Bab 9
Alexa membuka matanya. Ia mendapati diri dalam keadaan terikat di kursi dan mulut dilakban. Ia berusaha membuka ikatan, tapi ikatannya sangat kuat membuat tangannya sakit.tidak bisa. Ia menggeser kursinya mendekat ke meja. Dengan susah payah menggeser kursi agar tidak jatuh. Ia berhasil mendekat ke meja dan membuka lacinya.
Ia mengambil gunting dan berusaha membuka ikatannya. Terdengar suara langkah kaki menuju kamarnya. Wajahnya menegang. Pintu terbuka. Bibi Arum masuk. Bibi Arum mengeluarkan pisau.
“Kamu sudah tahu terlalu banyak Alexa. Aku sudah bilang kalau tidak ganggu jangan diganggu. Kamu sudah keterlaluan Alexa.”
Bibi Arum siap menerkam dengan pisau, tangan Alexa langsung menahan pisau itu. Terjadi pergulatan antara Bibi Arum dan Alexa. Hingga pisau itu akhirnya terlempar. Alexa membenturkan kepala Bibi Arum ke lantai hingga pingsan.
Alexa kemudian mengambil kumpulan kunci dari Bibi Arum.
“Sheila ... Sheila ... kakak akan menjemput kamu,” gumamnya lirih.
Alexa berhasil masuk ke ruangan rahasia yang sejak lama ingin ia masuki. Ruangan gelap. Ia merogoh saku celananya. Lalu, menyalakan senter di ponselnya. Baru ia melihat di sini ada sebuah proyektor yang terhubung ke VHS video player.
“Halo? Sheila?”
Alexa menyalakan proyektor itu. Pada layar tulisan Rumah Abadi dan gambar sepasang orang tua asuh dan rumah besar yang indah. Sepasang orang tua berjalan menjemput seorang anak. Setelah itu mereka memeluk anak angkat mereka. Sementara musik terus memutar lagu hymen “Rumah Abadi”. Musik yang terdengar begitu tua.
Ibu Maria berkata ke arah kamera, seakan berbicara, “kepada siapapun yang melihat video itu. Rumah Malaikat, menyiapkan anak-anak terpilih tak bercacat rupa, sempurna dan siap dijemput untuk dibawa ke Rumah Abadi bersama orang tua mereka. Jangan takut, jangan takut. Rumah Abadi menanti.”
Alexa menangis. Video selesai. Pandangannya beralih ke sebuah sisi dinding yang terdapat foto-foto seluruh anak panti asuhan. Termasuk adiknya sendiri. Masing-masing dari foto ini memeiliki keterangan umur, tanggal dan tahun.
MAGDALENA. 5 tahun. 6 Februari 2001 - DIJEMPUT: 8 Maret 2006.
ELIA. 5 tahun. DATANG: 6 maret 2002 - DIJEMPUT: 6 Mei 2007.
EZRA. 4 tahun. DATANG : 6 Desember 2004 - DIJEMPUT: 10 April 2008.
SARAH. 5 tahun. DATANG: 6 Januari 2005.
TITO. 5 tahun. DATANG: 6 April 2007 - 8 Mei 2015.
IMMANUEL. 5 tahun. DATANG: 6 Maret 2009 .
DIANDRA. 5 tahun. DATANG: 6 Februari 2010 .
ADELLA. 5 tahun. DATANG: 6 April 2010.
ARJANGGI. 5 tahun. DATANG: 6 November 2011.
SHEILA. 10 tahun. DATANG: 6 Januari 2012 - DIJEMPUT: 9 Februari 2014.
CHICCO. 5 tahun. 7 Agustus 2014 .
“Sheila ... sheila....
Alexa semakin deras mengucurkan air matanya. Namu, buru-buru dihapus. Ia sadar harus segera menemukan Sheila. Ia pergi kelur dan masuk ke ruangan lain yang temaram, banyak ember dan palang-palang jemuran. Ia mencium bau yang mencolok.
Alexa melihat ada sesuatu disebuah ember. Ia mengambil sebuah penjepit dan mengangkat sesuatu yang ada di dalam ember itu. Ternyata itu adalah sebuah sisa kulit albino. Ia kaget. Seketika perutnya mual dan mau muntah.
Alexa tidak sengaja menjatuhkan tumpukan kertas. Ia berjongkok mengamati tumpukan kertas itu adalah gambar-gambar tas yang berupa bagian-bagian tas dan gambar tubuh manusia dengan bagian-bagian bagan yang terhubung dengan gambar tasnya. Wajahnya memucat. Ia akhirnya paham tas yang dijual Ibu Maria itu dari kulit anak panti? Anak panti yang katanya dijemput orang ta asuh itu ternyata dibunuh. Rumah abadi adalah surga.
