Chapter 3, Teror Pada Dinding Foto
Abrian berhasil membuka pintu rahasia itu. Di dalamnya gelap dan pengap, berbau seperti kertas tua dan berdebu. Abrian menyalakan senter pada ponselnya dan cahaya menyorot sebuah ruangan kecil. Di sana, di dinding, terpampang sebuah papan besar yang penuh dengan foto-foto. Foto-foto itu dijepit dengan paku-paku kecil. Di bagian bawahnya, ada tulisan tangan rapi yang Abrian kenal. Tulisan tangan Morzak.
Jantung Abrian berdegup kencang. Ia mendekat, menyinari satu per satu foto itu. Di antara foto-foto itu, ada foto Dinda, kapten tim voli yang baru saja mendapat beasiswa. Di bawah fotonya, tulisan Morzak berbunyi, "Terlalu populer. C." Ada foto Rudi, siswa paling pintar di kelas sains. Di bawah fotonya, tulisan Morzak berbunyi, "Peringkat satu. A."
Abrian merasa mual. Ia terus menyusuri foto-foto itu. Kode A, B, C, atau D ada di setiap foto. Meskipun Abrian tidak memahami artinya, dia menyadari bahwa ini tidak benar. Saat Abrian terus mencari, dia melihat foto di tengah papan. Alfarezi, siswa yang paling berprestasi di sekolahnya, terlihat di foto itu. Tulisan tangan Morzak berbeda dari yang lain di bawah foto. Tulisan itu berwarna merah dan bergaris bawah, "Harus Dilenyapkan."
Tiba-tiba, suara pintu berderit. Abrian membeku. Ia tahu itu Morzak. Ia tak bisa lari. Morzak berdiri di ambang pintu, tersenyum dingin. Matanya menyusuri Abrian dari kepala hingga kaki.
"Kau melihatnya, kan?" kata Morzak, suaranya tenang, tetapi membuat Abrian merinding. "Ini... hobiku."
Abrian menelan ludah. "A... apa ini, Kak? Siapa mereka?"
Morzak melangkah masuk, menyalakan lampu, dan duduk di sebuah kursi tua. "Mereka adalah orang-orang yang bisa menghancurkanku. Papan ini adalah rencanaku. Dan kau, adalah bagian dari rencanaku."
"A-apa maksudmu?" tanya Abrian, suaranya gemetar.
Morzak menunjuk ke arah papan. "Dinda, Rudi, Alfarezi... mereka semua adalah ancaman. Mereka terlalu sempurna. Dinding ini, adalah rencanaku untuk membuat mereka tidak sempurna."
"Kau gila!" Abrian berteriak.
"Tidak. Aku waras," jawab Morzak. "Aku hanya tidak mau kalah. Aku tidak mau Ayah kecewa. Ayah selalu membandingkanku, dan aku harus tetap di atas. Kau tahu, kan, bagaimana rasanya jadi pecundang? Itu rasanya tidak enak."
Abrian merasa bingung. "Tapi... Alfarezi? Kenapa dia?"
"Alfarezi? Dia adalah orang yang bisa mengalahkanku. Dia sangat cerdas dan berbakat. Aku tidak akan membiarkan dia mengalahkanku. Dia harus dilenyapkan," kata Morzak.
Tiba-tiba, Morzak mengeluarkan sebuah tas ransel dari balik pintu. Tas ransel itu milik Alfarezi. Abrian terbelalak. "Apa yang kau lakukan padanya?!"
"Dia hanya akan pindah sekolah," jawab Morzak. "Tidak ada yang perlu tahu apa yang terjadi. Dan kau juga akan menjadi bagian dari ini."
Abrian merasa mual. Ia hendak lari, tetapi Morzak sudah berdiri di hadapannya.
"Kau akan membantuku," kata Morzak, berbisik di telinga Abrian. "Atau... kau juga akan menjadi seperti mereka."
Jantung Abrian berdegup kencang. Ia mendekat, menyinari satu per satu foto itu. Di antara foto-foto itu, ada foto Dinda, kapten tim voli yang baru saja mendapat beasiswa. Di bawah fotonya, tulisan Morzak berbunyi, "Terlalu populer. C." Ada foto Rudi, siswa paling pintar di kelas sains. Di bawah fotonya, tulisan Morzak berbunyi, "Peringkat satu. A."
Abrian merasa mual. Ia terus menyusuri foto-foto itu. Kode A, B, C, atau D ada di setiap foto. Meskipun Abrian tidak memahami artinya, dia menyadari bahwa ini tidak benar. Saat Abrian terus mencari, dia melihat foto di tengah papan. Alfarezi, siswa yang paling berprestasi di sekolahnya, terlihat di foto itu. Tulisan tangan Morzak berbeda dari yang lain di bawah foto. Tulisan itu berwarna merah dan bergaris bawah, "Harus Dilenyapkan."
Tiba-tiba, suara pintu berderit. Abrian membeku. Ia tahu itu Morzak. Ia tak bisa lari. Morzak berdiri di ambang pintu, tersenyum dingin. Matanya menyusuri Abrian dari kepala hingga kaki.
"Kau melihatnya, kan?" kata Morzak, suaranya tenang, tetapi membuat Abrian merinding. "Ini... hobiku."
Abrian menelan ludah. "A... apa ini, Kak? Siapa mereka?"
Morzak melangkah masuk, menyalakan lampu, dan duduk di sebuah kursi tua. "Mereka adalah orang-orang yang bisa menghancurkanku. Papan ini adalah rencanaku. Dan kau, adalah bagian dari rencanaku."
"A-apa maksudmu?" tanya Abrian, suaranya gemetar.
Morzak menunjuk ke arah papan. "Dinda, Rudi, Alfarezi... mereka semua adalah ancaman. Mereka terlalu sempurna. Dinding ini, adalah rencanaku untuk membuat mereka tidak sempurna."
"Kau gila!" Abrian berteriak.
"Tidak. Aku waras," jawab Morzak. "Aku hanya tidak mau kalah. Aku tidak mau Ayah kecewa. Ayah selalu membandingkanku, dan aku harus tetap di atas. Kau tahu, kan, bagaimana rasanya jadi pecundang? Itu rasanya tidak enak."
Abrian merasa bingung. "Tapi... Alfarezi? Kenapa dia?"
"Alfarezi? Dia adalah orang yang bisa mengalahkanku. Dia sangat cerdas dan berbakat. Aku tidak akan membiarkan dia mengalahkanku. Dia harus dilenyapkan," kata Morzak.
Tiba-tiba, Morzak mengeluarkan sebuah tas ransel dari balik pintu. Tas ransel itu milik Alfarezi. Abrian terbelalak. "Apa yang kau lakukan padanya?!"
"Dia hanya akan pindah sekolah," jawab Morzak. "Tidak ada yang perlu tahu apa yang terjadi. Dan kau juga akan menjadi bagian dari ini."
Abrian merasa mual. Ia hendak lari, tetapi Morzak sudah berdiri di hadapannya.
"Kau akan membantuku," kata Morzak, berbisik di telinga Abrian. "Atau... kau juga akan menjadi seperti mereka."
Other Stories
KEDUNG
aku adalah dia yang tertutup ...
Rumah Nenek
Liburan memang menyenangkan. Piyan, yang berumur 9 tahun. Hanya mengerti, liburan itu adal ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Mauren, Lupakan Masa Lalu
“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...
Mozarella Bukan Cinderella
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...
Bali Before Sun Set
Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...