Awan Favorit Mamah
Pagi selalu punya cirinya sendiri di rumah kami, bukan suara ayam atau dering alarm dari hanphone yang membangunkanku, melainkan aroma kopi yang menguar dari dapur bercampur dengan asap roko yang menyelinap masuk ke kamar, yang tandanya mamah sudah lebih dulu terjaga, jauh sebelum aku membuka mata.
Aku sering menemukannya sedang berdiri di dekat jendela, dengan rambut yang belum sempat di sisir rapih, di tangannya segelas kopi panas dan bertengg di sudut bibirnya sebatang rokok yang mengepulkan asap tipis, mamah selalu menatap ke luar seolah ada sesuatu di awan pagi yang sedang ia ajak bicara.
Bagi orang lain, mungkin kebiasaannya cukup sederhana, bahkan sebagian orang juga menganggap itu adalah hal buruk. Tapi dia lah mamah, wanita yang keras kepala, menolak untuk terlihat lelah di wajahnya dan yang selalu punya caranya sendiri untuk bertahan. Setiap hirupan asap rokok dan setiap sruputan kopi manis nya, seolah seperti perisai yang ia pakai agar tak satupun beban hidup jatuh dari punggung nya
Dan anehnya, aku merasa hangat karna di balik kepulan asap itu seolah ada senyuman samar yang ia sisakan untukku, seolah berkata, "tenang saja, semua baik-baik saja"
Bab 1: Awan yang tahan angin
Wajah cantik dengan rambut ikal yang sering di sebut sebagai kembang desa saat ia masih muda. Ternyata, ia menyimpan beban yang sangat berat, bahkan tak semua orang mampu untuk menopang beban sebesar itu. Kehidupan masa remaja seseorang mungkin adalah hal ter-indah, yang seandainya bisa terulang kembali. Tapi apakah mamah menginginkan hal yang sama?.
Hidup dengan dua kaka perempuan, satu adik perempuan yang sayangnya adiknya harus di ambil oleh orang lain. Tentang itu nanti saja lah aku ceritakan, dan seorang ibu yang sering ia panggil "Emak" serta nenek seorang paraji yang dikenal dengan panggilan "eneh" menjadi bagian dari cerita hidup nya, dan kemana sosok yang ia panggil bapak?, hingga saat ini ia pun tidak tau siapa sosok yang harus ia panggil bapak. Hidup tanpa ada nya sedikitpun peran bapak memang sedikit menyebalkan, karena itu juga yang aku rasakan namun ini bukan tentang aku.
Mamah tidak pernah tau siapa bapak nya. Hingga kini, jawaban itu masih kabur, tertutupi bisik bisik yang berseliweran di kampung kecil tempat ia di besarkan, ada yang bilang anak si ini, ada yang bilang darah si itu, tapi tidak ada satupun yang berani berdiri dan berkata, "Aku bapak mu".
Di masa kecilnya, desas desus itu menjadi sebuah bayangan yang mengikuti nya kemanapun ia pergi. Saat ia lewat beberapa orang menoleh, Sebagian tersenyum simpul dan sisanya hanya menatap dengan mata penuh tanda tanya. Tapi mamah tidak pernah membiarkan pandangan itu menjatuhkan nya, ia tahu hidup nya tidak bisa berhenti disebuah gosip.
Sejak SD, tangannya sudah akrab dengan sabun cuci, sikat lantai, dan air yang membuat jari-jarinya keriput sebelum waktunya. Mamah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah orang yang tidak bisa di katakan orang lain, karna itu adalah rumah kakanya sendiri. Pagi-pagi sekali, ia sudah mengelap meja, menyapu lantai, mencuci piring kotor, lalu buru-buru berganti seragam lusuh untuk berangkat sekolah.
Buku-buku yang ia sisipkan di tas gendong hitam yang sudah menemaninya dari SD, dengan langkah penuh semangat walaupun tidak bisa di pungkiri rasa lelah telah mengusai tubuh nya, tak jarang ia tertidur di kelas karna rasa kantuk yang tidak bisa ia kalahkan, namun sekolah bukan tempat nya untuk istirahat, suara teriakan dari guru dan tawa dari teman-teman sekelas membangunkan nya,
Siang hari, setelah bel pulang berbunyi, dengan langkah yang sudah lelah, mamah pulang ke rumah. berharap bisa sedikit meng-istirahat kan tubuh yang sudah berantakan, sebelum kembali berkelahi dengan pekerjaan yang sudah menunggu nya.
