Chapter 1
Claire selalu menyukai kisah Ophelia tentang gadis yang perlahan tenggelam dalam kesedihan. Tak ada yang sadar, ia sedang menulis ulang kisah itu dengan dirinya sendiri sebagai tokoh utama.
? ? ?
Di balkon sekolah lantai dua, gadis itu duduk bersandar pada dinding, lutut tertekuk, matanya fokus pada layar ponsel yang menampilkan kisah yang sedang ia baca.
Suara riuh dari kelas lain terdengar samar, seolah dunia di bawah sana tak ada hubungannya dengan dirinya. Ia terlalu fokus dengan dirinya dirinya sendiri.
Ia menarik napas pelan, jemarinya menggulir layar sekali lagi.
Sendirian di balkon, seperti biasa melewatkan jam pelajaran tanpa rasa bersalah.
Lalu, langkah kaki terdengar dari arah tangga. Pelan tapi pasti, perlahan mendekat. Sebelum sempat menoleh, suara yang sudah ia hafal menggema di sampingnya.
“Sudah kuduga, kamu ada di sini.”
Ia hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap ponsel. Lelaki itu kini berdiri di sebelahnya, bersandar santai pada pagar balkon.
Gadis itu menoleh pelan, bibirnya membentuk senyum kecil seolah tak merasa bersalah sama sekali. Bukannya menjelaskan, ia justru menyapa santai.
“Hai, Edsel,” sapanya ringan, seakan tak mengerti situasi.
Edsel memandangi gadis itu dengan ekspresi tak percaya. Apakah ini lelucon? Ia baru saja menegurnya, Namun yang dia lakukan hanya menyapanya seolah tak terjadi apa-apa.
“Hai, Edsel,” tiru Edsel dengan nada mengejek. “Apa kau pikir ini waktu yang tepat untuk bercanda? Kau berusaha membuat lelucon? Itu tidak lucu, Claire Adhitama.”
Ya, namanya adalah Claire Adhitama, Claire terkekeh pelan, menatap Edsel yang tampak benar-benar kesal.
“Kau terlalu serius, Sel,” ujarnya santai. “Aku cuma butuh udara segar. Ruang kelas terasa terlalu … sesak.”
\"Sesak?” Edsel mengulang, menatapnya tak puas dengan jawaban itu. “Atau kau cuma malas lagi?”
Claire terdiam, lalu mengangkat bahu. “Mungkin dua-duanya.” Ia menatap langit yang mulai dipenuhi awan putih tipis. “Kadang aku cuma butuh berhenti sebentar, tahu? Dengar suara angin, lihat langit. Tanpa guru, tanpa catatan, tanpa siapa pun.\"
Edsel terdiam sejenak. Ada nada jujur dalam suara Claire kali ini, lembut, tapi terdengar lelah. Ia menatap gadis itu dari samping, memperhatikan rambutnya yang berayun pelan tertiup angin.
“Kalau terus begini, kau bisa ketinggalan banyak hal,” katanya, lebih pelan dari sebelumnya. “Aku cuma nggak mau kau menyesal nanti.”
Claire menoleh, menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil. “Edsel selalu bilang begitu, tapi anehnya, Edsel juga yang paling sering datang ke tempatku saat aku bolos.”
Edsel terdiam. Ia ingin menyangkal, tapi kalimat itu membuatnya kelu. Ia hanya berdiri di sana, menatap Claire yang masih tenggelam dalam dunianya sendiri.
Tatapannya kemudian jatuh pada ponsel Claire yang masih menyala di tangannya. Hamlet karya William Shakespeare judul yang terpampang di layar. Kisah tentang Pangeran Hamlet yang ingin membalas dendam atas kematian ayahnya, dibunuh oleh pamannya sendiri, Claudius, yang kemudian menikahi ibunya dan mengambil alih tahta Denmark. Setidaknya, begitulah yang Edsel tahu.
Claire menceritakan sedikit kisah itu tempo hari dan sejak saat itu Edsel tahu gadis di depannya ini sudah seperti maniak kecil pada cerita itu. Entah sudah berapa kali ia membacanya ulang.
“Lagi?” tanya Edsel, masih menatap layar ponsel Claire.
Claire menoleh, mengikuti arah pandangannya, lalu tersenyum.
“Ceritanya menarik, aku menyukainya,” ujarnya ringan.
Menarik. Selalu itu dan hanya itu yang Claire katakan setiap kali membahas kisah tersebut. Edsel tidak habis pikir apa yang menarik dari cerita serumit itu? Bukankah kebanyakan gadis lebih menyukai kisah romantis, bukannya tragedi yang berat dan kelam seperti Hamlet?
Claire menekan layar, keluar dari aplikasi bacanya. Wallpaper ponselnya kini terlihat jelas, seorang wanita bergaun panjang berwarna pucat, rambut pirangnya terurai, terapung di air. Ophelia, salah satu tokoh wanita dalam Hamlet.
Edsel tahu Claire sangat menyukai karakter itu. Hanya saja, ia tak pernah tahu alasannya.
Tiba-tiba Claire berdiri, membuat Edsel spontan ikut menegakkan tubuhnya.
“Aku terkadang berpikir, Edsel…” suaranya pelan, tapi cukup jelas di antara hembusan angin siang. “Bagaimana kalau ternyata kisahku berakhir seperti Ophelia?”
Edsel menatapnya lama. Tak ada kata yang keluar. Ia sudah sering mendengar kalimat seperti itu dari Claire entah sudah ke berapa kalinya dan setiap kali, rasanya tetap menyesakkan.
Claire menatap langit, seolah berbicara pada awan yang perlahan bergerak.
“Tidak ada yang tahu pasti apakah Ophelia benar-benar bunuh diri atau tidak,” gumamnya. “Katanya dia tenggelam karena memetik bunga, tapi sebagian percaya dia sengaja membiarkan dirinya hanyut. Mereka bilang dia gila, kehilangan kewarasannya setelah kekasihnya membunuh ayahnya sendiri. Pada akhirnya, kesedihan merenggutnya. Tapi mungkin … mungkin di saat-saat terakhirnya, dia akhirnya tenang. Mendengar gemericik air, kicauan burung dan dunia yang perlahan memudar.”
Edsel masih menatapnya, seakan berusaha menebak isi pikirannya. Ada sesuatu dalam nada suara Claire barusan. Lembut, tapi menyeret perasaan ke tempat yang sepi dan dingin.
“Claire…” akhirnya ia bersuara, tapi gadis itu sudah lebih dulu menoleh padanya, tersenyum tipis. Senyum yang entah kenapa terasa menenangkan sekaligus membuat dada sesak.
“Aku nggak akan tenggelam, Edsel,” katanya pelan, seolah tahu apa yang sedang dipikirkan lelaki itu. “Aku cuma … ingin tahu seperti apa rasanya tenang seperti Ophelia? Tapi aku nggak seputus asa itu.”
Angin berhembus, membawa aroma dedaunan basah dan suara jauh dari lapangan yang sedang ramai. Claire menyibak rambutnya yang menutupi wajah, lalu berbalik berjalan menuju tangga.
Other Stories
Luka
LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Katamu Aku Cantik
Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...