Bab 1. Perkenalan
Dialah seorang maestro dalam seni rupa. Mempunyai kemampuan dan keahlian yang luar biasa. Dialah yang bisa membuat karya yang luar biasa. Tidak heran jika dia bisa selalu menang perlombaan. Seorang wanita bertalenta yang bernama Maya. Media apapun bukanlah halangan dari dia. Kertas, tembok, kayu, dan dimanapun itu terutama kanvas putih. Betul, keahlian dia ada berada di kanvas putih tanpa noda. Dialah sang Maestro yang akan membuat kanvas itu menjadi berwarna. Bagaikan sang Maestro yang mengajarkan anaknya tentang indahnya dunia ini. Goresan-goresan yang dibuatnya seperti memberikan riasan kepada anaknya satu-satunya. Itulah sebuah kanvas putih yang sudah mulai dibentuk olehnya. Semua hal terlihat baik jika berwarna seperti kanvas itu. Kehidupannya akan dipenuhi oleh pikiran yang sangat imajinatif dan abstrak.
Bagi dia menggambar adalah hal yang sangat disukainya. Mencari waktu luang dan tempat yang cocok untuk menggambar. Ketika dia sudah menemukan tempatnya. Dia mulai meraba, mencium, mendengar, merasa dan melihat dari semua inderanya. Semua sensasi dari tempat itu akan merasuki dia. Seperti dia bisa melihat semua sisi dari pemandangan itu. Seperti biasanya dia membawa kanvas putih dan kuasnya. Datang ke tempat yang ingin digambar olehnya. Kali ini adalah pemandangan yang luar biasa. Tempat yang sangat cocok untuk digambar di dalam kanvas putih tanpa noda. Seperti hal yang biasa dilakukan olehnya. Apa yang dirasakan olehnya?
Dia merasakan dari kejauhan di dalam langit, terdengarlah burung berkicau riang. Terbang bersama angin kesana dan kemari. Menembus awan di langit yang biru. Seakan-akan mereka berkata ke satu dengan yang lain. Mereka sedang balapan dan berada di sirkuit yang luas. Siapakah yang akan menang dan siapakah yang akan kalah. Bayangkan jika mereka bersenandung pula. Dengan begitu salah satu dari mereka terbang dengan cepat seperti roket. Bayangkan saja jika makhluk di darat melihatnya dan mulai menonton seperti manusia yang menonton bioskop. Betapa bahagianya hewan-hewan itu. Tidak hanya itu, hewan-hewan di air pasti juga melihat semua moment itu. Adanya pohon-pohon, gunung, dan sungai yang membentang bagaikan latar belakang dari balapan mereka. Hewan-hewan yang berada di sungai dan dataran rendah pasti iri dengan hewan-hewan yang berada di gunung. Hal itu karena hewan-hewan di gunung bisa melihat lebih dekat dengan burung itu. Momentum yang membutuhkan banyak perjuangan. Bisa jadi akan jarang terjadi. Bahkan bisa jadi hal ini tidak akan terulang kembali. Apakah mereka akan mengerti dengan semua perasaan itu?
Inilah kekuatan Maya Sang Maestro kita. Pemandangan yang abstrak itulah yang bisa menghidupkan semua lukisan-lukisannya. Sambil merasakannya, dia akan mencium aroma segarnya rumput, angin yang berhembus, dan mendengar hewan-hewan bernyanyi. Tersenyum bahagialah Maya. Matanya yang bersinar memandang semua pemandangan. Maya sudah bisa memulai menggambar apa yang dia rasakan dari pengalaman itu. Menggambar pada saat itu juga, dan selesai pada hari itu juga. Kekuatan yang luar biasa darinya.
Orang-orang banyak yang kagum dengan dirinya. Walaupun begitu banyak pula yang iri dengannya. Bagaimana tidak?
