Chapter 2, Pintu Yang Terkunci
Keesokan harinya, Abrian tidak ingin keluar dari rumah. Hatinya masih sakit, dan matanya membengkak. Dia mencoba membaca buku, tetapi pikirannya terus melayang pada kejadian semalam. Pintunya tiba-tiba diketuk.
Tok! Tok!
"Abrian, ini Morzak," suara kakaknya terdengar dari balik pintu. "Ayah dan Ibu sudah berangkat ke tempat kerja. Aku mau ke toko buku. Kau mau ikut?"
Abrian tidak menjawab. Dia tahu tawaran ini hanya basa-basi. Morzak adalah orang yang akan bersemangat pergi ke toko buku hanya untuk membeli buku pelajaran baru, bukan buku fiksi seperti Abrian.
"Aku perlu kau mengambilkan buku di kamarku. Bukunya ada di meja belajarku, judulnya The Art of War," lanjut Morzak. "Kunci cadangan ada di dalam pot bunga di depan pintu."
Abrian menghela napas. Dia tahu ini adalah cara Morzak untuk menunjukkan dominasinya. Dia adalah 'kakak yang baik' yang meminta adiknya untuk melakukan sesuatu. Dengan langkah gontai, Abrian mengambil kunci dan membuka pintu kamar Morzak.
Morzak tidak main-main. Kamarnya terkunci. Begitu masuk, Abrian terkejut melihat seberapa rapi kamar Morzak. Tidak ada satu pun barang yang berantakan. Namun, ada yang aneh. Sebuah lukisan besar tergantung di dinding, lukisan yang Abrian tidak pernah lihat sebelumnya. Lukisan itu seolah menutupi sesuatu.
Abrian mengambil buku yang ada di meja Morzak. Dia hendak keluar, tetapi rasa penasaran menguasai dirinya. Dia mendekati lukisan itu. Abrian tidak bisa menahan tangannya untuk menyentuh pigura lukisan itu. Tepat saat itu, ponsel Morzak berdering di samping Abrian.
"Halo?" kata Morzak di ujung telepon. "Ya, sebentar lagi. Aku akan segera ke sana."
Abrian mendengar suara Morzak yang terburu-buru. Setelah menutup telepon, Morzak berteriak dari luar, "Abrian, aku akan segera pergi. Aku buru-buru. Tunggu aku di mobil!"
Abrian tidak menjawab. Dia tahu ini kesempatannya. Dia kembali menatap lukisan itu. Seolah ada energi aneh yang memanggilnya. Abrian akhirnya mencoba mengangkat lukisan itu. Ada sebuah pintu kecil di baliknya yang tersembunyi. Pintu itu terlihat sudah lama dan memiliki lubang kecil untuk kunci.
"Apa ini?" bisik Abrian pada dirinya sendiri.
Tangannya gemetar saat ia menempelkan telinganya ke pintu. Tidak ada suara dari dalam. Abrian tidak tahu apa yang ada di balik pintu ini, tetapi ia yakin Morzak tidak ingin dirinya mengetahui semua ini. Ia pun mencoba membuka pintu itu, berharap ia menemukan sesuatu di dalam.
Tok! Tok!
"Abrian, ini Morzak," suara kakaknya terdengar dari balik pintu. "Ayah dan Ibu sudah berangkat ke tempat kerja. Aku mau ke toko buku. Kau mau ikut?"
Abrian tidak menjawab. Dia tahu tawaran ini hanya basa-basi. Morzak adalah orang yang akan bersemangat pergi ke toko buku hanya untuk membeli buku pelajaran baru, bukan buku fiksi seperti Abrian.
"Aku perlu kau mengambilkan buku di kamarku. Bukunya ada di meja belajarku, judulnya The Art of War," lanjut Morzak. "Kunci cadangan ada di dalam pot bunga di depan pintu."
Abrian menghela napas. Dia tahu ini adalah cara Morzak untuk menunjukkan dominasinya. Dia adalah 'kakak yang baik' yang meminta adiknya untuk melakukan sesuatu. Dengan langkah gontai, Abrian mengambil kunci dan membuka pintu kamar Morzak.
Morzak tidak main-main. Kamarnya terkunci. Begitu masuk, Abrian terkejut melihat seberapa rapi kamar Morzak. Tidak ada satu pun barang yang berantakan. Namun, ada yang aneh. Sebuah lukisan besar tergantung di dinding, lukisan yang Abrian tidak pernah lihat sebelumnya. Lukisan itu seolah menutupi sesuatu.
Abrian mengambil buku yang ada di meja Morzak. Dia hendak keluar, tetapi rasa penasaran menguasai dirinya. Dia mendekati lukisan itu. Abrian tidak bisa menahan tangannya untuk menyentuh pigura lukisan itu. Tepat saat itu, ponsel Morzak berdering di samping Abrian.
"Halo?" kata Morzak di ujung telepon. "Ya, sebentar lagi. Aku akan segera ke sana."
Abrian mendengar suara Morzak yang terburu-buru. Setelah menutup telepon, Morzak berteriak dari luar, "Abrian, aku akan segera pergi. Aku buru-buru. Tunggu aku di mobil!"
Abrian tidak menjawab. Dia tahu ini kesempatannya. Dia kembali menatap lukisan itu. Seolah ada energi aneh yang memanggilnya. Abrian akhirnya mencoba mengangkat lukisan itu. Ada sebuah pintu kecil di baliknya yang tersembunyi. Pintu itu terlihat sudah lama dan memiliki lubang kecil untuk kunci.
"Apa ini?" bisik Abrian pada dirinya sendiri.
Tangannya gemetar saat ia menempelkan telinganya ke pintu. Tidak ada suara dari dalam. Abrian tidak tahu apa yang ada di balik pintu ini, tetapi ia yakin Morzak tidak ingin dirinya mengetahui semua ini. Ia pun mencoba membuka pintu itu, berharap ia menemukan sesuatu di dalam.
Other Stories
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...
Bukan Cinta Sempurna
Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...
Dengan Ini Saya Terima Nikahnya
Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...
Kau Bisa Bahagia
Airin Septiana terlahir sebagai wanita penyandang disabilitas. Meski keadaannya demikian, ...
Haura
Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...