32 Detik

Reads
4.1K
Votes
795
Parts
23
Vote
Report
Penulis Ign Indra

Chapter 18: Catatan Kaki Kehidupan Baru

Ada kebohongan manis yang sering kita ceritakan pada diri sendiri: bahwa waktu menyembuhkan semua luka. Itu tidak benar. Waktu tidak menyembuhkan apa pun. Ia hanya seorang birokrat yang terus berjalan, dan kau, dengan tertatih-tatih, belajar untuk mengisi formulir-formulirnya, beradaptasi dengan prosedurnya. Luka itu tetap ada. Ia menjadi bagian permanen dari geografi dirimu, seperti kawah meteorit yang mengubah lanskap selamanya. Kau tidak sembuh. Kau hanya belajar cara menavigasi topografi barumu agar tidak terus-menerus tersandung di lubang yang sama.

Beberapa bulan telah berlalu sejak kelahiran Sakti. Musim hujan telah menyerah pada musim panas yang kering, dan dunia di luar kamarku terus berputar.

Suatu sore, aku membawa Sakti ke taman kota. Taman yang sama di mana aku pernah duduk sendirian, merasa seperti spesimen di bawah mikroskop raksasa. Dulu, setiap sudut taman ini terasa seperti TKP. Sekarang, dengan Sakti yang baru saja menemukan kemampuan untuk tertawa—suara murni tanpa subteks, anomali di duniaku—tempat ini terasa berbeda. Ia hanya taman. Tempat di mana anak-anak mengejar gelembung sabun dan para orang tua menegosiasikan gencatan senjata dengan kelelahan mereka.

Seorang perempuan muda yang duduk di bangku sebelah menatapku. Aku sudah terbiasa dengan tatapan itu dan bersiap untuk mengaktifkan perisai ketidakpedulianku. Tapi kemudian dia tersenyum.

“Kak Kirana, kan?” tanyanya pelan. “Podcast Kakak… episode yang tentang memaafkan diri sendiri… itu menyelamatkan saya. Sungguh. Terima kasih.”

Dia tidak meminta foto. Dia tidak bertanya tentang detail skandal itu. Dia hanya mengucapkan terima kasih, lalu kembali membaca bukunya, memberiku kemewahan untuk tidak perlu merespons lebih jauh.

Aku terdiam, sementara tawa Sakti meledak di sampingku. Ternyata suaraku, yang kukirim ke dalam kehampaan dari stasiun pemancar darurat di kamarku yang sempit, mendarat di suatu tempat. Ternyata kata-kataku menjadi rakit penyelamat bagi orang lain yang juga terdampar. Perasaan itu… lebih baik, lebih nyata daripada standing ovation mana pun.

Malamnya, setelah Sakti tertidur, aku duduk di depan mejaku. Mikrofon murah yang kubeli dengan sisa uang tabungan berdiri di sana, disangga oleh tumpukan buku teori media yang kini terasa seperti remah-remah dari kehidupan lain. Inilah studio “32 Detik Bicara”.

Aku menyalakan rekaman.

“Selamat malam,” aku memulai, suaraku tenang. “Malam ini aku mau bicara tentang perbedaan antara penyembuhan dan kelupaan. Banyak orang berpikir untuk sembuh, kita harus melupakan. Aku tidak setuju. Melupakan itu kemewahan yang tidak dimiliki semua orang. Terutama jika tubuhmu sendiri adalah arsip yang tidak bisa dihapus.”

“Penyembuhan, bagiku, bukanlah tentang menghapus masa lalu. Tapi tentang melakukan kudeta naratif atasnya. Kau tidak bisa mengubah apa yang terjadi padamu, tapi kau selalu bisa memilih makna apa yang kau berikan pada kejadian itu. Kau bisa memilih untuk selamanya menjadi korban dari ceritamu—kata benda yang pasif. Atau kau bisa memilih untuk menjadi penulisnya—kata kerja yang aktif.”

Setelah selesai merekam, aku duduk diam dalam keheningan. Aku membuka emailku. Surat dari Daka masih di sana, di bagian atas, belum terbalas. Sudah lebih dari sebulan. Aku membacanya lagi. Kata-katanya masih terasa sama: pengakuan yang jujur dan menyakitkan dari seorang pria yang sudah dewasa.

Aku menatap foto Sakti yang menjadi latar belakang di layar laptopku. Dia tertidur dengan mulut sedikit terbuka. Dia berhak atas ceritanya sendiri. Cerita yang utuh, serumit apa pun itu. Dan aku adalah kurator pertamanya.

Tanganku bergerak di atas keyboard.

Ke: Daka Prasetya

Subjek: Re: Sebuah Penjelasan, Bukan Permintaan Maaf

Daka,

Emailmu sudah kubaca. Terima kasih atas kejujurannya.

Sakti berhak mengenal ayahnya. Kita bisa mulai dari sini: kau bisa menulis surat untuknya. Tentang apa saja. Tentang harimu, tentang harapanmu, tentang penyesalanmu. Kau juga bisa mengirim foto. Aku akan menyimpannya dalam sebuah kotak, sebagai Arsip Sakti, Volume Satu. Saat dia cukup besar untuk bertanya dan mengerti, aku akan memberikan arsip itu padanya.

Ini bukan pengampunan. Ini adalah logistik. Untuknya.

Kirana

Aku menekan tombol “Kirim” sebelum aku sempat berubah pikiran. Tidak ada perasaan lega yang dramatis. Tidak ada beban yang terangkat. Yang ada hanyalah perasaan tenang yang fokus. Perasaan seorang arsitek yang baru saja meletakkan batu fondasi pertama untuk bangunan yang rumit. Keputusan yang benar, bukan untuk diriku di masa lalu, tapi untuk anakku di masa depan.

Aku mematikan laptop, berjalan ke boks bayi, dan membetulkan selimut Sakti. Aku menatapnya lama. Dunia telah mencoba menulis cerita tentang kami. Cerita tentang skandal, aib, dan dosa. Tapi malam itu, aku sadar, kami sedang menulis cerita kami sendiri. Cerita yang jauh lebih tenang, lebih rumit, dan ditulis dengan bahasa yang mereka tidak akan pernah bisa mengerti.


Other Stories
Rahasia Ikal

Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...

Testing

testing ...

Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...

Kisah Cinta Super Hero

cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...

Mobil Kodok, Mobil Monyet

Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...

Gm.

menakutkan. ...

Download Titik & Koma