Bakat Maya ini sudah ada dari lahir. Terlahir di keluarga seniman, terkenal, dan kaya raya. Seorang yang cantik jelita, berkepribadian baik, dan ramah. Seorang yang tanpa kekurangan. Bakatnya didukung penuh oleh keluarganya. Kehidupan yang sangat sempurna inilah yang dijalani oleh dia selama ini.
“Akhirnya lukisanku kali ini bagus seperti biasanya. Waktunya pulang ke rumah.” Kata Maya dengan bangga dan mulai merapikan barang-barangnya.
“Waw… kali ini apa yang kamu gambar Maya?” Kata ayah Maya.
“Ini adalah karyaku untuk perlombaan yang sedang diadakan. Pemandangan burung dengan background gunung dan hutan. Semuanya seperti yang kulihat.” Kata Maya.
“Hahaha anakku memang memiliki selera yang menarik.”
“Iya papa, aku berharap bisa memenangkannya kembali.”
“Itulah anakku. Berkompetisi lah terus dengan begitu kamu akan semakin mahir.”
“Iya papa, aku akan selalu membanggakanmu.” Kata Maya dengan senang.
Itulah karya Maya yang kesekian kalinya. Mendapatkan apresiasi yang mendalam. Mereka pulang dengan rasa senang dan bahagia. Inilah seorang Maestro kita.
Sesampainya di rumah, Maya disambut oleh ibunya yang tidak kalah cantiknya.
“Maya!! Mama kangen kamu!!” Kata ibu Maya yang merindukan Maya.
“Mama aku sudah pulang. Nih aku membuat lukisan baru lagi.” Kata Maya dengan bangga.
“Iya mama melihatnya. Seperti biasanya ya, anak mama memang sangat berbakat.” Kata ibu Maya sambil memeluk Maya. “Semangat ya nak.”
“Iya ma.” Kata Maya dengan bangga.
Seperti biasa mereka berkumpul bersama di rumah mereka yang besar dan megah. Saling berbagi cerita dan bergembira bersama. Ayah Maya adalah seorang pelukis terkenal di masa itu. Lukisan ayah Maya pun sangat terkenal hingga ke luar negeri. Banyak orang berbondong-bondong membeli lukisan ayah Maya. Sedangkan ibu Maya adalah artis papan atas dengan kemampuan akting yang luar biasa. Ayah dan ibunya sangatlah terkenal. Sehingga hanya terkadang saja mereka bisa berkumpul dan bercengkrama.
Bagi dia menggambar adalah hal yang sangat disukainya. Mencari waktu luang dan tempat yang cocok untuk menggambar. Ketika dia sudah menemukan tempatnya. Dia mulai meraba, mencium, mendengar, merasa dan melihat dari semua inderanya. Semua sensasi dari tempat itu akan merasuki dia. Seperti dia bisa melihat semua sisi dari pemandangan itu. Seperti biasanya dia membawa kanvas putih dan kuasnya. Datang ke tempat yang ingin digambar olehnya. Kali ini adalah pemandangan yang luar biasa. Tempat yang sangat cocok untuk digambar di dalam kanvas putih tanpa noda. Seperti hal yang biasa dilakukan olehnya. Apa yang dirasakan olehnya?
Dia merasakan dari kejauhan di dalam langit, terdengarlah burung berkicau riang. Terbang bersama angin kesana dan kemari. Menembus awan di langit yang biru. Seakan-akan mereka berkata ke satu dengan yang lain. Mereka sedang balapan dan berada di sirkuit yang luas. Siapakah yang akan menang dan siapakah yang akan kalah. Bayangkan jika mereka bersenandung pula. Dengan begitu salah satu dari mereka terbang dengan cepat seperti roket. Bayangkan saja jika makhluk di darat melihatnya dan mulai menonton seperti manusia yang menonton bioskop. Betapa bahagianya hewan-hewan itu. Tidak hanya itu, hewan-hewan di air pasti juga melihat semua moment itu. Adanya pohon-pohon, gunung, dan sungai yang membentang bagaikan latar belakang dari balapan mereka. Hewan-hewan yang berada di sungai dan dataran rendah pasti iri dengan hewan-hewan yang berada di gunung. Hal itu karena hewan-hewan di gunung bisa melihat lebih dekat dengan burung itu. Momentum yang membutuhkan banyak perjuangan. Bisa jadi akan jarang terjadi. Bahkan bisa jadi hal ini tidak akan terulang kembali. Apakah mereka akan mengerti dengan semua perasaan itu?
