Bab 5
Bibi Arum tampak sedang sibuk memotong kulit ikan untuk dijadikan filet. Bibi Arum tampak sangat ahli mengiris daging. Bibi Arum sambil bersenandung lagu Hymne “Rumah Abadi”.
Alexa menghampiri Bibi Arum. Ia kemudian menawarkan diri untuk membantu. “Siang Bi, ada yang bisa saya bantu?
Seperti biasa, Bibi diam saja.
“Bibi jago banget motong ikannya.” Alexa masih terus berusaha ramah dan memancing Bibi Arum mengobrol. Tujuannya agar ia berhasil memperoleh informasi tentang Elia, Magdalena dan Ezra dari Bibi Arum.
“Bi, saya mau tanya sesuatu ke Bibi.”
Bibi Arum tidak bergeming. Ia masih mengerjakan aktivitasnya memotong ikan segar.
“Bibi percaya dengan hantu?” Akhirnya pertanyaan ini yang keluar dari mulut Alexa untuk memancing obrolan dengan Bibi Arum.
Bibi kemudian terhenti sejenak dan menoleh ke arah Alex.
“Percaya, Bi?”
“Kalau mereka tidak ganggu, jangan diganggu.”
Bibi Arum kemudian meninggalkan Alexa. Bibi mengambil wadah yang lain. Meletakan ikan-ikan yang sudah menjadi filet kedalam wadah yang baru dan mengisinya dengan air.
“Bibi tahu Magdalena, Ezra dan Elia?” Alexa masih terus memancing Bibi Arum untuk memberikan informasi tentang tiga sosok anak yang ia sebutkan.
Bibi kali ini sambil memotong motong ikan.
“Mereka dulu dipanti asuhan ini. Kemudian mereka sudah diadopsi oleh sepasang suami istri kaya raya sepuluh tahun yang lalu.”
“Jadi mereka sudah meninggalkan panti ini?”
Bibi Arum menyerahkan wadah berisi ikan yang sudah terpotong ke Alexa. “Tolong masukan ini di kulkas.”
“Baik, Bi.”
Informasi secuil dari Bibi Arum semakin membuat Alexa penasaran. Jika Elia, Ezra dan Magdalena telah diadopsi sepuluh tahun yang lalu, kenapa mereka menampakkan diri padanya di jam malam hari?
***
Semua anak sudah berada di atas tempat tidur. Mereka bersiap siap tidur. Arjanggi berjalan menuju tempat tidurnya. Lalu, menarik selimutnya.
Arjanggi terkejut, kemudian ia mencari sesuatu. Namun, tidak menemukannya.
Arjanggi tampak terdiam. Seakan mendengar sesuatu membisiki telinganya. Ia berjalan ke arah Sarah yang sudah berada di atas tempat tidur.
“Apa?”
“Kembalikan Mr.Rabbit…”
“Eh, jangan sembarangan nuduh ya! Tau darimana kalo gue yang ngumpetin boneka jelek lo? Lagian anak cowok kok main boneka.”
“Kembalikan Mr.Rabbit!”
“Mana buktinya! Sembarangan nuduh.”
“Dia yang kasih tahu.”
Arjanggi menunjuk ke arah depan lemari. Semua anak kaget dan takut.
“Dasar anak aneh! udah segede gini masih aja punya temen khayalan. Udah ah gue mau tidur.”
Sarah kemudian naik ke tempat tidur. Lalu, menutup kepalanya dengan selimut.
Arjanggi menggoyang goyangkan badan Sarah yang sudah tertutup selimut.
Seolah sesuatu memanggil Arjanggi, ia melihat ke arah lemari dan mengangguk.
Di balik selimut, Sarah terus digoyang goyangkan kemudian kesal. Sarah segera membuka selimutnya.
“Duh, nyebelin banget sih nih anak! Dibilangin…”
Sarah berhenti bicara, ketika membuka selimutnya, ia melihat sudah tidak ada siapa-siapa di kamar.
Tiba-tiba selimut merosot ke bawah. Lalu, selimut itu mulai berjalan, tampak ada seorang anak kecil laki-laki di dalam selimut itu berjalan ke arah Sarah.
Sarah gemetar ketakutan. Ia langsung mengambil boneka Arjanggi yang disembunyikan di dalam lemari kecilnya.
“Oke, nih gue balikin boneka buluk lu. Sekarang juga lu minta temeb hantu lu buat nggak ganggu gue lagi!”
Arjanggi tersenyum puas. “Terima kasih.”
***
Bibi Arum masuk ke ruangan membawa nampan berisi makanan, Ario sedang menata bunga bunga kering di kertas.
“Siang tadi Ibu melihat kamu bersama Alexa.”
“Ario cuma kasih bunga kering, Bu.”
“Ario, dia bukan orang baik. Jauhi dia.”
“Dia kelihatan baik, Bu.”
“Ario. Kamu tahu kan apa yang Ibu Maria inginkan? Dan peraturan peraturan yang tidak boleh dilanggar.”
“Paham, Bu.”
“Ya sudah, ini ibu bawakan makan malam.”
Bibi Arum menoleh ke arah lain. “Lala... yuk sini makan.”
Sosok perempuan dengan perban di badannya menoleh ke Bibi Arum.