Begitu terus sampai ia lulus SMP. Tahun-tahun yang mestinya penuh dengan tawa anak-anak, bagi mamah justru diisi dengan kerja dan tanggung jawab yang lebih besar dari usianya. Tapi anehnya, tidak ada keluhan yang keluar dari bibirnya. Yang ada hanyalah keteguhan, bahwa sekolah tidak boleh berhenti, bahwa ia harus terus maju meski jalan di depannya penuh kerikil.
Mamah mungkin tidak pernah tahu siapa ayahnya, tapi ia tidak membiarkan kekosongan itu mengendalikan hidupnya. Ia memilih menjadi dirinya sendiri—perempuan yang keras, sederhana, dan tahan banting. Perempuan yang kelak, dengan segala luka masa lalu, Dan lagi-lagi wajah nya selalu tersenyum, sabil menatap langit, seolah mengatakan "Aku baik-baik saja".
Bab 2: Awan mendung di masa remajaa
Kini, mamah sudah beranjak remaja, sekolah nya terpaksa berhenti di SMP karna kakanya mamah sudah tidak sanggup membayari sekolah nya, dengan begitu mamah pun sudah tidak bekerja lagi, kesibukan nya hanya membantu emak sembari mencoba mengirim lamaran kesana, dan kesini. Namun, ijazah SMP tidak berarti apa-apa kala itu.
Sore itu, saat langit desa mulai redup, matahari bersembunyi di balik awan yang luas. Mamah remaja duduk sendirian di belakang rumah kakanya, badan masih letih setelah seharian mencari lowongan pekerjaan. Di tangan nya menggenggam map coklat yang sudah basah karna terkena keringat. Namun, matanya memandang kosong ke arah langit.
Dari salah satu pintu dapur, salah satu tetangga sekaligus teman sebaya nya muncul, ia membawa sebatang rokok kretek terselip di antara jari-jarinya.
"Capek, neng? " tanya temannya, sambil menawarkan sebatang roko yang masih tersisa di tangannya.
Mamah, menoleh ragu. "Apaantuh?, Bau banget"
"Coba aja sekali. Biar ngga pusing mikirin kerjaan. Lihat aku. Santai kan?? " katanya sambil terkekeh, lalu menghembuskan asapnya ke udara.
Mamah terdiam, hatinya menjerit, namun bibirnya enggan mengeluh. Mungkin benar. Fikirnya, sesuatu yang bikin penat hilang walaupun sebentar saja akan terasa seperti hadiah. Dengan tangan gemetar, ia menerima rokok itu.
Isapan pertamanya membuatnya batuk keras. Teman nya tertawa terbahak-bahak
"Baru gitu aja udah batuk!"
Tapi setelah beberapa kali mencoba, batuknya berhenti. Ada rasa hangat aneh yang mengalir di dadanya, rasa yang membuat nya sedikit lupa kalo besok harus mencari pekerjaan lagi dengan lebih keras.
Malam itu, di bawah langit senja yang tak lama lagi akan terlahap oleh gelapnya malam. Mamah mengenal roko untuk pertama kalinya, bukan karna ingin terlihat seperti orang dewasa, bukan pula ingin melawan. Tapi karna ia membutuhkan sesuatu. Apa saja, yang akan membuat bebannya sedikit lebih ringan.
Bab 3: Bukan cinta yang sempurna
Pertemuan mamah dengan seseorang yang akan ku panggil dengan sebutan bapak adalah hal yang mungkin tidak akan terduga oleh mamah.
Mamah di masa mudanya sering disebut sebagai primadona. Wajahnya cantik, pembawaannya anggun, dan senyumnya mampu menarik perhatian banyak orang. Tidak sedikit laki-laki yang berusaha mendekatinya; ada yang datang dari kalangan abdi negara yang sudah mapan, ada mahasiswa cerdas yang penuh cita-cita, bahkan ada pula anak pejabat yang datang dengan segala kemewahan. Semua orang seakan sepakat bahwa mamah punya pesona yang berbeda, hingga banyak yang yakin ia akan berakhir dengan pasangan terbaik.
Namun, jalan hidup tidak selalu mengikuti dugaan orang. Di tengah banyaknya pilihan, mamah justru jatuh hati pada seorang laki-laki yang sebenarnya sudah memiliki keluarga. Laki-laki itu adalah bapak. Perkenalan mereka sederhana, namun kedekatan yang terjalin membuat mamah merasa ada sesuatu yang berbeda pada dirinya. Hatinya merasa tenteram, meski akal sehat berkali-kali mengingatkan bahwa hubungan itu penuh risiko.
