Bab 4
Alex sedang merekam dirinya sendiri menggunakan handycam dan tripod.
“Anak anak Panti Asuhan Rumah Malaikat, mereka tidak mudah menerima saya kedalam lingkaran mereka. Mereka menganggap saya sebagai...”
Terdengar sebuah bisik bisik dibelakang Alexa.
Alexa kemudian menoleh ke belakang, tampak dua sosok anak kecil bersembunyi dibalik sprey tempat tidur. Ia mendekat ke arah tempat tidur, semakin mendekat. Kemudian, tiba-tiba dari dalam lemari keluar anak perempuan mengenakan baju dan pita warna merah, anak perempuan yang kemarin dilihat Alexa. Anak itu tertawa dan berlari ke pintu keluar.
Alexa menoleh lagi ke tempat tidur, ternyata sudah tidak ada. Ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 22.00. Ia dihantui rasa penasaran tinggi, sehingga ia memberanikan diri keluar kamar. Ia berjalan di koridor, mencari ketiga anak. diujung lorong. Bola matanya menangkap bayangan tiga anak itu melambaikan tangan ke arahnya.
Bibi Arum tiba-tiba mucul.
“Saya mendengar suara gaduh. Apa yang kamu lakukan?”
“Tadi saya melihat anak anak berlarian,” jawab Alexa membela diri. *
“Kamu tahu ini sudah jam berapa?”
“Saya tahu ada aturan bahwa ...”
“Kamu tidak boleh melanggar peraturan di sini!” *
“Silakan kembali ke kamar!” *
Alexa kemudian meninggalkan Bibi Arum. Bibi Arum melihat ke kegelapan. Lalu, pergi. Ia kembali ke kamar. Ia menemukan Handycam dan tripodnya tergeletak di lantai dalam kondisi. Ekspresi Alexa kesal.
***
Ibu Maria datang membawa seorang anak perempuan berumur 5 tahun, Laura. Mata Laura sangat sipit dan kulitnya putih bersih, rambutnya lurus dan hitam.
Alexa dan Bibi Arum menyambut mereka.
“Selamat datang Bu Maria. Bagaimana perjalanannya?” tanya Alexa basa-basi.
“Halo Alexa, senang masih melihat kamu di sini. Perkenalkan ini Laura, Bi Arum tolong bawa Laura ya, ke kamar di lantai 2 di ujung lorong.”
“Baik, Bu.”
Bibi Arum membawa Laura masuk.
“Laura ditinggalkan oleh ayahnya seorang diri disebuah mall.” Ibu Maria menjelaskan asal-usul Laura. “Kasihan mereka. Zaman sekarang begitu banyak orang tua yang menyianyiakan anak mereka. Keterlaluan!”
“Bu Maria, seberapa lama anak ini siap untuk diadopsi?”
Ibu Maria terkejut. Namun, membalasnya dengan senyuman. “Alex, kamu engga baca pedoman ya.”
Ibu Maria mendekat ke Alexa. “Sampai saya yakin bahwa mereka sudah bersih dan siap dijemput oleh orang tua asuh mereka.”
Alexa memancarkan ekspresi bingung. “Bersih?”
“Iya, Alexa, bersih. Kalau mereka kotor dan tidak terawat, siapa yang akan tertarik dengan mereka?”
Ibu Maria melihat ke tangan Alexa yang di perban. “Kenapa dengan tanganmu?”
Alexa pun menjelaskan semua kejadian selama Ibu Maria pergi. Termasuk handycamnya yang rusak.
Wajah Bu Maria menegang. Ia terlihat marah mendengar kelakuan anak-anak yang nakal. Ia menyuruh Bi Arum untuk mengumpulkan anak-anak sekarang juga.
5 menit kemudian 7 anak sudah ada di depan Bu Maria dan Alexa. Mereka berbaris rapi. Alexa mendesah napas panjang.
