Bab 7
Alex meletakan sebuah post-it bertuliskan. “Rumah Abadi?”
Di bawah foto-foto anak panti asuhan. Ia mengambil foto Tito. Ia berpikir sejenak. Ia membuka buku catatannya, halaman pertama ada denah rumah dengan ruangan-ruangan yang sudah disilang, tapi masih ada beberapa ruangan yang belum disilang.
Telinga Alexa mendengar suara tangisan anak kecil di bawah tempat tidur. Ia mendekat ke arah tempat tidur. Perlahan membuka kolong tempat tidur. Tidak ada apa-apa. Ia kembali lagi ke meja, ia melihat ada salah satu ruangan yang baru di lingkari dengan spidol merah. Ia merasa di belakang ada seseorang mengamatinya. Ia menoleh ke belakang dengan ekspresi takut.
***
Lima orang Ibu sosialita tampak sedang menunggu Ibu Maria. Mereka sibuk berisik bergosip. Ibu Maria muncul. “Selamat siang ibu-ibu yang yang cantik. Maaf ya menunggu lama.”
Tiba-tiba Alexa muncul bersama Diandra, Adella, Sarah dan Chicco melintasi ruang tengah.
“Wah, lucunya mereka. Halo darling, ke sini sebentar dong,” panggil Bu Tatiana.
Ibu Maria memberi kode ke Alexa. Ia menggiring anak-anak itu ke para ibu.
“Perkenalkan diri kalian ya anak-anak!” pinta Bu Maria.
“Halo selamat siang, nama saya Adella, umur saya 10 tahun hobi saya bermain musik.”
“Adella kulit kamu bagus sekali, warnanya ekotis yah,” sahut Ibu Waroka.
“Halo nama saya Diandra, umur saya 10 tahun, saya dan Adella sudah di panti asuhan sejak umur 5 tahun. Kami sahabat dekat.” Giliran Diandra yang memperkenalkan diri.
“Kamu putih sekali, seperti snow white yaah,” puji Bu Tatiana lagi.
Semua ibu-ibu tertawa termasuk Ibu Maria.
“Anak anak penghuni panti sangat kami rawat, kami berikan nutrisi yang paling baik dan higienis. Ya kan, Sarah?” Mata Bu Maria mendelik menatap Sarah.
“Halo nama saya Sarah, umur saya...”
“15 tahunnnn...” celetuk Chicco.
Ibu Maria terkejutnya perkataan Chicco.
“Sarah masih berumur 13 tahun cuma badannya aja yang bongsor. Lihat aja mukanya tuh, masih belum dewasa kan. Tuh pipinya masih selembut pipi bayi belum berjerawat.”
Ibu Maria mengalihkan pembicaraan.
“Nah, Ibu-ibu mari kita bahas saja di dalam bagaimana administrasi pengadopsiannya. Mari silakan.”
Ibu-ibu itu meningalkan Alexa dan anak anak. Arjanggi diam-dia mengumpat dibalik pintu.
“Arjanggi, ayo masuk.”
Arjanggi menunduk memancarkan ekspresi ketakutan dengan ibu-ibu itu.
***
Alexa berjalan mendekat ke arah pintu. Ruangan apa ini? Ia berusaha membukanya. Tiba-tiba kenop pintu bergerak-gerak. Darah kental mengalir keluar dari bagian bawah pintu. Ia berteriak histeris.
“Alexa!”
Alexa tersadar oleh Bibi Arum yang memanggilnya.
“Bibi, apa isi ruangan ini?”
“Gudang.”
“Boleh saya masuk ke dalam?”
“Itu hanya gudang. Kamu engga percaya sama saya?”
“Bu ...bukan begitu.. Tapi...”
“Udah, nggak usah macem-macam. Pergi dari sini!” bentak Bibi Arum.
Bibi Arum kemudian pergi meninggalkan Alex.
***
Di paviliun Bibi Arum.
