Jaki & Centong Nasi Mamak

Reads
853
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
Jaki & centong nasi mamak
Jaki & Centong Nasi Mamak
Penulis Indira Isvandiary

Jaki Tiga

Tidak mandi dan lantas meninggalkan piring kotor di atas meja, aku langsung cabut ke tempat tongkrongan dengan motorku. Suara knalpot yang bising, memantik langkah cepat nyokap untuk segera menyusulku ke depan rumah.

“Jaki! Mau ke mana kamu?! Balik bawa duit, atau malem ini tidur di luar!”

Aku mengabaikan ancaman Nyokap dan langsung tancap gas.

Setiba di tujuan, tampak kawan-kawan senasib setia menghabiskan waktu di sana; di rumah panggung kayu berukuran tak terlalu besar. Ada yang ngopi, karena memang dekat warkop. Main catur. Bahkan, melanjutkan tidur.

“Oi, Jak!” sapa temanku, Bowo. Dia yang mengopi, ditemani pisang goreng. “Makan-makan.”

“Udah,” kataku.

“Tumben telat ….”

Aku duduk di sebelah Bowo. “Lu kira kita kerja kantoran, ada telat-telat segala. Hah, sialan! Gue ribut lagi sama Nyokap. Makin rese kalo udah deket-deket bayar kontrakan. Kapan ya dia nyusul Bokap gue ke alam baka? Biar hidup gue tenang.”

“HUSH! Sadis lu, Jak! Lu harusnya bersyukur ya, masih ada yang mau ngurus anak bangkotan gak berguna kayak lu. Lu barusan nggak bakal bilang, ‘udah makan’, kalo bukan karena dimasakin Nyokap lu. Nih, lihat gue ... ditinggal anak-istri. Orang tua juga udah nggak ada.”

“Bacot bener si Bowo,” batinku. Aku tidak butuh dinasehati, apalagi adu nasib.

“Dan hati-hati, Jak, kalo ngomong atau sumpah serapah gitu. Siapa tahu, elu yang malah dipanggil Tuhan duluan daripada Nyokap lu,” tambah Bowo memperingati.

Aku hanya bergeming. Tersentak sedikit.

“Eh, Jak, omong-omong. Malam ini ada ngetrek motor. Hadiahnya lumayan loh, 1 juta.”

Akhirnya, Bowo beralih ke topik lain. Mataku yang tadinya menyipit malas, seketika membulat antusias.

“Serius 1 juta, Wo?”

Bowo mengangguk.

Kusimak perkataan dia. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, aku memutuskan untuk ikut serta dalam lomba itu. Lumayan, kalau menang duitnya bisa buat bayar kontrakan.

***

Other Stories
Kumpulan Tulisan

Sebuah bentuk tulisan tentang pikiran-pikiran yang jenuh dan amarah yang terpendam. ...

Dia Bukan Aksara

Kiara masih mengalami nestapa semenjak kehilangan adiknya, Aksara saat liburan tahun lalu. ...

Kelabu

Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...

Menolak Jatuh Cinta

Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...

Sudut Pandang

Hidup terasa sempit?Mungkin bukan masalahnya yang terlalu besar,tapi carapandangmu yang te ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Download Titik & Koma