Bayangan Malam

Reads
22
Votes
0
Parts
1
Vote
Report
Bayangan malam
Bayangan Malam
Penulis Aster Kayu

1. Hutan Yangmengingat Darah

Hutan di pinggiran kota itu tidak pernah benar-benar sunyi.Daun-daun basah bergesekan satu sama lain, ranting patah di bawah langkahtergesa, dan napas terengah yang terdengar terlalu keras di telinga sendiri.Malam menggantung rendah, menekan dunia dengan kegelapan yang pekat dan lembap.Riel berlari. Sepatunya menghantam tanah berlumpur, hampir tergelincir diakar pohon yang mencuat. Paru-parunya terasa terbakar, tenggorokannya kering,dan setiap tarikan napas membawa rasa amis ke dalam mulutnya.


Tubuhnya penuh luka.Memar ungu menggelap di rahangnya, darah kering menempel dipelipis dan leher, kausnya robek di bagian bahu. Rasa sakit datang terlambat,berlapis-lapis, seolah tubuhnya baru sekarang menyadari bahwa ia hampir hancur.Beberapa jam yang lalu, ia terlibat perkelahian jalanan yang seharusnya tidak pernah terjadi. Berpikir bahwa malam ini akan berakhir seperti biasanya. Ia salah. Langkah-langkah berat terdengar di belakangnya.

Riel memaksa dirinya berlari lebih cepat, meski penglihatannya mulai berkunang-kunang. Setiap detik terasa seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tidak ingin ia hadapi. Seseorang yang tiba-tiba muncul membuat Riel berhenti mendadak,membuat napasnya tersangkut di dada. Menguatkan rasa sakit di kakinya.Cahaya bulan yang terpotong dedaunan memperlihatkan siluetseorang pria berdiri tenang di tengah jalur setapak, seolah ia sudah menunggu di sana sejak awal. Sebelum Riel bisa mundur, bayangan lain bergerak. Empat orang mengepungnya dari berbagai arah. Mereka tidak terburu-buru. Tidak ada teriakan, tidak adaancaman berisik. Cara mereka mendekat terlalu rapi, terlalu terkoordinasi,bukan gaya berandalan biasa.

Riel mengepalkan tangan, meski lengannya gemetar. 

“Lari sejauh itu hanya untuk berakhir di sini,” Suaranya tenang. Terlalu tenang.

Pria didepannya melangkah maju satu langkah, memperlihatkan topeng yang dikenakannya. Topeng wajah kelinci dengan telinga kiri yang patah.

“Selesaikan tugasmu. Aku masih punya banyak urusan.”

Desakan pria dibelakangnya membuat seseorang di depan Riel melepaskan topengnya. Iris biru muda itu terlihat sangat indah di bawah cahaya rembulan.Tapi keindahan itu membawa kejutan besar untuk Riel. Matanya melebar, napasnya tercekat.

“Davin…?” 

Nama itu keluar begitu saja, nyaris tanpa suara. Pria didepannya tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai mata.

“Kau selalu pandai melarikan diri, Riel.” Riel mundur satu langkah.

Tanah basah membuat tumitnyatergelincir hampir terjatuh. 

“Kenapa…?” Suaranya pecah. “Kenapa kamu ada di sini?” 

Davin tidak langsung menjawab. Tangannya terangkat perlahan dan dari udara kosong, seolah ditarik dari dimensi lain, sebuah anak panah putih keperakan muncul di genggamannya. Riel sedikit terkejut. Entah sejak kapan, bagian dari dirinya tahu bahwa Davin bukanlah orang biasa. Ada sesuatu yang selalu terasa ganjil pada Davin. Terlalu tenang, terlalu waspada, terlalu hadir disetiap titik penting hidupnya. Davin menatap anak panah itu sejenak, lalu kembali menatapRiel.

“Maafkan aku," suaranya yang lirih membuatnya terdengar seperti sebuah penyesalan.

Sebelum Riel bisa bergerak, anak panah itu melesat. Rasa dingin menghantam dadanya, diikuti nyeri tajam yang membuat seluruh dunia terbalik. Riel terjatuh, punggungnya menghantam pohon, napasnya terhempas keluar dari paru-paru. Suara di sekelilingnya memudar ditengah gelapnya langit yang berputar. Bayangan empat orang itu berdiri diatasnya, siluet mereka kabur. 

“Selamat, karena telah menyelesaikan tugasmu Davin.” Puji salah satu dari mereka.

Davin tidak menjawab. Ia hanya menatap tubuh Riel yang terbaring diam, meneteskan air mata. Hening. Salah satu dari mereka menepuk bahunya, Davin hanya tetap diam.

"Aku akan menyusulmu nanti." Setelah mengatakan itu mereka bergegas pergi. Tanpa menyadari apa yang sedang mendekat kearahnya. Perasaan bersalah itu hadir kembali tapi tanpa rasa penyesalan yang sama. Setidaknya ia bisa menghindari kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Tangan Davin terulur untuk menyentuh Riel, tapi sebuah bayangan hitam menahannya. Bayangan kecil yang semakin membesar, membentuk siluet seseorang.

"Raiz," bisikan itu membuat udara menjadi dingin, berat, menekan dada siapa pun yang berdiri di sana.

Sebuah tangan muncul dari bayangan. Sosok tinggi bangkit dari kegelapan, matanya menyala ungu gelap, wajahnya dingin dan marah dengan cara yang nyaris tidak manusiawi. Ia menatap Riel yang tak sadarkan diri.

Dan di tanah yang basah oleh darah dan kenangan, takdir yang lama terkubur akhirnya bangkit kembali. Kisah cinta berujung tragedi, terpisahnya dua saudara.



Other Stories
Mr. Perfectionist

Arman dan Audi sebenarnya tetangga dekat, namun baru akrab setelah satu sekolah. Meski ser ...

Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

November Kelabu

Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

Cinta Di Ujung Asa

Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...

Download Titik & Koma