24 Yang Berharga
Kafe sudah mulai sepi. Musik akustik pelan terdengar samar, bercampur dengan suara sendok dan cangkir yang dibereskan. Sebagian besar kursi sudah kosong, hanya tinggal beberapa pengunjung yang menunggu pesanan terakhir. Namun Genta masih duduk di sofa empuk dekat jendela, menatap kosong ke arah gelas kopinya yang kini sudah tinggal setengah.
Entah kenapa ia betah. Mungkin karena terlalu banyak renungan yang menumpuk hari ini. Atau mungkin karena sofa empuk kafe itu terasa jauh lebih ramah dibanding kursi sutradara di lokasi syuting yang sering membuat punggungnya kaku. Bisa juga karena udara sejuk dari slow bar kecil di sudut ruangan yang mengalir pelan, menenangkan.
Namun lebih dari itu, Genta tahu, ia betah karena kehampaan dalam dirinya sedikit mereda di tempat ini. Meskipun ia merasa janggal karena belum ada yang mengenalinya.
Lucu, ya… ketika aku berada di tengah keramaian ibu kota, dengan sorot kamera yang setiap hari mengikutiku, aku malah merasa kosong. Tapi di sini, di kota kecil ku ini, tanpa ada satu pun orang yang mengenaliku, aku justru merasa tenang. Kesepian ternyata bukan berarti sendirian… kadang ia berarti bebas.
Ia menatap refleksi dirinya di kaca jendela. Wajahnya yang mulai berkerut di sekitar mata, tatapan sayu yang tak lagi sebercahaya dulu. Ini aku sekarang. Aku yang kehilangan banyak.
“Masih belum pulang, Kak?” suara itu memecah lamunannya.
Genta menoleh. Pelayan kafe yang tadi mengantarkan pesanannya, kini sudah berganti pakaian biasa. Wajahnya terlihat lelah tapi matanya tetap berbinar.
“Ini beneran, Kak, mau ngasih aku tips and trick soal gebetan? Hehe…” candanya sambil duduk di kursi seberang.
Genta terkekeh kecil. “Kamu ini…”
“Ya gimana lagi. Kesempatan ngobrol sama orang yang lebih berpengalaman gini kan jarang-jarang.”
Genta menatap pemuda itu lama. Ada sesuatu dalam semangat polosnya yang mengingatkan Genta pada masa lalunya. Ia lalu bersandar, menyilangkan tangan, dan mulai membuka percakapan.
“Coba cerita dulu. Kamu kenal dari mana sama gadis itu? Kenapa bisa kagum?”
Pelayan itu menghela napas, menatap meja di depannya. “Aku kenal dia… ya gara-gara kafe ini, Kak. Dia sering datang ke sini sama teman-temannya. Kadang cuma nongkrong sambil ngerjain sesuatu di laptop, kadang juga bawa sketchbook.”
“Sketchbook?”
“Iya. Dia suka gambar-gambar desain baju gitu. Mungkin, cita-citanya mau jadi desainer. Aku nggak pernah ngobrol langsung, tapi aku suka perhatiin dari jauh.”
Genta mengangguk pelan. “Lalu kenapa kamu kagum sama dia?”
Pemuda itu tersenyum, malu-malu. “Apa ya… sederhana aja. Wajahnya manis, senyumnya lembut. Setiap kali dia senyum sama temannya, entah kenapa rasanya dunia ikut adem. Aku yakin bukan aku aja yang mikir gitu. Siapa pun pasti bakal setuju kalau aku bilang dia menawan.”
“Hmm…” Genta menatap serius, tapi ada senyum kecil di ujung bibirnya. “Kalau begitu, kenapa nggak kamu deketin? Bukannya lebih gampang kalau langsung bicara?”
Dika menghela napas panjang. “Bukan nggak berani, Kak. Tapi… ada realita yang harus aku tamatkan dulu. Tentang kemapanan, tentang masa depan. Aku nggak bisa datang ke dia dengan ketidaksiapan dan ketidakmampuan. Aku harus punya sesuatu yang bisa kubanggakan. Kalau sekarang aku cuma pelayan kafe, apa pantas aku deketin gadis kayak dia?”
Kalimat itu membuat Genta terdiam. Di dalam hatinya, sesuatu bergetar. Kalimat itu terasa familiar. Seperti gema dari masa lalunya sendiri.
Dulu aku juga pernah berpikir begitu. Aku pernah menunda banyak hal hanya karena merasa belum siap, belum mapan. Sampai akhirnya…
Ia menatap pemuda itu lekat-lekat. “Dengar, Dik. Aku paham banget perasaanmu. Tapi hidup itu nggak selalu soal siap atau nggak siap. Kadang, hal kecil yang kita lakukan bisa lebih berarti daripada nunggu semua sempurna. Kamu nggak harus datang dengan mobil mewah atau rekening tebal. Perhatian kecil pun bisa bikin seseorang merasa istimewa.”
Ia menoleh, matanya berbinar. “Perhatian kecil?”
“Iya. Misalnya, kalau dia sering ke sini, kamu bisa kasih dia minuman gratis sesekali. Atau sekadar menyapanya ramah, tanyain kabarnya. Itu aja udah cukup buat ninggalin kesan. Jangan tunggu sampai kamu merasa sempurna, karena kesempurnaan nggak pernah datang.”
Pemuda itu mengangguk pelan, menyerap setiap kata. Senyum tipis muncul di wajahnya. “Iya juga ya, Kak. Mungkin aku terlalu merasa tidak pantas. Makasih, Kak. Serius.”
Mereka terhanyut dalam obrolan itu cukup lama. Suasana kafe semakin sepi, lampu mulai diredupkan. Akhirnya pemuda itu bangkit dan menepuk bahu Genta.
“Ayo, Kak. Pulang bareng yuk. Kalau nggak keberatan, singgah aja ke kosku. Siapa tahu Kakak mau istirahat dulu.”
Entah kenapa, Genta langsung mengiyakan. Mungkin karena hatinya sedang butuh teman bicara. Tanpa banyak pikir, ia mengikuti langkah pemuda itu keluar kafe, menembus udara malam yang semakin dingin.
Kosnya terletak di gang sempit. Bangunannya sederhana, dinding catnya mulai pudar. Saat pintu kamar dibuka, Genta agak terkejut. Ruangan itu kecil, hanya cukup untuk sebuah kasur tipis, meja belajar mungil, kipas angin tua yang berputar pelan. Tidak ada AC, tidak ada dekorasi mewah. Hanya ada beberapa buku, dan poster film di dinding.
“Ini kosmu?” tanya Genta.
Ia tersenyum, meletakkan tasnya. “Iya, Kak. Kecil memang. Tapi cukup untuk menampung asaku dan mimpi-mimpiku.”
Ucapan itu membuat dada Genta hangat sekaligus perih. Kata-kata itu bukan hal baru baginya. Ia pernah mengucapkannya sendiri bertahun-tahun lalu, ketika masih merantau dengan uang pas-pasan.
Malam itu, mereka duduk di lantai, berbincang panjang.
