Wajah Tak Dikenal

Reads
545
Votes
0
Parts
6
Vote
Report
Wajah tak dikenal
Wajah Tak Dikenal
Penulis Yanda Putri Andini

Pagi & Malam

Notifikasi ponsel Mahera berbunyi. Layar menyala, tulisan besar terpampang:

YOUR TICKET AVAILABLE.

Sejenak ia membeku. Lalu, “YESSSS!!!” pekiknya keras, hampir membuat kucing di teras kabur. Mahera melompat-lompat di kamarnya, rambut merah menyala berguncang seperti api yang tertiup angin.

Hari itu, dunia tiba-tiba jadi manis. Ia baru saja mengantongi tiket konser idolanya: Anna Mariana. Penyanyi solo, aktris, perempuan serba bisa yang cahaya panggungnya seperti tak pernah padam. Mahera menatap poster Anna di dinding kamarnya. Senyuman Anna terasa begitu nyata, seakan ikut menertawakan keriangannya.

“Akhirnya kita ketemu, semoga aja gue beneran bisa lihat lo langsung, bukan cuma layar kaca.” bisiknya lirih.

Lagu-lagu Anna selalu menemani malamnya. Ada yang judulnya sederhana, tapi begitu menyayat—“Sudah makan?” Lagu itu membuat Mahera sering merenung. Baginya, sekadar makan memang bisa jadi hal tersulit bagi seseorang yang berjuang melawan depresi.

Mahera pun diam-diam punya ritual sebelum tidur: mendengarkan lagu Anna yang berjudul “Ada apa Hari Ini?” Liriknya simpel, tapi terasa seperti lantunan lembut di pintu hati yang rapuh. Dan favorit pribadi Mahera? Lagu “Pakai apa Hari Ini?” Lucu di permukaan, tapi dalam bagi mereka yang paham.

“Orang yang masih bisa berdandan, artinya dia masih bertahan.” begitu Mahera sering berkata pada dirinya sendiri. Itu juga alasan ia memilih pakaian-pakaian nyentrik: bukan sekadar gaya, tapi pelindung luka yang tak bisa ia sembunyikan dengan pakaian ‘normal’.

Sabtu pagi,

Mahera datang ke sekolah dengan wajah bersinar. Hari ini hari “Sabtu Kreatif”—program bulanan William National Academy di mana murid bebas berkreasi untuk memberi manfaat bagi orang lain. Banyak yang memilih kegiatan aman: galang dana bencana, bagi makanan Jumat berkah, jadi relawan panti.

Tapi Mahera? Ia menyiapkan sesuatu yang “gila” sejak seminggu lalu.

Rambutnya diikat tinggi, outfit ala rockstar—jaket kulit hitam dengan pin silver dan rok plaid merah. Sepatunya boots dengan tali biru elektrik. Orang-orang melirik, sebagian menggeleng, sebagian tersenyum kagum. Tapi Mahera tak peduli.

Di koridor, suara ceria memanggil.

“Mahera!” Itu Alea, gadis mungil yang selalu datang ke sekolah dengan cakaran kucing.
“Oit,” jawab Mahera, menoleh.
“Gue, Dimas sama Dito mau bagiin makanan buat kucing jalanan. Lo mau ikut?” tanya Alea dengan tatapan penuh harap.

Mahera menimbang sebentar. “Umm, not today. But, gue tau spot yang ada banyak kucingnya. Gue kasih infonya aja, gimana?”

“Wah, boleh banget!” Alea langsung sumringah.
“Di gang buntu dekat pasar.” jawab Mahera mantap.

Dimas dan Dito langsung saling pandang, wajahnya agak ragu.
“Pasar?” gumam Dito. “Kita masih belum pernah, sih—”
“Please lah guys,” potong Mahera tajam. “Kalau mau bantu, jangan pilih-pilih tempat. Justru di pasar tuh kucingnya lebih kasihan. Mereka bisa dimaki, disiram, ditendang orang. Masa lo cuman mau kasih kucing-kucing cakep kayak di komplek?”

Alea tercekat, Dimas garuk-garuk kepala. Mereka bertiga terdiam.

Mahera mendengus, lalu melontarkan kalimat pedasnya, “Ya kalau mau kasih makan kucing bagus ya ke pet shop aja sana. Repot banget, nggak paham gue.”

Tanpa menunggu reaksi, ia melangkah pergi. Tapi di wajahnya terselip senyum puas saat melihat ketiganya saling mengangguk, seolah memberanikan diri ke pasar juga.



Ruang pameran seni.


Mahesa berdiri di depan kanvas besar, wajahnya berbinar melihat sapuan cat yang belum kering.