Selama tiga tahun, mamah menjalin hubungan dengan bapak. Bukan berarti mamah tidak tahu kenyataan bahwa bapak telah beristri, tapi perasaan sering kali lebih kuat daripada logika. Cinta memang kadang datang tanpa bisa dipilih, dan itulah yang dialami mamah. Banyak orang mungkin tidak akan mengerti, bahkan bisa jadi menghakimi, namun hanya mamah yang tahu alasan hatinya tetap bertahan.
Waktu berjalan, hingga akhirnya sebuah peristiwa mengubah segalanya. Mamah hamil sebelum ada ikatan pernikahan resmi. Keadaan itu membuat keluarga besar terkejut, bahkan sempat menimbulkan kebingungan. Tidak ada pilihan lain selain menikah dengan bapak, meski jalannya tidak semudah yang dibayangkan. Pernikahan itu pun dilakukan secara sirih—diam-diam, sederhana, dan tanpa banyak orang tahu.
Bagi sebagian orang, mungkin terdengar seperti kisah yang nyeleneh, jauh dari gambaran cinta ideal yang indah. Namun bagi mamah, keputusan itu adalah bentuk keberanian untuk bertanggung jawab atas jalan hidup yang ia pilih sendiri. Ia rela meninggalkan banyak kesempatan, banyak laki-laki yang dulu mengejarnya, demi mengikuti suara hati yang membawanya pada bapak.
Dan begitulah, dari pilihan yang penuh resiko itulah perjalanan hidup mamah dimulai—sebuah perjalanan yang kelak melahirkan kisah baru, termasuk hadirnya anak-anak yang menjadi alasan terbesarnya untuk tetap kuat menjalani hidup.
Namun setelah menikah, beban yang semestinya berkurang justru kian membesar, menumpuk bagai batu yang tak pernah berhenti digelindingkan ke punggungnya. Sejak alasan di balik pernikahan mamah dan bapak tersibak, hidup mamah tak lagi menemukan tenang. Dari setiap sudut jalan, dari sela-sela bisikan tetangga, lahirlah cibiran, hinaan, dan makian yang menghujam telinga, menorehkan luka yang tak kasat mata. Hidupnya kini bukan hanya soal menanggung berat di pundaknya, melainkan juga menahan perih cambukan yang seakan menghantam sekujur tubuhnya, menggores jiwa yang sebenarnya sudah penuh luka.
Ia berjalan dengan langkah tertatih, menegakkan kepala bukan karena sombong, melainkan demi menyembunyikan air mata yang nyaris tumpah di depan orang-orang yang haus melihatnya jatuh. Dan bapak pun tak luput dari badai yang sama, mulut-mulut tetangga yang tajam tak segan mengiris harga dirinya, menjadikannya bulan-bulanan gosip yang tak pernah reda. Dua insan yang berharap menemukan rumah dalam pernikahan, justru harus belajar bagaimana bertahan di tengah reruntuhan kata-kata, yang jauh lebih menyakitkan daripada sekadar cambukan rotan.
Karena tak lagi kuasa menghadapi tajamnya mulut orang-orang, mamah pun memilih jalan yang pahit: melangkah pergi. Malam itu hujan turun deras, seakan langit ikut merasakan pedih yang menggenang di hatinya. Dengan tubuh menggigil dan hati yang koyak, ia menggendong erat anak pertamanya yang masih kecil, berusaha menutupi dingin dengan hangat pelukan seorang ibu. Bapak entah di mana, lenyap ditelan sunyi, meninggalkan mamah hanya ditemani Kang Adang, saudara yang rela menjadi penolong di saat semua pintu terasa tertutup.
Di bawah derasnya hujan, roda pedati yang berderit mengantar mamah menjauh dari desa. Desa yang dulu ia kenal sebagai rumah, kini hanya menyisakan cambuk kata-kata dan luka yang tak henti ditorehkan. Air matanya luruh bercampur dengan hujan, meninggalkan jejak yang tak akan pernah mampu dilihat siapa pun, kecuali langit malam yang menjadi saksi bisu.
Hari-hari berlalu setelah kepergiannya. Dan di suatu waktu yang berbeda, bapak pun akhirnya menyusul. Dengan langkah berat dan wajah yang letih, ia datang mencari mamah—bukan hanya sebagai seorang suami, tapi sebagai lelaki yang menyadari bahwa setajam apa pun kata-kata dunia, kebersamaanlah satu-satunya benteng untuk bertahan. Ia mendapati mamah dengan mata yang masih sembab, namun tetap tegar memeluk anak kecil di pelukannya.
