melihat wajah orang-orang yang ngerendahin lo.” Dadanya menyesak. Untuk pertama kalinya, Mahera tak punya komentar frontal. Ia hanya diam, kalah oleh sesuatu yang tak pernah ia duga: ketulusan.




Rumah itu terlalu besar untuk satu jiwa. Dindingnya dingin, lantainya memantulkan langkah kaki Mahera tanpa gema lain selain dirinya. Semua benda terletak rapi, tapi tak ada yang hidup. Tak ada aroma masakan, tak ada suara televisi, hanya senyap yang menempel di udara. Mahera meletakkan tas di meja makan, membuka kulkas. Hanya beberapa botol air mineral berjajar di sana, dingin, tak bernyawa. Ia mengambil satu, menenggaknya, lalu kembali mengangkat tasnya menuju kamar di lantai dua.

“Non,”

Sebuah suara lembut memanggilnya dari belakang.

Mahera menoleh. “Ya, Nek?”

Itu Nek Maria—sosok tua yang rela tak menikah hanya untuk membesarkan Mahera sejak bayi. Mereka berdua saja yang mendiami rumah megah itu. Hidup tak pernah kekurangan, aliran uang dari perusahaan orang tuanya selalu masuk. Tapi Nek Maria tak pernah silau. Ia hanya menggunakan secukupnya—semua untuk Mahera, tak lebih.

“Kiriman uang dari Nyonya Christie udah nenek setor ke bank. Jadi, uangnya sudah ada di rekening Non,” ucapnya lembut.

Mahera tersenyum tipis. “Seperti biasa, Nek. Nenek bisa pakai semau nenek. Asal nenek bahagia dan selalu tercukupi, Mahera mau ikut nenek ke mana pun.” Suaranya lembut, hanya untuk neneknya.

Tangan tua itu terulur, mengusap rambut Mahera yang sedikit acak-acakan. “Habis dari mana to, Cu, rambutnya kok berantakan begini?” candanya.

Tanpa sadar, Mahera memeluknya erat. Seakan genggamannya bisa menahan waktu. Hari ini terlalu berat, dadanya penuh beban yang tak bisa ia ceritakan. Dalam pelukan itu, Mahera merasa—bahwa mungkin Mahesa lebih beruntung darinya.

Setelah mandi, tubuhnya terasa letih. Perutnya memanggil-manggil. Ia turun lagi, hendak mengajak neneknya membeli makan di luar. Ponselnya dibiarkan berdering di meja belajar.

“Nek? Kita beli makan di luar yuk!” panggilnya.

Tak ada jawaban. Langkah Mahera mencari ke dapur. Dan di sana—seorang laki-laki berdiri di depan kulkas, menutup pintunya, lalu menoleh padanya. Wajah itu… mirip. Mirip sekali dengan dirinya.

“Mahera,” ucapnya.

Mahera terdiam. Ia tahu wajah itu asing, tapi kemiripannya jelas tak bisa disangkal. Pria itu mendekat membuat Mahera secara otomatis mundur untuk menghindarinya.

“Ini papa.”

Tak ada keterkejutan meledak dari wajah Mahera. Ia bukan gadis bodoh; cukup melihat wajahnya, ia tahu. Tapi tubuhnya menegang, otaknya menolak. Ia hendak kabur keluar rumah ketika Mang Roni, tukang kebun, tiba-tiba masuk dengan wajah panik.

“Non! Nenek… nenek udah nggak ada. Non, maaf saya baru bisa bilang ya…”

Langkah Mahera terhenti. Dadanya seperti pecah.

“Di… dimana nenek, Mang?!”

Mang Roni menunduk. “Nenek sudah dikubur tadi pagi, Non.”

Dunia runtuh. Baru tadi ia memeluk neneknya. Baru tadi mendengar suaranya. Mana mungkin? Penjelasan Mang Roni datang bagai badai. Setelah setor uang ke bank pagi itu, nenek pingsan, dibawa ke rumah sakit, dan meninggal. Vertigo, kata dokter. Macet Jakarta, panas terik, semua menekan tubuh rapuh itu.

Mahera jatuh terduduk. Air mata tak keluar, tapi tubuhnya terlalu lemah untuk menyangga dirinya sendiri. Betapa bencinya ia pada “uang”—yang tak pernah disentuh nenek, tapi justru membunuhnya. Kini siapa lagi yang ia punya?

Pagi.

Mahera terbangun dengan jarum infus menusuk tangannya. Papanya—pria asing itu—rupanya menyuplai nutrisi karena ia tak makan semalaman. Dengan geram, Mahera mencabut infus itu, lalu mandi dan bersiap sekolah. Hari ini ia tak nyentrik. Tak ada make up, tak ada gaya frontal. Rambutnya dikuncir sederhana.

Hanya murid biasa.

Di dapur, aroma roti gosong tercium. Ayahnya panik, melepas apron dan buru-buru mendekat saat melihat Mahera hendak keluar.

“Papa antar ya,” ucapnya.

Mahera menoleh sekilas, dingin. “Nggak perlu. Aku udah terbiasa sendiri.”

Langkahnya berderap menuju halte. Namun mobil Mercedes mengikuti dari belakang. Mahera menghentak kesal.

“Turun!”