“Anak-anak, siapa yang tadi malam mengerjai saya?” Alexa kembali mengulang kronologi tadi malam. “Lalu saya masuk ke kamar saya dan mendapati handycam saya rusak dan catatan-catatan saya berantakan.”
“Anak-anak, itu merupakan tindakan yang tidak terpuji. Ibu sangat kecewa dengan kalian,” ujar Bu Maria.
Semua anak anak tertunduk ketakutan.
“Itu bukan perbuatan kami, Bu.” Sarah menyahut.
“Iya Bu Maria, bukan kami,” timpal Adella.
“Mungkin hantu, Bu.” Tito ikut menyahut.
Ibu Maria menghela napas panjang dan berusaha lebih tegas ke anak anak.
“Kalau tidak ada yang mengaku, kalian semua akan dihukum membuat karangan 10 halaman tentang betapa bahagianya kalian tinggal di Rumah Malaikat ya.”
Alexa tampak kaget dengan hukuman yang diberikan Ibu Maria.
“Kalau begitu sekarang bubar ya.”
Ibu Maria melihat Diandra dan memanggilnya. Mata Ibu Maria tertuju ke arah lengan Diandra yang ada luka cukup panjang.
“Diandra, ada apa dengan lengan kamu?”
Diandra mengelus lengannya. “Saya engga sengaja Bu, waktu ambil buku di rak, lengan saya kena paku.”
Pandangan Ibu Maria beralih ke Alexa. “Alexa, bagaimana ini bisa terjadi?”
Alexa tertunduk. “Maaf Bu Maria, tapi saya enggak bisa awasi mereka satu per satu.”
Ibu Maria membelai rambut Diandra. “Diandra sayang, kamu lain kali hati hati ya. nah sekarang kamu ibu beri hukuman menulis di buku kamu ya. Tulis ‘SAYA AKAN MENJAGA DIRI SAYA AGAR TIDAK TERLUKA LAGI’. Besok Ibu cek ya.”
“Baik, Bu Maria.”
“Alexa tolong diobati ya lukanya.”
“Baik, Bu.”
***
Alexa membuka kotak P3K, diletakan di atas meja. Dengan cekatan ia mengobati luka Diandra.
“Harusnya aku lebih hati hati kalau ambil buku di rak. Jadi luka deh.”
“Enggak apa apa kok, kan lukanya bisa sembuh.”
“Semoga enggak ninggalin bekas.”
“Memangnya kalau berbekas kenapa?”
“Aku enggak mau cacat.”
“Cacat?”
“Kalau aku cacat nanti enggak akan ada orang tua angkat yang akan memilih aku dan aku enggak akan pernah ke rumah abadi.”
Dahi Alexa berkerut. “Rumah abadi?” Firasatnya semakin tidak enak. Ia merasa banyak kejanggalan dan misteri di Panti Asuhan Rumah Malaikat ini.
***
Di kamar anak-anak, Sarah memimpin percakapan, tampak Adella, Diandra, Immanuel,Tito, Arjanggi.
“Kita harus melakukan sesuatu ke dia. sesuatu yang lebih parah. Memangnya dia pikir dia siapa.” Sarah membuka pembicaraan.
“Tapi kan kita memang yang menakuti dia dengan manekin itu,” celetuk Adella.
Sarah langsung menutup mulut Adella. “Shhhhhhhhttt!”
Adella merasa bersalah. “Maaf, Kak.”
“Tapi kita bukan yang merusak handycam dia! Itu bukan kita!”
“Jadi siapa yang merusak ya?” Diandra ikut bersuara.
Sarah kemudian melihat ke arah Arjanggi.
***
Alexa sedang melewati ruangan mandi yang pintunya sedikit terbuka. Ia penasaran, melongok ke dalam. Terlihat di dalam ruangan terdapat berbagai wadah yang berisi susu.
“Susu?”
Dari belakang Alexa terlihat seorang sosok anak kecil yang sedang berdiri. Tubuhnya berlumuran susu. Dari tangannya meneteskan susu. Ia menoleh ke belakang namun tidak ada apa-apa. Ekspresi Alexa memancarkan kebingungan.