“Oit!” Mahera datang dengan langkah santai.
“Mahera! Look at my art!” seru Mahesa, matanya penuh semangat.

Mahera mendekat. Menatap lukisan itu lama. Warna-warna kontras, garis patah-patah, siluet kacau.
“Apaan nih? Pusing banget gue lihatnya.”

Mahesa terkekeh. “Ini yang mereka lihat, Mahera.” katanya samar. Lalu ia menunjuk ke satu bagian, lebih terarah, lebih jelas. “Ini tentang seseorang dengan autisme. Chaos, penuh tekanan. Mereka berjuang tiap hari. That’s why… we must treat them right.”

Mahera terdiam. Ada sesuatu di nada suara Mahesa yang bikin dadanya sesak. Perlahan ia mengangguk, lalu mengulurkan tangan, mengusap kepala Mahesa.

“Good job. You did it sooo well, Mahesa.”

Seketika wajah Mahesa berubah merah padam, seperti tomat rebus. Mahera tak tahan—ia terbahak.

“Hahaha! Ya ampun, lo kayak kebakar!”
“Udah...udahlah…” Mahesa mengalihkan pandangan. “Gi-gimana persiapan lo?”
“Almost done. Tinggal nunggu mereka dateng. Kita bakal jadi guru seni hari ini!” jawab Mahera mantap.

Mereka berjalan ke aula. Tirai merah besar mulai ditutup satu persatu. Proyektor diuji—memantulkan tulisan putih:

Pagi dan Malam.

Lalu animasi huruf muncul satu persatu, seperti diketik:

Jika dunia tidak diciptakan untuk manusia sepertiku, lantas di mana lagi aku akan tinggal?

Mahera tersenyum puas. “Ini bakal jadi cahaya buat mereka.” bisiknya lirih.

Mahesa menatapnya. Gadis itu—dengan rambut merah, langkah angkuh, ide gila—benar-benar cahaya bagi dirinya. Tidak menyilaukan, hanya hangat.

Beberapa tamu masuk aula. Di pintu besar aula, berdiri Ms. Anna, koordinator Sabtu Kreatif sekolah. Tapi Mahera membelalak ketika melihat siapa yang digandengnya.

Nyonya Christie.

Darahnya mendidih.

Apa yang dilakukan penyihir itu di sini?

“Kebetulan kalian di sini,” suara Ms. Anna lembut. “Kenalkan, ini Mrs. Christie, Ketua Komite tahun ini.”
“Mahera, Mahesa, beri salam.”

Tatapan Mahera menusuk. Bibirnya menekuk dingin.

“Gue cuma respect sama orang yang sudah membuktikan kinerjanya. Sekian.”

Ia berbalik, meninggalkan aula dengan angkuh.

Christie tetap tersenyum. Senyum dingin yang menyembunyikan bara kebencian pada anak yang—ironisnya—lahir dari rahimnya sendiri.

Bagi Mahera, hanya ada satu orang dalam hidupnya: Nek Maria.

“Bahkan nanti anak gue hanya boleh tau kalau gue keturunan Nek Maria. Titik.” gerutunya di koridor.

Suara langkah cepat menyusul.

“Iya iya,” balas Mahesa tanpa menoleh. “Gue bakal kasih tau anak gue nanti.”

“Si-siapa anak lo? Ngapain dikasih tau juga? Kan itu buat anak gue!” seru Mahera meluruskan.

Namun, ia malah menyadari dan wajahnya lebih merah dari tomat segar yang baru dipanen. “A-apaan sih? Ngapain juga anak gue jadi anak lo?”

“Ya biar lo nggak capek emosi terus. Biar gue aja yang kasih tau anak gue.” Mahesa menanggapi polos, tapi senyum tipisnya seolah sengaja meledek.

Puff! Wajah Mahera memerah, telinganya ikut berasap bak banteng yang siap menyeruduk.

“A-APAAN SIH, MAHESA!!” teriaknya, separuh kesal, separuh salah tingkah.

Mahesa terbahak, tawanya pecah hingga perutnya sakit. Mahera hanya bisa menatap, bibirnya tak sanggup mengucap. “Dulu aja, lo cuman ngomong seperlunya. Lo takut gak bisa beradaptasi atau bahkan bersosialisasi. Mimpi lo kubur sedalam itu. Tapi, sekarang adalah momen favorit gue. Karena lo bener bener udah berjuang buat sembuh, Mahesa."

Tin! Tin!

Suara klakson bus mini membuyarkan lamunannya. Mahera berlari ke lobby. Sepuluh anak istimewa turun dari bus. Ada yang butuh dituntun, ada yang harus digendong, ada yang gemetar melihat ramai manusia. Mahera menatap mereka dengan senyum selebar pelangi.

