Coincidence Twist

Reads
52
Votes
3
Parts
3
Vote
Report
Coincidence twist
Coincidence Twist
Penulis Isnadee

2. Become A Suspect


"BRAKK!"

Pintu ruang ekskul jurnalis terbuka dengan keras, menimbulkan suara berdebam yang sontak mengundang atensi dari seorang laki-laki yang tengah duduk di sofa ruang tersebut.

"Heh, Hethaniel, pasti lo, kan, yang posting berita tentang gue ke dark document?!"

Hethaniel Sebasta Dirga, siswa Luminexia High School, anggota ekstrakulikuler jurnalis sekaligus anggota OSIS, dan teman satu kelas Sera, tak sontak menoleh begitu Sera membuka pintu sembari meneriakkan namanya.

"Mana buktinya, hah? Bisa-bisanya ya, lo, posting hoaks tanpa bukti!" Sera meninggikan suaranya penuh kesal. Kedua netranya menatap Ethan dengan nyalang seolah ingin mencakarnya hidup-hidup bak macan mengamuk.

"Kalau ada bukti bukan hoaks lagi namanya, Ra." Entah sejak kapan Calvin mengikuti Sera, tahu-tahu ia telah berada di belakang gadis itu dan membalas ucapannya.

Sera melirik tajam ke arah Calvin. "Lo bisa diam dulu, nggak?"

"Nggak bisa orang gue punya mulut," balas Calvin yang sontak membuat Sera menggeram kesal. Ia hampir saja memukul laki-laki itu jika bukan karena suara Ethan yang terdengar dan menghentikannya.

"Lo terekam jelas di CCTV sekolah, masih bilang itu hoaks?"

"Waktu itu gue pulang latihan teater, dan tiba-tiba ada suara dari ruang guru makanya gue samperin dan ternyata ada orang yang bakar sesuatu di sana."

Ethan meraih ponsel miliknya dari atas meja, ia mengulurkan benda tersebut dan langsung diambil alih oleh Sera. Sebuah video terputar, dan ini adalah rekaman CCTV yang menampilkan saat Sera memasuki ruang guru dengan hati-hati dan keluar dari ruang tersebut dengan tergesa-gesa.

"Nggak ada orang lain yang keluar dari sana kecuali lo," ujar Ethan.

Sera menggeleng dengan cepat. "Nggak, nggak mungkin. Pasti ada yang salah sama rekaman ini. Penyusup itu jelas-jelas keluar lewat pintu juga, gimana bisa cuma gue doang yang kena CCTV?" Ia menyangkalnya.

"Rekaman ini nggak dimanipulasi sama sekali, Ra. Lihat waktunya," ujar Ethan lagi, ia menunjuk tanda waktu di rekaman tersebut.

"Penyusup itu keluar dari pintu ruang guru, dia nggak tertangkap CCTV dan rekamannya nggak dimanipulasi, gue tahu satu hal." Calvin menggerakkan kepalanya maju yang secara otomatis membuat Sera dan Ethan ikut mendekat.

"Penyusup itu ..." Calvin berbisik pelan, dengan atmosfer senyap yang menyelimuti ruangan tersebut, ia seolah tengah menceritakan sebuah kejadian paling horror yang pernah ada.

"Dia apa?" tanya Sera setengah berbisik, sepertinya ini rahasia. Ia telah siap mendengar opini lain dari Calvin.

"Dia pasti ..."

"Kalian ngomongin ap-"

"SETAN!"

Calvin berteriak terkejut yang sontak membuat Sera memukul bahunya dengan keras. "Sial, lo! Ngagetin, tahu nggak?!"

"Kok gue sih yang salah, Imel, noh, tiba-tiba datang, mana nepuk bahu gue lagi, siapa yang nggak kaget coba," balas Calvin membela dirinya sendiri. Ia menunjuk Imelda yang baru saja datang memasuki ruangan.

Menyadari semua atensi teralih ke arahnya saat ini, Imelda Bianca Renna, siswi kelas XII BAHASA-1, sekaligus anggota OSIS dan anggota ekstrakulikuler Jurnalis itu menatap ketiga temannya dengan serius.