“Cita-citamu apa, Dik?” tanya Genta.
Pemuda itu berpikir sejenak. “Nggak muluk, Kak. Aku cuma pengen bisa nyekolahin adikku sampai sarjana. Aku pengen orang tuaku ngerasain wisuda anaknya. Itu aja udah cukup bikin aku bahagia. Selain itu… ya, jadi orang berguna lah.”
Genta mengernyit. “Kenapa nggak punya cita-cita yang lebih tinggi?”
Pemuda itu menatap lantai, lalu menjawab pelan, “Cita-citaku tinggi, Kak. Tapi ada rasa ketidakmampuan di diriku yang bikin aku sadar diri. Aku takut berharap terlalu tinggi lalu jatuh.”
Genta menggeleng pelan. “Jangan gitu. Kamu harus yakin kalau kamu mampu. Kamu bisa jadi apa pun, Dik. Jangan pernah batasi dirimu sendiri.”
Namun Dika tersenyum, lalu menatap Genta dengan tenang. “Kadang, menyadari ketidakmampuan diri sendiri itu penting, Kak. Supaya kita tetap belajar. Supaya kita nggak merasa angkuh.”
Ucapan itu menghantam Genta bagai palu. Hatinya langsung tercekat.
Kalimat itu mengingatkannya pada banyak hal:
Ucapan sombongnya kepada Sarah saat berdebat.
Statement bohongnya kepada wartawan demi menjaga citra.
Perasaan star syndrome yang diam-diam ia pelihara.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya, Genta merasa dipukul telak oleh kata-kata seorang pemuda sederhana.
Di kamar kos yang pengap itu, Genta sadar satu hal:
Bahwa kadang kebijaksanaan justru lahir dari kesederhanaan.
Dan malam itu, ia merasa baru saja menemukan cermin-cermin yang memperlihatkan siapa dirinya sebenarnya.
Genta keluar dari kamar kos sempit itu dengan langkah masih setengah gontai. Malam sebelumnya, ia tidur di atas kasur tipis milik pemuda yang baru dikenalnya. Tidur yang ganjil, bukan karena sempitnya ruangan atau suara kipas yang berdecit, melainkan karena hatinya tak berhenti berdenyut oleh sesuatu yang lama hilang: rasa bersahaja. Ia, yang terbiasa bangun di ranjang empuk berlapis linen hotel bintang lima, kini terjaga di ruang sempit dengan dinding cat terkelupas, namun justru merasakan kehangatan yang berbeda.
Pemuda itu sudah siap dengan seragam cafenya, kemeja hitam kusam dengan apron bergaris. Di wajahnya ada lelah yang tak bisa disembunyikan, tapi juga ada semangat yang tetap berkobar.
“Kak, ikut ke cafe lagi?” tanyanya sambil merapikan rambut.
Genta mengangguk. Ada sesuatu dalam dirinya yang menolak berpisah begitu saja. Seakan pemuda itu memegang kunci pada pintu batin yang selama ini ia kunci rapat.
Cafe Nyejuk Slowbar sudah mulai ramai saat mereka tiba. Bau kopi yang diseduh manual bercampur dengan suara pintu yang terbuka-tutup. Genta mengambil kursi pojok, tempat kemarin ia termenung. Dari sana ia bisa melihat keluar-masuknya orang-orang, seperti arus kehidupan yang tak pernah sama: ada tawa, ada duka, ada wajah penuh harap, ada pula tatapan kosong.
Ia duduk, diam, matanya mengikuti jejak langkah manusia-manusia itu. Ada seorang ayah dengan anak kecil yang cerewet meminta kue. Ada sekelompok mahasiswa sibuk bercanda sambil membuka laptop. Ada perempuan muda dengan wajah sembab yang menulis sesuatu di buku catatan, seolah ingin menghapus kesedihannya lewat kata-kata.
“Manusia datang dan pergi, membawa cerita masing-masing,” gumam Genta dalam hati. “Ada yang hanya lewat, ada yang singgah lebih lama. Tapi semuanya punya alasan, punya luka, punya harapannya sendiri. Sedangkan aku, di atas panggung, selalu berusaha tampil sempurna, tanpa memberi kesempatan orang lain melihat celah rapuhku.”
Seketika ia merasa asing. Seolah-olah ketenaran yang melekat padanya adalah pakaian yang terlalu sempit: membatasi, mengekang, membuatnya sulit bernapas.
Tak lama kemudian, gadis itu datang. Gadis yang menjadi pusat kagum pemuda pelayan cafe. Rambutnya tergerai sederhana, wajahnya bersih tanpa banyak riasan, namun ada aura yang berbeda: lembut, penuh cahaya. Ia membawa sebuah sketchbook besar dan beberapa alat lukis, menaruhnya di meja, lalu tersenyum pada pemuda itu.
“Aku pesan latte sama croissant, ya. Nanti kalau sudah jadi, bawain ke mejanya.” Pesan Genta.
Pemuda itu mengangguk, wajahnya merah padam. Genta hanya mengangkat alis, menyembunyikan senyum kecil. Ia tahu, ini saatnya memberi dorongan.
“Jangan lupa perhatian kecil, Dik,” bisiknya saat pemuda itu melewati mejanya. “Katakan saja itu untuk perayaan kecil. Apa saja alasannya, yang penting bilang dari kamu.”
Pemuda itu sempat ragu, tapi akhirnya ia mengangguk. Tangan gemetar, tapi ada tekad di matanya.
Genta memperhatikan dari kejauhan. Pemuda itu membawa nampan berisi latte hot dengan pattern love dan croissant. Saat gadis itu hendak berdiri memesan tambahan, mereka berpapasan.
“Kak, ini... ngga usah pesan. Gratis,” ucap pemuda itu dengan suara bergetar. “Anggap aja… perayaan kecil.”
Gadis itu terkejut, matanya membesar. “Loh, kok gratis? Dari siapa? Dalam rangka apa?”
Pemuda itu terkekeh kikuk. “Da… dari aku. Ada rejeki lebih.”
Ia segera menaruh hidangan itu di meja lalu kembali ke bar dengan langkah tergesa. Genta yang melihatnya tak kuasa menahan senyum. Ada bangga yang mengalir dalam dadanya, seakan ia sedang menyaksikan dirinya sendiri bertahun-tahun lalu, ketika masih belajar mengungkapkan keberanian lewat perhatian sederhana.
Hari-hari berikutnya, Genta tetap mencari Sarah. Ia berkeliling ke tempat-tempat yang dulu pernah mereka datangi bersama. Pencarian itu selalu berujung hampa. Dan entah bagaimana, di sela-sela kehampaannya, ia kembali singgah ke cafe itu.
Ia duduk di pojok yang sama, menatap hidup yang lewat dari balik jendela. Kadang, pemuda itu menemaninya sepulang shift. Kadang ia ikut mampir ke kos, sekadar berbagi cerita.
“Perjuangan cintamu gimana, Dik?” tanya Genta suatu kali.
Pemuda itu hanya tersenyum tipis. “Aku kan cuma memberi perhatian kecil, Kak. Bukan berarti harus langsung kudekati. Masih banyak yang harus kukejar. Masih ada kenyataan yang harus kutamatkan dulu.”
