Chapter 1, Penjara Di Rumah Sendiri
Hujan turun deras di luar, namun tidak seberapa derasnya dibandingkan air mata yang Abrian tahan. Di meja makan yang dingin, hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar. Ayahnya, Abimana, duduk tegak di kepala meja. Tatapan matanya lurus, seolah sedang menghitung setiap gigitan nasi yang masuk ke mulutnya. Abrian tahu arti tatapan itu. Itu adalah tatapan ketidakpuasan.
"Morzak, bagaimana ujian kimiamu?" tanya Abimana, suaranya menggelegar di ruang makan.
Morzak, kakaknya yang selalu sempurna, meletakkan garpu dan tersenyum. "Skorku 98, Ayah. Aku salah satu yang tertinggi di angkatan."
Senyum Abimana merekah, seolah Morzak baru saja memenangkan lotre. "Lihat, Abrian. Kakakmu selalu tahu bagaimana caranya membuat bangga. Dia tidak pernah mengecewakan. Kapan kau bisa seperti dia?"
Kalimat itu seperti hantaman keras ke dada Abrian. Dia menunduk, memainkan nasi di piringnya, suaranya bergetar, "A-aku dapat 80, Ayah."
Ruang makan hening sejenak. Keheningan yang Abrian tahu akan berakhir buruk.
"80?" suara Ayahnya meninggi. "Kau tahu, Abrian? Uang yang Ayah keluarkan untuk sekolahmu bukan untuk hasil yang pas-pasan. Uang itu untuk hasil yang maksimal. Untuk apa kau sekolah jika tidak bisa mengalahkan kakakmu?"
Abrian tidak menjawab. Dia hanya menelan ludah. Hatinya perih. Dia lelah mendengar perbandingan itu. Dia juga ingin bisa seperti Morzak. Dia juga ingin membuat ayahnya bangga. Tapi setiap kali dia mencoba, usahanya selalu terasa sia-sia.
Ibunya, Helina, yang sedari tadi diam, akhirnya memberanikan diri untuk berbicara. "Abimana, Abrian sudah berusaha. Dia juga pasti lelah."
"Berusaha apa?" bentak Abimana. "Berusaha mengecewakan?"
Air mata Abrian tumpah. Dia tidak tahan lagi. Tanpa berkata-kata, dia berdiri dari kursi dan lari ke kamarnya. Dia mengunci pintu dan menjatuhkan dirinya di kasur. Ia menangis sejadi-jadinya. Abrian merasa dirinya adalah aib.
Di rumah yang seharusnya menjadi tempat teraman, ia malah merasa terjebak dalam penjara tanpa jeruji. Di rumah yang seharusnya penuh kasih sayang, ia malah merasa seperti orang asing.
Dari celah pintu, Abrian melihat Ibunya datang. Wajahnya khawatir. "Abrian, buka pintunya, Nak..."
"Biarkan dia! Biarkan dia sendirian," suara Ayahnya terdengar lagi. "Biar dia sadar kalau cara hidupnya yang lembek tidak akan membawanya ke mana-mana."
Abrian tidak bergerak. Dia hanya menangis dalam diam. Malam itu, di balik pintu kamar yang terkunci, Abrian merasa seperti bayangan yang tak pernah dilihat. Bayangan dari seorang anak yang kehilangan jati diri.
"Morzak, bagaimana ujian kimiamu?" tanya Abimana, suaranya menggelegar di ruang makan.
Morzak, kakaknya yang selalu sempurna, meletakkan garpu dan tersenyum. "Skorku 98, Ayah. Aku salah satu yang tertinggi di angkatan."
Senyum Abimana merekah, seolah Morzak baru saja memenangkan lotre. "Lihat, Abrian. Kakakmu selalu tahu bagaimana caranya membuat bangga. Dia tidak pernah mengecewakan. Kapan kau bisa seperti dia?"
Kalimat itu seperti hantaman keras ke dada Abrian. Dia menunduk, memainkan nasi di piringnya, suaranya bergetar, "A-aku dapat 80, Ayah."
Ruang makan hening sejenak. Keheningan yang Abrian tahu akan berakhir buruk.
"80?" suara Ayahnya meninggi. "Kau tahu, Abrian? Uang yang Ayah keluarkan untuk sekolahmu bukan untuk hasil yang pas-pasan. Uang itu untuk hasil yang maksimal. Untuk apa kau sekolah jika tidak bisa mengalahkan kakakmu?"
Abrian tidak menjawab. Dia hanya menelan ludah. Hatinya perih. Dia lelah mendengar perbandingan itu. Dia juga ingin bisa seperti Morzak. Dia juga ingin membuat ayahnya bangga. Tapi setiap kali dia mencoba, usahanya selalu terasa sia-sia.
Ibunya, Helina, yang sedari tadi diam, akhirnya memberanikan diri untuk berbicara. "Abimana, Abrian sudah berusaha. Dia juga pasti lelah."
"Berusaha apa?" bentak Abimana. "Berusaha mengecewakan?"
Air mata Abrian tumpah. Dia tidak tahan lagi. Tanpa berkata-kata, dia berdiri dari kursi dan lari ke kamarnya. Dia mengunci pintu dan menjatuhkan dirinya di kasur. Ia menangis sejadi-jadinya. Abrian merasa dirinya adalah aib.
Di rumah yang seharusnya menjadi tempat teraman, ia malah merasa terjebak dalam penjara tanpa jeruji. Di rumah yang seharusnya penuh kasih sayang, ia malah merasa seperti orang asing.
Dari celah pintu, Abrian melihat Ibunya datang. Wajahnya khawatir. "Abrian, buka pintunya, Nak..."
"Biarkan dia! Biarkan dia sendirian," suara Ayahnya terdengar lagi. "Biar dia sadar kalau cara hidupnya yang lembek tidak akan membawanya ke mana-mana."
Abrian tidak bergerak. Dia hanya menangis dalam diam. Malam itu, di balik pintu kamar yang terkunci, Abrian merasa seperti bayangan yang tak pernah dilihat. Bayangan dari seorang anak yang kehilangan jati diri.
Other Stories
The Museum
Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...
Tes
tes ...
November Kelabu
Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Painted Distance (tamat)
Dara memutuskan untuk pergi ke Sapporo bukan hanya sekadar liburan. Perjalanannya di kota ...