"Nggak ada setan di sekolah ini, dan yang terpenting ..." Imelda beralih menatap Sera yang juga masih menatapnya.

"Lo dipanggil ke ruang guru BK," ujarnya.

Sera menghela napas panjang. Ia menatap Ethan yang masih duduk di tempatnya. "Tanggung jawab nggak, lo, Than? Lo udah rusak nama baik gue dengan postingan itu."

"Nggak ada hubungannya BK dengan postingan itu di saat para guru nggak tahu adanya dark document. Artinya, mereka udah tahu ulah lo kemarin malam."

"Bukan gue yang nyusup, bukan gue yang bakar file-nya. Gue cuma-"

"Lo jelasin aja semuanya ke guru, bukan ke kita," balas Imelda, memotong kalimat yang Sera lontarkan.

Tak langsung menjawab, Sera menatap Imelda dengan sebuah kerutan di keningnya. Dari nada bicara yang ia temannya itu lontarkan, ia bisa merasa bahwa Imelda tidak tengah memihaknya.

"Lo juga percaya gue yang menyusup ke ruang guru, Mel?"

"Kalau bukan lo siapa?" Imelda balas bertanya.

"Bentar ... atau ... bukan Ethan yang posting berita itu ke dark document, tapi, elo ...?"

Lengang. Sebuah ruang di mana empat orang murid berpijak di atasnya itu terasa hening hanya untuk beberapa saat hanya karena menunggu balasan dari Imelda. Apakah itu benar? Imelda tak menjawab, namun keheningan yang ia berikan, menjelaskan semuanya.

"Mel ..." Sera berjalan mendekat ke arah Imelda. "Bukan lo, 'kan, yang posting? Itu semua ulah Ethan, kan?"

Mendengar namanya disebut, Ethan lantas memalingkan wajah. Ia tak menatap ke arah Sera maupun Imelda. "Mending lo ke ruang BK sekarang sebelum disamperin," katanya.

"Mel?" Namun suara Ethan tak Sera hiraukan. Ia masih menatap temannya itu dengn serius.

"Gue temen dekat lo, Mel ..."

"Terkadang hal seperti itu bukanlah apa-apa bagi seseorang yang berurusan dengan dunia jurnalistik, Sera," ujar Calvin pelan, kali ini ia tak ingin berkata dengan tidak serius. Ia menarik lengan Sera untuk keluar dari ruang tersebut.

"Gue anterin lo ke ruang BK sekarang," ujarnya.

Sera tak melawan, ia mengikuti langkah Calvin menuju ruang BK. Menuju sebuah pertanyaan penuh tuntutan yang terasa mengintimidasinya.

***

"Mau Bapak jelaskan situasinya, atau kamu mau sukarela bercerita?" Pak Darto, pria paruh baya berstatus guru BK itu membuka suara, memecah lengang di ruangan bergorden merah tersebut.

"Saya saja," balas Sera, ia tak ingin ragu sedikitpun meski tatapan penuh intimidasi terasa menusuknya.

"Ibu mohon katakan dengan jujur, okay?" Perempuan bernama 'Arumi' yang menyandang status sebagai wali kelas XII Bahasa-1 itu berkata sembari menatap Sera, meminta anak didiknya untuk mengatakan semuanya dengan jujur.

Sera mengangguk. Ia akan mengatakan semuanya, dengan jujur, tanpa melewatkannya secuil detail pun.

"Malam itu, saya baru saja selesai berlatih teater dan berniat langsung pulang, namun saya mendengar suara dari ruang guru, saya penasaran dan pergi ke sana buat memastikan. Saat saya datang ke sana, pintu sudah tidak terkunci dan ada orang lain di sana, dia memakai baju berwarna hitam dan dia membakar sesuatu di sana."

"Kamu lihat wajah dia?" tanya Bu Arumi pelan.

Sera menggeleng. "Saya tidak sempat melihatnya, tapi menurut penglihatan dan tebakan saya, dia adalah seorang laki-laki."

"Dari pintu bagian mana dia pergi setelah melihat kamu?" tanya Pak Darto, kedua netranya menatap Sera dengan lekat, tak ingin melihat sedikit detail kebohongan pun yang Sera perlihatkan.