Jawaban itu membuat Genta greget. Kenapa terlalu menunda? Kenapa terlalu takut? Tapi di sisi lain, ia tahu: pemuda itu adalah refleksi dari dirinya sendiri di masa lalu; takut, ragu, tapi tetap berusaha.
Suatu sore, Genta mendapati pemuda itu sibuk mengetik di laptop usangnya.
“Sedang apa?” tanyanya.
“Joki tugas, Kak. Lumayan buat jajan,” jawab pemuda itu santai.
Genta hanya mengangguk, tapi hatinya menegang. Ada perjuangan keras yang ia lihat di sana: double shift, joki tugas, berjualan ayam potong, bahkan kurir.
Malamnya, ketika pemuda itu harus berangkat kerja lagi di cafe lain, Genta sendirian di kamar kos. Rasa penasaran mendorongnya membuka buku catatan yang tergeletak di meja.
Ia membaca lembar demi lembar. Tulisan-tulisan yang penuh perasaan.
“Kadang cinta tak harus dinyatakan. Ia bisa diperjuangkan dalam diam, agar saat tiba waktunya, ia hadir dalam bentuk paling utuh.”
“Jika cinta tak membawamu padaku, setidaknya ia telah membawaku pada versi diriku yang lebih layak mencinta.”
“Siapa yang tak suka, jika melihatnya saja bisa jatuh dalam keelokan rupanya. Siapa pula yang tak cinta, jika dihargai dan diberi semuanya. Semua yang datang bak hilang dimakan senyumnya. Wahai puan, sanggupkah dirimu menunggu. Kuselesaikan dulu urusanku tentang kemapanan, agar tak terlalu menjadikan engkau. Dikara untuk buanaku yang fana.”
Juga tentang ketidak percayaan diri yang ternyata ia rasakan.
“Di dunia yang menilai dari kulit dan kilau, apa hak seorang yang biasa bermimpi luar biasa? Tak elok rupa, tak berlimpah harta, akal pun tak dibalut logika. Hanya dada yang sesak oleh harap-harap luka. Lantas, kepercayaan diri seperti ini… baikkah, Tuhan?”
“Di hidup yang sesingkat ini, mari habiskan untuk belajar, berproses. Walau ringkih, tertindih. Walau harus berantakan. Walau harus mengusap banyak air mata yang lirih. Mari hidup demi hal-hal yang kemudian dianggap baik dari yang awalnya uruk, demi hal-hal luar biasa dari tingkah yang awalnya di buat bahan tertawa. Jadilah arif meski harus melewati kebodohan berlapis-lapis.”
Genta tercekat. Kalimat-kalimat itu menusuk seperti bayangan masa lalunya sendiri. Ia merasa sedang membaca hatinya sendiri di usia 24 tahun.
“Jangan-jangan… dia fansku?” bisiknya.
Ketika pemuda itu pulang dari shift malam, Genta sudah menunggunya dengan makanan di meja. Tapi wajah pemuda itu muram, sedih, penuh kegelisahan. Tubuhnya yang kurus berjalan dengan pelan.
“Kenapa mukamu begitu, Dik?” tanya Genta.
“Aku lelah, Kak,” ucapnya lirih. “Kenapa di dunia yang penuh ketidakadilan ini aku harus menjadi salah satu yang merasakannya?”
“Ketidakadilan apa yang kamu maksud?”
“Segalanya. Pendidikan mahal, cinta yang tak berpihak, hidup yang terasa terlalu berat untuk pundak yang sekecil ini.”
Pemuda itu hanya menghela napas, lalu menyodorkan ponselnya. Ada foto tagihan UKT yang menumpuk, percakapan dengan ayahnya yang belum mampu membantu, juga foto gadis pujaan hatinya bersama seorang pria yang seolah menjadi pasangannya.
Genta terdiam. Cerita itu seperti mengulang kehidupannya sendiri. Luka-luka yang ia kira sudah terkubur ternyata bangkit kembali, memburu dengan wajah pemuda itu.
Dalam kebingungannya, ia akhirnya bertanya pelan, “Namamu siapa, Dik?”
Pemuda itu menatapnya tajam. Senyum getir terbit di bibirnya.
“Nama? Buat apa? Yang jelas, merasa tinggi tidak akan membuatmu benar-benar tinggi di mata orang lain. Masa-masa kita yang sederhana itu bukan aib, Gen. Tidak perlu disembunyikan. Justru di situlah letak harga diri kita yang sesungguhnya.”
Kata-kata itu meledak di kepala Genta. Sarkas, namun jujur. Seperti cambuk yang menghantam kesombongannya.
Seketika pandangannya berputar. Dunia di sekelilingnya kabur. Ia terjatuh, lalu…
Genta terbangun. Ia kembali duduk di cafe Nyejuk Slowbar, di kursi pojok yang sama. Americano masih utuh di depannya. Ia melihat jam di dinding pukul 17.10 namun tanggalnya sudah berganti.
“Apa yang barusan terjadi… mimpi? Atau perjalanan waktu?”
Seorang pria paruh baya menghampirinya, pemilik cafe, bos lamanya dulu.
“Hey, Gen. Akhirnya bangun juga? Seharian tidurnya, ya? Sampe capek banget kayaknya. Kubikinin americano dan snack baru, ya.”
Genta menatapnya kosong, lalu tersenyum. Ia sadar. Itu bukan sekadar mimpi. Itu adalah dirinya, di usia 24 tahun, yang datang kembali mengingatkan: Jangan pernah menganggap perjalanan sebagai aib. Jangan malu dengan masa lalumu yang bahkan mungkin orang lain akan jauh lebih menganggapmu hebat.
Di meja kecil, ia menulis secarik catatan tangan untuk dirinya sendiri: ingatkan aku untuk tidak pernah merendahkan akar; ingatkan aku bahwa perhatian kecil kadang lebih besar daripada silang sorak; ingatkan aku bahwa masa lalu bukan noda tetapi benih. Ia meremas kertas itu, lalu meletakkannya ke dalam saku. Ketika ia keluar dari kafe itu, ada rasa bahwa sesuatu sudah berubah bukan hanya bagi hatinya, tetapi pada arah langkah yang akan ia ambil.
Di luar, jalanan kecil kota kelahirannya mengantar Genta ke terminal. Ia berdiri agak lama di sana, memandang bus antar kota yang akan membawanya pulang ke Jakarta. Tiket satu arah. Ia memilih kursi dekat jendela. Di sana, pemandangan kampung berganti perlahan: loteng rumah, kebun yang mengerang dalam musim, anak-anak yang mengejar bola, dan para pemilik toko yang berjaga. Semua itu seperti film hitam-putih yang dulu ia akui sebagai awal perjalanan.
