Coincidence Twist

Reads
52
Votes
3
Parts
3
Vote
Report
Penulis Isnadee

1. The Dark Document


Sebuah mobil hitam melaju pelan, membelah jalanan kota metropolitan yang mulai ramai oleh aktivitas para penduduk. Suara klakson beberapa kali nyaring terdengar kala lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Hari senin di pagi hari, orang-orang seolah kehabisan kesabaran mereka hanya karena jalanan yang ramai.

Di dalam mobil tersebut, seorang gadis berambut lurus sepunggung tampak duduk dengan tenang sembari menatap layar ponselnya. Ia tak terusik sama sekali dengan kebisingan kota di sekitarnya. Baginya, itu adalah hal yang biasa.

"Hari ini Mama pulang larut."

Perempuan paruh baya yang duduk di balik kemudi berkata dengan pelan, memecah keheningan di dalam mobil tanpa menatap lawan bicaranya.

Gadis dengan badge name bertuliskan 'Anasera Karalyn' di seragam sekolahnya itu menatap ibunya dengan singkat. Ia hanya mengangguk sebagai jawaban. Tak perlu bertanya mengapa ibunya akan pulang larut malam. Apa lagi jika bukan karena lembur? Mengejar deadline berita terbaru di lingkungan sekitarnya sudah seperti makanan sehari-hari baginya.

Sera tahu, ibunya, Amyneta Kara, adalah seorang yang begitu sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang jurnalis. Mengejar berita terbaru yang masih hangat di sekitarnya adalah hal yang cukup sulit, namun harus tetap dilakukan oleh Amy.

Percakapan singkat yang terasa beku itu berlangsung dengan singkat. Keduanya terlihat tak ingin membuka suara kembali. Amy yang terus fokus pada kemudinya dan Sera yang diam dalam senyap sembari memainkan ponselnya.

Tak lama kemudian, mobil yang mereka kendarai berhenti di depan gerbang sekolah bertuliskan 'Luminexa High School'. Sebuah nama sekolah yang terdengar begitu mewah, elegan, dan futuristik bagi sebuah sekolah yang cukup elite dan bergengsi.

Sekolah yang telah berdiri sejak sepuluh tahun ini secara turun-temurun, dari tahun per tahun masih menjadi topik hangat para siswa SMP kelas akhir. Sekolah ini adalah sekolah yang lebih dari pantas untuk dijadikan sebagai sebuah tujuan.

"Belajar dengan benar, okay?" ujar Amy saat putrinya mengecup punggung tangan kanannya dengan singkat.

"Iya, Ma," balas Sera, ia lantas membuka pintu mobil dan turun. "Mama hati-hati di jalan, ya, dah!"

Amy mengangguk singkat dan beranjak pergi, meninggalkan pelataran Luminexa High School dengan mobil hitamnya.

Sera melangkah menuju ruang kelasnya. Ia tak tahu apa yang akan terjadi hari ini. Namun mengingat hal yang ia lihat dua hari lalu pada malam hari di sekolah ini, ia lantas bertanya dalam benaknya. Apakah ada orang lain yang mengetahui akan hal tersebut selain dirinya?

Entahlah, Sera tak yakin akan hal tersebut.

"Oi! Sera! Good morning!" Sapaan penuh ceria itu membuat Sera tersenyum. Seorang laki-laki menatapnya dengan sebuah senyum lebar di wajahnya.

"Tumben nggak telat," ujar Sera begitu menghampiri laki-laki tersebut.

Arsenio Calvin, atau akrab Sera panggil 'Calvin' itu adalah teman satu kelas sekaligus teman satu ekstrakurikuler dengannya, kelas XII Bahasa-1 dan ekstrakulikuler teater. Mereka telah mengenal dengan baik satu sama lain saat mulai bergabung dengan ekstrakulikuler tersebut. Calvin, laki-laki dengan senyum ramahnya itu adalah putra dari pemilik sekolah ini. Laki-laki yang orang pikir harus memenuhi setiap permintaan orang tuanya, justru adalah orang yang tak pernah peduli dengan apapun di sekitarnya. Meskipun orang-orang segan dengannya, ia selalu bersikap santai seolah ia bukanlah putra dari pemilik sekolah ini.