Pertemuan itu bukanlah akhir dari luka, melainkan awal dari perjalanan baru. Dua hati yang remuk kembali dipertemukan, kali ini dengan janji yang lebih dalam: meski dunia menghakimi, mereka akan tetap melangkah bersama, menanggung beban yang sama, menahan perih yang sama, dan berharap suatu hari badai ini akan reda
Pada akhirnya, di tempat tinggal barunya, mamah sempat menemukan kebahagiaan bersama bapak—meski hanya sebentar. Dari rahimnya, mamah melahirkan empat orang anak, buah hatinya, darah dagingnya sendiri. Salah satunya adalah aku, anak ketiga, yang kelak menjadi saksi bisu dari luka-luka yang tak pernah sepenuhnya sembuh. Empat anak itu adalah cahaya dalam hidupnya, meski cahayanya sering tertutup bayangan duka.
Namun, kebahagiaan itu tak pernah benar-benar utuh. Bapak tidak bisa selalu hadir di sisi mamah, karena dirinya terbelah antara dua rumah: istri pertamanya dan mamah. Pada awalnya, bapak masih sering datang, duduk bersama, berbincang, bahkan bermain dengan anak-anaknya. Ada secercah harapan di hati mamah, seakan badai masa lalu bisa reda. Tetapi semakin lama, segalanya berubah. Kedatangan bapak semakin jarang, sikapnya kian berbeda. Yang dulu lembut berubah menjadi kasar, yang dulu penuh kesabaran kini dipenuhi amarah.
Hingga pada suatu hari, pertengkaran yang tajam pecah di antara mereka. Kata-kata meninggi, suasana memanas, dan di puncak emosinya, bapak kehilangan kendali. Tangannya terangkat, lalu mendarat keras di wajah mamah. Tamparan itu bukan hanya melukai kulit, tetapi juga merobek harga diri seorang perempuan yang telah mengorbankan hidupnya, bahkan rahimnya, demi melahirkan empat nyawa ke dunia.
Mamah terdiam, menahan perih yang jauh lebih dalam daripada sakit di pipinya. Saat kabar itu sampai ke telinga emak (nenekku) amarahnya pun meledak. Ia tak sanggup melihat putrinya, yang telah melahirkan empat anak dengan segala perjuangan, justru diperlakukan dengan kejam. Dengan suara yang tegas, bergetar oleh air mata dan kemarahan, ia berkata: pernikahan itu harus diakhiri. Sebab apa arti sebuah rumah tangga jika hanya menyisakan luka, dan apa arti seorang suami jika hanya meninggalkan tamparan, bukan pelukan.
Bukan perceraian yang akhirnya mamah dapatkan, melainkan kenyataan pahit: bapak memilih pergi dan meninggalkan semua tanggung jawabnya. Berbulan-bulan lamanya ia tak pernah memberi kabar, seakan meniadakan dirinya dari kehidupan kami. Nafkah yang semestinya menjadi hak anak-anaknya pun tak pernah ia berikan. Rumah yang dulu terasa penuh, meski sederhana, kembali diliputi sepi. Rasa sunyi yang sempat hilang kini hadir lagi, menghantui setiap sudut malam, menemani setiap helaan napas mamah.
Namun mamah tidak menyerah. Ia tidak membiarkan keempat anaknya tenggelam dalam gelap hanya karena tiadanya seorang suami di sisinya. Dari rahimnya telah lahir empat nyawa, dan bagi mamah, itu sudah cukup untuk memberinya alasan bertahan. Dengan tekad yang tak tergoyahkan, ia berjanji pada dirinya sendiri: ada atau tidak adanya bapak, anak-anaknya harus tetap tumbuh, tetap makan, tetap bersekolah, dan tetap merasakan kasih sayang seorang ibu.
Berbagai pekerjaan ia jalani tanpa kenal lelah. Pagi hingga sore, mamah mengasuh anak-anak saudara, menjadi pengganti tangan seorang ibu bagi mereka, meski tubuhnya sendiri letih. Dan ketika malam tiba, saat orang-orang mulai merebahkan diri, mamah justru kembali mengayuh tenaganya. Ia mendorong gerobak besar berisi tong air bersih, berkeliling menjajakan dari rumah ke rumah.