Perjalanan pulang panjang, memberi ruang bagi Genta untuk menenggelamkan dirinya dalam pikiran. Ia membiarkan memori mengalir: pertama kali Sarah tertawa ketika ia mengantarkan secangkir kopi yang terlalu manis; bagaimana ia kedinginan di warung ketika menulis naskah pertama; malam-malam tanpa tidur yang dihabiskan meraba-raba dialog; janji-janjinya yang dulu sederhana tapi kini tenggelam di bawah tumpukan kontrak dan syuting. Setiap adegan masa lalu kini bersinar bukan sebagai aib, melainkan sebagai alasan yang menegaskan bahwa semua yang ia raih adalah hasil pijakan yang pernah membuatnya goyah.
Sesampainya dirumah Genta membuka pintu seperti menyambut sesuatu yang lama pulang. Lampu ruang tamu menggantung lembut, mengusir gelap. Dan di ambang pintu kamarnya berdiri Sarah, bukan lagi sosok yang dingin dan jauh, melainkan manusia yang sama yang ia kenal: mata yang sama, senyum yang dulu membuatnya bertahan saat naskah ditolak. Mereka saling melihat, dua orang dengan luka, dua orang yang sempat bersikap keras. Lalu tanpa ragu, pelukan itu terjadi.
“Sayang, aku minta maaf, aku lupa bagaimana dulu rasanya membutuhkanmu, bagaimana dulu rasanya ketika mengejarmu.” Ucap Genta.
“Genta,” desis Sarah di antara napas, suaranya patah. “Aku juga minta maaf. Benar aku membutuhkanmu, aku bukan siapa-siapa tanpamu, aku melupakan semua perjuanganmu untuk aku.”
Genta menggenggam punggungnya, merasakan kerangka kecil di bawah gaun yang hangat. “Aku juga minta maaf sayang. Kata-kataku… kasar. Aku… aku terlalu memikirkan citra, penuh kepalsuan, bahkan aku kehilangan diriku sendiri, aku lupa itu juga semuanya berkat kamu.”
Mereka menutup mata, merapatkan tubuh dalam satu pelukan yang meneguhkan. Di sana, aroma rumah, bau masakan ringan, bunyi jam dinding, menjadi saksi yang paling setia: dua manusia yang mengumpulkan pecahan-pecahan hati mereka, menempelkan kembali lem yang mungkin telah lama mengering.
Malam itu mereka duduk di bawah lampu meja kecil. Sarah menceritakan semua yang tertahan: ketakutannya ketika tubuhnya lemah, rasa malu dan ingin melindungi Genta dari kegetiran kariernya; bagaimana ia melihat suaminya di televisi dengan wajah yang tak pernah menua oleh tangisan, dan tak ingin menambah beban. Genta mendengarkan, menahan setiap emosi yang hendak meluap. Ia mengakui kesalahan: kebohongan kecilnya di depan wartawan, kecenderungan menyombongkan nasib demi image, serta kata-kata yang tak semestinya. Kata-kata mereka menumpuk menjadi permintaan maaf yang diletakkan satu per satu di tengah meja; keduanya mengangkatnya bersama, memandangnya, kemudian memutuskan untuk tidak menaruhnya kembali. Sekali lagi mereka bertatapan, tatapan yang sama dengan tatapan kebahagian saat Genta naik ke podium ketika memenangkan “Sutradara Pendatang Baru Terbaik.”
“Terima kasih, untuk semua kru, produser, Strotv, rekan aktor, dan tentu saja, istriku, Sarah yang sejak dulu menjadi teman hidup sekaligus sumber inspirasiku. Ucapan yang sama seperti di awal film yang sutradarai, maaf jika terkesan sombong karena terlalu percaya diri.”
“Saya ingin mulai dari yang sebenarnya, mungkin banyak yang sudah tahu foto-foto yang beredar di media social tentang saya, dan ya… itu adalah saya. Saya ketika berumur 24 tahun dulu, mungkin dulu saya sempat menyangkalnya. Saya pernah menjadi pelayan kafe. Pernah mendorong sepeda menembus hujan menuju pasar untuk mengantar ayam potong demi bertahan hidup. Saya tidak menutupinya karena saya malu; saya menutupinya karena dulu saya pikir dengan menyembunyikan, hidupku akan tampak rapi. Tapi hari ini saya tahu: masa lalu bukan aib. Masa lalu adalah guru. Ia membentuk siapa saya hari ini, berkat foto itu juga saya bisa bernostalgia dengan diri saya sendiri, perjuangan saya, perjuangan mendekati istri saya tercinta, dan tentunya berkat itu juga saya berdiri disini. Sekali lagi, terima kasih.” Katanya, suaranya tenang. Di sampingnya, Sarah berdiri; tatapannya lembut, penuh keanggunan.
Kamera mendekat, mikrofon menunggu. Netizen, penonton bersorak. Di panggung itu, suara gesekan kursi serentak redup. Ada jeda panjang, bukan kosongnya, namun penuh. Genta menatap Sarah, lalu menatap mereka semua.
“Aku sayang Sarah,” kata Genta, sederhana, tanpa perlu gemerlap. “Dia bukan sekadar pelengkap cerita di belakangku. Dia adalah cerita itu sendiri. Aku berutang pada kesabaran dan keberanian yang dia beri. Dan kepada siapa pun yang pernah mengira masa laluku aib, aku ingin bilang: biarkan sejarahmu menjadi alasanmu berderap lebih kuat, bukan sesuatu yang harus kau sembunyikan. Kadang, merasa tidak mampu memberikan kita banyak kesadaran tentang proses belajar dan berjuang.”
Kata-kata itu mengalir, lembut namun menancap. Di layar-layar sosial, komentar-komentar berubah nada: dari cibiran menjadi hening, dari fitnah menjadi pertanyaan. Ada yang menangis, ada yang tersenyum simpul, dan banyak yang terdiam, seolah mendengar sesuatu yang selama ini mereka lupa: bahwa di balik setiap kilau, ada perjalanan, dan di balik perjalanan, ada luka yang menjadikan manusia lebih paham pada harga perjuangan.
Setelah malam itu, bukan hanya publik yang berubah pandangannya, Genta pun berubah. Ia pulang ke rumah, memegang tangan Sarah, dan mereka berjalan tanpa perlu kata-kata yang berlebihan. Di langkah-langkah itu, ia menyadari sesuatu: waktu, yang pernah ia rasa memisahkannya dari akar, ternyata memeluknya kembali melalui perjumpaan-perjumpaan kecil, lewat perhatian yang kelihatan sepele, dan lewat pengakuan yang berani.
Malam terakhir Bab ini menutup tirai dengan mereka berdua duduk di balkon rumah, memandang kota yang lampunya perlahan menjadi titik-titik kecil di kejauhan. Mereka tak perlu peta untuk tahu ke mana akan melangkah besok. Cukup dengan kejujuran, cukup dengan keberanian untuk menjadi biasa di tengah gemerlap. Genta menarik napas, menatap mata Sarah, lalu mengulang sesuatu yang kini bukan lagi sekadar janji hampa di balik piala.
“Kadang merasa tidak mampu memberikan kita banyak kesadaran tentang proses belajar dan berjuang,” bisiknya, bukan sebagai penutup, melainkan sebagai pengingat yang akan mereka pegang setiap kali badai datang. Bahwa hidup yang paling berharga adalah hidup yang berani mengakui kekurangan, lalu terus berjalan.
