Membabi Buta

Reads
1.1K
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

Bab 4

Mariatin berjalan perlahan menuju jendela. Ia menyingkapkan sedikit gordin jendela dan mengintip melalui celahnya untuk tahu siapa yang mengetuk. Ia kaget melihat wajah lelaki tua tepat di depan jendela. Wajahnya menyeringai menempel di jendela. Buru-buru Mariatin menutup gorden dengan cepat. Benaknya bertanya-tanya siapa lelaki tua itu?
Kini Mariatin penasaran dengan lelaki tua itu. Ia kembali menyibak sedikit gorden. Ia melihat lelaki tua sudah berjalan menuju pintu gerbang rumah sambil menuntun sepedanya. Mariatin melihat seakan dia sedang bicara dengan seseorang di sampingnya.
“Sudah saya bilang jangan buka gordennya!”
Suara Sundari mengejutkan Mariatin. Buru-buru kembali menutup gorden jendela. “Maaf, Ndoro. Tadi saya kaget ada lelaki tua menempel di jendela. Dia siapa, Ndoro?”
“Bukan siapa-siapa! Udah buruan siapin sarapan!”
“Baik, Ndoro.”
***
Mariatin melintasi lorong dari arah ruang tengah. Ia menatap satu per satu poto atau lukisan yang terdapat di lorong yang sudah tidak terlihat jelas karena lampu ruangan sudah dimatikan. Hanya ada sedikit cahaya yang masuk dari luar rumah. Membuat deretan bingkai poto lebih menyimpan misteri.
Mocopot megatruh Sulasemi masih terdengar.
...Kang gethek lampahnya alon...
Sigra milir kang gethek sinangga bajul... Kawan dasa kang njageni...
Sebelum mencapai pintu kamarnya. Tiba-tiba Mariatin mendengar sesuatu. Ada suara rantai yang diseret dari dalam pintu yang berada di ujung lorong.
Mariatin penasaran dan berjalan mendekat ke pintu tersebut. Ia mendekatkan telinganya ke pintu itu. Namun saat telinganya ditempelkan di pintu, suara rantai sudah tidak terdengar lagi.
Mocopot megatruh mendadak terhenti. Hening.
“Ada perlu apa berdiri di sini?”
Mariatin masih dalam posisi menguping langsung kaget mendengar suara Sulasemi. Ia balik badan, Sulasemi sudah berdiri tepat di depan wajahnya. Di sini, Mariatin bisa melihat dengan jelas bola mata bagian kanan milik Sulasemi sudah rusak. Warna bola matanya hitam hancur.
Mariatin tidak berani menatap dan menjawab dengan gugup. “Anu... Maaf Ndoro. Saya... Saya tadi dengar...”
Mariatin tidak berani melanjutkan kalimatnya. Ia tidak tahan melihat tatapan Sulasemi yang seakan tidak dipersilahkan untuk bicara. Ia memilih diam. Sulasemi menatap dengan tatapan teror. Mariatin tidak bisa berkata-kata. Pelan-pelan ia meninggalkan Sulasemi yang dalam keadaan marah.
Mariatin berjalan melewati Sulasemi dengan cara badannya dimiringkan sambil membungkukkan badan. Takut mengenai tubuh Sulasemi.
Mariatin masuk ke kamarnya, Asti masih tertidur lelap. Mariatin duduk di sisi ranjang. Wajahnya terlihat ketakutan setelah melihat Sulasemi. Ia sekilas berpikir tentang kenapa mata kanan Sulasemi bisa rusak seperti itu? Lalu, ia membuka lemari untuk mengambil rokok.
Mariatin menuju kamar mandi, dia mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya.
Mariatin menikmati rokok di dalam kamar mandi sambil berdiri. Tatapannya tertuju ke atas langit-langit. Matanya seperti mengkhayalkan sesuatu. Gemeletik suara bara api dari rokok Mariatin mengisi keheningan malam. Asap rokok mengepul penuh di dalam kamar mandi. Mariatin tersedak.
***
Suasana rumah siang hari tampak depan. Sinar matahari terhalangi oleh pepohonan besar yang ada di halaman rumah. Sepi seperti tak ada kehidupan dari luar. Tak ada pintu atau jendela yang terbuka. Semua akses keluar masuk rumah tertutup rapi seperti kemauan Sundari.
Mariatin masuk membawa beberapa gelas kotor bekas kopi. Ia meletakkan perabotan kotor dan mencucinya di tempat cucian. Mariatin kemudian membersihkan dan merapikan dapur. Mengelap. Lalu, ia memeriksa lemari tempat meyimpan bahan makanan. Ia melihat beberapa bahan makanan sudah kadaluarsa dan sisanya sudah tak ada yang bisa dimakan.
“Kok belom ada juga?”
Mariatin kembali menutup lemari. Sundari sudah memerhatikan dari tadi di belakang Mariatin. Mariatin tersadar dan sedikit kaget saat melihat kehadiran Sundari.
“Eh, Ndoro... Ndoro Sundari... Kapan bahan makanan dikirim? Beberapa makananya sudah ada yang kadaluarsa lho.”