"Dih, ngejek banget lo jadi orang," balas Calvin tak terima.

Sera mengedikkan bahunya dengan acuh tak acuh. "Emang gitu kenyataannya."

Calvin mendengus sebal. Sejurus kemudian, tatapannya berubah serius ke arah Sera. "Lo udah tahu hot news sekolah nggak?"

"Apa?" Sera balik bertanya.

"Masak lo nggak tahu, sih?"

"Ya apa emangnya?"

Calvin tersenyum tipis, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Sera dan berbisik pelan. "Ada penyusup di ruang guru dan ketangkap CCTV."

Meskipun tak peduli dengan statusnya di sekolah ini, namun, ia adalah satu dari sekian banyaknya siswa
yang tak ingin tertinggal detail kecil gosip panas di sekolah.

"What? Serius?"

"Heem," Calvin mengangguk. "Coba cek."

Tak perlu bertanya lagi pun Sera tahu di mana ia harus memastikannya. Mereka, para murid sekolah ini memiliki aplikasi perbicangan hangat yang tak diketahui oleh guru. Sebut saja aplikasi ini semacam 'dokumen gelap sekolah'. Aplikasi ini hanya bisa diakses oleh para murid dengan menggunakan sandi khusus.

Kedua mata Sera membelalak begitu membaca headline yang tertulis di layar ponsel.

"Seseorang secara misterius menyusup ruang guru dan membakar berkas dokumen."

Jadi, penyusup yang ia lihat waktu itu tertangkap oleh kamera CCTV sekolah? Baguslah jika ia segera tertangkap. Namun, tak sampai satu menit ia mengatakan hal itu dalam benaknya, ia kembali dibuat menganga oleh berita yang terposting di aplikasi tersebut.

"Siswi berinisial 'A.K' diduga pelakunya, berasal dari ekskul teater Luminexa High School."

"Kok jadi gini? Bukannya pelakunya laki-laki, tapi kenapa ..."

Tunggu! Gadis itu menatap layar ponselnya kembali untuk memastikan.

"AK? Anasera Karalyn? Kenapa gue yang jadi kambing hitamnya?" gumamnya pelan sembari menatap layar ponselnya. Siapa penyusup itu sebenarnya?

***

"BRAKK!"

Pintu dengan plang bertuliskan 'Ruang Ekskul Jurnalis' terpasang di kusen terbuka dengan keras, menimbulkan suara berdebam yang sontak mengundang atensi dari seorang laki-laki yang tengah duduk di sofa ruang tersebut.

"Heh, Jaden, pasti lo, kan, yang posting berita tentang gue ke dark document?!"

Jaden Sebasta Dirga, siswa Luminexa High School, anggota ekstrakulikuler jurnalis sekaligus anggota OSIS, dan teman satu kelas Sera, tak sontak menoleh begitu Sera membuka pintu sembari meneriakkan namanya.

"Mana buktinya, hah? Bisa-bisanya ya, lo, posting hoaks tanpa bukti!" Sera meninggikan suaranya penuh kesal. Kedua netranya menatap Jaden dengan nyalang seolah ingin mencakarnya hidup-hidup bak macan mengamuk.

"Kalau ada bukti bukan hoaks lagi namanya, Ra." Entah sejak kapan Calvin mengikuti Sera, tahu-tahu ia telah berada di belakang gadis itu dan membalas ucapannya.

Sera melirik tajam ke arah Calvin. "Lo bisa diam dulu, nggak?"

"Nggak bisa orang gue punya mulut," balas Calvin yang sontak membuat Sera menggeram kesal. Ia hampir saja memukul laki-laki itu jika bukan karena suara Jaden yang terdengar dan menghentikannya.

