Pertemuan Di Ujung Kopi

Reads
22
Votes
0
Parts
1
Vote
Report
pertemuan di ujung kopi
Pertemuan Di Ujung Kopi
Penulis Karindaanri

Chapter 1

Bel di atas pintu kafe berbunyi, nadanya nyaring namun hangat, bersatu dengan aroma kopi panggang yang langsung memenuhi udara. Suara mesin espresso mendesis di belakang konter, mengiringi denting lembut sendok yang beradu dengan gelas. Lampu gantung berwarna kuning temaram meneteskan cahaya lembut ke meja-meja kayu, sementara hujan tipis di luar menambah rasa teduh pada ruangan itu.

Sebastian yang sedang menyusun gelas di rak mendongak, seketika wajahnya memucat saat melihatmu. 

“Astaga….” desisnya lirih, seolah berharap kamu cuma bayangan.

Ini sudah menjadi kejadian sehari-hari. Kamu –Aira- selalu datang ke kafe, memesan minuman yang sama. Sementara Sebastian, barista yang menjaga konter, sudah separuh muak dengan kehadiranmu. Dia bahkan tak repot menyembunyikan rasa tidak senangnya di balik senyum palsu. Saat kamu melangkah mendekati konter, ia memelototimu.

“Aira,” sapanya datar dengan gigi terkatup . “Ada yang bisa kubantu hari ini? Ingin memesan apa?” 

Aira diam, matanya menatap papan menu di atas meja kasir. Ada begitu banyak varian kopi yang tertera. Namun, sesuatu menarik perhatian kali ini. Sebuah tulisan baru “Coconut Latte” matanya menatap lama, dalam, seolah sedang menimbang sesuatu. 

“Coconut latte … apakah itu enak?” tanyanya tanpa berpaling dari papan menu.

Sebastian, barista di balik meja, ikut mendongak melihat menu yang sama. Menu tersebut memang varian terbaru dari kafenya yang baru saja rilis beberapa hari ini, belakangan ini juga cukup populer. Ia tersenyum kecil, mencoba menjelaskan.

“Menurutku enak, varian terbaru ini cukup disukai pelanggan. Rasanya segar, ada sentuhan buah tropis dengan susu kelapa. Mau coba?”

Aira tampak berpikir sejenak, lalu menggeleng pelan.

“Seperti biasanya saja. Caffe latte, satu. Tambahkan es sedikit, jangan terlalu banyak dan jangan terlalu manis.” Ia mengucapkannya seperti mantra yang sudah dihafal. Singkat, datar dan penuh kebiasaan.

Sebastian hampir melotot, ia menarik napas panjang, menahan diri untuk tidak mengomel. Kenapa ia bertanya kalau ujungnya tetap pesan yang sama? Pikirnya. Ia memaksa tersenyum.

“Baiklah, satu caffe latte, es sedikit, tidak terlalu manis. Ada pesanan lain?”

Aira menggeleng lagi.

“Baik, silakan cari tempat duduk, nanti pesanan akan diantar oleh pelayan kami.”

Aira mengangguk singkat, mengucapkan terima kasih, lalu melangkah menuju bangku favoritnya, tempat yang selalu ia pilih setiap kali datang ke kafe itu. Ia mengeluarkan buku dari tas, sebatang pensil, lalu mengenakan headphone. Jari-jarinya mulai menari diatas kertas, menulis satu demi satu kalimat seperti sedang menganyam dunianya sendiri.

Beberapa menit berlalu dalam kesunyian yang hanya diisi bunyi hujan diluar dan percakapan samar pelanggan lain. 

“Permisi Kak, kopinya,” suara lembut seorang pelayan memecah fokus. 

Aira yang volume musiknya tidak begitu keras, menoleh dan tersenyum tipis. 

“Terima kasih,” ucapnya singkat, lalu kembali ke dunianya.

Namun, beberapa saat kemudian, jemarinya berhenti, idenya hilang begitu saja. Ia mendesah pelan, meletakkan headphone di meja, lalu mengangkat cangkirnya. Uap kopi naik pelan, menebar aroma lembut yang membuat pikirannya terlempar ke masa kejadian seminggu lalu, tepat di tempat yang sama.

Di sana, di bangku pojok seberang, pernah duduk seorang pria. Ia selalu datang dengan buku ditangannya dan hampir sering pacarnya muncul hanya untuk marah-marah tanpa alasan yang jelas. Aira tak tau kenapa matanya selalu tertuju kearah mereka, mungkin karena wajah pria itu yang selalu tampak lelah, tapi tenang, bahkan di tengah amarah kekasihnya.

