Membabi Buta

Reads
1.2K
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

Bab 2

Kita melihat sebuah rumah yang sangat besar. Bangunannya sudah terlihat tua. Tipikal rumah orang kaya jaman Belanda. Suasana rumah ini sepi, dingin dan terkesan murung. Hanya terdengar suara semilir angin yang bersentuhan dengan dedaunan yang masih basah terkena sisa air hujan.

Semua jendela di rumah tersebut tertutup dengan gorden.

Kaki Mariatin in frame dan berjalan mendekat menuju pintu rumah besar itu. Kita bisa merasakan ketertarikan Mariatin yang baru tiba di rumah ini dari langkahnya.

MATA ASTI mengagumi kemegahan rumah tersebut. Kita melihat tangan Asti mulai terlepas dari tangan Mariatin. Keduanya sama-sama terfokus pada rumah.

Di teras, Mariatin mengetuk pintu berkali-kali.

“Permisi... Permisi... Halo?”

Sepi. Tak ada jawaban dari dalam rumah.

Mariatin penasaran, ia melihat ada gordin yang tersingkap sedikit di jendela dekat pintu. Mariatin mendekatinya. Dari celah kecil itu, Mariatin mengintip. Ia mencari tahu ada siapa di dalam rumah.

Sedangkan Asti seperti mencaritahu bagaimana cara membuka pintu rumah. Ia mengusap-usap kayu pintu dan knopnya. Baik Asti maupun Mariatin sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

Dari jendela luar, mata Mariatin menerawang ruangan. Tak banyak yang bisa ia lihat selain ruangan sepi dan suasana yang lengang.

“Permisi... Ada orang di dalam?” Mariatin mengulang ucapannya.

Masih tetap hening.

Krek!

Terdengar bunyi engsel pintu yang bergerak. Mariatin terkejut dan mundur dari tempat mengintipnya. Ia menoleh ke suara pintu yang berdecit.

Asti melihat Mariatin sekilas kemudian fokus lagi melihat pintu.

Tiba-tiba pintu rumah terbuka lebar secara perlahan dengan sendirinya. Mariatin bingung, menyangka Asti yang membukanya. Namun Asti terlihat tidak peduli dengan kejadian pintu yang terbuka sendiri.

Dari luar, sebelum Mariatin melangkah masuk. Kita bisa melihat dengan jelas ruangan di dalam rumah.

Tanpa ragu Asti melangkah masuk lebih dulu ke rumah, kemudian disusul Mariatin yang mencoba mencegah Asti.

Asti tidak mendengar, ia sudah berada di dalam rumah.

Sebelum Mariatin masuk, ia masih menyempatkan dirinya untuk melihat-lihat dari luar. Ragu untuk melangkah masuk ke dalam. Hingga kemudian akhirnya Mariatin perlahan ikut masuk ke rumah tersebut.

Keheningan rumah semakin menguasai Mariatin.

Setelah mereka berada di dalam rumah, pintu tertutup sendiri dengan cepat. Bunyi dentuman pintu membuat Mariatin terkejut.

Mariatin menoleh ke belakang dengan kaget namun kembali fokus melihat apa yang ada di dalam rumah. Fokusnya kali ini sudah teralihkan dengan apa yang ada di dalam rumah.

Suasana rumah sangat sepi seperti di sebuah pemakaman. Mariatin tidak berani melangkah lebih jauh dari ruangan tersebut.

Hening.

“Ada orang di rumah? Halo... Permisi... Permisi...”

Mata Mariatin menatap ke sekeliling ruangan yang besar dan megah. Matanya menatap beberapa ornamen dan pajangan zaman dulu.

“Halo... Permisi...”

Kemudian Mariatin menggeletakkan tas besarnya. Merasa lelah.

Mata Mariatin kembali menjelajah sendiri ke setiap sudut ruangan rumah. Perlahan pandangannya terpaku pada deretan bingkai poto-poto lama yang terpajang di dinding. Semua poto berisi DUA PEREMPUAN yang memperlihatkan masa-masa kecil mereka hingga masa tua. Setiap bingkai poto memperlihatkan gaya berbeda: berangkulan, berpelukan. Namun, tidak ada poto yang berekspresi tersenyum.

Mariatin merasa aneh.

Ketika sedang terpaku pada sebuah poto... Sebuah suara terdengar dari arah belakang Mariatin.

“Kamu suka rumahnya?”

Mariatin melonjak kaget, ia menoleh dan melihat wanita separih baya mash cantik mengenakan kebaya batik dan sanggul sudah berjongkok di depan Asti.

Terlihat Asti hanya mengangguk malu-malu. Wanita paruh baya itu tersenyum lalu membelai rambut Asti.

“Saya Mariatin, Bu. Yang menelepon tadi... Barusan... Maaf Bu, eh Nyonya.. Eh, apa tiga jam yang lalu ya. Saya lupa.” Mariatin menggaruk kepala karena bingung memanggil wanita di depannya ini dengan sebutan aoa.

Mariatin terlihat tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya, over excited. Mariatin sesekali merapikan bajunya yang berantakan dengan menggunakan tangan.

“Sundari. Raden Sundari.”

Kemudian Mariatin mengibaskan rambutnya yang masih sedikit basah karena hujan tadi.

“Anak jaman sekarang, kalau sudah kepepet suka nekat dan membabi buta. Hujan juga gak mau berteduh dulu.”

“Jangankan hujan bu. Banjir juga saya lewati.”

Sundari tersenyum sambil menatap Mariatin yang kedinginan di depannya. Kemudian Sundari melirik ke arah pintu yang sudah tertutup.