Terdengar dari luar, suara Ibu Maria.
“Semua sudah disiapkan ... mohon tunggu sebentar ya bapak bapak dan ibu ibu.”
Alexa melihat ke arah pintu. Pintunya sedikit terbuka. Ia melihat ada Ibu Cantika dan Arjanggi.
“Tadinya kupikir dia anak yang nakal, tapi ternyata kalem juga. Mama enggak sabar memamerkan kamu ke teman-teman.”
Ibu Cantika mengelus pipi Arjanggi. “Kulit ini...”
Ibu Maria masuk bersama Pak Broto dan Ibu Cantika dan Arjanggi. “Yuk, kita mulai ritualnya sekarang.
Ibu Maria menggiring Pak Broto dan Ibu Cantika bersama Arjanggi ke ruangan khusus. Diam-diam Alexa mengikuti mereka.
“Sebentar lagi akan kita mulai,” tutur Bu Maria menyunggingkan senyum licik.
Ibu Maria memberikan satu tangkai bunga Mawar merah ke Ibu Cantika dan setangkai lagi ke Pak Broto.
“Saya sangat suka bunga mawar.”Ibu Maria meletakan sekuntum bunga mawar merah ke vas kecil. Ibu Maria pergi ke ruangan sebelah.
Ruangan itu tampak bersih. Ada sebuah lukisan malaikat di dinding. Sebuah meja panjang yang sudah dilapisi oleh plastik berada di tengah ruangan. Sebuah lampu tergantung menerangi meja panjang. Tampak berjejer berbagai jenis pisau.
Ibu Maria menghampiri Arjanggi dan menaruh tubuh Arjanggi di meja panjang. Arjanggi diikat kuat.
“Arjanggi ini adalah calon orang tua kamu, bersama mereka kamu akan * diantar menuju rumah abadi.”
Ibu Cantika dan Pak Broto tersenyum. Arjanggi menoleh ke Alexa. Wajahnya tketakutan. Tiba-tiba muncul Bibi Arum.
“Lho, Bi Arum? Saya pikir Bibi sudah ada di sini tadi...”
Bibi Arum berbisik kepada Bu Maria. Ibu Maria panik. “Apa?”
Ibu Cantika merasa was-was. “Apa semuanya baik baik aja Bu Maria?”
“Oh, tidak apa-apa kok hanya masalah kecil. Mari kita lanjutkan.
Ibu Maria menyuruh Bibi Arum masuk ke ruangan. Arjanggi semakin ketakutan. Arjanggi melihat ke arah Alexa. Alexa segera keluar dari persembunyiannya.
“Berhenti!”
Ibu Maria terkejut melihat ke arah Alexa.
“Nak Alexa?”
“Lepaskan Arjanggi! Dia tidak akan pergi ke rumah abadi!”
Alexa berjalan ke arah arjanggi dan melepaskan ikatan tangan arjanggi dan hendak membawanya pergi. Ibu Maria menahan lengan Alexa. Spontan Ibu Maria menusukkan pisaunya ke perut Alexa.
“Tidak semudah itu.”
Alex merintih kesakitan. Dengan sekuat tenaga ia mendorong Ibu Maria. Ibu Maria terpental dan menabrak meja panjang. Ia bergegas kabur bersama Arjanggi. Bibi Arum menolong Ibu Maria.
Alexa dan Arjanggi berlari, dikejar oleh Ibu Maria dan Bibi Arum. Darah semakin deras mengucur dari perut Alexa. Ia berusaha menahan sakitnya.
Alexa berhenti sejenak dengan menekan perut yang tertusuk.
“Kakak masih bisa lari?”
“Enggak apa-apa, ayo!”
Alexa terjatuh. Lalu, segera berdiri. Kunci Alexa terjatuh. Buru-buru Alexa meraih kunci itu dan kembali lari bersama Arjanggi. Sampailah mereka di pintu utama panti. Alexa mencoba buka pintunya, ternyata dikunci. Ia coba beberapa kunci yang dipegangnya, tidak ada yang cocok.
Ibu Maria datang seraya mengacungkan kunci pintu.
“Mau kemana Nak Alexa? Kunci pintu utama panti ada di saya.”
Ibu Maria kemudian mendekat.
“Kenapa Ibu Maria melakukan ini semua? Membunuh anak anak dan tega mengambil kulit mereka?”
“Membunuh? Saya tidak membunuh. Mereka tidak merasa terpaksa kok. Mereka sendiri pun rela untuk dijemput oleh calon orang tua mereka.”