"Pintu utama, dan-"

"Namun melalui rekaman CCTV, hanya ada kamu yang keluar dari sana."

Sera menggeleng pelan. "Tapi saya yakin seharusnya tidak hanya saya yang tertangkap kamera CCTV. Saya yakin video rekaman ini dimanipulasi."

"Dimanipulasi?"

Sera mengangguk. "Iya, Pak, saya yakin, dunia ini penuh teknologi canggih sekarang."

"Jika rekaman CCTV ini terbukti tidak dimanipulasi, artinya, kamu yang memanipulasi dengan 'wajah teater' itu, hm?"

"M-maksud Bapak?" Kening Sera berkerut tak paham.

"Video bisa dimanipulasi dengan teknologi yang canggih, dan ekspresi bisa dibuat-buat dengan status kamu sebagai anggota ekskul teater." Pak Darto menyilangkan lengan di depan dadanya. "Opsi mana yang salah untuk kasus kamu ini, hm?"

Sera terdiam di tempatnya. Ia percaya pada dirinya sendiri pada kasus ini, namun, orang lain mungkin hanya akan percaya pada video rekaman yang membuktikan tak ada orang lain selain dirinya.

"Bagaimana, Bu Arumi?" Pak Darto menatap Bu Arumi sejenak.

Bu Arumi menyandarkan kedua sikunya ke tepian meja dan menatap Sera. "Kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan, Sera?"

"Tentu, saya sama sekali nggak berbohong," balasnya. "Saya benar-benar melihat penyusup itu, memakai pakaian hitam, dan membakar file di ruang guru."

"Selain pakaiannya, apa lagi dia pakai seingat kamu?"

"Selain itu ..."

"Tidak ada, Bu Arumi, murid kamu ini hanya beralibi. Laki-laki berpakaian hitam itu hanya ada dalam ceritanya, bukan dalam kenyataannya."

"Pak Darto?" Bu Arumi menatap guru seniornya itu dengan lekat. Ia merasa apa yang Sera katakan memiliki kebenaran meski belum terungkap.

Namun, laki-laki paruh baya itu justru terlihat tak ingin tahu dan kembali menatap ke arah Sera. "Dan apa kamu tahu apa yang kamu bakar?"

"Saya tidak membakar apapun di ruang guru," balas Sera membela diri.

Pak Darto menatap Sera dengan senyum masam di wajahnya. "Apapun itu, kamu tahu apa dibakar?"

Sera tak menjawab. Jangankan tahu berkas apa yang penyusup itu bakar di ruang guru, wajah penyusup itu sendiri ia pun belum mengetahuinya. Semuanya terasa begitu cepat untuk ia ceritakan dan ketahui detail kejadiannya.

"Proposal kreativitas teman kamu, Imelda."

Jawaban itu terasa bagai palu yang begitu keras memukulnya. Proposal milik Imelda?

"Dilihat dari raut wajah kamu, sepertinya kamu tidak tahu, heh?"

Sekali lagi, jangankan tahu bahwa benda yang dibakar oleh penyusup itu adalah proposal milik Imelda, ia bahkan tidak tahu jika Imelda membuatnya. Kini ia paham mengapa temannya itu terlihat percaya pada rekaman video CCTV alih-alih berpihak padanya.

"Saya akan buktikan."

"Buktikan apa?"

Sera mendongakkan wajahnya, menatap lurus ke arah Pak Darto dan Bu Arumi yang menatapnya dengan tegas.

"Saya akan membuktikan, bahwa penyusup itu bukan saya, namun laki-laki berpakaian hitam lah yang melakukannya. Entah cepat atau lambat, saya akan mengusahakan diri saya untuk berhasil membuktikannya."

Tak ada sorot keraguan sedikit pun di balik tatapan mata Sera kala ia melontarkan kalimat tersebut. Karena ia tahu, ia tak berhak mengakui hal yang tak ia lakukan sama sekali. Apa bahasanya? Menjadi kambing hitam untuk seseorang? Kalimat itu terdengar begitu konyol di kedua telinganya.

"Karena itu, saya mohon, berikan saya waktu."



Other Stories
Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...

Hold Me Closer

Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...

Buku Mewarnai

ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...

Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Membabi Buta

Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Download Titik & Koma