☕☕☕


Hari itu, di tempat yang sama, Aira duduk sambil menulis di bukunya. Ia menunggu kopinya cukup lama. Tangannya mengetuk meja kecil di depannya, sementara matanya terus melirik ke arah kasir dan barista.

Sudah dua puluh lima menit berlalu, tumben sekali pesanan datang selama ini. Ia hampir berdiri untuk menegur pelayan. Namun, tepat saat itu, seorang pelayan datang sambil menunduk sopan.

“Maaf, Kak, menunggu sangat lama. Tadi sempat ada insiden, kopinya tumpah karena tertabrak orang. Tapi, orang tersebut sudah menggantinya,” jelas pelayan itu sedikit canggung.

Aira menghela napas pelan, lalu tersenyum. “Oh nggak apa-apa. Terima kasih.\"

Aira tidak bertanya siapa yang menggantinya, karena baginya itu tidak penting, yang terpenting kopinya sudah berada di mejanya.

Ia kembali duduk, menikmati kopi yang akhirnya datang. Rasanya masih sama seperti biasanya. Setelah menulis beberapa kalimat terakhir di bukunya, Aira berdiri menuju kasir. Namun, saat hendak membayar, kasir itu tersenyum dan berkata.

“Pesanannya sudah dibayar, Kak.”

Kali ini rasa penasarannya muncul, siapa yang membayarnya? Apakah orang yang sama menabrak kopinya? Pasti, tentu saja. Jika bukan orang itu siapa lagi?

Aira mengerutkan kening. “Sudah dibayar? Oleh siapa?”

Kasir itu menunjuk ke arah meja pojok seberang, pandangan Aira mulai mengikuti arahan kasir. Mata Aira melebar.

Tempat pria itu duduk, pria yang selama ini sering Aira perhatikan diam-diam. Pria yang hanya ia lihat dari kejauhan. Seperti biasa, ia asik membaca buku, tenggelam dalam dunianya sendiri, seolah tak peduli pada hiruk pikuk sekitar.

Aira menatapnya sejenak, menimbang. Ia bisa langsung saja pulang … tapi rasanya sangat tidak sopan jika tidak mengucapkan terima kasih terlebih dahulu. Ia menarik napas pelan, memberanikan diri untuk mendekat.

“Halo, permisi. Ah, maaf … perkenalkan, saya Aira,” ucapnya kaku. Begitu kalimat itu keluar, Aira langsung menyesal. Ya ampun, kenapa perkenalannya malah terdengar bodoh? Pikirnya panik.

Pria itu berhenti membaca, menutup bukunya perlahan. Lalu mendongak menatap Aira. Tatapannya tenang, sedikit bingung, tapi hangat. Ia berdiri, menautkan senyum kecil di bibirnya.

Aira menunduk, berusaha menutupi kegugupannya. “Untuk kopinya … terima kasih karena sudah dibayar.”

Pria itu tersenyum lembut. “Santai saja, sudah menjadi kewajibanku, karena tidak sengaja menumpahkan kopimu tadi. Seharusnya aku yang meminta maaf. Aku Devan, salam kenal ya.”

Aira mendongak, matanya bertemu dengan mata pria itu. Sekilas, waktu seperti berhenti di antara aroma kopi dan suara musik lembut dari pengeras suara kafe. 

Namun, belum sempat Aira membalas, suara bentakan memecah suasana.

“Jadi ini alasannya kamu sering kesini? Karena perempuan ini?”

Aira menoleh, ya, Aira mengenal wanita tersebut. Wanita yang berdiri di hadapan mereka saat ini merupakan pacar Devan. Wajahnya merah karena marah. Tatapan orang-orang di kafe mulai beralih pada mereka.

“Aku tidak tau apa maksudmu, tapi-“

“Pelakor!” Kata itu meluncur tajam sebelum Aira sempat menjelaskan.

Dunia serasa berhenti sejenak. Aroma kopi yang hangat kini berubah getir di tenggorokannya. Ia hanya bisa menatap Devan yang berusaha menenangkan kekasihnya, sementara dirinya melangkah mundur meninggalkan kafe yang tiba-tiba terasa terlalu sempit untuk bernapas.


Other Stories
Separuh Dzrah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...

Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )

Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...

Bad Close Friend

Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...

...

Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Keikhlasan Cinta

6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...

Download Titik & Koma