Mereka Yang Tak Terlihat

Reads
529
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
mereka yang tak terlihat
Mereka Yang Tak Terlihat
Penulis Ariny Nh

Bab 3

3 hari Saras dihantui berbagai macam hantu, awalnya Saras terlihat stress, lama-lama dia menjadi terbiasa.
“Butuh waktu bagi saya untuk membiasakan diri melihat arwah-arwah yang meminta pertolongan saya dan jin yang sekedar mengganggu, hinga suatu malam….”
Pukul 04 : 15 AM, Saras terbangun dari mimpi buruknya, dia mengecek jam. Dalam kegelapan kamar, Saras melihat sosok anak kecil laki-laki. Adit. Saras tegang, namun berusaha menutup matanya.
Di kelas, Pelajaran sedang berlangsung, seorang guru menerangkan materi hari itu. Saras menoleh ke belakang, meja Adit kosong.
Di rumah, Saras mencoba menghubungi Adit, namun tidak ada nada tersambung.
“Nanti mama mau pergi sebentar buat anter kue kering pesanan Bu RT. Jaga rumah, ya.” Lidya menyusun beberapa toples kue kering, kemudian memasukkannya ke dalam kantong.
Saras masih bengong.
“Saras! Mama lagi bicara kamu denger enggak?”
Saras tersadar dan segera menjawab, “Iya, iya, Ma.”
Malam itu Saras sedang tertidur, sebuah suara memanggil Namanya.
“Saras… Saras….”
Saras membuka matanya, dia mengenali suara itu, itu Adit.
Saras kemudian bangun dan duduk di atas tempat tidur, menghadap Adit.
“Ngapain kamu di sini, kamu ke mana aja? Kok enggak masuk-masuk sekolah?”
“Ada yang aneh.”
Adit tersenyum, kemudian dari lehernya muncul lubang luka yang mengeluarkan darah. Ekspresi Adit berubah kesakitan.
“Adit?” Saras ketakutan melihat Adit.
Saras terbangun dari mimpinya. Jam menunjukkan pukul 04 : 15 AM. Jamnya berhenti. Saras bingung.
Di kelas, bangku Adit masih kosong, Saras berpikir.
“Setelah aku ke rumah Adit, ternyata rumahnya kosong. Tetangganya bilang Adit sekeluarga sudah beberapa hari ini menginap di Bandung dan belum kembali. Aku memberanikan diri pergi ke rumah Adit di Bandung sendirian.”
Saras berada di dalam kereta, dalam gerbong pun banyak arwah dan Saras mesti melewati mereka. Saras mendapatkan kursinya, tidak lama sepasang kekasih yang mati bunuh diri dudun di depan Saras. Sang pria tidak memiliki lengan bagian bawah, namun lengan atasnya dipeluk oleh sang Wanita, sementara sisa tangan mereka yang lain berpegangan satu sama lain. Wajah mereka tampak kosong, namun keintiman dari keduanya tetap terlihat. Sang Wanita kemudian menatap Saras, Saras memalingkan wajah ke arah lain.
Kereta itu membawa Saras ke Bandung.
Di depan rumah Adit, Saras memencet bel yang ada di pintu, suara bel itu cukup nyaring, namun belum ada jawaban. Pada saat Saras memencet untuk kedua kalinya, dia seperti ditarik untuk melihat sekelebat peristiwa yang menimpa Adit.
Saras berdiri di dalam kamar Gita, adik Adit yang berusia tujuh tahun. Gadis itu terikat dengan mulut yang dibekap. Seorang ibu dan anaknya yang sudah dewasa sedang berargumen satu sama lain. Lemari pakaian terbuka dan barang-barang berserakan di mana-mana. Sebuah linggis diletakkan tidak jauh dari pintu lemari pakaian.
Laki-laki dewasa bernama Abdul itu membentak ibunya, “Kata Ibu semua uang mereka di lemari ini. Sekarang enggak ada satu rupiah pun di lemari ini!”
“Beneran, Nak, Ibu liat mereka simpan uangnya di lemari ini,” kata si ibu bernama Sumi.
“Jancok, terus di mana sekarang semua uangnya?”
Gita berusaha meronta mengendurkan bekapan pada mulutnya, begitu sedikit terlepas dia berteriak. Abdul dan Ibu Sumi panik mendengar teriakan Gita. Abdul segera mengencangkan bekapan Gita.
Karena teriakan tersebut, pintu kamar terbuka, Adit muncul di ambang pintu.
“Gita!”
Adit berniat menolong Gita, tapi dia diserang Abdul. Kepala Adit terbentur karena didorong Abdul dan pingsan. Abdul berniat melakukan hal lain pada Adit, namun Ibu Sumi menahan lengan Abdul.
