Jaki Tujuh [end]
“MA ... MAMAK!” Dengan cepat aku memeluk Nyokap. “Mak, Jaki ....”
Ucapanku terhenti. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin kukatakan, tetapi semua itu hanya terangkum menjadi satu kalimat singkat:
“Maafin Jaki, Mak.”
Kurasakan helaan napas Nyokap, tersirat pemakluman dan penerimaan di sana. Dia membalas pelukanku, mengelus lembut punggungku.
“Kita tinggal berdua aja di rumah ini, Jak. Walau Mamak sering omelin kamu, kamu tetep anak Mamak. Satu-satunya harta yang paling berharga yang Mamak punya setelah Abah pergi.”
Mataku berkaca-kaca. Aku menangis tanpa suara di balik bahu Nyokap yang agak bau keringat. Meski terasa memalukan, tetapi momen ini menjadi yang pertama kali bagiku dan Nyokap bisa saling menjujurkan perasaan satu sama lain.
“Jaki sayang Mamak,” kataku dengan suara parau.
Sejak saat itu, keesokan harinya dengan penuh tekad yang tinggi, kumulai pagiku lebih awal. Daripada menunggu panggilan kerja, dan alih-alih menggunakan motorku untuk balapan liar seperti di dalam mimpi, aku pun mulai pergi mengojek.
Sesuatu yang seharusnya kulakukan lebih cepat.
“Jaki berangkat dulu ya, Mak!”
“Hati-hati ya, Jak.” Nyokap tersenyum, melepas kepergianku.
***
[TAMAT]
Ucapanku terhenti. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin kukatakan, tetapi semua itu hanya terangkum menjadi satu kalimat singkat:
“Maafin Jaki, Mak.”
Kurasakan helaan napas Nyokap, tersirat pemakluman dan penerimaan di sana. Dia membalas pelukanku, mengelus lembut punggungku.
“Kita tinggal berdua aja di rumah ini, Jak. Walau Mamak sering omelin kamu, kamu tetep anak Mamak. Satu-satunya harta yang paling berharga yang Mamak punya setelah Abah pergi.”
Mataku berkaca-kaca. Aku menangis tanpa suara di balik bahu Nyokap yang agak bau keringat. Meski terasa memalukan, tetapi momen ini menjadi yang pertama kali bagiku dan Nyokap bisa saling menjujurkan perasaan satu sama lain.
“Jaki sayang Mamak,” kataku dengan suara parau.
Sejak saat itu, keesokan harinya dengan penuh tekad yang tinggi, kumulai pagiku lebih awal. Daripada menunggu panggilan kerja, dan alih-alih menggunakan motorku untuk balapan liar seperti di dalam mimpi, aku pun mulai pergi mengojek.
Sesuatu yang seharusnya kulakukan lebih cepat.
“Jaki berangkat dulu ya, Mak!”
“Hati-hati ya, Jak.” Nyokap tersenyum, melepas kepergianku.
***
[TAMAT]
Other Stories
Curahan Hati Seorang Kacung
Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...
After Honeymoon (17+)
Dipaksa menikah demi ambisi keluarga, Kirana dan Rhea terjebak dalam pernikahan tanpa cint ...
Kelabu
Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Suara Dari Langit
Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...
Kepingan Hati Alisa
Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...