32 Detik

Reads
4.1K
Votes
795
Parts
23
Vote
Report
Penulis Ign Indra

Chapter 07: Berdialog Dengan Wabah

Pagi datang tanpa permisi, seperti biasa. Tapi pagi ini, cahaya matahari yang menerobos masuk lewat celah gorden terasa seperti lampu sorot di ruang interogasi. Di atas meja nakas, benda kecil dari plastik itu tergeletak, artefak dari malam sebelumnya. Dua garis merahnya begitu tegas, menjadi kesimpulan akhir, seolah mengejekku dalam keheningan. Aku hamil. Fakta biologis yang terasa seperti fiksi ilmiah yang ditulis dengan buruk.

Tumpukan buku untuk mata kuliah Teori Kritis yang belum kubuka sama sekali menatapku dari sudut ruangan, seharusnya menjadi monumen untuk masa depan akademis yang kini terasa sama mustahilnya dengan perjalanan ke Mars.

Aku tidak bisa memikirkannya. Jika aku membiarkan otakku memproses realitas dari dua garis merah itu, aku akan hancur menjadi serpihan-serpihan yang takkan bisa lagi disatukan. Jadi, otakku melakukan apa yang selalu dilakukannya saat terancam: ia melakukan triase. Ia mengabaikan luka internal yang menganga dan beralih ke masalah lain yang bisa dianalisis. Masalah yang punya anatomi. Masalah yang punya pelaku.

Aku membuka laptopku, membuka file Studi Kasus: Anatomi Kematian Sosial K.A. Aku menatap kursor yang berkedip di halaman kosong, detak jantung digital yang sabar. Selama ini aku hanya mengumpulkan data tentang dampak sosialnya. Sekarang, saatnya melakukan otopsi pada kejahatannya itu sendiri.

Aku mulai mengetik, menyusun laporan forensikku sendiri.

LAPORAN INVESTIGASI AWAL

KASUS: Penyebaran Konten Intim Non-Konsensual (NCII).

KORBAN: Subjek K.A.

WAKTU KEJADIAN: Diperkirakan 40 hari yang lalu.

ANALISIS BUKTI:

* Objek Bukti A (Digital): Sebuah video berdurasi 32 detik. Kualitas rendah, mengindikasikan rekaman sekunder (rekaman dari layar), bukan transfer file asli. Modus Operandi: Pelaku tidak memiliki akses penuh atau waktu yang cukup. Tindakan dilakukan secara diam-diam dan terburu-buru.

* Objek Bukti B (Fisik): Flashdisk milik subjek dilaporkan hilang. Saksi mata (Alya F.) mengonfirmasi kemungkinan interaksi antara flashdisk dengan Person of Interest.

PERSON OF INTEREST (POI):

* Nama: Reksa Prasetya.

* Hubungan dengan Korban: Tidak langsung. Kakak dari Daka Prasetya (pasangan subjek).

* Alibi: Lemah. Memiliki akses singkat dan tanpa pengawasan ke laptop milik D.P., yang merupakan sumber file asli.

ANALISIS MOTIF (HIPOTESIS):

* Kecemburuan patologis terhadap pencapaian dan hubungan D.P.

* Obsesi terselubung terhadap subjek K.A.

* Kombinasi kompleks inferioritas dan superioritas (merasa gagal, namun merasa berhak menjadi hakim moral).

Kursor di layarku berhenti berkedip. Aku berhenti mengetik. Tidak ada keraguan lagi. Kecurigaan merupakan sejenis pengetahuan; kau belum punya bukti yang bisa dibawa ke pengadilan, tapi jiwamu sudah tahu kebenarannya. Pelakunya bukan monster tanpa wajah di internet. Pelakunya punya nama. Pelakunya menghirup udara yang sama denganku.

Pelakunya adalah Reksa.

Di kamarnya yang remang-remang, di seberang kota, Reksa Prasetya sedang melakukan ritual malamnya. Dia tidak membaca komentar-komentar kebencian. Itu untuk amatir. Dia sedang melakukan kurasi.

Dia membuka sebuah folder tersembunyi di komputernya, bernama Proyeksi Realitas. Isinya adalah sebuah museum obsesif. Lusinan screenshot dari media sosial Kirana dan Daka, yang telah ia kumpulkan selama berbulan-bulan. Foto mereka di taman, ia beri nama file Fasad Kebahagiaan 01. Foto secangkir kopi yang dipotret Kirana, ia beri nama Pretensi Puitis 04. Dan tentu saja, video 32 detik itu, yang ia putar ulang tanpa suara, sambil membaca tulisan-tulisan lama Daka di blognya—tulisan puitis tentang cinta dan harapan.

Baginya, ini bukan kejahatan. Ini adalah sebuah koreksi. Sebuah intervensi filosofis. Sejak kecil, Daka adalah sang matahari—calon dokter, anak kebanggaan, sempurna. Sementara dia hanyalah bayangan, anomali statistik, mahasiswa dropout yang gagal. Daka dan Kirana, dengan cinta mereka yang sok bersih dan sok intelektual, adalah kebohongan yang indah. Dan dia, Reksa, adalah seorang realis yang brutal. Seorang korektor realitas. Dia hanya menunjukkan pada dunia bintik hitam yang selalu ada di setiap matahari, menunjukkan bahwa di balik semua puisi, mereka hanyalah daging dan hasrat yang bisa direndahkan.

Dia tidak merasa bersalah. Dia merasa tercerahkan.

Aku menutup laptopku. Rasa mual di perutku bukan lagi karena gejolak hormon kehamilan. Itu adalah amarah. Amarah yang dingin, jernih, dan memiliki target yang jelas.

Untuk sesaat, aku lupa pada dua garis merah di atas meja nakas. Aku lupa pada tatapan ibuku yang seperti hakim. Aku lupa pada keheningan teman-temanku. Seluruh alam semestaku yang kacau kini mengerucut menjadi satu titik fokus yang tajam.

Karena sekarang aku punya misi.

Aku belum tahu bagaimana caranya. Tapi aku akan membuat Reksa Prasetya membayar atas apa yang telah ia curi. Bukan dengan balas dendam yang buta dan berisik.

Tapi dengan kebenaran versiku. Dan kebenaranku, tidak seperti videonya, tidak akan pernah bisa dipotong menjadi 32 detik.


Other Stories
Dia Bukan Dia

Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...

Kepentok Kacung Kampret

Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...

Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

Mewarnai Bawah Laut

ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...

Horor

horor ...

Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik

Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...

Download Titik & Koma