“Dul, jangan sakiti mereka. Rencana awal kita cuma ambil barang-barang, terus kita pergi.”
Adit mulai sadar.
“Kita ambil barang-barang ini, terus kita pergi dari sini,” kata Abdul.
Adit memegangi kepalanya.
“Bu Sumi? Abdul?”
Keduanya panik melihat Adit mendengar percakapan mereka. Abdul segera mengambil linggisnya dan siap membunuh Adit.
Ibu Sumi berusaha menghentikan Abdul, namun Abdul terlalu kuat dan mendorong Ibu Sumi hingga terjatuh. Abdul kemudian menusuk leher Adit menggunakan linggisnya.
Gita menyaksikan langsung kakaknya dibunuh Abdul. Dia berteriak histeris walaupun mulutnya masih dibekap. Abdul segera mendekati Gita.
Ibu Sumi hanya menangis.
“Dul… jangan, Dul….”
Abdul tetap mendekati Gita dan mencekiknya.
Saras berteriak tidak kuasa.
Ketika membuka mata, Saras berada di dalam sebuah ruang tamu. Di depannya ada ibu yang dilihatnya membekap Gita. Saras menjerit histeris.
Ibu Sumi terkejut.
“Bikinin teh manis, Dul.”
“Saya ke sini mau ketemu Adit, Adit mana? Ibu siapa?” Saras tampak gelisah.
“Saya pembantu di sini. Adit sudah meninggal.” Sumi terlihat menangis. “Malam itu Bapak dan Ibu enggak ada di rumah. Saya dan anak saya lagi tidur. Ada maling yang masuk ke rumah, mereka ngebunuh anak-anak.”
Suara benda jatuh berasal dari teras mengalihkan perhatian keduanya. Ibu Sumi dan Saras melihat ke arah teras. Ibu Nining, mama Adit duduk melamun tidak berdaya.
Ibu Sumi segera menghampiri Ibu Nining dan mengambil tutup gelas yang terjatuh.
Saras memperhatikan Ibu Nining, namun perhatian Saras terhenti ketika Abdul datang menyuguhkan secangkir teh. Abdul meletakkan cangkir di meja di depan Saras. Saras tegang, matanya bersitatap dengan mata Abdul, degup jantung Saras berdetak cepat, berusaha mengatur napasnya yang mendadak sesak.
Saras memutuskan pulang, kembali naik kereta. Di kereta, degup jantung Saras masih berdetak cepat, napasnya masih sesak. Saras masih terlihat kaget.
Hantu Adit mengikuti Saras, duduk di sampingnya.
“Abdul dan Bu Sumi sudah bekerja di keluarga aku sejak aku masih kecil. Aku sama sekali enggak nyangka kalau mereka penyebab semua ini,”
Saat itu Adit baru berusia tujuh tahun dan Gita lima tahun sedang bersama Ibu Sumi dan Abdul di kolam renang. Ibu Sumi sedang mengusapi Gita minyak kayu putih, dia sudah memakai baju renang. Adit sudah lebih dulu berada di dalam kolam renang, tak jauh dari Adit Abdul ikut tertawa sambil menciprati Adit dengan air.
Pada masa lain, Adit kecil dan Gita kecil berlarian di taman belakang. Kemudian Adit dan Gita disuapi Ibu Sumi, sambil disuapi Adit naik ke atas Abdul, bermain kuda-kudaan.
Saras menangis tersedu-sedu mendengar kisah Adit.
“Makasih, ya, Saras.”
Berkat penglihatan Saras dan barang bukti yang disebutkan, polisi datang membawa Abdul dan Sumi, memasukkan mereka ke mobil polisi. Linggis yang menjadi alat pembunuhan disimpan rapi di dalam kantong plastik sebagai barang bukti.
“Manusia bisa menjadi makhluk yang lebih menyeramkan daripada makhluk lain. Bahkan, orang terdekat sekalipun bisa memangsa kita tanpa kita sadari. Saat itu aku pertama kali merasakan kehilangan orang yang sangat dekat dan berharga di dalam hidupku….”
Saras beranjak dewasa dan Laras beranjak remaja, keduanya bersama sahabat Saras sekaligus teman sekelasnya, Yova dan Irina, baru saja masuk ke warung bakso yang terkenal rame dan enak. Warung bakso siang itu sangat ramai pengunjung.
“Seiring berjalannya waktu, tanpa kusadari kepekaanku semakin bertambah, selain bertemu arwah-arwah yang menyeramkan, ternyata aku berhasil memiliki dua teman yang enggak kalah horornya. Kami berteman sudah cukup lama, mereka tahu kemampuanku dan enggak punya masalah dengan hal itu.”
