Bab 5
Mariatin berjalan di lorong membawa ember dari kamar Sulasemi. Tiba-tiba telinganya menangkap suara tawa Asti yang sangat ceria.
Langkah Mariatin terhenti. Ia mengurungkan niatnya untuk pergi ke dapur. Mariatin mencari sumber suara tersebut.
Suara Asti berasal dari dalam kamar Sundari. Mariatin mendekat ke pintu kamar Sundari.
Tawa Asti semakin jelas terdengar. Mariatin memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Sundari.
Sundari muncul membuka pintu.
Mariatin bisa melihat Asti sedang bermain di lantai dengan mainan yang banyak di sekelilingnya.
Mariatin memerhatikan Asti dari depan pintu kamar Sundari.
“Saya yang mengajak Asti bermain di sini.”
“Tapi, Ndoro. Tidak sopan anak saya main di kamar, Ndoro.”
“Tidak apa-apa. Lagipula Asti tidak punya temen kalau di kamar kamu terus, kamu kan juga banyak pekerjaan. Kasihan dia.”
Terdengar bunyi sepeda motor berhenti di luar rumah. Mariatin tidak jadi melanjutkan bicara.
“Orang yang menghantar makanan sudah datang. Coba kamu lihat.”
“Iya, Ndoro.”
Sundari menutup pintu kamarnya. Sementara Mariatin berjalan menuju teras.
Sesampai di teras, penghantar makanan membuka tali pengikat 4 kardus berisi bahan makanan. Sementara Mariatin terlihat membantu menurunkan kardus-kardus itu.
“Baru kerja di sini yah?”
“Kok tau, Mas?”
“Yah ... saya biasa mengantar bahan makanan ke sini sebulan sekali. Dan setiap kali saya datang, yang kerja di sini juga ganti.”
Mariatin terus menyusun kardus-kardus yang diturunkan dan memeriksa isinya.
“Kok gitu?”
Mariatin merasa ada sesuatu yang ganjil mendengar keterangan pengantar makanan.
“Ya ... mana saya tahu, mungkin gak cocok kerja di sini.”
Pengantar makanan sudah selesai melaksanakan tugasnya menurunkan kardus. Lalu, ia mencatat sesuatu di kertasnya. Semacam laporan.
Tiba-tiba Sundari muncul.
“Mas Parmin kalau sudah selesai. Sekarang boleh pergi.”
Pengantar makanan mengangguk dan merapikan sisa tali dan sampah lainnya yang masih berserakan di lantai.
“Iya, Nyonya.”
Ia buru-buru pergi. Sedangkan Mariatin diam di tempat berdirinya.
“Bahan makanannya langsung simpan di lemari dapur.”
Mariatin bergegas membawa bahan makanan masuk ke dalam dan menuju dapur.
***
Terlihat Sulasemi sudah duduk di kursi. Sementara, Sundari sedang berdiri mempersiapkan kamera untuk memotret. Kamera sudah berdiri di atas tripod.
Mariatin muncul dari arah dapur. Mariatin celingak-celinguk. Masih berdiri melihat kamera yang diatur Sundari.
“Ini untuk apa ya, Ndoro?”
“Sudah. Kamu ikut saja. Duduk di sana. Kami senang mengabadikan orang yang datang ke rumah ini.”
“Tapi tidak usah, Ndoro.”
Mariatin tidak meneruskan kalimatnya saat Sulasemi menatapnya. Mariatin kemudian dengan canggung duduk di celah kosong di antara mereka.
Setelah Sundari selesai mengatur kamera. Sundari ikut bergabung.
Sulasemi, Sundari, Asti dan Mariatin menatap kamera bersama. Semua tanpa ekspresi. Kecuali Mariatin yang berkespresi canggung.
TAKE!
***
Sundari dan Sulasemi sudah duduk di bangku meja makan. Mariatin muncul membawa nasi dan lauknya. Kemudian menghidangkannya di meja makan.
Setelah semua makanan terhidang di meja makan.
“Ayo duduk, Mar. Di tempat lain biasanya babu makan di dapur, tapi di sini, kamu bisa makan bersama kami.” Ucapan Sundari terjeda sesaat. “Kita gak boleh pilih kasih,” lanjutnya.
“Saya makan di dapur saja, tidak apa-apa Ndoro. Karena di rumah biasanya juga makan di dapur. Kadang di emperan juga jadi. Bebas tidak ada aturan.
Mariatin balik badan hendak melangkah ke dapur. Tiba-tiba Sulasemi bersuara dengan volume tinggi.
“Lungguh! Ning kene awakmu belajar ngerti toto kromo.”[1]
Suara Sulasemi memekakkan telinga.
Mariatin kaget mendengar gertakan Sulasemi. Mariatin berhenti berjalan dan menoleh ke arah meja makan.
Sulasemi terus menatap Mariatin yang masih berdiri. Dengan matanya yang ramah, Sundari memberi kode pada Mariatin agar segera duduk.
“Makan di sini bareng-bareng, Mar.”
Tak lama kemudian Asti muncul. Sundari menuntun Asti untuk ikut serta makan bersama. “Ayo, Nak. Duduk.”
