32 Detik

Reads
4.1K
Votes
795
Parts
23
Vote
Report
Penulis Ign Indra

Chapter 12: Cinta Dan Kelumpuhan

Ada kehidupan sebelum artikel itu, dan ada kehidupan sesudahnya. Sebelumnya, aku adalah hantu; aku berjalan di koridor kampus dan orang-orang secara aktif berusaha untuk tidak melihatku. Sesudahnya, aku adalah monumen; aku berjalan di koridor yang sama, dan orang-orang menatapku dengan campuran rasa ngeri, kagum, dan kasihan. Menjadi monumen, ternyata, sama saja dehumanisasinya dengan menjadi hantu. Kau tetaplah objek, bukan manusia.

Suatu siang, saat aku berjalan menuju perpustakaan—upaya sia-sia untuk mengejar deadline tugas Teori Komunikasi yang kini terasa seperti relik dari peradaban lain—seorang mahasiswi baru dari fakultasku menghentikanku.

“Kak Kirana, kan?” tanyanya, matanya berbinar dengan ketulusan yang belum ternoda sinisme. “Aku baca tulisan Kakak. Keren banget. Makasih ya, Kak.”

Aku hanya bisa tersenyum tipis dan mengangguk. Dukungan terasa hangat, tapi juga aneh. Rasanya seperti dipuji karena berhasil selamat dari kecelakaan mobil. Kau menghargai empatinya, tapi di dalam hati kau benci karena harus mengalami kecelakaan itu lebih dulu untuk mendapatkannya.

Di sanalah, di antara rak-rak buku yang menjulang seperti gedung pencakar langit yang sunyi—tempat yang sama di mana kami dulu membangun kedaulatan kami—aku melihatnya. Daka.

Dia tidak sedang membaca. Dia hanya berdiri di ujung lorong, menungguku, tampak seperti hantu di museumnya sendiri. Dia tidak terlihat seperti Daka yang kukenal—yang tenang dan percaya diri di balik buku-buku tebalnya. Dia juga tidak terlihat seperti Daka yang panik dan lumpuh dari pertemuan terakhir kami. Dia terlihat seperti versi dirinya yang telah melalui proses penuaan yang dipercepat, lelah sampai ke tingkat seluler.

“Ran,” panggilnya saat aku mendekat. “Bisa kita bicara? Lima menit saja.”

Kami menemukan tempat di sudut baca yang jarang dipakai, di sebelah jendela yang menghadap ke dinding bata yang membosankan. Sebuah zona demiliterisasi. Ruang paling netral yang bisa kami temukan di atas teritori kami yang sudah hancur. Dia tidak mencoba duduk di dekatku. Dia menjaga jarak yang sopan, seolah sadar ada garis patahan geologis yang tak terlihat di antara kami, yang jika dilintasi, akan menelan kami berdua.

“Aku baca tulisanmu,” katanya, memulai. Suaranya serak, seperti sudah berlatih mengucapkan kalimat ini ratusan kali. “Setiap katanya benar. Terutama bagian… tentang keheningan yang pengecut.” Dia menatap tangannya sendiri, seolah sedang membaca diagnosis di sana. “Aku adalah keheningan itu. Aku tidak punya alibi, tidak punya pembelaan. Hanya ada fakta bahwa aku seorang pengecut.”

Aku mendengarkan, dan otakku, yang kini sudah terlatih menjadi analis traumaku sendiri, mulai bekerja. Aku mencatat: dia tidak membuat alasan. Dia tidak menyalahkan ibunya, atau Reksa, atau tekanan dari fakultas. Dia telah melakukan otopsi pada kegagalannya sendiri dan kini sedang membacakan laporannya. Ini baru.

“Aku tidak di sini untuk minta maaf, karena kata maaf itu sudah terasa seperti mata uang yang tidak laku,” lanjutnya. “Aku juga tidak di sini untuk minta dimaafkan. Aku cuma mau kamu tahu… aku melihatmu. Aku mendengarmu. Dan aku malu. Malu pada diriku sendiri dengan cara yang paling fundamental.”

Aku masih diam. Aku teringat kata-kata Dr. Lisa: sistem ini tidak hanya menghancurkan perempuan, ia juga melumpuhkan laki-laki baik yang tidak pernah diajari cara berperang. Di hadapanku, aku tidak lagi melihat monster, atau mantan kekasih. Aku melihat spesimen tragis. Seorang prajurit yang dilatih untuk menyembuhkan luka orang lain, tapi benar-benar buta cara mengobati pendarahan internalnya sendiri. Amarahku padanya, yang tadinya membara, kini terasa seperti bara api yang mendingin. Bukan padam. Hanya berubah bentuk menjadi sesuatu yang lebih rumit, lebih menyedihkan. Menjadi empati yang dingin.

Dia mengangkat kepalanya, akhirnya menatap mataku.

“Apapun yang terjadi selanjutnya,” katanya, dan aku tahu dia tidak hanya bicara tentang video itu. “Aku mau bertanggung jawab. Dengan cara apa pun yang kau definisikan. Bahkan jika itu artinya kamu mau aku menghilang selamanya.”

Saat kata \"bertanggung jawab\" terucap, janin di dalam rahimku bergerak. Tendangan kecil yang terasa jelas. Interupsi fisik. Voting dari satu-satunya pihak ketiga yang pendapatnya penting.

Aku menarik napas. “Aku harus pergi,” kataku. Hanya itu yang bisa kuucapkan.

Aku tidak memberinya pengampunan. Aku tidak memberinya harapan. Aku juga tidak memberinya kebencian. Aku tidak memberinya apa-apa, karena aku tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan padanya.

Aku berdiri dan berjalan pergi, meninggalkannya di antara rak-rak buku yang menjadi saksi bisu awal dan akhir kami. Aku tidak menoleh ke belakang.

Tidak ada yang diperbaiki di antara kami. Jarak itu masih ada, mungkin lebih lebar dari sebelumnya. Tapi saat aku melangkah keluar dari perpustakaan, aku menyadari sesuatu. Aku tidak lagi membencinya. Membenci seseorang butuh energi yang sangat besar. Dan aku, memutuskan untuk menyimpan energiku. Aku akan mengarsipkannya. Memasukkannya ke dalam folder mental berjudul “Daka Prasetya: Sebuah Studi Kasus tentang Cinta dan Kelumpuhan.”

Karena perangku bukan lagi tentang dia. Perangku tentang diriku sendiri, dan tentang kehidupan baru yang sedang tumbuh di dalam diriku. Dan dalam perang itu, aku harus memilih pertempuran mana yang layak diperjuangkan. Dan yang ini, sudah tidak lagi.


Other Stories
Aku Bukan Pilihan

Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...

Dari Luka Menjadi Cahaya

Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...

Nyanyian Hati Seruni

Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...

Hanya Ibu

Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...

Kabinet Boneka

Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...

Download Titik & Koma