Bab 6
Sundari becanda dengan Asti. Bola yang dimainkan Asti terjatuh dan masuk menggelinding ke bawah ranjang Sundari. Asti memasukkan kepalanya ke bawah ranjang untuk menggapai bolanya.
Sundari sedang mencampurkan sejenis ramuan ke dalam minuman yang akan diberikan kepada Asti. Ramuan ini bisa menyebabkan kematian pada seseorang secara perlahan. Efeknya lama.
Asti mencoba menggapai-gapai bola di bawah ranjang. Saat Mata Asti mencari bolanya di bawah ranjang ia bisa melihat benda-benda tajam di bawahnya: gergaji, golok, kapak, linggis dan benda tak lazim lainnya.
Asti tidak ambil pusing dengan itu. Ia hanya mengambil bola saja. Saat Asti sudah berhasil mengambil bola. Sundari sudah berada di dekat Asti sambil memegang segelas air racikan Sundari.
“Ayo diminum dulu, Ti. Nanti main lagi.”
Asti mengambilnya dengan polos. Lalu meminumnya sampai habis. Sundari menyaksikan dengan senang Asti meminum air racikannya.
Tak lama ada ketukan di pintu. Sundari menoleh.
“Ndoro. Makan malamnya sudah siap.”
***
Sundari, Sulasemi dan Asti makan bertiga di ruang makan. Mariatin telah selesai menghidangkan semua makanan di meja makan, ia hendak duduk di kursinya. Namun, Sulasemi bersuara. “Jangan duduk di situ.”
Mariatin bangkit dari kursinya. Mencoba untuk menarik kursi yang lebih jauh dari Sulasemi.
“Jangan duduk!”
Mariatin bingung. “Saya duduk di mana, Ndoro?”
“Kamu makan saja di dapur. Saya tidak mau selera makan saya rusak lagi.”
Mariatin perlahan pergi meninggalkan meja makan. Asti menatap Sundari. Sundari memberi tatapan semua baik-baik saja. Kemudian mereka melanjutkan makan kembali.
Sesampai di dapur, Mariatin duduk sendiri. Ia menyantap makanannya tanpa semangat. Matanya menatap keluar jendela. Melamun.
Lama kemudian muncul Sundari dan Asti yang baru selesai makan. Dari tempat Mariatin duduk, ia merasa seakan hanya dia seorang yang paling menyedihkan di rumah ini. Makanan Mariatin tidak habis di tangannya.
“Mar, kalau sudah selesai makan. Tolong meja makannya dibereskan.”
“Baik, Ndoro.”
Mariatin bangkit. Kemudian membuang sisa makanannya ke dalam tempat sampah. Ia langsung mencuci piringnya tanpa memedulikan Sundari dan Asti yang masih berdiri di ambang dapur.
“Malam ini Asti tidur di kamar saya.”
Mariatin tertegun dengan kalimat Sundari. Mariatin menoleh. “Lho. Kenapa Ndoro? Tidak usah.”
Mariatin menoleh pada Asti. Lalu, matanya melotot tanda melarang Asti tidur bersama Sundari. “Kamu tidur sama Ibu saja.”
“Aku...”
Asti tertunduk. Satu sisi ia ingin tidur bersama Sundari. Namun, sisi lainnya takut sama ibunya. Sebelum Asti menjawab. Sundari sudah bicara lebih dulu.
“Tidak apa-apa. Cepat bereskan meja makan. Kamu harus segera tidur.”
Asti terlihat senang walau Mariatin terlihat tidak setuju. Asti tidak melihat ekspresi wajah Mariatin yang begitu lesu dan cemburu. Asti menatap Sundari dengan senyum. Kemudian bersama Sundari ia meninggalkan dapur.
***
Mariatin terduduk di sisi ranjang. Ia membelai-belai kasurnya pada bagian yang biasa ditiduri oleh Asti. Beberapa lama kemudian Mariatin mendengar suara rantai besi bergerak dari kamar gudang di sebelahnya. Mariatin memperjelas pendengarannya. Ia melangkah mendekati pintu kamarnya. Sebelum Mariatin ingin membuka pintu kamarnya, suara itu sudah tidak terdengar lagi.
Mariatin bersandar di pintu. Merasa aneh dan bingung. Kemudian Mariatin berjalan menuju jendela kamarnya. Ia menemukan jendelanya sudah ditutupi dengan triplek dan tidak bisa dibuka.
Mariatin bingung.
***
Mariatin melihat Sundari mengaduk ramuannya dalam gelas. Asti baru bangun tidur, kemudian Sundari menghampiri dan duduk di samping Asti.
Sundari tersenyum pada Asti.
“Bangun tidur. Minum dulu.”
Sundari memberikan gelas minuman pada Asti.
Asti mengambil gelasnya dari Sundari. Kemudian ia meminum air itu. Kita melihat setiap air yang masuk ke dalam mulut Asti hingga habis.
