32 Detik

Reads
4.1K
Votes
795
Parts
23
Vote
Report
Penulis Ign Indra

Chapter 20: Surat Untuk Hantu

Aku memiliki sebuah kotak kayu kecil sekarang. Sebuah arsip. Kotak yang kubeli dari toko barang bekas, baunya seperti waktu dan kapur barus. Di dalamnya, kusimpan surat pertama dari Daka untuk Sakti. Sebuah amplop cokelat tunggal yang terasa berat oleh semua kata yang tidak bisa ia ucapkan secara langsung. Aku menamainya di dalam hati: Arsip Sakti, Volume Satu.

Sore itu, sambil menatap kotak itu, aku menyadari ironi yang begitu tajam hingga nyaris lucu. Aku, dengan ketelitian seorang arsiparis, sedang sibuk membangun jembatan naratif—sekecil dan serapuh apa pun itu—antara putraku dan ayahnya yang absen. Sementara di dalam diriku sendiri, ada sebuah jurang menganga yang ditinggalkan oleh ayahku, kekosongan yang bahkan tidak pernah kucoba untuk kujembatani. Aku tidak pernah punya surat. Aku tidak pernah punya kotak. Aku hanya punya sebuah nama dan keheningan selama dua puluh dua tahun.

Wira Adiwangsa. Nama itu terasa asing di lidahku, seperti nama seorang tokoh minor dalam buku sejarah yang tidak penting. Dia bukan ayah. Dia adalah variabel yang tidak diketahui dalam persamaan hidupku. Hipotesis yang tidak pernah teruji. Lubang di hatiku yang berbentuk orang yang tidak pernah pulang.

Aku menatap Sakti, yang sedang mencoba meraih jemarinya sendiri dengan ekspresi paling serius di dunia, seolah sedang memecahkan misteri alam semesta. Aku sadar, suatu hari nanti aku harus menceritakan padanya tentang Daka, sebuah analisis komparatif yang rumit tentang cinta dan kegagalan. Dan bagaimana mungkin aku bisa melakukan itu dengan jujur, jika arsip tentang ayahku sendiri hanyalah halaman kosong?

Malam itu, setelah Sakti tertidur, aku membuka laptop. Ini bukan tulisan untuk publik. Ini bukan esai perlawanan. Ini menjadi sesuatu yang lebih sunyi. Laporan investigasi terakhir, yang akan kukirimkan pada hantunya langsung.

Aku berhasil mendapatkan alamat emailnya dari ibuku, setelah percakapan canggung yang hanya berisi lima kalimat dan keheningan selama lima belas menit yang terasa seperti pemberat di dasar lautan.

Ke: wira.adiwangsa@gmail.com

Subjek: Sebuah Laporan, Bukan Tuntutan

Wira,

Aku tidak yakin apakah kau masih ingat namaku. Kirana. Putri dari Sarah Dewanti. Aku menulis ini bukan untuk menagih masa lalu atau meminta penjelasan. Penjelasan, setelah dua puluh dua tahun, mungkin sudah menjadi memori yang tidak penting lagi.

Aku menulis karena aku ingin memberitahumu sesuatu, sebagai sebuah data point. Aku sekarang seorang ibu. Aku punya seorang putra bernama Sakti. Dia sehat, dan matanya mirip mata ibuku.

Menjadi seorang ibu telah membuatku berpikir banyak tentang menjadi seorang ayah. Ayah dari anakku… ceritanya rumit. Dia bukan suamiku. Dia tidak tinggal bersama kami. Tapi dia tidak sepenuhnya hilang. Dia mengirim surat untuk Sakti, surat yang kusimpan dalam kotak kayu kecil. Dia bukan pelindung. Tapi dia juga bukan monster. Dia hanya tumbuh di reruntuhan yang sama denganku.

Aku menceritakan ini padamu bukan agar kau merasa bersalah. Aku menceritakannya karena aku ingin kau tahu, bahwa aku sedang mencoba melakukan intervensi. Memutus rantai keheningan. Rantai ketiadaan. Aku ingin putraku punya cerita yang berbeda, serumit apa pun itu.

Dulu aku sering bertanya-tanya, seperti apa rasanya punya ayah. Sekarang aku tidak lagi bertanya-tanya. Aku hanya tahu seperti apa rasanya tidak punya. Rasanya seperti ruangan kosong di dalam rumah hatimu, yang kuncinya tidak pernah kau miliki.

Hanya itu data yang ingin kusampaikan.

Kirana

Jariku melayang di atas tombol “Kirim”. Aku tidak mengharapkan balasan. Aku tidak mengharapkan permintaan maaf atau reuni yang mengharukan seperti di film-film. Menulis surat ini adalah tujuannya itu sendiri. Memberi suara pada keheningan. Memberi bentuk pada kekosongan. Sebuah tindakan penutupan arsip.

Aku menekan tombol itu.

Email terkirim, melesat ke dalam kehampaan digital, menuju seorang pria yang hanya kukenal sebagai sebuah konsep. Aku tidak merasa lebih baik. Aku tidak merasa lebih buruk. Aku hanya merasa… selesai.

Aku telah mengirim laporan akhir pada hantuku. Dan kini, aku tidak lagi harus menunggunya di persimpangan jalan. Aku bisa mulai berjalan pulang.


Other Stories
Gm.

menakutkan. ...

First Love Fall

Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...

DARAH NAGA

Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...

Hold Me Closer

Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...

Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

Download Titik & Koma