“Anak-anak manisku!” serunya lantang.

Mereka semua menoleh. Senyum mereka muncul—tulus, lebar, tanpa ragu. Mahesa tertegun. Benar kata orang: suara Mahera keras, tapi entah bagaimana… menenangkan.

“Siap bersenang-senang hari ini?” Mahera mengangkat tangan, penuh energi.

“Iyaa!!” jawab mereka serempak, kompak seperti paduan suara kecil.

Mahera tertawa puas. “Good! Ikut kakak ke belakang panggung, kita prepare dulu ya.”

Anak-anak itu mengikutinya bagai barisan kecil yang percaya penuh pada suara yang memanggil mereka.

Kembali ke aula, Mahesa melihat Christie duduk angkuh di kursinya. Pandangan matanya tajam, tak lepas dari Mahera yang sedang sibuk mengatur anak-anak disabilitas dengan penuh kasih.

Ada sesuatu di tatapan itu.

Seperti api yang menunggu celah untuk membakar.



Tepat pukul satu siang.

Aula William National Academy berubah menjadi lautan manusia. Derap langkah para tamu undangan memenuhi ruangan—wali murid, siswa yang sudah selesai bakti sosial, guru, hingga staf sekolah.

Namun semua terdiam ketika melihat siapa yang duduk di samping Mrs. Christie.

Sosok lelaki paruh baya dengan jas abu elegan, wajah dingin, dan aura yang memaksa orang menunduk hormat, Mr. William.

Pendiri sekaligus pemilik sekolah yang namanya diagungkan murid maupun orang tua. Bisik-bisik cepat menyebar.

“Founder datang?”
“Sabtu Kreatif doang kan ini?”
“Sejak kapan acara beginian penting sampai didatangi langsung?”

Namun William duduk tenang, ekspresinya mahal, tatapannya menanti sesuatu.

Di belakang panggung, Mahesa menelan ludah.

“Mahera…” suaranya bergetar. “Ide lo gila banget. Bisa-bisanya lo undang foundernya langsung… kalau gagal gimana?”

Mahera menyeringai, mata merahnya berkilat penuh percaya diri.

“Kalau gagal ya udah. Hidup gue udah penuh gagal. Bedanya, kali ini gue pilih gagal di depan founder sekolah favorit gue.”

Mahesa menepuk dahinya. “Astaga, Mahera…”

Ingatan Mahera melintas. Hari itu, ia berdiri di parkiran, menunggu mobil hitam mewah berhenti. Tubuhnya letih menunggu berjam-jam, tapi ia tak bergeming.

Pintu mobil terbuka. Bodyguard segera menghadang. Namun Mahera malah melangkah maju.

“Mr. William.” suaranya lantang, menusuk udara.

William menoleh, alisnya terangkat. “Ya? Ada apa? Kau butuh bantuan?” tangannya menahan bodyguardnya agar mundur.

Mahera menatapnya lurus, tanpa takut.

“Aku tidak butuh bantuanmu. Aku hanya ingin kau melihatnya sendiri, Sabtu Kreatif yang kau ciptakan ini. Aku muridmu. Aku ingin kau tahu, ini bukan untuk cari muka atau nilai. Ini tentang cahaya yang kita bagi. Semoga kau datang.”

Seketika, udara terasa berat.

William menghela napas, lalu bertanya pada asistennya, “Siapa murid itu?”

“Anak pertama Mrs. Christie, ketua komite baru tahun ini. Namanya Mahera. Tapi tidak ada riwayat jelas—”
“Cukup.” potong William tajam. Tatapannya kembali pada Mahera yang sudah berbalik meninggalkan parkiran. “Keberaniannya… nekat.” gumamnya. “Mari kita lihat hasilnya.”

Kini, William duduk di aula. Lampu redup. Semua mata menatap panggung.

Proyektor menyala.

Tulisan besar muncul: Pagi & Malam.

Dilanjutkan dengan animasi seperti sedang diketik:

Jika dunia ini tidak diciptakan untukku, lantas di mana lagi aku akan tinggal?

Suasana hening. Tirai pertama terbuka.

Seorang anak lelaki kecil berjas hitam duduk di kursi pianis. Matanya tertutup, bukan karena sengaja, melainkan karena kebutaan sejak lahir.

Elios. Usia 7 tahun. Ia meletakkan jemarinya di tuts, lalu musik mengalun. Blue Bird dari Alexis Ffrench mengisi ruang. Nada-nada itu jernih, dalam, menggetarkan. Setiap hentakan seolah lahir dari hati, bukan sekadar jari.