“Terima kasih, Nek.”
Sundari tersenyum. “Pintar.”
***
Mariatin menyapu ruangan. Sementara Asti terlihat sedang bermain sendiri sambil mengitari ruangan tengah.
Asti berjalan sambil tangannya memegangi dinding. Ia berjalan sepanjang dinding di sekitaran ruangan. Beberapa kotoran yang sudah disapu oleh Mariatin sesekali terkena kaki Asti hingga membuat kotorannya kembali tersebar di lantai.
Mariatin mulai menyapu dan mengumpulkan kotoran di lantainya kembali. Setelah selesai Asti kembali lewat lagi sambil berjalan mengitari dinding seperti sebelumnya. Kotoran yang disapu Mariatin kembali bertebaran.
Mariatin kesal dan terlihat lelah.
“Asti! Kamu bisa diam tidak!” bentak Mariatin.
Asti berhenti berjalan. Terkejut mendengar suara ibunya yang membentak.
“Ibu lagi kerja! Jangan ganggu Ibu!”
Napas Mariatin seperti memburu. Seakan kekesalannya tadi malam tumpah pada anaknya sendiri. Asti ketakutan melihat ibunya. Mariatin tersadar dengan apa yang baru saja ia katakan. Mariatin perlahan ingin mendekati Asti. Asti mundur perlahan seakan takut.
“Asti maafin Ibu, Nak.”
Sebelum Mariatin lebih dekat ke arah Asti. Sundari tiba-tiba muncul dan menggandeng Asti.
“Jangan kasar kalo bicara sama anak kamu.”
Mariatin kikuk. Seakan ia melakukan kesalahan yang fatal pada anaknya saat Sundari berkata seperti itu.
Sundari berjongkok dan membelai rambut Asti. “Kamu masih mau main?”
“Iya, Nek.”
Mariatin melotot tajam ke Asti. “Asti! Yang sopan! Panggil beliau sebutan Ndoro.”
“Saya yang minta dipanggil Nenek.”
Mariatin diam.
“Yasudah. Kamu main di kamar Nenek saja.
Asti pergi ke kamar Sundari. Mariatin terduduk lemas seraya menangis. Entah kenapa hatinya merasa sakit karena Asti dekat dengan Sundari. Tak lama kemudian terdengar suara di luar pintu utama.
“Ayu maaf aku telat jemput. Yuk, kita langsung pulang. Ayu.”
Sundari dan Mariatin hanya mendengar suara Broto dari dalam rumah.
“Bapak itu lagi ya, Ndoro?”
Sundari hanya diam. Terlihat tidak senang. Mariatin berdiri diam seakan tidak ingin pergi.
Suara Broto sudah tidak terdengar lagi. Mariatin kemudian melangkah menuju dapur meninggalkan Sundari. Sundari menatap pintu.
***
Mariatin mengisi mugnya dengan air.
Tiba-tiba ia mendengar suara rantai besi di belakangnya. Ia berhenti mengisi air. Ia tidak bergerak untuk mendengar lebih jelas suara rantai yang baru saja didengarnya.
Suara rantai tidak kembali terdengar. Kemudian yang malah terdengar hanya mocopot megatruh Sulasemi yang mengisi keheningan.
Sigra milir kang gethek sinangga bajul... Kawan dasa kang njageni...
Mariatin kemudian berjalan keluar dapur. Membawa mugnya.
Mariatin melangkah keluar dapur, kali ini terdengar suara kapak diseret di lantai. Mariatin melihat Sulasemi berjalan membawa kapak dengan cara diseret.
Mariatin menahan langkahnya. Bersembunyi. Ketakutan.
Mocopot megatruh masih terdengar. Sulasemi berjalan sambil melantunkan mocopot.
...Ing ngarsa miwah ing pungkur... Tanapi ing kanan kering... Kang gethek lampahnya alon...
Mariatin tiba di depan pintu kamarnya. Ia melihat Sulasemi berjalan di depannya. Sulasemi terlihat menuju gudang. Kemudian Sulasemi membuka pintu gudang itu dengan sangat perlahan. Berbarengan dengan itu, Mariatin membuka pintu kamarnya perlahan.
Sulasemi terhenti. Seperti mendengar suara pintu terbuka di belakangnya. Ia menoleh ke belakang. Melihat ke arah pintu kamar Mariatin yang dibuka. Bertepatan dengan itu, Mariatin sudah masuk ke dalam kamarnya untuk menghindari Sulasemi.
Other Stories
Curahan Hati Seorang Kacung
Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...
Kidung Vanili
Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Dua Mata Saya ( Halusinada )
Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...
Kau Bisa Bahagia
Airin Septiana terlahir sebagai wanita penyandang disabilitas. Meski keadaannya demikian, ...
After Meet You
Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...