Tangan Lala tampak sedang menggambar. Kali ini menggambar Alex bersama dirinya.
“Kakak .... aku kangen.” *
Lala berusaha membuka pintu yang terkunci. Ia menggedor gedor pintu.
Ario yang sedang di taman menyiram tanaman, mendengar suara gedoran pintu.
“Lala?”
Ario segera berberes agar membuat segalanya rapi. Ia segera pergi meninggalkan taman. Ia masuk ke paviliun dan segera menghentikan Lala yang menggedor-gedor pintu.
“Shhhh.... Jangan berisik Lala! Nanti Bu Maria dengar!”
“Aku mau keluar! Aku mau keluar!”
“Sabar ya, Lala. sekarang waktunya belum tepat.”
***
Ibu Maria sudah berpakaian rapi dan cantik. Ia siap pergi. Namun, sebelum pergi ia berpamitan ke Alexa.
“Alexa, saya pergi dulu ya. Nanti kalau ada orang yang mau mengambil barang, bawa saja ke ruangan saya. Lalu, bilang ke dia barangnya ada di meja kerja saya. Ada barang yang mau saya berikan ke dia. Bisnis kecil.”
Ibu Maria tersenyum.
“Baik, Bu Maria. Nanti saya sampaikan.”
Saat Ibu Maria membuka pintu panti, Alexa memanggil Ibu Maria. “Bu Maria tunggu!”
“Ya, Alex?”
“Apakah saya boleh melihat buku peraturan?”
“Buku peraturan apa?”
“Buku peraturan yang Ibu buat untuk anak-anak taati.”
“Bukankah saya sudah memberikan kamu buku pedoman?”
“Iya, sudah terima buku itu.”
“Sudah dibaca?”
“Sudah.”
“Lalu?”
“Maksud saya, buku yang lain, buku yang Ibu berikan ke anak-anak.”
“Buku itu bukan buat kamu Alexa, itu khusus buat anak-anak.”
“Immanuel bilang ke saya soal buku peraturan itu. Karena itu saya ingin melihat dan mempelajari buku itu.”
“Saya buru-buru Alexa. Saya udah engga ada waktu.”
Ibu Maria buru-buru pergi. Alexa mau menutup pintu ruangan Ibu Maria, terdengar suara ketokan pintu depan.
Alexa membuka pintu, sudah ada seorang kurir.
“Permisi Mbak, saya supir kiriman Ibu Natasha, mau ambil barang. Apa Ibu Maria ada?”
“Ibu Maria baru saja pergi, tapi saya sudah dititipkan barangnya. Silakan masuk.”
“Makasih, Bu.”
Kurir kemudian masuk. Alexa menutup pintu. Ia mempersilahkan kurir masuk ke ruangan ibu Maria.
“Di sana Mas tasnya.”
Kurir mengeluarkan peralatan membungkusnya dengan hati hati.
“Saya engga tahu kalo Ibu Maria, bisnis tas juga.”
“Iya, Mbak. Ibu Natasha juga pelanggan tetap Ibu Maria. Walaupun baru dua kali membeli, tapi Ibu Natasha sangat puas dengan kualitas tasnya. Kalau di acara-acara besar, tas Ibu Natasha paling banyak menyita perhatian ibu-ibu sosialita. Karena memang tidak diproduksi massal, hanya satu di dunia.”
“Harga tas sekarang memang tidak masuk akal ya, Mas.”
“Duh, saya suka geleng geleng kalo Ibu Natasha cerita harga harga tas yang dibelinya.”
Kurir selesai mengemas.
“Terima kasih, Mbak. Mbak baru ya kerja di sini. Saya belum pernah lihat. Mari, Mbak.”
Kurir kemudian keluar.
Other Stories
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...
DARAH NAGA
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...
People Like Us
Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...
First Snow At Laiden
Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...
I See Your Monster, I See Your Pain
Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...