Di tempat kami, air bersih adalah barang langka; tak mudah mendapatkannya. Orang-orang yang memilikinya menjualnya sebagai sumber kehidupan, dan mamah memilih jalan itulah untuk menegakkan hidup kami. Bayangkan tubuh mungilnya, langkah yang tertatih, namun tangan-tangannya tetap kokoh mendorong gerobak berat itu menembus gelap malam. Suara derit rodanya berpadu dengan desah napasnya yang terengah, menjadi lagu perjuangan yang mungkin tak pernah didengar orang banyak, tetapi selalu kuingat di hatiku.
Mamah berjuang seorang diri, menukar keringat dengan sesuap nasi, menukar lelah dengan senyum kecil anak-anaknya. Ia adalah bukti nyata bahwa cinta seorang ibu bisa melampaui segala batas, bahkan batas tubuhnya sendiri.
Walaupun pada akhirnya, hubungan mamah dan bapak perlahan mulai membaik, meski tidak sepenuhnya pulih. Waktu yang panjang, luka yang dalam, serta jarak yang pernah merenggangkan mereka, meninggalkan jejak yang tak mudah terhapus. Ada upaya untuk saling mendekat, ada niat untuk kembali membangun rumah yang dulu hampir runtuh, namun di sela-sela kebersamaan itu masih tersisa rasa canggung yang tak bisa disembunyikan.
Mereka berdua belajar kembali duduk bersama, berbincang dengan hati-hati, seolah setiap kata bisa menjadi pemantik bara. Ada diam yang panjang, ada senyum yang dipaksakan, namun setidaknya itu adalah langkah kecil menuju sesuatu yang lebih baik. Bapak mulai hadir lagi, meski tidak selalu, dan mamah berusaha menerima, meski hatinya masih menyimpan ragu.
Canggung itu seperti dinding tipis yang berdiri di antara mereka—bukan lagi tembok tebal yang tak tertembus, tetapi tetap ada, mengingatkan pada masa lalu yang kelam. Dan meski dinding itu tak langsung runtuh, sedikit demi sedikit mamah dan bapak mencoba melewatinya. Mereka tidak lagi banyak bicara tentang luka, melainkan tentang anak-anak yang kini tumbuh di depan mata.
Hubungan itu mungkin tidak sempurna, tidak hangat sepenuhnya, namun cukup untuk membuat rumah kembali bernyawa. Bagi mamah, itu sudah lebih dari sekadar harapan—itu adalah kesempatan kedua, meski dengan syarat harus siap menerima canggung yang mungkin akan selalu ada di antara mereka.
Walaupun bapak hanya pulang dua minggu sekali, mamah tetap berusaha menyambutnya dengan wajah tenang. Ada rindu yang sebenarnya ingin ia ungkapkan, ada keluh yang ingin ia sampaikan, namun semuanya ia sembunyikan rapat-rapat demi menjaga suasana tetap teduh. Kehadiran bapak, meski sebentar, menjadi obat sementara bagi rasa sepi yang begitu lama menghuni rumah itu.
Bagi anak-anak, dua minggu sekali terasa terlalu singkat untuk mengenal sosok ayah mereka sepenuhnya. Namun bagi mamah, sekecil apa pun waktu yang bapak sisihkan, tetap ia syukuri. Ia tahu, hidupnya tidak sempurna. Ia tahu, kebahagiaan yang ia miliki rapuh. Tetapi di balik segala luka yang masih berbekas, mamah memilih bertahan, sebab ia percaya bahwa hadirnya bapak meski jarang tetap memberi arti bagi keluarga kecilnya.
Bab: 4 Bapak pergi mamah bertahan
Tepat saat usiaku menginjak sembilan tahun, kabar itu datang—bapak meninggal dunia. Dunia seakan berhenti sejenak, meski dalam hatiku tidak ada kedekatan yang benar-benar terjalin antara aku dan beliau. Aku tumbuh tanpa sempat mengenalnya sepenuhnya, tanpa sempat merasakan bagaimana hangatnya seorang ayah menggandeng tanganku. Namun aku tetap bersyukur, setidaknya aku pernah melihat wajahnya, mengenali sosoknya, walau hanya sebatas bayangan samar dalam ingatan masa kecilku.
Kepergian bapak membuat hidup mamah kian berat. Kini ia benar-benar berdiri sendiri, menanggung beban yang seharusnya dipikul berdua. Namun mamah tidak pernah menyerah. Ia bekerja keras tanpa mengenal waktu, mengorbankan tenaga dan bahkan kesehatannya demi satu hal: agar anak-anaknya tetap bisa bersekolah, tetap bisa meraih cita-cita, dan tidak jatuh pada jurang yang sama seperti dirinya.