Entah kenapa ia betah. Mungkin karena terlalu banyak renungan yang menumpuk hari ini. Atau mungkin karena sofa empuk kafe itu terasa jauh lebih ramah dibanding kursi sutradara di lokasi syuting yang sering membuat punggungnya kaku. Bisa juga karena udara sejuk dari slow bar kecil di sudut ruangan yang mengalir pelan, menenangkan.
Namun lebih dari itu, Genta tahu, ia betah karena kehampaan dalam dirinya sedikit mereda di tempat ini. Meskipun ia merasa janggal karena belum ada yang mengenalinya.
Lucu, ya… ketika aku berada di tengah keramaian ibu kota, dengan sorot kamera yang setiap hari mengikutiku, aku malah merasa kosong. Tapi di sini, di kota kecil ku ini, tanpa ada satu pun orang yang mengenaliku, aku justru merasa tenang. Kesepian ternyata bukan berarti sendirian… kadang ia berarti bebas.
Ia menatap refleksi dirinya di kaca jendela. Wajahnya yang mulai berkerut di sekitar mata, tatapan sayu yang tak lagi sebercahaya dulu. Ini aku sekarang. Aku yang kehilangan banyak.
“Masih belum pulang, Kak?” suara itu memecah lamunannya.
Genta menoleh. Pelayan kafe yang tadi mengantarkan pesanannya, kini sudah berganti pakaian biasa. Wajahnya terlihat lelah tapi matanya tetap berbinar.
“Ini beneran, Kak, mau ngasih aku tips and trick soal gebetan? Hehe…” candanya sambil duduk di kursi seberang.
Genta terkekeh kecil. “Kamu ini…”
“Ya gimana lagi. Kesempatan ngobrol sama orang yang lebih berpengalaman gini kan jarang-jarang.”
Genta menatap pemuda itu lama. Ada sesuatu dalam semangat polosnya yang mengingatkan Genta pada masa lalunya. Ia lalu bersandar, menyilangkan tangan, dan mulai membuka percakapan.
“Coba cerita dulu. Kamu kenal dari mana sama gadis itu? Kenapa bisa kagum?”
Pelayan itu menghela napas, menatap meja di depannya. “Aku kenal dia… ya gara-gara kafe ini, Kak. Dia sering datang ke sini sama teman-temannya. Kadang cuma nongkrong sambil ngerjain sesuatu di laptop, kadang juga bawa sketchbook.”
“Sketchbook?”
“Iya. Dia suka gambar-gambar desain baju gitu. Mungkin, cita-citanya mau jadi desainer. Aku nggak pernah ngobrol langsung, tapi aku suka perhatiin dari jauh.”
Genta mengangguk pelan. “Lalu kenapa kamu kagum sama dia?”
Pemuda itu tersenyum, malu-malu. “Apa ya… sederhana aja. Wajahnya manis, senyumnya lembut. Setiap kali dia senyum sama temannya, entah kenapa rasanya dunia ikut adem. Aku yakin bukan aku aja yang mikir gitu. Siapa pun pasti bakal setuju kalau aku bilang dia menawan.”
“Hmm…” Genta menatap serius, tapi ada senyum kecil di ujung bibirnya. “Kalau begitu, kenapa nggak kamu deketin? Bukannya lebih gampang kalau langsung bicara?”
Dika menghela napas panjang. “Bukan nggak berani, Kak. Tapi… ada realita yang harus aku tamatkan dulu. Tentang kemapanan, tentang masa depan. Aku nggak bisa datang ke dia dengan ketidaksiapan dan ketidakmampuan. Aku harus punya sesuatu yang bisa kubanggakan. Kalau sekarang aku cuma pelayan kafe, apa pantas aku deketin gadis kayak dia?”
Kalimat itu membuat Genta terdiam. Di dalam hatinya, sesuatu bergetar. Kalimat itu terasa familiar. Seperti gema dari masa lalunya sendiri.
Dulu aku juga pernah berpikir begitu. Aku pernah menunda banyak hal hanya karena merasa belum siap, belum mapan. Sampai akhirnya…
Ia menatap pemuda itu lekat-lekat. “Dengar, Dik. Aku paham banget perasaanmu. Tapi hidup itu nggak selalu soal siap atau nggak siap. Kadang, hal kecil yang kita lakukan bisa lebih berarti daripada nunggu semua sempurna. Kamu nggak harus datang dengan mobil mewah atau rekening tebal. Perhatian kecil pun bisa bikin seseorang merasa istimewa.”
Ia menoleh, matanya berbinar. “Perhatian kecil?”
“Iya. Misalnya, kalau dia sering ke sini, kamu bisa kasih dia minuman gratis sesekali. Atau sekadar menyapanya ramah, tanyain kabarnya. Itu aja udah cukup buat ninggalin kesan. Jangan tunggu sampai kamu merasa sempurna, karena kesempurnaan nggak pernah datang.”
Pemuda itu mengangguk pelan, menyerap setiap kata. Senyum tipis muncul di wajahnya. “Iya juga ya, Kak. Mungkin aku terlalu merasa tidak pantas. Makasih, Kak. Serius.”
Mereka terhanyut dalam obrolan itu cukup lama. Suasana kafe semakin sepi, lampu mulai diredupkan. Akhirnya pemuda itu bangkit dan menepuk bahu Genta.
“Ayo, Kak. Pulang bareng yuk. Kalau nggak keberatan, singgah aja ke kosku. Siapa tahu Kakak mau istirahat dulu.”
Entah kenapa, Genta langsung mengiyakan. Mungkin karena hatinya sedang butuh teman bicara. Tanpa banyak pikir, ia mengikuti langkah pemuda itu keluar kafe, menembus udara malam yang semakin dingin.
Kosnya terletak di gang sempit. Bangunannya sederhana, dinding catnya mulai pudar. Saat pintu kamar dibuka, Genta agak terkejut. Ruangan itu kecil, hanya cukup untuk sebuah kasur tipis, meja belajar mungil, kipas angin tua yang berputar pelan. Tidak ada AC, tidak ada dekorasi mewah. Hanya ada beberapa buku, dan poster film di dinding.
“Ini kosmu?” tanya Genta.
Ia tersenyum, meletakkan tasnya. “Iya, Kak. Kecil memang. Tapi cukup untuk menampung asaku dan mimpi-mimpiku.”
Ucapan itu membuat dada Genta hangat sekaligus perih. Kata-kata itu bukan hal baru baginya. Ia pernah mengucapkannya sendiri bertahun-tahun lalu, ketika masih merantau dengan uang pas-pasan.
Malam itu, mereka duduk di lantai, berbincang panjang.
“Cita-citamu apa, Dik?” tanya Genta.
Pemuda itu berpikir sejenak. “Nggak muluk, Kak. Aku cuma pengen bisa nyekolahin adikku sampai sarjana. Aku pengen orang tuaku ngerasain wisuda anaknya. Itu aja udah cukup bikin aku bahagia. Selain itu… ya, jadi orang berguna lah.”
