32 Detik

Reads
4.1K
Votes
795
Parts
23
Vote
Report
Penulis Ign Indra

Chapter 11: Dinding Dan Tulang

Ruang keluarga terasa seperti ruang operasi sebelum prosedur yang rumit. Dingin, senyap, dan tegang. Ibuku duduk di singgasananya—sofa tunggal berwarna gading—dengan postur seorang ratu yang akan menjatuhkan hukuman. Beliau tidak menyalakan TV, protokol tak terucap yang menandakan akan dilakukannya amputasi verbal. Di tangannya ada tablet, layarnya menampilkan artikel Kirana.

“Duduk,” perintahnya, tanpa menatapku.

Aku menurut, duduk di sofa seberang. Jarak di antara kami terasa seperti jurang.

“Ibu sudah baca tulisan perempuan itu,” katanya. Nada suaranya datar, tajam, seperti kilat dari pisau bedah. Beliau sengaja tidak menyebut nama Kirana, seolah nama itu patogen yang bisa menginfeksi rumah kami yang steril. “Dia sengaja mau menghancurkan nama baik keluarga kita.”

Ini dia. Momennya. Aku menarik napas, mencoba memompa keberanian dari paru-paru ke pita suaraku. “Bu,” aku memulai, suaraku terdengar lebih lemah dari yang kuharapkan. “Kirana korban di sini. Dia tidak melakukan apa-apa.”

Ibuku akhirnya mengangkat kepala. Matanya menatapku dengan kedinginan seorang ahli bedah yang akan memotong bagian tubuh yang terinfeksi tanpa ragu. “Korban tidak menulis manifesto untuk dilihat seluruh dunia, Daka. Korban itu diam dan menyesal. Perempuan itu pembangkangan. Dan kamu, dengan diammu, membiarkan dia menyeret nama Prasetya ke dalam lumpur.”

“Itu tidak adil! Yang salah itu Reksa!” Suaraku akhirnya keluar, sedikit lebih keras.

“Reksa sedang diurus,” potongnya tajam, menepis argumenku seolah itu lalat yang mengganggu. Tatapannya semakin menusuk. “Tapi kamu... kamu yang paling mengecewakan. Kamu diam saja. Kamu tidak tahu apa artinya menanggung aib sendirian, Daka! Ibu melakukan segalanya untuk menjaga nama keluarga ini! Segalanya!”

Aku ingin berteriak. Aku ingin membeberkan semua fakta, bahwa \"nama baik keluarga\" adalah konsep abstrak yang ringkih, bahwa Kirana sedang berjuang untuk hidupnya, bahwa Reksa adalah sumber infeksinya.

Tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokanku, seolah ada tumor ganas yang menyumbatnya. Di hadapan tatapan ibuku yang mengandung es dan sejarah, semua tahun pendidikanku, semua logikaku, menguap. Aku kembali menjadi anak kecil berusia sepuluh tahun yang takut pada bayangannya sendiri.

Lumpuh.

Aku berbalik, tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, dan berjalan cepat menuju kamarku. Suara langkahku sendiri terdengar seperti dentang lonceng kekalahan.

BLAM!

Pintu kamarku kubanting sekeras mungkin. Udara di ruangan bergetar. Tapi itu tidak cukup. Rasa frustrasi yang mendidih ini butuh jalan keluar. Dengan geraman yang tertahan, aku menghantamkan tinjuku ke dinding di sebelah pintu.

Bunyi tumpul tulang bertemu plester. Nyeri yang tajam dan panas menjalari buku-buku jariku, naik ke pergelangan tanganku. Untuk sesaat, rasa sakit fisik itu membungkam kebisingan di kepalaku. Aku menatap dinding yang sedikit retak dan tanganku yang memerah.

Impoten.

Itulah diagnosisnya. Aku bahkan tidak bisa melawan ibuku sendiri, bagaimana mungkin aku bisa melawan seluruh dunia untuk Kirana?

Aku merosot ke lantai, bersandar pada pintu, dan menarik laptopku.

JURNAL SI PENGECUT

Tanggal: Tidak Penting.

Waktu: Terlambat.

DIAGNOSIS PRIMER: Sepsis Moral Akut, dengan komplikasi kelumpuhan volunter.

SUBJEK: Diri sendiri.

Aku baru saja selesai membaca artikel Kirana untuk yang kelima kalinya. Setiap katanya berupa sayatan pisau bedah yang presisi, membuka lapisan demi lapisan kepengecutanku. Dia menulis, “Dosa sebenarnya adalah… jutaan mata yang menikmatinya dalam keheningan yang pengecut.”

Keheningan yang pengecut. Dia tidak perlu menyebut namaku. Aku merupakan prototipe dari keheningan itu.

OBSERVASI KLINIS (Kegagalan Intervensi):

Konfrontasi dengan Ibu adalah buktinya. Aku mencoba. Tuhan tahu aku mencoba. Satu kalimat pembelaan untuk Kirana, dan dinding es itu langsung didirikan di hadapanku. Matanya yang dingin… kalimatnya yang ganjil tentang \"menanggung aib sendirian\"... Di hadapannya, semua logikaku hancur. Aku menjadi pengecut. Lagi.

Aku duduk di sini, menatap buku Gray\'s Anatomy, mencoba menghafal empat ruang jantung, tapi satu-satunya suara yang kudengar adalah gema dari hati Kirana yang pecah. Sumpah Hipokrates mengatakan, primum non nocere—pertama, jangan menyakiti. Tapi aku, calon dokter, berdiri di kejauhan saat dunia membakarnya, memegang seember air, tapi terlalu takut untuk maju.

KOMPLIKASI (Internal & Fisiologis):

Ada detak jantung kedua yang menghantuiku. Detak jantung yang belum bisa kudengar, tapi sudah kurasakan keberadaannya. Kirana hamil. Anaknya adalah anakku.

Setiap malam aku mencoba membayangkan menjadi seorang ayah. Tapi gambaran yang muncul hanyalah sosok gelap di sudut ruangan yang hanya bisa menonton. Aku menatap tanganku yang berdenyut nyeri karena membentur dinding—getaran kecil di sana bukan lagi hanya tremor psikologis, tapi manifestasi fisik dari kegagalan moralku.

Aku tidak tahu bagaimana caranya menjadi seorang ayah. Tapi aku lebih takut menjadi pengecut yang akan dikenang anaknya sebagai lubang dalam cerita hidupnya.

PROGNOSIS:

Terminal, jika tidak ada intervensi radikal.

Aku menutup jurnal ini. Aku melihat pantulanku di layar laptop yang gelap. Wajah seorang pria yang sedang belajar membenci dirinya sendiri dengan presisi klinis.

Ini harus berhenti. Aku tidak bisa menyembuhkan lukanya. Tapi aku harus berhenti menjadi keheningan itu. Aku harus bicara padanya. Bukan untuk dimaafkan. Aku tidak pantas dimaafkan.

Ini prosedur darurat. Intervensi bedah pada hati nuraniku sendiri, yang dilakukan tanpa jaminan keberhasilan. Tapi tidak melakukan apa-apa pun, kini, terasa seperti malapraktik.


Other Stories
Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...

Nestapa

Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...

Breast Beneath The Spotlight

Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Download Titik & Koma