Bab 8
Asti duduk di lantai sambil membuka album foto. Album foto berisi foto-foto para perempuan yang pernah menjadi babu di rumah tersebut. Foto Mariatin yang baru diambil kemarin sudah terpasang di album tersebut.
Sementara Sundari meracik ramuan yang dicampur dengan air. Mengaduknya. Lalu Sundari menghampiri Asti. Ia berjongkok di hadapan Asti. Kemudian memberikan air itu sambil tersenyum pada Asti.
Asti meminum air racikan Sundari. Sundari membelai rambut Asti seperti cucunya sendiri sembari Asti menghabiskan minumannya.
Asti selesai minum.
Sundari membawa gelasnya kembali dan meletakkannya di atas meja. Sundari melipat kain kecil tempat ia menyimpan ramuan yang selalu diberikan pada Asti.
Dari tempat Sundari berdiri. Ia melihat Asti dengan tatapan tanpa rasa kasihan.
***
Mariatin menutup pintu kamarnya. Menguncinya dengan dua kali putar. Lalu, memasukkan slot sebagai tambahan untuk mengunci pintu. Mariatin mulai merasa semakin tidak aman.
Tubuhnya sangat lemas. Wajahnya menyiratkan pekerjaannya membuat ia lelah. Ia membuang seragam kerjanya ke bawah lantai.
Lalu berdiri di hadapan cermin. Ia menatap dirinya sendiri. Mengusap peluh yang ada di wajah. Perlahan ia membuka pakaian luarnya. Bersiap mandi.
Mariatin masuk ke kamar mandi. Pintu kamar mandi dikuncinya dari dalam.
Di kamar mandi, Mariatin membuka pakaiannya perlahan. Meletakkan handuk dengan rapi di balik pintu kamar mandi. Kemudian mengguyurkan air ke sekujur badannya.
Mariatin menikmati tiap tetes air yang membasuhnya. Seperti obat yang bisa menghilangkan rasa cemburu terhadap anaknya dan kelelahan semua pekerjaan.
Selama Mariatin mandi kita mendengar mocopot megatruh yang disenandungkan Sulasemi.
Sigra milir kang gethek sinangga bajul... Kawan dasa kang njageni... Ing ngarsa miwah ing pungkur...
Tanapi ing kanan kering... Kang gethek lampahnya alon...
Mocopot megatruh mengikuti rima air yang mengalir di tubuh Mariatin. Seakan Sulasemi sudah memperhitungkan semua skenario kehidupan Mariatin.
Hingga kemudian terdengar bunyi ketukan di pintu kamar mandi.
Mariatin berhenti mengguyur air. Ia meletakkan gayung dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara.
“Siapa di luar? Ndoro Sundari?”
Hening. Tak ada jawaban. Mariatin buru-buru mengenakan baju handuk. Kemudian, ia membuka pintu kamar mandinya perlahan dan tak ada seorang pun di luar. Mariatin segera memakai bajunya dengan asal, terburu-buru. Ia keluar dari kamar mandi.
Terdengar lagi suara ketukan. Kali ini ketukan di jendela kamarnya. Mariatin dengan ragu mendekat ke jendela dan membuka gordennya.
Tak ada yang ia lihat selain tumpukan kayu sebagai penutup jendelanya.
“Ndoro? Ndoro di luar?”
Tak lama ketukan muncul di pintu depan kamarnya. Mariatin kesal dan menghampiri pintu untuk melihat siapa di luar. Saat ia membuka pintu. Ia tak melihat seorang pun juga.
Ia berusaha berpikir positif. Mungkin Asti atau Sundari.
“Asti? Ndoro?”
Tetap tidak ada jawaban. Mariatin
ketakutan dan bingung.
Saat ia hendak berbalik badan ke kamarnya, sosok berjubah merah dan bertopeng sudah berdiri dan mengejutkan Mariatin.
Mariatin jatuh dan berlari keluar kamarnya. Berlari sepanjang lorong sambil memanggil-manggil Sundari.
“Ndoro... Ndoro Sundari. Tolong.”
Mariatin berlari sambil sesekali menoleh ke belakang. Sosok berjubah merah masih berdiri di depan pintu kamarnya.
Memerhatikan Mariatin berlari.
Sosok itu terus menatap Mariatin sambil berdiri.