Genta mengernyit. “Kenapa nggak punya cita-cita yang lebih tinggi?”
Pemuda itu menatap lantai, lalu menjawab pelan, “Cita-citaku tinggi, Kak. Tapi ada rasa ketidakmampuan di diriku yang bikin aku sadar diri. Aku takut berharap terlalu tinggi lalu jatuh.”
Genta menggeleng pelan. “Jangan gitu. Kamu harus yakin kalau kamu mampu. Kamu bisa jadi apa pun, Dik. Jangan pernah batasi dirimu sendiri.”
Namun Dika tersenyum, lalu menatap Genta dengan tenang. “Kadang, menyadari ketidakmampuan diri sendiri itu penting, Kak. Supaya kita tetap belajar. Supaya kita nggak merasa angkuh.”
Ucapan itu menghantam Genta bagai palu. Hatinya langsung tercekat.
Kalimat itu mengingatkannya pada banyak hal:
Ucapan sombongnya kepada Sarah saat berdebat.
Statement bohongnya kepada wartawan demi menjaga citra.
Perasaan star syndrome yang diam-diam ia pelihara.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya, Genta merasa dipukul telak oleh kata-kata seorang pemuda sederhana.
Di kamar kos yang pengap itu, Genta sadar satu hal:
Bahwa kadang kebijaksanaan justru lahir dari kesederhanaan.
Dan malam itu, ia merasa baru saja menemukan cermin-cermin yang memperlihatkan siapa dirinya sebenarnya.
Genta keluar dari kamar kos sempit itu dengan langkah masih setengah gontai. Malam sebelumnya, ia tidur di atas kasur tipis milik pemuda yang baru dikenalnya. Tidur yang ganjil, bukan karena sempitnya ruangan atau suara kipas yang berdecit, melainkan karena hatinya tak berhenti berdenyut oleh sesuatu yang lama hilang: rasa bersahaja. Ia, yang terbiasa bangun di ranjang empuk berlapis linen hotel bintang lima, kini terjaga di ruang sempit dengan dinding cat terkelupas, namun justru merasakan kehangatan yang berbeda.
Pemuda itu sudah siap dengan seragam cafenya, kemeja hitam kusam dengan apron bergaris. Di wajahnya ada lelah yang tak bisa disembunyikan, tapi juga ada semangat yang tetap berkobar.
“Kak, ikut ke cafe lagi?” tanyanya sambil merapikan rambut.
Genta mengangguk. Ada sesuatu dalam dirinya yang menolak berpisah begitu saja. Seakan pemuda itu memegang kunci pada pintu batin yang selama ini ia kunci rapat.
Cafe Nyejuk Slowbar sudah mulai ramai saat mereka tiba. Bau kopi yang diseduh manual bercampur dengan suara pintu yang terbuka-tutup. Genta mengambil kursi pojok, tempat kemarin ia termenung. Dari sana ia bisa melihat keluar-masuknya orang-orang, seperti arus kehidupan yang tak pernah sama: ada tawa, ada duka, ada wajah penuh harap, ada pula tatapan kosong.
Ia duduk, diam, matanya mengikuti jejak langkah manusia-manusia itu. Ada seorang ayah dengan anak kecil yang cerewet meminta kue. Ada sekelompok mahasiswa sibuk bercanda sambil membuka laptop. Ada perempuan muda dengan wajah sembab yang menulis sesuatu di buku catatan, seolah ingin menghapus kesedihannya lewat kata-kata.
“Manusia datang dan pergi, membawa cerita masing-masing,” gumam Genta dalam hati. “Ada yang hanya lewat, ada yang singgah lebih lama. Tapi semuanya punya alasan, punya luka, punya harapannya sendiri. Sedangkan aku, di atas panggung, selalu berusaha tampil sempurna, tanpa memberi kesempatan orang lain melihat celah rapuhku.”
Seketika ia merasa asing. Seolah-olah ketenaran yang melekat padanya adalah pakaian yang terlalu sempit: membatasi, mengekang, membuatnya sulit bernapas.
Tak lama kemudian, gadis itu datang. Gadis yang menjadi pusat kagum pemuda pelayan cafe. Rambutnya tergerai sederhana, wajahnya bersih tanpa banyak riasan, namun ada aura yang berbeda: lembut, penuh cahaya. Ia membawa sebuah sketchbook besar dan beberapa alat lukis, menaruhnya di meja, lalu tersenyum pada pemuda itu.
“Aku pesan latte sama croissant, ya. Nanti kalau sudah jadi, bawain ke mejanya.” Pesan Genta.
Pemuda itu mengangguk, wajahnya merah padam. Genta hanya mengangkat alis, menyembunyikan senyum kecil. Ia tahu, ini saatnya memberi dorongan.
“Jangan lupa perhatian kecil, Dik,” bisiknya saat pemuda itu melewati mejanya. “Katakan saja itu untuk perayaan kecil. Apa saja alasannya, yang penting bilang dari kamu.”
Pemuda itu sempat ragu, tapi akhirnya ia mengangguk. Tangan gemetar, tapi ada tekad di matanya.
Genta memperhatikan dari kejauhan. Pemuda itu membawa nampan berisi latte hot dengan pattern love dan croissant. Saat gadis itu hendak berdiri memesan tambahan, mereka berpapasan.
“Kak, ini... ngga usah pesan. Gratis,” ucap pemuda itu dengan suara bergetar. “Anggap aja… perayaan kecil.”
Gadis itu terkejut, matanya membesar. “Loh, kok gratis? Dari siapa? Dalam rangka apa?”
Pemuda itu terkekeh kikuk. “Da… dari aku. Ada rejeki lebih.”
Ia segera menaruh hidangan itu di meja lalu kembali ke bar dengan langkah tergesa. Genta yang melihatnya tak kuasa menahan senyum. Ada bangga yang mengalir dalam dadanya, seakan ia sedang menyaksikan dirinya sendiri bertahun-tahun lalu, ketika masih belajar mengungkapkan keberanian lewat perhatian sederhana.
Hari-hari berikutnya, Genta tetap mencari Sarah. Ia berkeliling ke tempat-tempat yang dulu pernah mereka datangi bersama. Pencarian itu selalu berujung hampa. Dan entah bagaimana, di sela-sela kehampaannya, ia kembali singgah ke cafe itu.
Ia duduk di pojok yang sama, menatap hidup yang lewat dari balik jendela. Kadang, pemuda itu menemaninya sepulang shift. Kadang ia ikut mampir ke kos, sekadar berbagi cerita.
“Perjuangan cintamu gimana, Dik?” tanya Genta suatu kali.
Pemuda itu hanya tersenyum tipis. “Aku kan cuma memberi perhatian kecil, Kak. Bukan berarti harus langsung kudekati. Masih banyak yang harus kukejar. Masih ada kenyataan yang harus kutamatkan dulu.”
Jawaban itu membuat Genta greget. Kenapa terlalu menunda? Kenapa terlalu takut? Tapi di sisi lain, ia tahu: pemuda itu adalah refleksi dari dirinya sendiri di masa lalu; takut, ragu, tapi tetap berusaha.