Asti duduk di samping Sundari.
Mariatin perlahan menarik kursi dan duduk. Posisinya di sebelah Sulasemi. Sundari tersenyum dan menyodorkan piring ke Mariatin yang ketakutan.
Mariatin mengangguk. Sulasemi menatap Mariatin tidak bersahabat. Pelan-pelan Mariatin mengambil sendok dan hendak mengambil makanan. Tiba-tiba tangannya dicengkeram kuat oleh Sulasemi.
Mariatin kaget.
“Jangan mengambil sesuatu jika belum disuruh pemiliknya.”
Mariatin semakin takut. Ia mengangguk pelan. Sulasemi kemudian mengambil makanan diikuti Sundari dan kemudian Mariatin.
Mereka bertiga dan Asti makan dalam keadaan hening dan kaku. Lama kemudian...
Keheningan terbuyarkan oleh Mariatin yang mengunyah makanan dengan mulut berbunyi.
Sulasemi menatap Mariatin dan menyudahi makanannya. Sulasemi menatap dengan sinis dan meninggalkan meja makan. Mariatin menatap bingung ke Sulasemi yang pergi kemudian melirik Sundari.
“Ndoro Sulasemi kurang selera makan atau masakan saya kurang enak, Ndoro?”
“Mbakyu Sulasemi tidak suka melihat perempuan kalau makan mulutnya berbunyi.”
“Maksudnya?”
Sundari kemudian mengajarkan cara makan yang baik kepada Mariatin. Sundari memasukkan sesendok nasi ke mulutnya dan mengunyahnya dengan pelan tanpa menimbulkan suara. Mariatin memerhatikan dan menirukan Sundari.
***
Asti sudah terbaring di atas ranjang, tapi belum memejamkan mata. Mariatin menutup tubuh Asti dengan selimut. Kemudian ia bersandar di atas ranjang.
“Ndoro Sundari itu baik ya, Bu.”
Mariatin hanya mengangguk.
“Beda sama Ndoro Sulasemi. Galak banget.”
“Iyah. Sifat orang kan beda-beda. Dan kamu harus mencontoh orang-orang baik saja. Seperti Ndoro Sundari itu.”
Asti mengangguk.
“Cari uang itu susah, Nak. Makanya, Ibu harus tahan, apa pun perlakuan majikan terhadap Ibu.”
Kemudian Asti memejamkan mata.
Mariatin naik ke atas ranjang untuk tidur di sebelah Asti. Mereka tidur sambil Mariatin memeluk Asti. Sangat intim.
Terdengar alunan mocopot megatruh Sulasemi.
Sigra milir kang gethek sinangga bajul... Kawan dasa kang njageni...
***
Sulasemi senandung mocopot megatruh sambil duduk di kursi goyang. Di tangannya, ia memegang kapak. Mata kapaknya terjuntai mengenai lantai.
Tatapan Sulasemi lurus dan kosong. Seakan mata Sulasemi bisa melihat langsung Mariatin dari dalam kamarnya.
...Ing ngarsa miwah ing pungkur... Tanapi ing kanan kering... Kang gethek lampahnya alon...
Sulasemi mengusap-usap kapaknya.
***
Mariatin sedang mencuci piring. Ia dikagetkan dengan suara ketukan keras di jendela dapur. Mariatin menoleh dan terkejut saat melihat wajah lelaki tua yang kemarin kini berada di luar jendela lagi.
“Permisi. Permisi. Buka pintunya.”
Mariatin masih kaget dan diam.
“Tolong buka pintunya.”
Wajah lelaki tua itu membuat Mariatin bingung. Ia menunjukkan wadah berisi makanan pada Mariatin.
“Ini isinya makanan. Tolong titip buat istri saya. Tolong yah. Tolong yah.”
Maritain hanya menatap lelaki tua itu dengan tatapan aneh.
“Istri?”
“Iya, istri saya.”
“Tolong.”
Mariatin mendekati pintu dan bermaksud ingin membukanya. Tapi pintu terkunci, tidak bisa dibuka.
Tiba-tiba Sundari muncul di dapur. Ia mengeluarkan kunci dari sakunya dan membuka pintu dapur kemudian mengambil makanan yang dibawa lelaki tua jtu dengan kasar.
Lelaki tua itu tersenyum kemudian pergi.
Sundari langsung mengunci pintu dapur kembali.
“Lain kali, jangan ditanggapi.”
Mariatin mengangguk. Lalu Mariatin melihat Sundari membuang makanan yang tadi diberikan Broto ke dalam tempat sampah.
Saat Sundari ingin pergi, Mariatin memberanikan diri bertanya siapa lelaki tua itu. “Bapak tadi siapa, Ndoro?”
Sundari menatap Mariatin.
“Namanya Broto. Istrinya dulu pernah bekerja di rumah ini, twpi tiba-tiba menghilang dan tidak kembali lagi.”
Mariatin merasakan sesuatu yang aneh dengan jawaban Sundari. Sundari pergi meninggalkan dapur.
Other Stories
Mauren Lupakan Masa Lalu
Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...
Mereka Yang Tak Terlihat
Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...
Just Open Your Heart
Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...
Mozarella Bukan Cinderella
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...