Ayahnya menurut, keluar dari mobil. “Papa bukain pintunya?”

“Gak banget. Kalau mau nganter aku, naik bis aja.” Mahera melanjutkan langkah.

Pria itu bingung. “Mobil Papa?”

“I don’t care.”

Dengan patuh, ia mengunci mobilnya, menelpon seseorang agar menderek mobil itu ke sekolah, lalu berjalan mengikuti Mahera. Mahera melirik sejenak, heran. “Gue jadi ragu, dia beneran bokap gue nggak sih? Kok nurut banget.” batinnya.

Di halte, Mahesa sudah menunggu, duduk sambil membaca The Light of Soul, buku favoritnya karya Baskara. Pandangannya fokus, jarinya sudah menandai halaman terakhir. Mahera berdiri tepat di sampingnya. Ia tahu, jika tak menyapa, Mahesa takkan mengenalinya.

Penampilannya terlalu normal, tak seperti biasanya.

Di seberang jalan, kursi panjang di perkebunan warga diterpa cahaya matahari. Mahera seakan melihat bayangan Nek Maria duduk di sana, menghangatkan tubuhnya, seperti rutinitas pagi yang dulu. Bibirnya tersenyum getir. Cahaya yang katanya memperpanjang umur… justru mencabutnya.

Bis datang. Papanya memanggil. “Mahera, ayo.”

Mahesa menoleh, samar. Ia melihat sosok ayah dan anak perempuan itu. Namanya sama, tapi wajahnya… gaya itu… bukan Mahera.

Desakan penumpang membuatnya naik tanpa sempat memastikan.

Di dalam, ia mengetik pesan.

“Mahera, lo di mana?”

Notifikasi berbunyi. Gadis berkuncir itu menoleh panik. Jemarinya cepat mengetik.

“Maaf, gue belum save nomor lo. Mahesa kan ya?”
“Iya. Santai aja. Btw, lo di mana?”
“Gue udah di sekolah.”

Mahesa menutup ponselnya. Dadanya sedikit kecewa. Jadi benar, bukan Mahera.

Di kelas, suasana sibuk. Semua orang tenggelam dalam tugas kelompok. Mahesa melirik bangku Mahera—atau tepatnya, bangku gadis berkuncir itu. Ia ragu. Tapi… tiba-tiba Mr. Ronald datang di ambang pintu dia memberi arahan bahwa mereka harus berganti pakaian
Pelajaran olahraga. Di lapangan, Dito—jam tangan merah—menyapanya.

“Mahesa. Ada yang aneh sama Mahera nggak sih?”

Mahesa terdiam, jantungnya mencelos. Dito menambahkan, “Nah kan! Lo aja kaget. Kok dia nggak nyentrik lagi? Nggak seru, tau. Dia makin pendiem, cuman main sama cewek-cewek.”

Mahesa menghela napas. Ia takut salah mengenali. Sampai notifikasi masuk lagi.

“Mahesa, gue lagi dikuncir ya hari ini.”

Mahesa menatap layar, lalu membalas singkat.

“Iya, thanks ya.”

Dadanya berdegup. Itu Mahera. Tapi berbeda. Bahkan, setelah olahraga, Mahera menyodorkan buku tulisnya. “Ini data buat project. Gue udah kerjain. Kalau lo butuh bantuan, bilang aja.” Ia tersenyum, lalu pergi.

Mahesa membukanya. Berisi informasi lengkap data nama-nama siswa kelas mereka, guru-guru mata pelajaran bahkan staff sekaligus. Yang menarik perhatiannya ada di halaman terakhir ada catatan:

“Tugas gue udah selesai ya. Gue kurang kreatif, Mahesa.”

Mahera—frontal, nyentrik—kini menuliskan kalimat sederhana yang terlalu tenang. Mahesa bangkit, membeli cappuccino rendah kafein. Namun ketika ia kembali, Ms. Anna sudah ada di dalam kelas.

“Mahesa, darimana saja?”
“Beli cappuccino.”
“Oh, kamu ngantuk ya?” tawa Ms. Anna.

Mahesa menggeleng. “Bukan. Buat Mahera.”

Kelas mendesah, sorakan kecil terdengar.

“Cieee…”

Ms. Anna tersenyum paham tanpa berkomentar lebih lanjut. “Kalau begitu, berikan. Lalu kerjakan kerangka pohon sosialnya bersamanya.”

Kerumunan menghalangi pandangan Mahesa. Ia mencari, panik. Semua gadis berkuncir terlihat sama. Di mana Mahera? Peluh dingin membasahi pelipis. Ia mengingat detail teman-temannya—Dito dengan jam tangan merah, Alea dengan bekas cakaran kucing, Dimas dengan sepatu Nike. Lalu Mahera…?

Mahesa berbalik, menahan nafas. Mengulurkan cappuccino.

“Ini buat lo, Mahera.”

Deg.

Jantung Mahera hampir melompat keluar.

Bagaimana bisa? Bagaimana ia dikenali?

Mahesa tersenyum samar, lalu berbisik.

“Aroma matcha. Parfum lo.”



Other Stories
Katamu Aku Cantik

Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...

Cinta Buta

Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...

Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat

Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...

Jam Dinding

Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...

Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...

Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Download Titik & Koma