Saras, Laras, Yova dan Irina duduk di sebuah meja panjang dan saling berhadapan. Seorang pelayan datang mencatat pesanan, Irina dan Yova terlalu bersemangat memesan. Begitu pesanan selesai dicatat, pelayan itu pergi.
Yova mengeluarkan HP barunya dan memamerkannya. Saras mendapati Laras yang memerhatikan HP baru Yova. Laras yang merasa dipergoki Saras segera membuang muka.
Makanan mereka datang, empat mangkok bakso diletakkan di meja.
“Akhirnya datang juga. Mas, tadi ‘kan saya pesan enggak pake lama.” keluh Yova.
“Hus, udah datang juga ‘kan makanannya,”tegur Irina.
“Selamat makan!!” seru Yova.
Yova dan Irina menyantap bakso di mangkoknya. Saras mendadak diam, dia melihat setan penglaris dengan lidah panjang meneteskan air liur ke dalam bakso mereka.
“Saat itu aku baru sadar kalau ada saja manusia yang memanfaatkan makhluk-makhluk ini untuk dijadikan budak membantu usaha mereka, dengan bantuan dukun tentunya.”
Yova dan Irina makan begitu lahap. Para setan penglaris itu memerhatikan Saras. Setan penglaris itu meneteskan liurnya ke dalam mangkok bakso Yova. Yova semakin heboh mengekspresikan rasa enak bakso itu.
Saras melihat Laras hendak memasukkan bakso ke dalam mulutnya, kemudian tangan Saras memegang paha Laras. Laras terhenti dan menatap Saras. Dia menggelengkan kepala ke adiknya. Laras yang mengerti segera meletakkan sendok, tidak jadi makan.
“Saras, lo berdua kok enggak makan?” tanya Irina.
Saras berusaha mengacuhkan setan penglaris.
“Ini enak banget sumpah!” seru Yova.
Saras beranjak dari tempat duduknya.
“Mau ke mana?” tanya Yova.
“Ambil kerupuk.”
Saras berjalan menuju tempat penjual yang agak jauh dan tertutup setengah oleh meja. Kebetulan penjual sedang menyiapkan makanan dan kaki kirinya diikatkan tali dengan sebuah kain merah, kakinya direndam di sebuah baskom kecil. Kemudian air bekas rendaman kakinya dimasukkan ke dalam kuah bakso.
Saras tergesa-gesa kembali ke Yova dan Irina.
“Jalan.”
Yova dan Irina sudah mengerti maksud Saras. Mereka segera pergi. Sambil meninggalkan tempat Yova masih merasa penasaran.
“Kenapa, sih? Pake babi, ya?”
Malam hari saat Lidya sedang menghitung pengeluaran menggunakan kalkulator dan mencatatnya di kertas di ruang makan, Saras menghampiri.
“Ma, boleh nggak beli HP baru? Yang ini udah sering nge-hang.”
Sambil menghitung Lidya menjawab, “’kan nge-hang doang belum rusak, kamu ‘kan udah tau kita lagi kekurangan uang.”
“Ya udah, kalau gitu aku utang dulu ke mama, bisa?”
Belum selesai kalimatnya, Lidya sudah memotong, “Kamu mau ngutang, terus bayar pake apa? Kamu masih nggak ngerti juga?” Lidya kembali berhitung.
“Oke, aku ‘kan nanya baik-baik, kalo enggak bisa beliin hape baru ya udah, nevermind!” Saras langsung pergi.
Laras sedang bermain jelangkung bersama 3 orang temannya-Ika, Saskia dan Dini-di ruang tengah.
“Jelangkung… jelangkung… di sini ada pesta, pergi tidak dijemput, pulang tidak diantar.” Laras membaca mantra pemanggil arwah yang terkenal.
“Kok belum gerak-gerak juga, ya?” Dini kebingungan.
“Coba lagi aja,” saran Saskia.
Baru setengah mantra dibaca Laras, Saras muncul.
“Laras, kamu lagi ngapain?”
“Lagi main jelangkung, Kak.”
Saras segera mengambil boneka jelangkung itu.
“Mereka semua udah datang, terus mau diapain sekarang?”
Keempat remaja itu tampak ketakutan. Mereka buru-buru merapikan peralatan dan boneka jelangkung itu.
Saras melihat sekeliling ruangan, sudah ada 20 arwah mengelilingi mereka, tapi keempat remaja itu tidak menyadarinya. Tiba-tiba sosok arwah Perempuan pengantin jawa, dengan darah yang keluar dari mulut, memegang lengan Saras.
Arwah Perempuan pengantin jawa lalu merasuki Saras. Dia jatuh pingsan dan berhasil ditangkap oleh Laras.
“Ma … ma….”
Lidya muncul tergesa-gesa.
“Kenapa?”
