Bab 1
Siang itu, pada tahun 1997. Tampak kerumunan orang sedang menghadiri pemakaman. Semua orang berpakaian serba hitam.
Di antara orang-orang itu tampak Saras yang masih berumur 6 tahun memegang sebuah kotak musik, di samping Saras ada Lidya, ibunya yang berusia dua puluh tujuh tahun sedang menggendong adiknya yang baru berusia satu tahun. Sementara perempuan tiga puluh dua tahun yang dipanggil Tante Rima, kakak dari Lidya berdiri di sampingnya.
Saras melihat neneknya yang sudah meninggal di usia delapan puluh tahun tersenyum dan melambai di balik kerumunan. Nenek mengenakan sebuah kalung berbandul warna putih.
Nenek meletakkan jari di depan mulut mengisyaratkan Saras agar jangan bilang siapa-siapa. Saras kecil kemudian tersenyum, melambai dan mengikuti gerakan nenek dengan meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya.
Malam harinya, petir menggelegar. Hujan di luar deras. Saras yang berumur enam tahun sambil membawa kotak musik kecil di tangannya yang sedang memutarkan sebuah lagu menyusuri rumah nenek dengan dinding yang dilapisi wallpaper bunga-bunga usang. Dinding dipenuhi foto-foto tua dengan frame klasik. Itu foto-foto kakek dan nenek sewaktu muda dan anak-anaknya yang masih kecil.
Perabotan rumah nenek tampak tua, sisa peninggalan zaman nenek masih muda. Walaupun tua masih terlihat terawat dengan baik. Di beberapa sudut ruangan standing lamp dan lampu duduk menyinari ruangan, sehingga tampak sedikit temaram. Sesekali cahaya petir menyambar menyinari seisi ruangan.
Saras melewati kamar nenek, musik kotak music berhenti. Saras menghentikan langkahnya. Tiba-tiba pintu kamar nenek terbuka, berderit perlahan.
Saras menoleh ke belakang kearah pintu kamar nenek. Tidak ada siapa-siapa. Saras berjalan mendekat ke pintu, kemudian mengintip masuk.
Di dalam tampak gelap. Sesekali petir menyambar membuat seisi ruangan terlihat. Saras kemudian melangkahkan kakinya perlahan masuk ke dalam ruangan. Dinding kamar nenek juga dilapisi wallpaper corak bunga-bunga yang sudah usang.
Saras melihat sekeliling kamar nenek.
“Nenek? Nenek enggak jadi pergi?”
Saras berbicara sendiri namun wajahnya menoleh ke arah sebuah lemari tua.
Di dapur, Lidya sedang mengaduk panci di atas kompor sambil menelpon suaminya, Rony.
“Tahun ini aku harus menyekolahkan Saras, tolong siapkan uangnya, Ron!”
Laras yang sedang duduk di kursi bayi di depan meja besar tidak sengaja menyenggol mangkok kaca di meja hingga jatuh ke lantai, makanan berhamburan. Lidya marah.
Lidya kemudian berjongkok untuk mengumpulkan beling di lantai sambil menelpon.
“Maksud kamu apa ngomong gitu ke aku? Kamu mau lepas tanggung jawab kamu sebagai ayah dari Saras dan Laras?”
Lidya tidak sengaja melukai jarinya terkena pecahan piring, jarinya berdarah.
“Ron! Halo!” Lidya berteriak kesal. Laras menangis kencang. “Diam!” Lidya membentak Laras, dia stres bukan main.
Di kamar nenek, Lidya melihat Saras tertidur dengan sebuah buku cerita bergambar berjudul “Itik Buruk Rupa” di sampingnya dan sebuah kalung berbandul warna biru.
“Saras, kamu ngapain di sini?” Saras terbangun. Lidya mengambil kalung yang terletak di samping Saras. “Ini ‘kan kalung nenek, kenapa kamu keluarin kalung ini dari lemari nenek?”
“Nenek kelihatan sedih karena nenek bilang dia engga suka kalung yang tadi pagi mama pakein waktu nenek tidur di peti.”
Lidya tertegun sejenak mendengar perkataan Saras.
“Nenek maunya kalung ini, bukan yang warna putih.” Saras menunjukkan kalung berwarna biru.
Lidya berusaha tersenyum.
“Saras, Nenek sudah ada di surga dan dia engga mungkin kembali lagi. Ayo, mama udah siapin makan malam!”
“Engga mau, Saras masih mau di sini bersama nenek.”
Suara tangis Laras terdengar dari arah dapur.
“Saras, Nenek sudah meninggal! Dia engga ada di sini. Ayo, kita makan!”
“Nenek belum meninggal! Nenek cuma tidur di peti terus bangun lagi, aku lihat nenek di kuburan di balik pohon.”
Saras berusaha melepaskan tangan Lidya dari tangannya.
“Saras!” Lidya membentak.
Saras ketakutan namun berusaha meyakinkan Lidya. “Nenek masih hidup! Itu buktinya nenek ada di belakang Mama!”
Lidya terdiam tegang. Pintu kamar tertutup perlahan, ruangan menjadi gelap. Lidya berjalan ke arah jendela yang masih terbuka, vitrase tertiup angin. Dia tutup jendela tersebut.
Saras mau mengucapkan sesuatu namun Lidya keburu membentaknya.
“Cukup Saras! Cukup!”
Lidya terlihat tegang lalu menarik Saras keluar dari kamar nenek.
Other Stories
O
o ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Egler
Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...
Bayangan Malam
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...