Bab 7
Terlihat Mariatin masih tertidur. Terdengar dua gadis kecil berlari seperti ketakutan. Suaranya melewati depan pintu kamar Mariatin.
Mariatin terjaga dan membuka mata. Ia duduk. Masih mendengar suara dua perempuan kecil. Ia penasaran. Lalu, perlahan mencoba membuka pintu kamarnya. Mariatin menoleh ke dua perempuan kecil berpakaian sangat zaman dulu sekali.
Pakaian mereka sama dengan yang dikenakan di bingkai poto. Kesan horror menguak dalam diri Mariatin. Suara tawa dua anak kecil itu masih terus terdengar.
Tak lama setelah itu, kita melihat sosok mirip Sulasemi berjalan cepat melewati kamar Mariatin sambil membawa kayu pemukul. Sosok itu berteriak-teriak agar dua perempuan itu berhenti berlari.
“Jangan lari. Berhenti. Atau kalian mau saya kunci di kamar mandi lagi.”
Sosok Sulasemi menuju ruangan lain.
Terdengar bunyi pukulan dan suara kesakitan dari dua gadis kecil. Mariatin penasaran. Ia berjalan menuju ke arah asal suara.
Saat tiba di ruang tengah, Mariatin hanya melihat dua sosok pembantu. Mariatin bingung. Ia tidak lagi melihat sosok Sulasemi.
Kita melihat dua perempuan dipukuli habis-habisan oleh sosok pembantu. Dua gadis kecil menangis sejadi-jadinya. Sosok pembantu mengunci tangan mereka dengan memelintirnya.
Kemudian memukul tanpa ampun.
Mariatin terlihat tidak tahan melihat kejadian mengerikan ini.
“Berhenti! Sudah cukup! Berhenti!”
Mariatin masih mendengar suara pukulan kayu yang beradu dengan tubuh dua perempuan kecil itu.
Salah satu anak perempuan menggigit tangan sosok pembantu. Si pembantu kesakitan dan melempar anak itu hingga terjengkang. Si pembantu sangat geram, ia mendekati anak perempuan itu sambil meraih garpu makan dari sakunya.
Pembantu memegangi kedua pipi si perempuan dengan sadis si pembantu menusukkan garpunya ke bola mata bagian kanan milik anak perempuan itu.
Anak itu menangis sekuat-kuatnya sambil memegangi matanya yang terus mengucurkan darah. Mariatin menerka-nerka bahwa ini adalah masa kecil Sulasemi yang matanya dirusak oleh pembantunya.
“Berhentiiii!”
Sosok pembantu mengangkat pemukul kayunya.
Perlahan sosok pembantu menoleh. Melihat Mariatin sedang menatapnya dari ujung lorong kamar. Mereka berdua saling tatap. Sosok pembantu menatap teror ke arah Mariatin. Sosok pembantu terus berjalan perlahan menuju Mariatin.
Mariatin ketakutan. Ia hanya diam di tempatnya tak bergeming. Sosok pembantu terus berjalan mendekat ke arah Mariatin. Mariatin kemudian berlari. Sosok pembantu melempar kayu ke arah Mariatin. Mariatin jatuh terkena lemparan kayu. Sosok pembantu melompat ke atas tubuh Mariatin dan mencekik leher Mariatin.
Mariatin kelimpungan menghadapi sosok pembantu yang bertenaga kuat. Mariatin terus mencoba melawan. Dengan sisa tenaganya. Mariatin mendorong sosok pembantu. Sosok pembantu terjengkang. Hal itu membuat dua gadis kecil yang sedang bersembunyi terkejut dan lari dari persembunyiannya.
Sosok pembantu melihat mereka.
“Sundari! Sulasemi! Jangan lari kalian.”
Mariatin merasa bingung mendengar dua nama perempuan itu disebut oleh sosok pembantu.
Mariatin heran! Sundari? Sulasemi?
Tiba-tiba sepasang tangan mencekik leher Mariatin dari arah belakang. Mariatin gelagapan dan berusaha melepas cekikan tangan yang sangat kuat itu.
Sosok pembantu mencekik Mariatin sangat lama. Kita mengira Mariatin akan mati.
Mariatin sesak!
Mariatin bangun dari tidurnya dengan mata yang melotot karena terbawa dari mimpi... Ia memegangi lehernya. Ia tidak berani bangun dan beranjak dari kasur.