Inilah kekuatan Maya Sang Maestro kita. Pemandangan yang abstrak itulah yang bisa menghidupkan semua lukisan-lukisannya. Sambil merasakannya, dia akan mencium aroma segarnya rumput, angin yang berhembus, dan mendengar hewan-hewan bernyanyi. Tersenyum bahagialah Maya. Matanya yang bersinar memandang semua pemandangan. Maya sudah bisa memulai menggambar apa yang dia rasakan dari pengalaman itu. Menggambar pada saat itu juga, dan selesai pada hari itu juga. Kekuatan yang luar biasa darinya.
Orang-orang banyak yang kagum dengan dirinya. Walaupun begitu banyak pula yang iri dengannya. Bagaimana tidak?
Bakat Maya ini sudah ada dari lahir. Terlahir di keluarga seniman, terkenal, dan kaya raya. Seorang yang cantik jelita, berkepribadian baik, dan ramah. Seorang yang tanpa kekurangan. Bakatnya didukung penuh oleh keluarganya. Kehidupan yang sangat sempurna inilah yang dijalani oleh dia selama ini.
“Akhirnya lukisanku kali ini bagus seperti biasanya. Waktunya pulang ke rumah.” Kata Maya dengan bangga dan mulai merapikan barang-barangnya.
“Waw… kali ini apa yang kamu gambar Maya?” Kata ayah Maya.
“Ini adalah karyaku untuk perlombaan yang sedang diadakan. Pemandangan burung dengan background gunung dan hutan. Semuanya seperti yang kulihat.” Kata Maya.
“Hahaha anakku memang memiliki selera yang menarik.”
“Iya papa, aku berharap bisa memenangkannya kembali.”
“Itulah anakku. Berkompetisi lah terus dengan begitu kamu akan semakin mahir.”
“Iya papa, aku akan selalu membanggakanmu.” Kata Maya dengan senang.
Itulah karya Maya yang kesekian kalinya. Mendapatkan apresiasi yang mendalam. Mereka pulang dengan rasa senang dan bahagia. Inilah seorang Maestro kita.
Sesampainya di rumah, Maya disambut oleh ibunya yang tidak kalah cantiknya.
“Maya!! Mama kangen kamu!!” Kata ibu Maya yang merindukan Maya.
“Mama aku sudah pulang. Nih aku membuat lukisan baru lagi.” Kata Maya dengan bangga.
“Iya mama melihatnya. Seperti biasanya ya, anak mama memang sangat berbakat.” Kata ibu Maya sambil memeluk Maya. “Semangat ya nak.”
“Iya ma.” Kata Maya dengan bangga.
Seperti biasa mereka berkumpul bersama di rumah mereka yang besar dan megah. Saling berbagi cerita dan bergembira bersama. Ayah Maya adalah seorang pelukis terkenal di masa itu. Lukisan ayah Maya pun sangat terkenal hingga ke luar negeri. Banyak orang berbondong-bondong membeli lukisan ayah Maya. Sedangkan ibu Maya adalah artis papan atas dengan kemampuan akting yang luar biasa. Ayah dan ibunya sangatlah terkenal. Sehingga hanya terkadang saja mereka bisa berkumpul dan bercengkrama.
Other Stories
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...
Lombok; Tanah Surga
Perjalanan ini bukan hanya perjalanan yang tidak pernah diduga akan terjadi. Tetapi menjad ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...
Buah Mangga
buah mangga enak rasanya ...
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...