“Saya sudah pesan. Hari ini akan ada orang yang mengantar bahan makanan ke rumah.”
“Oh gitu, Ndoro. Iya, Ndoro.”
Mariatin tersenyum.
“Siapkan seember air hangat.”
Dahi Mariatin mengernyit. “Buat apa, Ndoro?”
“Setiap pagi kamu harus membersihkan kaki dan tangan Mbakyu Sulasemi.”
Mariatin mengangguk.
Sundari meninggalkan Mariatin di dapur. Mariatin mulai meraih ember dan mengisinya dengan air hangat.
***
Kamar Sulasemi tampak begitu temaram. Sulasemi sedang duduk di kursi goyangnya sambil mendengarkan mocopot megatruh lewat tape tua miliknya.
Suasana terasa sedikit menegangkan. Alunan audio yang khas keluar dari tape tua mengalun mengisi keheningan kamar Sulasemi.
\"Sigra milir kang gethek sinangga bajul... Kawan dasa kang njageni...\"
Mariatin sudah tiba di depan pintu kamar Sulasemi. Ia melihat Sulasemi duduk tenang di kursi goyangnya. Ia masuk membawa ember berisi air hangat. Dan lap disampirkan di pundaknya.
Tak lama Sulasemi menyadari kehadiran Mariatin yang masuk tanpa mengucap salam atau permisi.
“Jancuk! Wong Ndeso. Ora ono toto kromo blas!”
Mariatin bingung dengan hinaan Sulasemi yang tiba-tiba keluar begitu saja.
“Maaf Ndoro. Saya salah apa?”
“Ndak boleh melakukan sesuatu kalau belum diizinkan sama pemiliknya. Begitu pun kalau masuk ke dalam kamar saya.”
Mariatin menyadari kesalahannya. Buru-buru ia sujud dan tertunduk di depan Sulasemi. “Ma... Maaf Ndoro. Maaf, saya lupa bilang permisi.”
Mariatin menunggu reaksi Sulasemi kembali. Setelah yakin tak ada lagi yang keluar dari mulut Sulasemi. Mariatin mulai mendekat ke arahnya.
Ia berjongkok di depan kaki Sulasemi. Mencelupkan kain ke dalam ember lalu memeras airnya. Perlahan ia membersihkan mulai dari kaki Sulasemi. Kaku. Iajijik saat melihat kuku jemari Sulasemi yang kotor dan panjang-panjang. Warna kuku-kukunya hitam tak terurus.
Kaki Sulasemi terlihat sangat kotor seperti habis menginjak lumpur atau tanah. Ada sedikit semen menempel pada kakinya. Mariatin menahan kejijikannya. Ia terus mengelap kaki Sulasemi. Mariatin tidak berani melihat ke atas. Ia hanya duduk terpekur menekuni aktivitasnya.
Tiba-tiba Sulasemi menggerakkan kakinya yang sedang dibersihkan Mariatin. Kakinya mengarah pada tape tuanya.
“Besarkan volume tape saya.”
Mariatin terlihat sedikit tersinggung dengan perlakuan Sulasemi yang seperti itu.
Mariatin terpaksa menurut mengikuti keinginan Sulasemi. Ia membesarkan volume tape compo tua. Volumenya kini semakin membahana di kamar Sulasemi.
\"...Ing ngarsa miwah ing pungkur... Tanapi ing kanan kering... Kang gethek lampahnya alon...\"
Kemudian Mariatin kembali lagi untuk membersihkan kaki Sulasemi. Mariatin menyingkapkan sedikit kain batik Sulasemi untuk membersihkan betis Sulasemi.
“Ini tembang apa, Ndoro?”
“Ini kidung mocopot megatruh. Megat kuwi melepas. Ruh kuwi nyawa.”
Mariatin bergidik ngeri. “Melepas nyawa?”
Sulasemi tidak menjawab. Mariatin bergidik. Suasana di kamar terasa semakin kaku.
Sulasemi menikmati alunan mocopot sambil memejamkan mata. Sementara Mariatin terus mengelap kaki Sulasemi.
Tiba-tiba Sulasemi menendang ember air sampai tumpah. Embernya terjatuh dan menimbulkan genangan air di lantai.
“Dasar! Babu tidak tahu diri!”
Mariatin terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba ini. Ia segera membenarkan posisi ember yang jatuh dan mengelap genangan air dengan lap.
“Kk ... Kenapa, Ndoro?”
“Kamu terlalu kasar memegang kaki saya.”
Mariatin terlihat kesal, dia menahan marah sambil membersihkan air yang ditumpahkan Sulasemi.
“Keluar sekarang!” Sulasemi mengusir Mariatin.
Mariatin lbergegas keluar kamar dengan membawa ember dan lapnya. Sulasemi terlihat marah sekali. Pintu kamar Sulasemi ditutup dari luar.

Other Stories
The Fault

Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...

Chronicles Of The Lost Heart

Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...

O

o ...

Pertemuan Di Ujung Kopi

Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...

Terlupakan

Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...

Just Open Your Heart

Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...

Download Titik & Koma