Mariatin ragu dengan kebenaran mimpinya. Ia takut masih berada dalam mimpi yang sama.
Mariatin memegangi wajahnya serta beberapa bagian tubuh yang dirasanya kena pukul selama berada di dalam mimpi. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa mimpinya sudah berakhir.
Matanya menatap pintu kamar.
“Kok terasa nyata ya,” gumam Mariatin.
Mariatin menyadari hari sudah pagi. Mariatin duduk di sisi ranjang. Memikirkan mimpi yang terasa nyata tadi malam. Mariatin terlihat berpikir. Merasa sangat ngeri dengan kejadian mimpi yang begitu terasa nyata.
***
Beberapa gelas dan piring belum selesai dicuci oleh Mariatin. Meja dapur masih terlihat kotor terkena cipratan air bekas kopi dan minyak. Lap masih terbengkalai di beberapa sudut meja dapur. Mariatin tertidur di lantai. Bersandar di kabinet.
Sundari masuk ke dalam dapur dan membangunkannya dengan gebrakan yang sengaja dibuat Sundari melalui kursi yang ditarik.
Mariatin terkesiap dan bangun dengan malu.
“Makanya jangan tidur terlalu malam. Rasa ingin tahu yang berlebih tidak usah dituruti.”
Mariatin merasa bingung karena Sundari seakan tahu apa yang dirasakanya dari saat bangun tidur.
“Sudah. Buatkan kopi untuk saya.”
Mariatin berdiri.
“Iya Ndoro.”
Sundari meninggalkan dapur.
***
Mariatin membawa sapu. Kemudian pura-pura menyapu di lorong hanya untuk sebagai alibi. Mata Mariatin fokus melihat wajah sosok pembantu yang dihitamkan wajahnya di bingkai poto.
Lorong terlihat kosong. Mariatin masih pura-pura menyapu. Gerakan sapunya terlihat ngasal. Tak lama Sulasemi muncul di ruangan lain dekat dengan bingkai poto itu. Sulasemi menatap Mariatin--
Mariatin kembali menyapu dengan normal. Matanya terus melihat ke lantai. Kini ia benar-benar menyapu. Sulasemi masih menatapnya. Mariatin meninggalkan lorong dan berjalan menuju ruang tengah.
Di ruang tengah Mariatin melihat Asti sedang duduk sendiri. Lalu, Mariatin menoleh ke kiri dan kanan. Memastikan tidak ada orang yang melihatnya di sana. Mariatin meletakkan sapunya. Disandarkan ke dinding.
Mariatin kemudian berjalan mendekati Asti. “Asti, denger Ibu, Nak,” ujar Mariatin berbisik. Ia kembali menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada orang.
“Sepertinya rumah ini aneh. Asti percaya Ibu kan?”
“Ibu mau berhenti kerja lagi?”
“Shhh ... pelan-pelan... Bukan itu, Nak. Ibu ngerasa kita tidak aman saja di rumah ini. Sebaiknya kita cepat pergi dari rumah ini.”
Asti diam.
“Asti, ayo Nak.”
Asti tidak menjawab. Mariatin berhenti bicara pada anaknya. Dan berjalan menuju jendela di pintu utama. Mariatin membuka gorden jendela. Matanya menjelajah ke luar ruangan dari frame jendela. Kemudian Mariatin merasakan ada gerakan di belakangnya.
“Sedang apa, Mar?”
Mariatin terkejut. “Eh anu, Ndoro.”
“Jangan berpikiran untuk keluar rumah.”
Mariatin menatap Asti. Asti turun dari kursinya dan meninggalkan ruang tengah. Mariatin kembali melihat ke Sundari. Mencari kalimat untuk menghilangkan kegugupannya.
“Tidak Ndoro. Anu, jendela kamar saya kenapa ditutup dengan tumpukan kayu ya.”
“Oh... Itu mbakyu Sulasemi yang minta. Dia tidak mau Broto sampi mengganggu kamu. Makanya jendela kamarmu ditutup.”
“Tapi, apa tidak berlebihan ya, Ndoro. Saya pengap jadinya.”
“Itu demi kebaikan kamu.”
Mariatin mengerti untuk menghindari perdebatan dengan Sundari. Sundari melangkah meninggalkan Mariatin.
Other Stories
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO
Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...
Sumpah Cinta
Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Ayudiah Dan Kantini
Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...
Melodi Nada
Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...
Love Falls With The Rain In Mentaya
Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...