***
Alexa sedang memeriksa pintu-pintu. Kemudian ia menulis sesuatu di buku catatannya. Terlihat denah panti dengan ruangan ruangan yang sudah dicorat-coret.
Seketika datang Tito. Tito mendekat ke Alex. Tito tampak sangat bersemangat.
“Halo, Tito.”
“Kak Alexa, aku mau ngasih tahu kabar baik buat Kak Alexa.”
Alexa ikut bersemangat. “Wah kabar baik apa?”
“Malam ini aku akan dijemput oleh orang tua asuh aku.”
“Wahh ... selamat yaaa. Kamu pasti senang yaa.”
“Aku enggak sabar pengen lihat rumah abadiku.”
Alexa mengangguk. Ia kini paham rumah abadi adalah sebutan rumah baru orang tua asuh.
“Kakak ikut senang Tito.”
Alexandra kemudian memeluk Tito. Hati kecilnya berfirasat tidak enak. Seperti pelukan terakhir. Namun, ia sembunyikan takut merusak kebahagiaan Tito.
Alexa melepas pelukannya ke Tito. “Kirim kirim surat ya ke Kakak.”
“Iya, Kak!”
“Ya sudah, kamu beres beres gih.”
Tito tersenyum dan meninggalkan Alexa.
Alexa melanjutkan aktivitas yang sempat terhenti, membuka pintu sebuah ruangan. Ia memberanikan diri masuk ke ruangan itu. Ternyata ruangan yang dipenuhi barang ditutupi kain putih. Tiba-tiba mendengar sebuah suara.
Alexa menoleh ke belakang. Tampak sebuah sosok menyerupai seseorang ditutupi kain putih.
Alexa berjalan perlahan. Kemudian perlahan membuka kain itu. Ternyata itu adalah patung Bunda Maria.
Alexa lega, tak sengaja kaki Alexa tidak sengaja menendang sebuah kardus. Berhubung penasaran, ia membuka kardus itu. Ternyata isinya kumpulan salib dan alkitab yang sudah berdebu. Ia mengambil salah satu alkitab itu dan meniup debunya.
Alexa menerawang.
***
Di ruangan Ibu Maria, ada Tito dan Bibi Arum bersama sepasang suami istri bernama Karina berusia 27 tahun dan Ridwan berusia 30 tahun.
“Bi Arum semua yang dibutuhkan sudah disiapkan?”
“Sudah, Bu.”
“Anaknya mana Bu Maria?”
Ridwan mengerlingkan mata ke arah istrinya. “Siapa namanya? Papa lupa.”
“Dito, Pa. Maaf ya Bu Maria. Suami saya memang pelupa.”
“Namanya Tito.” Ibu Maria meralat ucapan Karina yang salah menyebut nama Tito.
“Eh iya, Tito. Tito itu yang kulitnya putih-putih itu kan ya, Bu Maria.”
“Iya, yang Albino. Mama yakin pilih dia?”
Karina mengangguk bersemangat. “Mama mau yang beda, Pa.”
Ibu Maria melihat sudah pukul 11 malam. Ibu Maria memotong. “Maaf, bisa kita lanjutkan?”
“Eh iya, iya Bu Maria.”
Ibu Maria tersenyum.
***
Alexa sedang mewawancarai Diandra, Imanuel, dan dua anak lainnya. Wajah Alexa pucat karena kelelahan.
Alexa menutup buku catatannya. Ia melihat ada sebuah buku tulis dengan sebuah nama Immanuel yang ditulis di depan bukunya. Ia membuka dan membaca buku itu.
Aku tidak suka makan sayur. Tapi sayur baik untuk kesehatan. Aku berusaha memakan sayur tapi rasanya pahit. Ibu Maria selalu memarahiku kalau aku tidak makan sayur. Aku sedih kalau teman teman memanggilku kingkong. Bukankah mengejek orang bisa membuat mereka mendapat *lhukuman dari Bu Maria? Ada di peraturan Bu Maria nomor 122.
Dilarang mengejek sesama teman panti asuhan.
Alexa masih asyik membaca. Ketika mau membalikkan halaman, Immanuel sudah ada di sampingnya.
“Buku itu milik aku. Kembalikan buku itu, Kak.”
“Iyah, kakak menemukan buku ini di meja.” Alexandra memberikan buku itu ke Immanuel. “Maaf ya, kakak engga sengaja membaca.”
“Enggak apa-apa kok, Kak.”
Immanuel mengambil buku itu.
“Kakak mau tanya sesuatu ke kamu.”
“Tanya apa, Kak?”
“Kamu tahu ruangan di belakang yang selalu terkunci? Ruangan di belakang dekat gudang.”
“Tahu, Kak.”
“Kamu tahu itu ruangan apa?”
Immanuel terdiam sejenak, seperti tidak ingin memberitahu. Namun, ragu.
“Itu... itu…”
Wajah Immanuel tampak ketakutan.
“Kamu kenapa?”
“Enggak, Kak … aku … aku.. Masalahnya aku enggak ... aku engga boleh…” Ucapan Immanuel terbata-bata.
“Enggak boleh apa? “
Immanuel makin gugup. Tiba-tiba Immanuel kabur.
“Immanuel tunggu!”
Alexandra menghela napas. Gagal memperoleh informasi penting dari Immanuel.
Other Stories
The Ridle
Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Makna Dibalik Kalimat (never Ending)
Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...