Sang Maestro

Reads
993
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
Penulis Queena Adhelia

Bab 6. Taman Bermain

Taman yang luas dan ada tempat bermain anak-anak pula. Ayahnya mempunyai ide untuk mengembalikan semangat Maya. Mereka memiliki misi untuk menggambar apapun yang ada di depannya. Maya dan ayahnya pun berpencar. Dengan begitu mereka bisa menggambar sesuai dengan sudut pandang mereka. Ayahnya memilih untuk menggambar isi dari segala taman itu. Pohon, rumput, taman bermain, dan langit pun digambarkan dengan sempurna.

Maya mencari tempat duduk untuk menggambar. Meskipun dia sudah memegang pensilnya dan siap untuk menggambar, Maya tetap ragu. Dia merasa sudah tidak ada kekuatan dari gambarannya. Dia bertanya-tanya mengapa ayahnya mengajak untuk menggambar di sini.

“Kak kakak… kakak mau menggambar apa?” Kata anak kecil.
“Kakak mau menggambar pemandangan di sini.” Kata Maya dengan tenang.
“Ooo… aku juga mau dong kak. Aku jago loh.” Kata anak kecil dengan pedenya.
“Iya dek, sini aku kasih kertasnya. Bawa pensil nggak dek?”
“Hehehe nggak bawa. Boleh pinjam?” Kata anak kecil dengan tawa polosnya.
“Nih, kakak punya banyak pensil.” Kata Maya dengan tulus.
“Yey, makasih kak.”

Mereka pun menggambar bersama. Jika Maya menggambar pemandangan di sana, maka si anak hanyalah menggambar yang dia inginkan saja. Maya mengamati garis lugu yang dibuat anak itu. Gambaran anak-anak pada umumnya. Meskipun tidak sebanding tetapi Maya menyadari sesuatu. Dengan coretan lugu sang anak, dia tetap bangga dengan karyanya. Dia tetap pede menunjukkan dan menganggap dirinya hebat. Itulah anak-anak.

Ketika sang anak melihat gambaran Maya, dia pun mulai memujinya. Walaupun Maya masih menggambar satu pohon tetapi sang anak memujinya terus-terusan. Kakak Maya yang keren, kakak Maya cantik yang jago menggambar, dan banyak pujian yang dilontarkan oleh sang anak. Melihat hal itu, teman-teman anak kecil itu mulai berkumpul. Anak kecil itu dengan polosnya memuji dirinya di depan temannya. Satu per satu teman-temannya pun meminta gambarkan sesuatu. Entah sebuah taman, mobil, sepeda, tas, baju, dan lainnya. Untungnya Maya membawa banyak kertas jadi setiap anak yang meminta itu mendapatkan satu gambar darinya. Dengan begitu mereka tidak akan berebut.

Maya merasa senang dengan hal itu. Kebahagiaan yang sederhana itu memulai adanya percikan semangat di dalam diri Maya. Meskipun akhirnya kertas Maya jadi habis tetapi dia mendapatkan sedikit semangatnya kembali. Dia pun mulai menggambar pemandangan di sana. Segala hal yang dilihat, dirasakan, diraba, didengar, dan diciumnya dari semua inderanya membuat karya baru kembali. Meskipun tidak sebagus sebelumnya tetapi dia menyadari jika yang terpenting dari menggambar adalah bagaimana Maya bisa menikmatinya. Inilah yang sudah dilupakan olehnya sejak lama. Menggambar tidak perlu sempurna yang dia lalui itu. Jadi inilah kebangkitan kecil dari Maya.

Maya berterima kasih dengan anak itu. Tanpa adanya anak itu Maya tidak akan sadar tentang hal itu. Anak itu sudah mengembalikan api semangat dari sang Maestro. Seharusnya Maya menyadarinya dari dulu. Pembully bukanlah halangan bagi dia untuk berkarya. Mereka bukanlah apa-apa dibandingkan Maya. Bakat alami yang sudah ada sejak lahir. Karyanya yang hebat itulah yang membuat dia selalu menang dan dipajang.

Setelah mereka sudah selesai menggambar. Ayahnya menyadari jika gambaran anaknya memang sedikit berbeda dari sebelumnya. Efek dari kejadian itu memanglah sangat besar. Ayahnya pun berpikir untuk memberikan anaknya keadilan. Tidak tega dengan apa yang dialami oleh anaknya.

“Papa… makasih sudah mengajakku kesini. Aku senang bisa menggambar di sini.” Kata Maya dengan senyum tipis.
“Iya nak… jika Maya butuh apa-apa bilang ke ayah ya.” Kata ayahnya dengan khawatir.
“Iya pa, tenang saja. Aku nggak akan mengecewakan papa.” Kata Maya dengan semangat.

Melihat anaknya yang sudah memiliki tujuannya kembali. Ayahnya berpikir untuk percaya dengan anaknya terlebih dahulu. Anaknya yang murung itu sudah mulai kembali ceria. Hal itu membuat ayahnya sedikit lega.

“Nak, papa akan selalu mendukungmu.” Kata ayah dengan lembut.
“Iya pa.” Kata Maya dengan senyum lebarnya.

Mereka pulang dengan rasa lega di dalam hati. Semangat Maya yang sudah kembali sejak mereka dari taman. Hal yang ingin dilakukan Maya selanjutnya adalah mencari ide untuk kembali bersinar kembali. Perasaan takut pun juga tetap ada di hati nya. Tetapi dia tidak akan menyerah.



Other Stories
Kk

jjj ...

Cinta Kadang Kidding

Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...

Mozarella (bukan Cinderella)

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseora ...

Di Luar Rencana

Hubungan Hening sedang tidak akur dengan Endaru, putri semata wayangnya, namun mereka haru ...

Keikhlasan Cinta

6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...

Kesempurnaan Cintamu

Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...

Download Titik & Koma