Mariatin berlari hingga tiba di depan pintu kamar Sundari. Mariatin masih dengan mengenakan handuk basah mengetuk keras pintu kamar Sundari. Suaranya sangat keras dan ketakutan.
“Ndoro tolong Ndoro. Buka pintunya. Ndoro!”
Ketukan di pintu bisa membangunkan seisi rumah saking Mariatin ketakutan.
“Ndoro?”
Tiba-tiba Sulasemi muncul dari arah dapur.
“Sedang apa kamu teriak-teriak tengah malam?”
Tatapan Sulasemi menusuk Mariatin. Mata rusaknya seakan penuh amarah.
Mariatin sangat takut dengan kehadiran Sulasemi. Tapi kali ini, ia tidak punya pilihan lain selain harus jujur tentang apa yang baru saja dilihatnya.
“Anu … Ndoro. Saya lihat orang pake topeng di dalam kamar saya. Saya takut.”
“Ngayal saja kamu. Masuk ke kamar sana. Jangan ganggu orang yang sedang istirahat.”
Mariatin masih bersikukuh. Ia kesampingkan ketakutannya pada sosok Sulasemi.
“Tapi Ndoro... Saya…”
“Masuk! Mana sopan santun kamu. Berpakaian seperti itu malam-malam.” Sulasemi membentak Mariatin keras.
Mariatin menyerah.
Mariatin tidak bisa berkata-kata lagi. Dengan takut ia berjalan perlahan menuju kembali ke arah kamarnya.
Mariatin berharap sosok bertopeng itu sudah menghilang.
Mariatin masih dalam keadaan kacau sambil masuk ke kamarnya. Ia membuka lemarinya untuk berpakaian.
Tidak berapa lama kemudian ia terkejut saat melihat semua pakaian Asti sudah tidak ada di dalam lemarinya.
Mariatin tidak percaya dan terus mencari-cari. Mungkin ada pakaian Asti yang terselip.
“Semua pakaian Asti di mana?”
Mariatin tidak menemukan satu pun. Mariatin bersedih. Mariatin lelah dan bersandar duduk di atas lantai. Ia menangis. Emosi bercampur.
Kemudian ia mendengar suara tangisan perempuan di gudang sebelah kamarnya. Mariatin penasaran Siapa yang menangis?
Mariatin berjalan keluar kamar dan mendekati pintu gudang untuk membukanya. Saat ia sedang mengintip lewat celah pintu yang terbuka sedikit, ia melihat Sulasemi sedang berjalan menuju ruang tengah sambil menyeret kapaknya.
Terdengar bunyi gesekan kapak yang beradu dengan lantai. Mariatin buru-buru kembali ke kamar dan menutup pintu kamarnya sebelum sulasemi menoleh ke arahnya.
Perempuan aneh.
Mariatin bersandar di pintu. Kemudian ia menatap tas besarnya di atas lemari.
Mariatin membuka sleting tas besarnya. Kemudian ia memasukkan semua pakaian ke dalam tas besar itu. Hingga lemarinya kosong tak bersisa.
Ia berencana untuk berhenti kerja dan pergi dari rumah. Wajahnya sangat sudah tidak sabar untuk pergi.
Saat Mariatin ingin membuka pintu kamar. Ia mengambil seragam kerjanya yang tergantung di balik pintu lalu melempar begitu saja pakaian kerjanya ke sudut kamar. Kemudian ia keluar kamar.
Mariatin menggendong tas besarnya hingga ke ruang tengah. Saat di ruang tengah, Mariatin melihat Asti sedang duduk sendiri. Ia menghampirinya.
“Asti... Ayo nak kita pergi sekarang.”
Asti menggeleng. Ia terlihat agak sedikit lemas karena efek ramuan yang sering diberikan oleh Sundari.
“Ayo, Nak. Sebelum ada yang lihat.”
Asti menggelengkan kepala. “Asti gak mau. Asti disuruh nenek gak boleh keluar rumah.”
Mariatin bingung untuk mengajak dan meyakinkan Asti.
“Asti di rumah ini sudah tidak aman. Nanti kalau ada apa-apa sama kita bagaimana?”
Asti menggeleng terus. Asti tidak mau beranjak dari kursinya. Ia terlihat sangat lemah.