Suatu sore, Genta mendapati pemuda itu sibuk mengetik di laptop usangnya.
“Sedang apa?” tanyanya.
“Joki tugas, Kak. Lumayan buat jajan,” jawab pemuda itu santai.
Genta hanya mengangguk, tapi hatinya menegang. Ada perjuangan keras yang ia lihat di sana: double shift, joki tugas, berjualan ayam potong, bahkan kurir.
Malamnya, ketika pemuda itu harus berangkat kerja lagi di cafe lain, Genta sendirian di kamar kos. Rasa penasaran mendorongnya membuka buku catatan yang tergeletak di meja.
Ia membaca lembar demi lembar. Tulisan-tulisan yang penuh perasaan.
“Kadang cinta tak harus dinyatakan. Ia bisa diperjuangkan dalam diam, agar saat tiba waktunya, ia hadir dalam bentuk paling utuh.”
“Jika cinta tak membawamu padaku, setidaknya ia telah membawaku pada versi diriku yang lebih layak mencinta.”
“Siapa yang tak suka, jika melihatnya saja bisa jatuh dalam keelokan rupanya. Siapa pula yang tak cinta, jika dihargai dan diberi semuanya. Semua yang datang bak hilang dimakan senyumnya. Wahai puan, sanggupkah dirimu menunggu. Kuselesaikan dulu urusanku tentang kemapanan, agar tak terlalu menjadikan engkau. Dikara untuk buanaku yang fana.”
Juga tentang ketidak percayaan diri yang ternyata ia rasakan.
“Di dunia yang menilai dari kulit dan kilau, apa hak seorang yang biasa bermimpi luar biasa? Tak elok rupa, tak berlimpah harta, akal pun tak dibalut logika. Hanya dada yang sesak oleh harap-harap luka. Lantas, kepercayaan diri seperti ini… baikkah, Tuhan?”
“Di hidup yang sesingkat ini, mari habiskan untuk belajar, berproses. Walau ringkih, tertindih. Walau harus berantakan. Walau harus mengusap banyak air mata yang lirih. Mari hidup demi hal-hal yang kemudian dianggap baik dari yang awalnya uruk, demi hal-hal luar biasa dari tingkah yang awalnya di buat bahan tertawa. Jadilah arif meski harus melewati kebodohan berlapis-lapis.”
Genta tercekat. Kalimat-kalimat itu menusuk seperti bayangan masa lalunya sendiri. Ia merasa sedang membaca hatinya sendiri di usia 24 tahun.
“Jangan-jangan… dia fansku?” bisiknya.
Ketika pemuda itu pulang dari shift malam, Genta sudah menunggunya dengan makanan di meja. Tapi wajah pemuda itu muram, sedih, penuh kegelisahan. Tubuhnya yang kurus berjalan dengan pelan.
“Kenapa mukamu begitu, Dik?” tanya Genta.
“Aku lelah, Kak,” ucapnya lirih. “Kenapa di dunia yang penuh ketidakadilan ini aku harus menjadi salah satu yang merasakannya?”
“Ketidakadilan apa yang kamu maksud?”
“Segalanya. Pendidikan mahal, cinta yang tak berpihak, hidup yang terasa terlalu berat untuk pundak yang sekecil ini.”
Pemuda itu hanya menghela napas, lalu menyodorkan ponselnya. Ada foto tagihan UKT yang menumpuk, percakapan dengan ayahnya yang belum mampu membantu, juga foto gadis pujaan hatinya bersama seorang pria yang seolah menjadi pasangannya.
Genta terdiam. Cerita itu seperti mengulang kehidupannya sendiri. Luka-luka yang ia kira sudah terkubur ternyata bangkit kembali, memburu dengan wajah pemuda itu.
Dalam kebingungannya, ia akhirnya bertanya pelan, “Namamu siapa, Dik?”
Pemuda itu menatapnya tajam. Senyum getir terbit di bibirnya.
“Nama? Buat apa? Yang jelas, merasa tinggi tidak akan membuatmu benar-benar tinggi di mata orang lain. Masa-masa kita yang sederhana itu bukan aib, Gen. Tidak perlu disembunyikan. Justru di situlah letak harga diri kita yang sesungguhnya.”
Kata-kata itu meledak di kepala Genta. Sarkas, namun jujur. Seperti cambuk yang menghantam kesombongannya.
Seketika pandangannya berputar. Dunia di sekelilingnya kabur. Ia terjatuh, lalu…
Genta terbangun. Ia kembali duduk di cafe Nyejuk Slowbar, di kursi pojok yang sama. Americano masih utuh di depannya. Ia melihat jam di dinding pukul 17.10 namun tanggalnya sudah berganti.
“Apa yang barusan terjadi… mimpi? Atau perjalanan waktu?”
Seorang pria paruh baya menghampirinya, pemilik cafe, bos lamanya dulu.
“Hey, Gen. Akhirnya bangun juga? Seharian tidurnya, ya? Sampe capek banget kayaknya. Kubikinin americano dan snack baru, ya.”
Genta menatapnya kosong, lalu tersenyum. Ia sadar. Itu bukan sekadar mimpi. Itu adalah dirinya, di usia 24 tahun, yang datang kembali mengingatkan: Jangan pernah menganggap perjalanan sebagai aib. Jangan malu dengan masa lalumu yang bahkan mungkin orang lain akan jauh lebih menganggapmu hebat.
Di meja kecil, ia menulis secarik catatan tangan untuk dirinya sendiri: ingatkan aku untuk tidak pernah merendahkan akar; ingatkan aku bahwa perhatian kecil kadang lebih besar daripada silang sorak; ingatkan aku bahwa masa lalu bukan noda tetapi benih. Ia meremas kertas itu, lalu meletakkannya ke dalam saku. Ketika ia keluar dari kafe itu, ada rasa bahwa sesuatu sudah berubah bukan hanya bagi hatinya, tetapi pada arah langkah yang akan ia ambil.
Di luar, jalanan kecil kota kelahirannya mengantar Genta ke terminal. Ia berdiri agak lama di sana, memandang bus antar kota yang akan membawanya pulang ke Jakarta. Tiket satu arah. Ia memilih kursi dekat jendela. Di sana, pemandangan kampung berganti perlahan: loteng rumah, kebun yang mengerang dalam musim, anak-anak yang mengejar bola, dan para pemilik toko yang berjaga. Semua itu seperti film hitam-putih yang dulu ia akui sebagai awal perjalanan.
Perjalanan pulang panjang, memberi ruang bagi Genta untuk menenggelamkan dirinya dalam pikiran. Ia membiarkan memori mengalir: pertama kali Sarah tertawa ketika ia mengantarkan secangkir kopi yang terlalu manis; bagaimana ia kedinginan di warung ketika menulis naskah pertama; malam-malam tanpa tidur yang dihabiskan meraba-raba dialog; janji-janjinya yang dulu sederhana tapi kini tenggelam di bawah tumpukan kontrak dan syuting. Setiap adegan masa lalu kini bersinar bukan sebagai aib, melainkan sebagai alasan yang menegaskan bahwa semua yang ia raih adalah hasil pijakan yang pernah membuatnya goyah.
