32 Detik

Reads
4.1K
Votes
795
Parts
23
Vote
Report
Penulis Ign Indra

Chapter 05: Dua Garis Merah

Ibu menelepon pada hari Kamis, tepat saat aku sedang duduk di perpustakaan, mencoba dengan sia-sia untuk fokus pada draf tugas akhir Metode Penelitian Kualitatif-ku. Tentu saja. Dunia tidak akan mengizinkanku punya kemewahan sekecil itu. Beliau tidak menanyakan kabarku. Beliau tidak berbasa-basi tentang cuaca atau UAS yang sudah di depan mata. Kalimat pertamanya adalah dekret, bukan permintaan: “Pulang.”

Rumah ibuku tidak pernah terasa seperti rumah. Ia lebih terasa seperti museum yang dikurasi dengan cermat, pameran permanen tentang kehidupan yang tidak pernah benar-benar bahagia. Udara di dalamnya selalu berbau kamper dan penyesalan yang tidak terucap. Setiap perabotan diletakkan dengan presisi geometris yang kaku, seolah satu sentimeter pergeseran akan memicu bencana. Hari itu, saat aku duduk di seberangnya di meja makan yang tidak pernah kami gunakan untuk makan bersama, kebekuan di antara kami terasa seperti kondisi terminal.

Ibu meletakkan cangkir tehnya di atas tatakan tanpa menimbulkan suara. Sebuah keahlian yang ia pelajari selama bertahun-tahun membungkam emosi. Lalu, tanpa menatapku, dia bicara.

“Ibu dapat kiriman video dari grup arisan,” katanya, suaranya datar seperti permukaan meja di antara kami. Aroma teh melati yang diseduhnya membuat perutku yang sejak pagi sudah bergejolak, terasa semakin mual. “Mereka tanya, itu kamu?”

Bukan “Kamu baik-baik saja?” Bukan “Apa yang terjadi?” Hanya pertanyaan verifikasi. Aku dianggap produk cacat yang perlu dikonfirmasi sebelum ditarik dari peredaran dan dihancurkan.

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya, dan untuk pertama kalinya, aku melihatnya bukan sebagai ibu, tapi sebagai studi kasus. Sebagai hantu dari masa depan yang mungkin menantiku jika aku tidak hati-hati. Aku melihat ketakutan di matanya—ketakutan bahwa sejarah, dengan selera humornya yang paling kejam, sedang mengulangi dirinya sendiri dalam versi digital yang lebih brutal.

Dia tidak marah. Dia tidak berteriak. Dia hanya diam. Dan diamnya merupakan warisan. Warisan rasa malu yang telah ia simpan begitu lama hingga membatu, dan kini ia mencoba membangun tembok batu yang sama di sekelilingku. Aku jadi aibnya yang baru, bukti kegagalannya yang kini bisa ditonton dan dibagikan dalam format MP4 oleh teman-teman arisannya.

Aku pulang ke kos sore itu dengan perasaan hampa. Tapi ada sesuatu yang lain. Rasa mual yang selama ini kuabaikan, yang kukira hanya efek samping dari stres dan kurang tidur, kini menjadi gejala yang tidak bisa lagi kubantah. Kelelahan yang menancap di tulangku terasa berbeda, lebih dalam, lebih biologis.

Dengan sisa keberanian seorang terpidana yang berjalan menuju tiang gantungan, aku mampir ke apotek kecil di dekat kampus. Aku membeli benda itu—alat tes kehamilan—dengan cara yang sama seperti seorang buronan membeli tiket bus malam. Tudung hoodie menutupi wajahku, mataku terpaku pada lantai keramik yang kotor, menghindari kontak dengan apoteker yang mungkin saja adalah salah satu dari jutaan orang yang telah menontonku.

Di dalam bilik toilet kosku yang sempit dan berbau karbol—sel penjaraku—aku mengikuti instruksi di kemasan dengan tangan gemetar. Dua menit, katanya. Dua menit yang kini bagai keabadian yang relatif. Waktu terasa meregang dan mengerut, cukup lama untukku memikirkan semua keputusan buruk dalam hidupku, lalu kembali ke detik saat ini. Aku duduk di kloset yang dingin, menatap jam di layar ponselku, setiap detiknya berdetak seperti palu hakim.

Satu garis merah muncul dengan cepat. Jelas, tegas, tanpa ampun. Aku menahan napas.

Lalu, perlahan, seolah ragu-ragu, seolah ingin memberiku harapan palsu, garis kedua mulai terbentuk. Samar pada awalnya, seperti hantu, lalu semakin tegas. Merah. Tak terbantahkan. Menjadi putusan banding yang ditolak.

Aku tidak menangis. Aku tidak terkejut. Aku hanya merasakan kekalahan kosmik. Seolah alam semesta, dengan segala aturan fisikanya yang agung, baru saja mencondongkan tubuhnya dan berbisik di telingaku: skakmat.

Dunia telah menghakimi tubuhku dari luar. Dan sekarang, tubuhku sendiri, dalam sebuah pengkhianatan biokimia yang paling intim, telah menjatuhkan vonisnya dari dalam. Tempat yang seharusnya menjadi satu-satunya kedaulatan milikku, kini telah menjadi tempat kejadian perkara untuk kedua kalinya.

Aku menatap dua garis merah itu di bawah cahaya lampu toilet yang berkedip-kedip. Aku melihat dua garis merah, dan aku tahu bahwa dunia tidak akan pernah memberiku pilihan yang mudah. Hidupku bukan lagi milikku. Ia telah disita oleh negara lain. Pertama oleh 32 detik video, dan kini oleh dua garis merah ini.


Other Stories
Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

O

o ...

Pahlawan Revolusi

tes upload cerita jgn di publish ...

Cinta Kadang Kidding

Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...

Awan Favorit Mamah

Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...

Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )

Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...

Download Titik & Koma