Mereka Yang Tak Terlihat

Reads
533
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
mereka yang tak terlihat
Mereka Yang Tak Terlihat
Penulis Ariny Nh

Bab 4

Pagi itu Tante Rima, kakak Lidya, yang berusia lima puluh tahun, memiliki kepribadian santai dan cuek, berbeda 180 derajat dari Lidya, datang berkunjung. Tante Rima sedang menyeduh teh di sebuah mug, kemudian menambahkan sesendok madu dan mengaduknya. Tante Rima menyerahkan mugnya pada Lidya yang tampak stress.
“Kalau dia ingin sesuatu harusnya enggak cari perhatian dengan car aini. Menurut kamu aku harus gimana lagi?”
Tante Rima menatap Lidya, tersenyum seakan lebih tahu apa yang dialami Saras daripada Lidya sendiri.
“Kamu mau aku menjawab pertanyaan kamu sebagai psikiater atau kakak kamu?”
Lidya meremas mug, mencari kehangatan dari teh yang dibuat sang kakak, kemudian menatap Tante Rima.
“Psikiater.”
Tante Rima merapikan taplak meja yang sedikit berantakan seraya menghela napas.
“Sebagai psikiater, mungkin dengan cara kamu menolaknya yang membuat Saras mencari perhatian seperti itu.”
Lidya terdiam.
“Sebagai kakak, aku tahu kamu takut apa yang terjadi sama Rita akan terulang pada Saras, tapi adik kita meninggal bukan kesalahan kamu.”
“Jangan samain Saras sama Rita.” Kesal Lidya. “Pokoknya Saras tidak akan menjadi gila seperti Rita.”
Tanpa diketahui seorang pun, Saras menguping di balik tembok.
Saras kembali ke kamarnya dan memeluk Laras yang sudah lebih dulu berada di tempat tidurnya.
“Maaf, Kak.” Laras menutup matanya.
Saras mendesis, “Udah Laras, bukan salah kamu kok.” Saras sempat terdiam. “Lain kali jangan main jelangkung, main barbie aja.”
Keduanya tertawa kecil.
Ruang makan di pagi hari sudah diramaikan Laras, Saras, Lidya dan Tante Rima yang sedang sarapan. Menu sarapan pagi ini adalah pancake buatan Tante Rima. Dia memberikan pancake yang masih hangat ke piring Saras.
“Dari kecil kamu suka banget pancake, nenek selalu bikini kamu ‘kan buat sarapan.”
“Iya, Tante, aku udah lama banget enggak makan pancake.”
Tante Rima menatap Lidya memberikan sebuah kode. Lidya beranjak meninggalkan ruang makan.
“Laras mau pancake juga?”
“Aku enggak suka, Tante, aku sukanya ini.” Laras menaburkan butiran cokelat ke atas roti.
Lidya datang membawa sejumlah uang dan meletakannya di depan Saras. “Kamu bisa beli hp baru kamu, yang lama sudah rusak, kan?”
“Enggak usah, Ma. Mama simpen aja uangnya. Lagian uang segitu enggak cukup juga beli hp yang aku mau.”
“Nanti Tante tambahin, ya.” kata Tante Rima.
“Enggak usah, Tante, enggak apa-apa kok.”
Lidya menghela napas dan pergi.
Siang itu di kantin Yova histeris melihat HP baru Irina yang dibelikan ayahnya meski tidak sesuai dengan permintaan.
“Salah beli juga tetep keren kali!” seru Yova.
Saras hanya diam menyimak. Dia mengalihkan pandangannya pada sudut lain kantin, tempat Laras dan teman-temannya berkumpul. Semua teman Laras sibuk bermain dengan HP mereka, Laras seakan dikucilkan.
Melihat adiknya begitu, sebuah ide terlintas di kepala. Sepulang sekolah Saras mampir ke sebuah took pernak-pernik membeli tali warna-warni untuk nanti dia jadikan gelang.
Begitu sampai rumah, dia keluarkan kantong belanjanya dan mulai merangkai tali warna-warni itu. Dia melakukannya dengan tekun.
Di sekolah, dia pergi ke perpustakaan seorang diri untuk membuat gelang, ketika jam istirahat Saras memilih menetap di kelas dan melanjutkan pembuatan gelangnya, bahkan di kantin pun ketika Yova dan Irina datang menghampiri, keduanya sudah melihat 15 gelang sudah jadi dan memegang gelang-gelang itu dengan takjub.
Malam itu Saras asyik membuat gelang di kamar. Tiba-tiba terdengar suara tawa anak kecil. Saras menoleh, mengira ada Laras di belakangnya. Dia terkejut melihat sosok anak kecil berumur 7 tahun sedang main lompat-lompatan di atas kasur Saras.