Mariatin merasa tidak enak.

“Iya den, anu. Tadi saya langsung masuk karena pintu terbuka sendiri. Dan saya coba manggil-manggil tidak ada orang... Lalu saya...”

“Tidak apa-apa.”

“Maaf lho bu. Eh Raden.”

“Panggil saya Ndoro Sundari.”

Sundari tersenyum ramah. Mariatin semakin terlihat sumringah wajahnya.

Sundari melihat gorden yang terbuka sedikit. Ia berjalan menutup untuk menutup gorden itu.

Mariatin mengikuti langkah Sundari di belakang.

“Iya Ndoro. Jadi saya diterima bekerja di sini? Berarti? Emm... karena saya gak mungkin balik lagi. Di luar hujan dan saya tinggal jauh dari daerah ini... Itu lho Ndoro jaraknya. Lagian angkutan ke daerah sini susah banget.”

Mariatin bicara terus tapi matanya jelalatan ke mana-mana. Sundari hanya tersenyum memerhatikan tingkah Mariatin yang seperti menemukan tempat tinggal baru.

“Jadi saya mulai kerja besok ya, Ndoro? Terus saya...”

Sundari mengedarkan pandangan pada Asti. “Nama kamu siapa?”

Sundari melihat Asti yang dari tadi diam dan kedinginan. Mariatin seketika berhenti bicara.

“ASTI.”

“Oh iyah maaf Ndoro. Ini Asti anak saya... Dia boleh tinggal di sini juga kan?”

Sundari tersenyum. Kemudian melihat ke arah Mariatin kembali. Sundari melangkah seakan tanpa dipinta Mariatin dan Asti mengikutinya dari belakang.

Mereka tiba di ujung kamar Sulasemi. Mariatin dan Asti menunggu Sundari bicara.

“Ini kamar Mbakyu Sulasemi.”

Mariatin penuh tanya di wajahnya.

“Dia kakak saya. Kami tinggal berdua di rumah ini.”

Sundari berjalan di depan. Mariatin dan Asti di belakangnya. Mariatin memerhatikan lorong menuju kamarnya. Seiring perjalanan Mariatin melalui lorong menuju kamarnya. Kita merasakan lengangnya dan antah berantahnya rumah ini.

“Rumahnya gede banget Ndoro. Rumah rampasan Belanda ya, Ndoro? Tapi di rumah segede ini kok cuma tinggal berdua?”

Sundari diam. Tidak menjawab pertanyaan Mariatin.

Mata Mariatin tidak berhenti menatap sekeliling ruangan sepanjang lorong.

“Ndoro ini orang Jawa banget yah.”

“Kenapa memang?”

“Sanggul, kain batik, kebaya dan kembang khantil dan ronce dan melati itu lho. Khas Jawa banget, Ndoro.”

Sundari berhenti di depan sebuah pintu. Ia mengambil kunci dari dalam sakunya. Kemudian memberikan kuncinya ke Mariatin.

“Ini kunci kamar kamu.”

Pintu kamar dibuka oleh Mariatin.

Mata Mariatin teralihkan ke sudut lain.

Tepat di ujung lorong, ada sebuah bingkai poto tergantung sendiri. Isi potonya kali ini berbeda: dua perempuan kecil berdiri bersama seorang perempuan berpakaian pembantu di tengahnya dengan wajah yang dihitamkan.

Tak jauh dari bingkai itu, ada satu pintu kamar lagi yang pintunya digembok dari luar. Kita akan mengenal kamar ini dengan KAMAR GUDANG / BASEMENT.

“Poto-poto yang ada di sini, poto siapa Ndoro? Anak? Cucu? Kok banyak banget poto anak kecil.”

Sundari tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tanpa melihat Mariatin. Mariatin kembali melihat bingkai poto yang dihitamkan.

“Kalo perempuan yang berdiri di tengah ini siapa? Kok wajahnya dihitamkan Ndoro?”

Sundari masih tidak menjawab.

“Sudah. Istirahat sana.”

Sundari pergi meninggalkan Mariatin di depan pintu kamar. Mata Mariatin mengikuti arah Sundari berjalan dan pandangannya masih terus melihat lorong.

Pandangan Mariatin terhenti di pesawat telepon yang kabelnya dicopot dari gagang telepon.

Mariatin mendekat mencoba membetulkan kabel yang dicopot. Mariatin meraih kabelnya dan mencoba memasukkannya ke lubang di gagang telepon.

Tiba-tiba sebuah tangan menahan tangan Mariatin yang ingin memasangkan kabel telepon ke pesawatnya. Tangan itu sangat kuat dan keras. Mariatin masih berusaha memasang kabel teleponnya.

Tangan itu terus menahan tangan Mariatin. Meremas tangan Mariatin dan menariknya.

Hingga Mariatin kesakitan dan melepas kabel teleponnya. Kemudian tangan itu melepas tangan Mariatin.

Mariatin menoleh sambil mengusap-usap pergelangan tangannya yang kesakitan. Kita melihat Sundari berdiri murka.

“Telepon tidak bisa dipakai.”

“Maaf, Ndoro. Saya cuma mau membetulkan.”

Sundari diam. Tatapannya tidak bersahabat.

Mariatin tidak berani melanjutkan kalimatnya. Ia kaget dengan keramahan Sundari yang tiba-tiba berubah. Mariatin bergegas berlari ke kamarnya dan membuka kunci pintu kamar lalu masuk.

Lorong kembali lengang.


Other Stories
Awan Favorit Mamah

Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...

Jam Dinding

Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

The Labsky

Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

Download Titik & Koma