Sang Maestro

Reads
992
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
Penulis Queena Adhelia

Bab 3. Kesedihan, Kemarahan Dan Sedikit Harapan

Saat di rumah Maya melihat rumahnya yang megah itu. Dia berpikir apakah ayah dia juga mengalami hal ini lalu apa yang ayahnya lakukan. Sayangnya dia tidak bisa melakukan itu. Ayahnya sedang keluar kota untuk melukis disana. Dia merasa jika ayahnya tidak akan bisa dihubungi selama beberapa hari ini. Bisa jadi berminggu-minggu ataupun berbulan-bulan lamanya. Itulah pekerjaan seniman terkenal yang bakatnya tidak tergantikan.

Maya pergi ke kamarnya dia pun melihat di dalam kamarnya terdapat sebuah kanvas putih yang belum terkena cat. Melihat kanvas itu Maya teringat kembali kejadian itu. Maya sangat khawatir lukisannya akan dirusak lagi dan lagi. Maya berjalan ke kasur, mengambil bantal dan mulai menangis. Dia diajarkan untuk tidak menangis di depan umum. Hanya kamar yang menjadi tempat dia mengungkapkan perasaanya. Bayangkan saja anak seorang seniman terkenal dan artis pastinya dia tidak bisa bertindak semaunya dia. Hal yang ingin dia lakukan hanyalah menangis dengan tenang. Meluapkan semua hal itu.

Malam yang dingin bersama dengan bengkaknya mata sang Maestro. Maya yang sudah lebih tenang mulai melukis kembali di kanvasnya. Dia berkata kepada dirinya sendiri jika dia tidak boleh menyerah. Malam itu Maya hanya melukis, meluapkan semua emosinya. Bagaikan singa yang memberontak. Dia melukis hingga fajar pun datang.

Pagi yang cerah datang dan menghampiri kamar sang Maestro. Pagi yang mulai merayap itu memperlihatkan lukisan yang sangat kuat, bermakna, dan penuh emosi. Lukisan yang berdominan warna merah dan hitam itu mulai terlihat. Maya yang berhenti melukis itu lalu melihat lukisan yang dibuatnya.

Jadi ini yang sedang kurasakan? Tanpa sengaja aku menuangkan semua perasaanku.
Dia pun mulai menutup kanvas itu dan menaruhnya di ujung kamarnya. Dia melihatnya sebagai penyiksaan kepada kanvas itu. Dia pun memulai harinya kembali. Pergi ke kampus seperti biasanya. Rambutnya yang digerai dengan warna rambutnya yang hitam legam, baju dia yang elegan seperti seorang bangsawan, memakai rok, dan tidak lupa ankle boots miliknya. Berjalan menyusuri lorong kampus.

“Lo tau nggak, kemaren gw liat maestro kalah.” Kata Eva.
“Hah? Seriusan lu. Lo bohong anjir.” Kata Josh.
“Nggak anjir, beneran, ni ya gw kasi videonya kemarin.”
“Njirr, beneran kalah. Ternyata dia bisa kalah juga ya.”
“Iya anjir, tapi katanya lukisanya dirusak.”
“Lo tau darimana?”
“Gw punya teman panitia. Pada ngomong gitu.”
“Kasian sih kata gw.”

Banyak orang yang di kampusnya tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya. Banyak dari mereka yang bertanya-tanya. Ada pula yang berempati dengannya. Itulah yang sang Maestro dengarkan ketika menyusuri lorong itu. Dia merasa jika dia menjadi seseorang yang gagal. Maya yang malang itu akhirnya mencari tempat yang sepi agar tidak mendengar simpati dari mereka. Menunggu jam masuk datang dan dia tidak menjadi perbincangan kembali.

Waktu masuk perkuliahan pun tiba. Dia berjalan menuju kelas dia sebagai seniman. Suasana hening menjalar ke ruangan ketika dia memasuki ruangan. Banyak mahasiswa di sana mulai berbisik ke satu dan temannya.

Semua orang membicarakan yang kemarin telah terjadi. Apa yang harus kulakukan?
Akhirnya bisikan-bisikan itu terhenti ketika dosen datang untuk menyampaikan materi hari itu. Seperti biasanya mereka sedang mendapatkan mata kuliah studio. Dengan adanya mata kuliah ini mereka perlu menciptakan karya mereka untuk nilai tugas mereka. Hanya dengan sedikit penjelasan teori lalu mereka mendapatkan tugas untuk hari itu. Inilah kehidupan dia sebagai seorang anak mahasiswi jurusan seni rupa.

Kali ini tugas yang diberikan adalah melukis makna dari sebuah puisi. Mereka perlu mencari puisi yang mereka suka, memahaminya dan memvisualisasikan di atas kanvas. Tugas kali ini diberikan waktu hingga 2 minggu lamanya. Memahami sebuah puisi tidaklah mudah. Puisi memiliki bisa memiliki banyak pesan-pesan dari sang pembuat. Bahkan isi dari sebuah puisi sangatlah unik, indah, dan imajinatif. Inilah sebuah tantangannya dari tugas ini.

Untuk Maya tugas ini unik, tidak ada batasan genre, boleh mengambil puisi dari dalam negeri dan luar negeri, dan yang terpenting bagaimana mahasiswa disana memaknai puisi lalu menggambarkannya di kanvas. Tidak seperti biasanya yang mengharuskan menggambar manusia ataupun pemandangan. Kali ini beneran sebuah tantangan. Maya yang biasanya menggunakan semua inderanya untuk membuat sebuah karya kali ini harus menggunakan pikirannya.

Hal yang dia pikirkan pertama kali adalah pergi ke perpustakaan. Mungkin dia mendapati puisi yang sudah kuno dan membuatnya menjadi karya. Kepercayaan dirinya yang sedikit demi sedikit mulai kembali. Dia merasa ini akan menjadi titik balik dia dan bisa kembali bersinar.






Other Stories
Mendua

Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...

Anak Singkong

Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Misteri Kursi Goyang

Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Download Titik & Koma