“Ibu menipu mereka dengan ajaran-ajaran Ibu tentang ‘Rumah Abadi. ‘”
“Yang terpenting adalah mereka percaya bahwa hal itu akan membuat mereka bahagia, Nak Alex. Mereka tidak perlu tahu kebenarannya. 15 tahun saya mengasuh mereka, kemudian datang kamu mengacaukan segalanya.”
“Ibu telah menculik anak anak ini! Wanita Iblis! tidak Punya hati nurani! Psikopat! Setan!”
Ibu Maria menampar Alex. “Jaga mulut kamu. Di panti ini enggak boleh ngomong kasar!”
Alexa menatap tajam Ibu maria. “Di mana Sheila?”
“Sheila sudah pulang ke rumah abadi, dia sudah beristirahat tenang di taman belakang. Di bawah pohon-pohon yang berbunga subur itu Nak Alexa.”
Alexa terkejut. Ia menggelengkan kepala, menolak ucapan Ibu Maria. “Bohong! Sheila pasti masih ada. Surat itu bilang... “
“Nak Alexa, sudah jangan banyak bicara!”
Alexa berteriak. Tanpa apa-apa ia menyerang Ibu Maria. Ibu Maria terjatuh dan tidak sengaja membuat pisau itu terlempar. Alexa dan Ibu Maria bergulat. Alexa berada pada posisi di atas Ibu Maria, Alexa memukul-mukul Ibu Maria.
Ibu Maria mencekik Alexa. Alexa kesulitan bernafas. Ibu Maria kini berada di atas Alexa.
“Jangan sedih Alex, mungkin saya akan bereksperimen dengan kulit orang keras kepala seperti kamu!” Ibu Maria tersenyum licik.
Tanpa disangka, Arjanggi menjambak kepala Ibu Maria. “Lepasin, Kak Alexa!”
Ibu Maria berteriak kesakitan. Ibu Maria melepas cekikan Alexa.
Alexa merangkak berusaha menggapai pisau. Pada saat tangan Alexa mau mengambil pisau, tangan Alexa diinjak Ibu Maria.
Ibu Maria mengambil pisau itu. Ibu Maria menendang perut Alexa hingga Alexa kesakitan.
“Ini hukuman buat anak yang keras kepala!”
Ibu Maria menendang lagi Alex. “Ini hukuman buat pembohong!”
Ibu Maria menendang-nendang Alexa. Ibu Maria tertawa keras. Alexa melemah lemah. Sakit bertubi-tubi membuat tubuhnya tidak sanggup melawan Ibu Maria.
Ibu Maria naik ke atas tubuh Alexa da menindihnya. Alexa tidak berdaya. Pandangannya mulai kabur. Ia pasrah jika hari ini harus mati di tangan Ibu Maria.
Ibu Maria mengarahkan pisau itu ke leher Alexa. Kalau saja kamu tidak mengganggu, saya pasti tidak akan mengganggu kamu Nak Alexa.”
Tiba-tiba Ibu Maria mulutnya mengeluarkan darah. Seseorang menusuknya dari belakang.
Ibu Maria rubuh. Ario menusuk Ibu Maria. “Ario... kamu...”
Tampak Ario gemetar. Ibu maria mati.
“Sudah cukup Bu Maria, Ario tidak mau mengubur mayat mayat anak-anak panti lagi.”
“Kak Alexa.”
Sheila mucul di belakang Ario.
“Sheila ... Sheila itu kamu?”
Sheila memeluk Alexa. Alexa terharu bahagia bisa bertemu dengan adiknya.
Bibi Arum muncul. *
“Ibu Maria belum pernah menculik anak di atas 6 tahun. Dia selalu menculik anak anak berumur 5-6 tahun. Namun Sheila, spesial buat Bu maria. Tanda lahir yang ada di wajah Sheila, membuat kulit Sheila spesial dan berharga jual tinggi. “
Alexa masih terkulai lemah. “Kenapa Sheila bisa...” *
“Saya tidak tega membunuh anak yang telah mengembalikan senyuman Ario. Saya memutuskan untuk memelihara Sheila, menyembunyikan Sheila dari Ibu Maria. Itu semua... saya lakukan untuk membuat Ario bahagia.”
Ario memeluk Bibi Arum.
“Ibu sudah siap untuk menerima ganjaran dari perbuatan Ibu.”
Bibi Arum mengeluarkan gunting dan menancapkan di lehernya sendiri. Ario terlambat mencegah. Bibi Arum bersimbah darah. Ario memeluk Bibi Arum.
Ruangan terasa sepi. Hanya terdengar tangisan Ario.
THE END
Other Stories
Erase
Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Yume Tourou (lentera Mimpi)
Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...
Rahasia Ikal
Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...
Cerella Flost
Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...
Sinopsis
hdhjjfdseetyyygfd ...