Jaki Tiga
Tidak mandi dan lantas meninggalkan piring kotor di atas meja, aku langsung cabut ke tempat tongkrongan dengan motorku. Suara knalpot yang bising, memantik langkah cepat nyokap untuk segera menyusulku ke depan rumah.
“Jaki! Mau ke mana kamu?! Balik bawa duit, atau malem ini tidur di luar!”
Aku mengabaikan ancaman Nyokap dan langsung tancap gas.
Setiba di tujuan, tampak kawan-kawan senasib setia menghabiskan waktu di sana; di rumah panggung kayu berukuran tak terlalu besar. Ada yang ngopi, karena memang dekat warkop. Main catur. Bahkan, melanjutkan tidur.
“Oi, Jak!” sapa temanku, Bowo. Dia yang mengopi, ditemani pisang goreng. “Makan-makan.”
“Udah,” kataku.
“Tumben telat ….”
Aku duduk di sebelah Bowo. “Lu kira kita kerja kantoran, ada telat-telat segala. Hah, sialan! Gue ribut lagi sama Nyokap. Makin rese kalo udah deket-deket bayar kontrakan. Kapan ya dia nyusul Bokap gue ke alam baka? Biar hidup gue tenang.”
“HUSH! Sadis lu, Jak! Lu harusnya bersyukur ya, masih ada yang mau ngurus anak bangkotan gak berguna kayak lu. Lu barusan nggak bakal bilang, ‘udah makan’, kalo bukan karena dimasakin Nyokap lu. Nih, lihat gue ... ditinggal anak-istri. Orang tua juga udah nggak ada.”
“Bacot bener si Bowo,” batinku. Aku tidak butuh dinasehati, apalagi adu nasib.
“Dan hati-hati, Jak, kalo ngomong atau sumpah serapah gitu. Siapa tahu, elu yang malah dipanggil Tuhan duluan daripada Nyokap lu,” tambah Bowo memperingati.
Aku hanya bergeming. Tersentak sedikit.
“Eh, Jak, omong-omong. Malam ini ada ngetrek motor. Hadiahnya lumayan loh, 1 juta.”
Akhirnya, Bowo beralih ke topik lain. Mataku yang tadinya menyipit malas, seketika membulat antusias.
“Serius 1 juta, Wo?”
Bowo mengangguk.
Kusimak perkataan dia. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, aku memutuskan untuk ikut serta dalam lomba itu. Lumayan, kalau menang duitnya bisa buat bayar kontrakan.
***
“Jaki! Mau ke mana kamu?! Balik bawa duit, atau malem ini tidur di luar!”
Aku mengabaikan ancaman Nyokap dan langsung tancap gas.
Setiba di tujuan, tampak kawan-kawan senasib setia menghabiskan waktu di sana; di rumah panggung kayu berukuran tak terlalu besar. Ada yang ngopi, karena memang dekat warkop. Main catur. Bahkan, melanjutkan tidur.
“Oi, Jak!” sapa temanku, Bowo. Dia yang mengopi, ditemani pisang goreng. “Makan-makan.”
“Udah,” kataku.
“Tumben telat ….”
Aku duduk di sebelah Bowo. “Lu kira kita kerja kantoran, ada telat-telat segala. Hah, sialan! Gue ribut lagi sama Nyokap. Makin rese kalo udah deket-deket bayar kontrakan. Kapan ya dia nyusul Bokap gue ke alam baka? Biar hidup gue tenang.”
“HUSH! Sadis lu, Jak! Lu harusnya bersyukur ya, masih ada yang mau ngurus anak bangkotan gak berguna kayak lu. Lu barusan nggak bakal bilang, ‘udah makan’, kalo bukan karena dimasakin Nyokap lu. Nih, lihat gue ... ditinggal anak-istri. Orang tua juga udah nggak ada.”
“Bacot bener si Bowo,” batinku. Aku tidak butuh dinasehati, apalagi adu nasib.
“Dan hati-hati, Jak, kalo ngomong atau sumpah serapah gitu. Siapa tahu, elu yang malah dipanggil Tuhan duluan daripada Nyokap lu,” tambah Bowo memperingati.
Aku hanya bergeming. Tersentak sedikit.
“Eh, Jak, omong-omong. Malam ini ada ngetrek motor. Hadiahnya lumayan loh, 1 juta.”
Akhirnya, Bowo beralih ke topik lain. Mataku yang tadinya menyipit malas, seketika membulat antusias.
“Serius 1 juta, Wo?”
Bowo mengangguk.
Kusimak perkataan dia. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, aku memutuskan untuk ikut serta dalam lomba itu. Lumayan, kalau menang duitnya bisa buat bayar kontrakan.
***
Other Stories
Diary Superhero
lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...
Pahlawan Revolusi
tes upload cerita jgn di publish ...
Bumi
Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...
DAISY’s
Kisah Tiga Bersaudari ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Bukan Cinta Sempurna
Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...