Mahesa berbisik ke Mahera di belakang panggung,

“Buta bukan kekurangan. Itu kelebihan. Dia mendengar dunia lebih tajam dari kita.”

Mahera menatap Elios, matanya panas oleh sesuatu yang tak bisa ia tahan.

Tiga menit berlalu. Tirai kedua terbuka. Elios tetap di piano, kali ini memainkan melodi lembut untuk mengiringi dua gadis mungil. Mina dan Moni. Usia tak lebih dari delapan tahun. Tubuh ringkih, suara mereka tipis—namun saat bersatu, harmoni lahir.

“I asked my mother, what will I be?
Will I be pretty, will I be rich?
Here’s what she said to me…”

Lagu Que Sera, Sera mengalun. Suara polos itu menusuk hati para pendengar. Beberapa orang mulai menitikkan air mata. Ada yang menggenggam tangan pasangannya, ada yang menutup mulut menahan isak.

Mahera berdiri di balik tirai, tersenyum lebar. Dadanya penuh kebanggaan.

“Mereka nggak butuh kasihan. Mereka butuh didengar.” bisiknya.

Tirai terakhir terbuka. Seorang remaja laki-laki, tubuhnya tidak lengkap—namun tangannya kuat memegang kuas.

Bill. Usia 15 tahun.

Di hadapan semua orang, ia menyelesaikan lukisan besar. Seorang anak berdiri di depan William National Academy—memakai kaki palsu, namun tegak, penuh harapan. Detailnya begitu nyata, menyayat hati.

Lagu Que Sera, Sera terus berlanjut, kini semua orang menyanyikannya bersama. Aula berubah menjadi paduan suara haru. Bahkan setelah lagu usai, Mina dan Moni masih bernyanyi lirih, seakan enggan berhenti.

Mahesa naik ke panggung, membawa lukisannya. Mahera menyusul, berdiri dengan mic. Rambut merahnya berkilat di bawah sorot lampu.

“Aku harap ini nggak bikin kalian puas dulu.” suaranya lantang, gaya rockstarnya khas. “Karena aku punya cahaya yang lebih hangat buat kalian semua.”

Ia memberi isyarat ke operator. Layar proyektor berubah. Dokumentasi muncul satu per satu.

Ada murid membagikan makanan gratis di jalan.

Ada Sela, kakak kelas yang memberi sosialisasi pendidikan di desa.

Ada Samuel dan gengnya membuka bengkel gratis.

Ada Alea, Dimas, dan Dito—menjinakkan kucing-kucing pasar dengan wajah gugup tapi berani.

Suara riuh memenuhi aula. Tawa bercampur tangis. Semua orang menyadari—Sabtu Kreatif bukan hanya panggung besar, tapi panggung kecil yang lahir dari hati murid-murid.

Mahera tersenyum, lalu bicara pelan.

“Cahaya itu nggak selalu spektakuler. Nggak harus berlebihan. Kadang, cukup duduk, dengarkan orang di sekitar kita… itu sudah menyalakan hidup mereka. Semua orang bisa. Siapapun, dimanapun, kapanpun.”

Seketika, tepuk tangan bergemuruh.

Sabtu Kreatif tahun itu meledak. Diliput media nasional, viral di sosial media.

Nama Mahera mencuat. Followers-nya melonjak, mendekati seratus ribu. Dokumentasi gaya fashion nyentrik bercampur dengan video ia bersama anak-anak istimewa.

Bahkan publik baru tahu: sejak usia sepuluh tahun, ia sudah jadi volunteer bersama Nek Maria. Dari panti jompo, panti asuhan, sampai anak disabilitas.

Unggahan terbarunya—foto dirinya memeluk Nek Maria dengan caption “Terima kasih, Nek. Karena hidupmu kau korbankan untuk hidupku.”—menembus sejuta likes. Semua orang terpesona. Namun, sebagaimana pohon tak tumbuh kokoh tanpa terpaan angin kencang, Mahera juga tak luput dari badai.

Sebuah cuitan muncul.

Apa yang dia banggakan? Hanya anak SMA cari muka. Cari perhatian. Bahkan dia nggak bisa cari uang sendiri.”

Dari akun bernama Wendy.



Other Stories
DARAH NAGA

Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...

Melepasmu Dalam Senja

Cinta pertama yang melukis warna Namun, mengapa ada warna-warna kelabu yang mengikuti? M ...

Makna Dibalik Kalimat (never Ending)

Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...

Cahaya Menembus Semesta

Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...

Hantu Kos Receh

Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...

Kala Kisah Menjadi Cahaya

seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...

Download Titik & Koma