“Kalau sudah keluar dari rumah ini. Kita sudah aman. Dan Ibu bisa cari kerja di tempat baru lagi.”
Asti tetap diam.
Mariatin berpikir keras. Tidak ada waktu untuk membujuk Asti dengan kata-kata. Mariatin menarik lengan Asti hingga Asti kesakitan. Mariatin menghiraukan rasa sakit di tangan Asti.
Asti beranjak dari kursinya dan berjalan dengan terpaksa sambil digandeng oleh Mariatin.
Mariatin membuka pintu rumah sangat pelan. Mariatin akan bebas leluasa kabur dari rumah ini.
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang mereka.
“Kamu tega mau pergi dari rumah ini?”
Mariatin mendengat suara Sundari dari belakang. Namun, ia tidak menoleh. Ia terus berjalan menuruni teras rumah.
Sundari muncul tiba-tiba di depannya sehingga mengejutkan Mariatin.
“Maria?!”
Sundari berdiri di teras rumahnya. Mariatin terus berjalan dengan Asti hingga ia sudah turun dari teras rumah.
“Maria tunggu!”
Dari teras rumah Sundari berusaha menghentikan Mariatin yang seperti sudah tidak peduli dengan dirinya.
“Mar... Maria... Mau ke mana? Tunggu, Mar.”
Nada Sundari mengiba dan terdengar sedih. Mariatin tidak menoleh.
“Mar? Jangan pergi. Apa yang membuat kamu mau pergi, Mar?
Mariatin diam.
Mariatin berhenti berjalan. Tapi Asti masih digenggamnya. Ia tidak mau melepas tangan Asti.
Mariatin berdiam diri. Menimang-nimang keputusannya untuk pergi. Suara sundari terdengar sangat iba dan membuat Mariatin kasihan.
Sundari mendekat ke arah Mariatin berdiri.
“Mar ... Tolong jelaskan. Kenapa kamu mau pergi dari rumah ini?”
Mariatin jawab tanpa melihat ke Sundari.
“Saya sudah tidak tahan, Ndoro.”
“Saya butuh kamu, Mar.”
Sundari semakin menunjukkan sedih yang dibuat-buatnya.
“Ndoro. Tolong mengerti saya. Saya di sini cuma mau cari uang. Saya cuma babu. Dan saya tidak mengerti dengan semua kejadian selama di rumah ini.”
“Kamu kenapa to, Mar. Saya tidak mengerti.”
Sundari hanya menggeleng sambil masih menunjukkan sedih yang dibuat-buatnya.
“Di rumah ini saya ketakutan, Ndoro. Apalagi kemarin malam. Saya dikagetkan dengan kemunculan sosok bertopeng. Aneh ndoro. Saya merasa tidak aman.”
“Mar. Saya janji itu tidak akan terjadi lagi.”
“Percuma, Ndoro.” Mariatin menjeda ucapannya sesaat. “Ndoro Sundari memang baik. Tapi Ndoro Sulasemi itu... Tidak pernah bisa bersahabat dengan saya sejak kali pertama saya bekerja di sini.”
Sundari menarik napas. Mencoba memikirkan jawabannya.
“Mar. Saya minta maaf dengan sanget. Mbakyu Sulasemi juga. Dia menyesal sudah bersikap seperti itu sama kamu. Saya mohon. Kamu masih mau tetap tinggal di rumah kami. Kami butuh kamu, Mar.”
Mariatin terlihat diam. Sundari mencoba kalimat ampuh untuk meluluhkan hati Mariatin.
Sundari menatap Asti. “Asti kamu tega meninggalkan Benek di rumah ini?”
Asti diam. Melirik ke Mariatin. Mariatin tidak memberikan reaksi.
“Semua akan baik-baik saja, Mar. Percaya sama saya.”
Sundari mengusap lengan Mariatin.
Perlahan. Mariatin luluh dengan semua yang dikatakan Sundari. Mariatin kembali berjalan ke arah rumah tanpa menatap Sundari.
Di belakang Mariatin tanpa sepengetahuannya, Sundari tersenyum jahat dan penuh kemenangan melihat Mariatin yang kembali lagi masuk ke dalam rumah.
Other Stories
Just Open Your Heart
Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...
Ayudiah Dan Kantini
Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...
Bagaimana Jika Aku Bahagia
Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...
Egler
Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Air Susu Dibalas Madu
Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...