Setiap tetes keringat mamah adalah doa yang diam-diam ia titipkan di punggung kami. Setiap langkah kakinya yang letih adalah bukti betapa kuatnya cinta seorang ibu. Hingga saat ini, badai masih sering menghantam tubuhnya, badai kesepian, badai lelah, badai sakit yang tak selalu terlihat. Namun mamah tetap berdiri tegak, menantang segala terpaan, seolah ingin berkata kepada dunia bahwa ia sanggup melawan semuanya, demi kami, anak-anaknya.
Dan bagiku, dari semua perjuangan itu, mamah bukan sekadar seorang ibu—ia adalah rumah, sekaligus pelindung, yang membuatku tetap bisa berdiri hingga hari ini.
Sejak dulu hingga sekarang tubuh mamah masih masih tegar berdiri dengan tangguh, walaupun dunia seringkali membuatnya terjatuh.
Setiap kali mamah memandangi awan yang kulihat hanyalah luka dan tangisan yang tertinggal di atas langit, mungkin mamah tidak punya benar benar tempat untuk bersandar, karena ia lah sandaran terbaik yang ku punya
Tak jarang aku menyalahkan diri ku atas semua penderitaan yang mamah alami karena aku hanya bisa terdiam dan menyaksikan, menjadi saksi yang hanya diam, menjadi anak yang hanya bisa menunggu mamah pulang agar bisa memeluk mamah walaupun ku tahu pelukanku terasa sangat ringat di bandingkan dengan beban besar yang selalu ia bawa.
Entah dari mana mamah mendapatkan kekuatan sebesar itu. Tentunya bukan dari meteor jatuh yang menimpanya, atau sebuah eksperimen dari seorang ilmuwan. Tidak ada hal ajaib yang mengubahnya menjadi pahlawan. Kekuatan itu lahir dari sesuatu yang jauh lebih sederhana—dan justru karena kesederhanaan itulah ia menjadi begitu luar biasa.
Ia tumbuh dari gosip, dari ketidakpastian, dari kemiskinan yang tak memberi ruang untuk bermimpi. Tapi justru dari sanalah ia belajar berdiri. Dari lantai-lantai rumah orang yang ia pel bersih, dari cucian yang membuat tangannya kasar, dari kopi dan kepulan asap roko yang menemaninya tiap pagi, dan dari doa yang ia ucapkan diam-diam ketika dunia terasa terlalu berat.
Kekuatan mamah bukanlah keajaiban. Itu adalah hasil dari luka yang tidak ia biarkan membusuk, melainkan ia ubah menjadi ketabahan.
Bab 5 : Telah ku temukan awan favoritku
Kini, setelah semua cerita tentang mamah kutulis, aku mulai mengerti. Segala hirupan rokoknya, tegukan kopi paginya, senyum samar di balik lelahnya, bukanlah tanda kelemahan. Itu adalah caranya untuk bertahan, untuk tetap berdiri meski dunia seolah menekannya tanpa henti.
Aku tahu mamah tidak pernah punya masa kecil yang indah, tidak pernah benar-benar merasakan pelukan seorang ayah, bahkan masa remajanya pun lebih banyak dihabiskan dengan bekerja ketimbang tertawa. Tapi di balik semua itu, ia tidak pernah menyerah. Ia tidak pernah berhenti menatap langit, seakan mencari sesuatu yang lebih besar daripada luka yang menempel di dirinya.
Dan aku baru sadar, langit yang sering ia tatap itu bukan sekadar kosong. Awan yang ia pandangi setiap pagi ternyata adalah cermin dari dirinya sendiri, kadang mendung, kadang cerah, tapi selalu ada. Awan yang tahan banting, yang tidak pernah berhenti bergerak meski dihantam angin dari segala arah.
Hari ini, aku berdiri di tempat yang sama, di jendela yang dulu sering mamah tempati. Aku menatap ke langit, mencari-cari jejaknya. Dan di antara ribuan bentuk awan yang berarak, aku menemukan satu awan yang berbeda. Awan yang mengingatkanku pada wajah mamah, pada senyum samar yang dulu selalu ia sisakan untukku.
Sejak saat itu aku tahu, aku telah menemukannya.
Awan favoritku, selamanya adalah mamah.
(Terimakasih)
Other Stories
Chronicles Of The Lost Heart
Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Diary Superhero
lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...
Haura
Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...