Sesampainya dirumah Genta membuka pintu seperti menyambut sesuatu yang lama pulang. Lampu ruang tamu menggantung lembut, mengusir gelap. Dan di ambang pintu kamarnya berdiri Sarah, bukan lagi sosok yang dingin dan jauh, melainkan manusia yang sama yang ia kenal: mata yang sama, senyum yang dulu membuatnya bertahan saat naskah ditolak. Mereka saling melihat, dua orang dengan luka, dua orang yang sempat bersikap keras. Lalu tanpa ragu, pelukan itu terjadi.
“Sayang, aku minta maaf, aku lupa bagaimana dulu rasanya membutuhkanmu, bagaimana dulu rasanya ketika mengejarmu.” Ucap Genta.
“Genta,” desis Sarah di antara napas, suaranya patah. “Aku juga minta maaf. Benar aku membutuhkanmu, aku bukan siapa-siapa tanpamu, aku melupakan semua perjuanganmu untuk aku.”
Genta menggenggam punggungnya, merasakan kerangka kecil di bawah gaun yang hangat. “Aku juga minta maaf sayang. Kata-kataku… kasar. Aku… aku terlalu memikirkan citra, penuh kepalsuan, bahkan aku kehilangan diriku sendiri, aku lupa itu juga semuanya berkat kamu.”
Mereka menutup mata, merapatkan tubuh dalam satu pelukan yang meneguhkan. Di sana, aroma rumah, bau masakan ringan, bunyi jam dinding, menjadi saksi yang paling setia: dua manusia yang mengumpulkan pecahan-pecahan hati mereka, menempelkan kembali lem yang mungkin telah lama mengering.
Malam itu mereka duduk di bawah lampu meja kecil. Sarah menceritakan semua yang tertahan: ketakutannya ketika tubuhnya lemah, rasa malu dan ingin melindungi Genta dari kegetiran kariernya; bagaimana ia melihat suaminya di televisi dengan wajah yang tak pernah menua oleh tangisan, dan tak ingin menambah beban. Genta mendengarkan, menahan setiap emosi yang hendak meluap. Ia mengakui kesalahan: kebohongan kecilnya di depan wartawan, kecenderungan menyombongkan nasib demi image, serta kata-kata yang tak semestinya. Kata-kata mereka menumpuk menjadi permintaan maaf yang diletakkan satu per satu di tengah meja; keduanya mengangkatnya bersama, memandangnya, kemudian memutuskan untuk tidak menaruhnya kembali. Sekali lagi mereka bertatapan, tatapan yang sama dengan tatapan kebahagian saat Genta naik ke podium ketika memenangkan “Sutradara Pendatang Baru Terbaik.”
“Terima kasih, untuk semua kru, produser, Strotv, rekan aktor, dan tentu saja, istriku, Sarah yang sejak dulu menjadi teman hidup sekaligus sumber inspirasiku. Ucapan yang sama seperti di awal film yang sutradarai, maaf jika terkesan sombong karena terlalu percaya diri.”
“Saya ingin mulai dari yang sebenarnya, mungkin banyak yang sudah tahu foto-foto yang beredar di media social tentang saya, dan ya… itu adalah saya. Saya ketika berumur 24 tahun dulu, mungkin dulu saya sempat menyangkalnya. Saya pernah menjadi pelayan kafe. Pernah mendorong sepeda menembus hujan menuju pasar untuk mengantar ayam potong demi bertahan hidup. Saya tidak menutupinya karena saya malu; saya menutupinya karena dulu saya pikir dengan menyembunyikan, hidupku akan tampak rapi. Tapi hari ini saya tahu: masa lalu bukan aib. Masa lalu adalah guru. Ia membentuk siapa saya hari ini, berkat foto itu juga saya bisa bernostalgia dengan diri saya sendiri, perjuangan saya, perjuangan mendekati istri saya tercinta, dan tentunya berkat itu juga saya berdiri disini. Sekali lagi, terima kasih.” Katanya, suaranya tenang. Di sampingnya, Sarah berdiri; tatapannya lembut, penuh keanggunan.
Kamera mendekat, mikrofon menunggu. Netizen, penonton bersorak. Di panggung itu, suara gesekan kursi serentak redup. Ada jeda panjang, bukan kosongnya, namun penuh. Genta menatap Sarah, lalu menatap mereka semua.
“Aku sayang Sarah,” kata Genta, sederhana, tanpa perlu gemerlap. “Dia bukan sekadar pelengkap cerita di belakangku. Dia adalah cerita itu sendiri. Aku berutang pada kesabaran dan keberanian yang dia beri. Dan kepada siapa pun yang pernah mengira masa laluku aib, aku ingin bilang: biarkan sejarahmu menjadi alasanmu berderap lebih kuat, bukan sesuatu yang harus kau sembunyikan. Kadang, merasa tidak mampu memberikan kita banyak kesadaran tentang proses belajar dan berjuang.”
Kata-kata itu mengalir, lembut namun menancap. Di layar-layar sosial, komentar-komentar berubah nada: dari cibiran menjadi hening, dari fitnah menjadi pertanyaan. Ada yang menangis, ada yang tersenyum simpul, dan banyak yang terdiam, seolah mendengar sesuatu yang selama ini mereka lupa: bahwa di balik setiap kilau, ada perjalanan, dan di balik perjalanan, ada luka yang menjadikan manusia lebih paham pada harga perjuangan.
Setelah malam itu, bukan hanya publik yang berubah pandangannya, Genta pun berubah. Ia pulang ke rumah, memegang tangan Sarah, dan mereka berjalan tanpa perlu kata-kata yang berlebihan. Di langkah-langkah itu, ia menyadari sesuatu: waktu, yang pernah ia rasa memisahkannya dari akar, ternyata memeluknya kembali melalui perjumpaan-perjumpaan kecil, lewat perhatian yang kelihatan sepele, dan lewat pengakuan yang berani.
Malam terakhir Bab ini menutup tirai dengan mereka berdua duduk di balkon rumah, memandang kota yang lampunya perlahan menjadi titik-titik kecil di kejauhan. Mereka tak perlu peta untuk tahu ke mana akan melangkah besok. Cukup dengan kejujuran, cukup dengan keberanian untuk menjadi biasa di tengah gemerlap. Genta menarik napas, menatap mata Sarah, lalu mengulang sesuatu yang kini bukan lagi sekadar janji hampa di balik piala.
“Kadang merasa tidak mampu memberikan kita banyak kesadaran tentang proses belajar dan berjuang,” bisiknya, bukan sebagai penutup, melainkan sebagai pengingat yang akan mereka pegang setiap kali badai datang. Bahwa hidup yang paling berharga adalah hidup yang berani mengakui kekurangan, lalu terus berjalan.
Other Stories
Baca Tanpa Dieja
itulah cara jpload yang bener da baik ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Luka
LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...
Melepasmu Untuk Sementara
Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO
Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...