Ruang makan disibukkan dengan persiapan makan malam yang sudah hampir selesai, menunggu para penghuninya duduk di meja makan yang penuh dengan sayur-sayuran. Tante Rima bahkan sudah duduk rapi. Lidya menyuruh Laras memanggil Saras untuk makan.
“Makanan sudah siap, panggil kakakmu.”
Tanpa mengetuk Laras masuk ke kamar Saras dan menemukan Saras sedang duduk berjongkok dengan rambut dikuncir dua dan sedang bermain bersama boneka-boneka.
“Kak, makan malam udah siap,” panggil Laras.
Saras tidak menggubris dan tetap bermain layaknya anak kecil.
“Makan udah siap, yuk!” ajak Laras lagi.
Saras menoleh. “Halo, kamu mau ikut main sama-sama?”
Laras berteriak memanggil mamanya.
Lidya yang mendengar teriakan Laras segera meletakkan piring yang hendak ditata, namun belum sempat melangkah, Saras sudah berlarian sambil membawa boneka dengan riangnya.
“Mah, Kak Saras kesurupan lagi!”
“Saras!”
Saras yang tubuhnya sudah dimasuki sosok anak kecil berlarian kemudian duduk di meja.
“Kamu siapa? Bule, ya? Kamu mau makan? Makan apa? Sayur, ya? Aku enggak suka sayur!” Dia melempar mangkuk berisi lalapan, lalu tertawa-tawa. Tante Rima yang baru saja muncul dilempari buah oleh sosok yang mengendalikan tubuh Saras.
“Berhenti bermain-main Saras! Hentikan semua ini!”
Saras memberontak, “Lepasin! Aku mau pulang, aku mau pulang!”
Saras tiba-tiba melotot, berdiri tegal, badannya sedikit terhempas ke belakang seakan ada yang keluar dari dalam dirinya, kemudian terhempas kembali seolah sesuatu masuk ke dalam dirinya lagi.
Saras mulai mengangkat tangan, dia menari Bali.
“Saras! Hentikan!” teriak Lidya.
Tante Rima menahan Lidya dan menenangkannya.
Saras lalu menari Jawa.
“Saras! Hentikan!” Lidya menghampiri Saras dan memegang tangannya untuk menghentikan Saras menari, tetapi itu tidak berpengaruh pada Saras, dia terus menari.
“Saras! Kamu denger Mama enggak!” Lidya semakin kesal, dia memegangi Saras, sementara Tante Rima masih terus mencoba memisahkan Lidya.
“Kenapa kamu enggak mau dengerin mama! Kenapa?” Saking kesalnya Lidya mendorong Saras hingga terlempar cukup jauh dan menabrak tembok.
“Kak!”
Tante Rima segera menghampiri Laras, sedangkan Lidya tidak percaya atas apa yang sudah dia lakukan pada anak sulungnya.
Saras tiba-tiba membuka matanya, sorot matanya berbeda. Dia segera bangun dan berjalan membungkuk seperti seorang nenek. Saras berjalan mendekati Lidya.
“Kamu harus menerima kelebihan yang Saras miliki, kemampuan itu sudah ada turun-temurun di keluarga kita.”
“Ibu?” tanya Tante Rima.
Lidya tidak percaya apa yang baru saja dia saksikan. Saras sudah ada dihadapannya, mengangkat sebelah tangan dan mengusap pipi Lidya. Tidak lama, Saras kembali pingsan.
“Sejak saat itu juga hubungan aku dan mama semakin renggang, namun hal yang paling menyedihkan buatku saat itu adalah sikap mama yang masih tidak percaya sama aku.”
Saras, Yova dan Irina sedang makan di kantin, pasangan paling popular di sekolah menjadi perhatian khusus dua temannya untuk digibahkan. Persahabatan ketiganya semakin diikat kuat dengan gelang buatan Saras yang memiliki bentuk sama.
“Guys, liat deh si Faiz sama Dewi mesra banget, ya,” Irina memancing pergibahan.
“Gua pikir dia gay,” balas Yova.
“Hush! Dia tuh enggak pernah ngelirik cewek lain, loh, padahal ‘kan mukanya Dewi ‘kan biasa aja.” Tambah Irina.
“Ya dia emang enggak pernah liat cewek,” Yova menyetujui.
Saras meninggalkan Yova dan Irina untuk menghampiri Laras dan teman-temannya yang berada tidak jauh darinya.
“Ini buat kamu,” Saras memberikan sebuah HP ke Laras.
Laras terkejut Bahagia, “Kakak dapet uang dari mana?”
“Ada deh,”
“Makasih, Kak.”
Keduanya berpelukan. Laras kembali ke meja bersama teman-temannya dan menunjukkan HP barunya. Saras tersenyum melihat itu.

Other Stories
Adam & Hawa

Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Melepasmu Untuk Sementara

Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...

Testing

testing ...

Mozarela Bukan Cinderella

Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Download Titik & Koma