***
Ario sedang merawat tanaman. Tangannya sangat cekatan merawat tanaman itu. Alexa mendekat ke Ario.
“Saya engga pernah ngerti kenapa untuk menikmati keindahan bunga kita harus membunuh bunga itu dengan memetiknya?” ucap Alexa di sebelah Ario.
Ario agak kaget melihat Alexa berbicara dengannya. *
“Ibu Maria yang suruh. Seminggu sekali harus diganti bunganya. Tapikadang kadang bisa kapan aja dia mau. kasihan bunganya. Jadi habis.”
“Kalau sudah dipetik. Dinikmati. Kemudian dibuang.”
“Masih bisa digunakan lagi.”
“Maksud kamu?”
Ario mengambil sebuah buku tebal lalu membukanya. Terlihat bunga-bunga kering. Alexa mengambil bunga yang sudah mengering itu.
“Masih bisa digunakan. bisa jadi hiasan. Sekarang mereka abadi.”
“Abadi?”
“Kak, ada yang harus aku kasih tahu ke Kakak ...”
“Apa?”
Ibu Maria lewat dan melihat Ario dan Alexa. Ario langsung pergi.
Alexa melihat bunga kering di tangannya. Pikirannya berkecamuk. Abadi? Rumah abadi? Apa maksudnya?
***
Alexa mendapati Arjanggi sedang berbicara dengan Mr.Bunny, boneka kelincinya. Arjanggi tidak tahu kalau ada Alexa karena Arjanggi membelakangi pintu. Arjanggi bertanya kepada Mr.Bunny. “Kamu tahu siapa yang merusak kamera Kak Alex?”
Lalu kelinci itu disuarakan oleh Arjanggi.
“Aku tahu ini semua ulah siapa.”
“Ulah siapa?”
“Ini semua ulah Elia, Ezra dan Magdalena.”
“Bukannya mereka sudah pergi dijemput bersama orang tua asuh mereka?”
Alexa kemudian menimbulkan suara. Derit pintu. Arjanggi berhenti dan menoleh ke Alexa.
“Halo Arjanggi. Kamu lagi apa?”
“Lagi bicara sama Mister Bunny.”
“Halo Mister Bunny”
Arjanggi menyuarakan Mr.Bunny. “Halo Kak Alex.”
“Apa kabar Mister Bunny?”
“Kabar baik.”
“Mr.Bunny, Siapa Elia, Ezra dan Magdalena? MR.Bunny bisa kasih tahu Kakak?”
Mister Bunny terdiam.
“Mister Bunny kayaknya engga mau cerita.”
Alexa ikut terdiam. Pikirannya sibuk memilih kata yang tepat agar Arjanggi mau bercerita soal siapa Elia, Ezra dan Magdalena.
“Arjanggi, siapa Magdalena, Ezra dan Elia?”
Arjanggi masih diam.
Arjanggi menoleh ke kiri dan kekanan. kemudian menutup pintu kamar. Alexa melihat tingkah Arjanggi dengan bingung. *
“Mereka dulu penghuni panti asuhan ini.”
“Kamu bisa melihat mereka?”
Arjanggi mengangguk.
“Sekarang mereka ada di sini?”
Arjanggi mengangguk. Alexa tampak tegang. Bulu kuduknya mendadak berdiri.
“Mereka seperti apa?”
“Elia memakai baju dan pita merah, dia sangat suka warna merah, tapi dia pemalu. Magdalena suka main petak umpat, matanya ditutup kain putih dan Ezra selalu pake topeng.”
Alexa tercengang. Deskripsi yang diceritakan Arjanggi sama dengan deskripsi tiga sosok anak kecil yang mengganggunya saat malam hari. Hatinya semakin penasaran, siapa mereka dan apa yang terjadi dengan mereka?
Other Stories
Hellend (noni Belanda)
Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
I See Your Monster, I See Your Pain
Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...
Sinopsis
hdhjjfdseetyyygfd ...