Lidya bingung mendapati Saras tergeletak tidak sadarkan diri di pangkuan Laras. Tidak lama mata anak sulungnya terbuka, namun dengan tatapan berbeda. Lidya mengamati. Saras melihat ke arah Laras, kemudian berjalan memutari Laras dan merangkul Laras hingga menarik dirinya untuk berdiri.
Laras tegang melihat tingkah ganjil kakaknya. Dia mengamati Saras yang memperhatikan satu persatu orang-orang di dalam ruangan, termasuk Lidya.
Saras berjalan kea rah vas bunga, kemudian mulai mencomot kelopak bunga-bunga yang ada di vas dan memakannya.
“Saras, kamu lagi ngapain?” tanya Lidya.
Ika, Saskia dan Dini saling berpelukan ketakutan.
“Saras!”
Saras kemudian tertawa, menyuapi paksa kelopak bunga pada Laras.
“Anak nakal,” kata Saras. “tadi kamu memanggil-manggil kami, sekarang kami sudah datang, mau kamu apa, Nak?” Saras tertawa.
“Kak….” Lirih Laras.
“Kakak sedang tidak di sini.”
“Saras! Hentikan semua ini!” teriak Lidya.
“Sudah kubilang dia enggak ada di sini!”
“Jangan main-main Saras!” Lidya mulai ketakutan.
“Kak Saras di mana?” tanya Laras.
Saras kemudian melihat sekeliling lalu tersenyum. “Sekitar sini, mungkin.”
“Kak Saras… Kak Saras….” Laras memanggil-manggil Saras yang kata sosok itu ada di sekitar.
Di saat sosok pengantin jawa itu memegang lengannya, Saras ditarik ke alam arwah. Dia muncul dalam keadaan berdiri, kemudian membuka matanya tiba-tiba, Saras menghela napas seolah baru saja terbangun.
Saras melihat ke sekeliling, ruangan yang sama, namun terlihat lebih gelap dan dipenuhi asap. Sayup-sayup terdengar suara Laras memanggil-manggil.
“Kak Saras! Kak Saras!”
Saras menoleh ke belakang, Laras sedang dicengkram oleh dirinya sendiri.
“La-Laras! Laras!”
Asap menebal hamper menutupi Laras dan Saras yang kerasukan. Laras terheran. Kemudian sebuah suara yang sangat dia kenali memanggil dirinya.
“Saras,”
Saras menoleh ke belakang, dia terkejut melihat sang nenek.
“Nenek… nenek!”
Saras berlari ke nenek dan memeluknya. Sang nenek menyambut dan mengusap kepala Saras.
“Saras, kamu harus melawan dia. Tubuh itu milik kamu, kamu harus kembali ke tubuhmu.”
“Aku masih ingin bersama nenek,”
“Nenek selalu mengawasimu Saras.” Nenek tersenyum.
“Nenek,” lirih Saras.
“Sekarang kamu harus kembali ke tubuhmu, kamu harus melawan dia. Kamu harus kembali,”
Saras melepaskan pelukan nenek, Saras mengangguk patuh. Dia lalu menutup kedua matanya.
Keributan di ruang tengah masih terjadi, bahkan semakin berbahaya. Saras masih mencengrak Laras.
“Saras, hentikan!” Lidya berteriak panik.
“Dia bukan Kak Saras, Ma!” pekik Laras.
Lidya mencoba merebut Laras dari Saras, namun Saras tidak mau melepaskan.
“Lepaskan adik kamu, Saras!”
Saras tertawa.
“Saras kepas!” Akhirnya Lidya berhasil melepaskan Saras dari Laras dan mendorong Saras hingga terhempas dan jatuh ke sofa.
“Kak Saras!”
Saras mengejang. Pertarungan antara Saras dan sosok arwah perempuan pengantin jawa untuk mendapatkan kembali tubuh Saras cukup menyakitkan. Lidya ngeri melihat Saras, sedangkan Laras berusaha mendekat ke Saras.
“Kak…” panggil Laras. Dia memegang tangan Saras.
Perlahan tapi pasti, meski pandangannya mengabur, Saras melihat ke arah Laras yang memegangi tangannya. Dia mulai tersadar.
“La-Laras,”
Energinya yang habis akibat mempertahankan tubuhnya membuat pandangan Saras yang kabur kembali menggelap sebelum akhirnya tertutup lagi, namun sayup-sayup telinganya masih dapat mendengar suara Laras yang memanggil dirinya.

Other Stories
Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Membabi Buta

Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...

Hafidz Cerdik

Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...

Nyanyian Hati Seruni

Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...

Langit Ungu

Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...

Download Titik & Koma