"Lo terekam jelas di CCTV sekolah, masih bilang itu hoaks?"

"Waktu itu gue pulang latihan teater, dan tiba-tiba ada suara dari ruang guru makanya gue samperin dan ternyata ada orang yang bakar sesuatu di sana."

Jaden meraih ponsel miliknya dari atas meja, ia mengulurkan benda tersebut dan langsung diambil alih oleh Sera. Sebuah video terputar, dan ini adalah rekaman CCTV yang menampilkan saat Sera memasuki ruang guru dengan hati-hati dan keluar dari ruang tersebut dengan tergesa-gesa.

"Nggak ada orang lain yang keluar dari sana kecuali lo," ujar Jaden.

Sera menggeleng dengan cepat. "Nggak, nggak mungkin. Pasti ada yang salah sama rekaman ini. Penyusup itu jelas-jelas keluar lewat pintu juga, gimana bisa cuma gue doang yang kena CCTV?" Ia menyangkalnya.

"Rekaman ini nggak dimanipulasi sama sekali, Ra. Lihat waktunya," ujar Jaden lagi, ia menunjuk tanda waktu di rekaman tersebut.

"Penyusup itu keluar dari pintu ruang guru, dia nggak tertangkap CCTV dan rekamannya nggak dimanipulasi, gue tahu satu hal." Calvin menggerakkan kepalanya maju yang secara otomatis membuat Sera dan Jaden ikut mendekat.

"Penyusup itu ..." Calvin berbisik pelan, dengan atmosfer senyap yang menyelimuti ruangan tersebut, ia seolah tengah menceritakan sebuah kejadian paling horror yang pernah ada.

"Dia apa?" tanya Sera setengah berbisik, sepertinya ini rahasia. Ia telah siap mendengar opini lain dari Calvin.

"Dia pasti ..."

"Kalian ngomongin ap-"

"SETAN!"

Calvin berteriak terkejut yang sontak membuat Sera memukul bahunya dengan keras. "Sial, lo! Ngagetin, tahu nggak?!"

"Kok gue sih yang salah, Imel, noh, tiba-tiba datang, mana nepuk bahu gue lagi, siapa yang nggak kaget coba," balas Calvin membela dirinya sendiri. Ia menunjuk Imelda yang baru saja datang memasuki ruangan.

Menyadari semua atensi teralih ke arahnya saat ini, Imelda Bianca Renna, siswi kelas XII BAHASA-1, sekaligus anggota OSIS dan anggota ekstrakulikuler Jurnalis itu menatap ketiga temannya dengan serius.

"Nggak ada setan di sekolah ini, dan yang terpenting ..." Imelda beralih menatap Sera yang juga masih menatapnya.

"Lo dipanggil ke ruang guru BK," ujarnya.

Sera menghela napas panjang. Ia menatap Jaden yang masih duduk di tempatnya. "Tanggung jawab nggak, lo, Jad? Lo udah rusak nama baik gue dengan postingan itu."

"Nggak ada hubungannya BK dengan postingan itu di saat para guru nggak tahu adanya dark document. Artinya, mereka udah tahu ulah lo kemarin malam."

"Bukan gue yang nyusup, bukan gue yang bakar file-nya. Gue cuma-"

"Lo jelasin aja semuanya ke guru, bukan ke kita," balas Imelda, memotong kalimat yang Sera lontarkan.

Tak langsung menjawab, Sera menatap Imelda dengan sebuah kerutan di keningnya. Dari nada bicara yang ia temannya itu lontarkan, ia bisa merasa bahwa Imelda tidak tengah memihaknya.

"Lo juga percaya gue yang menyusup ke ruang guru, Mel?"

"Kalau bukan lo siapa?" Imelda balas bertanya.

"Bentar ... atau ... bukan Jaden yang posting berita itu ke dark document, tapi, elo ...?"

Lengang. Sebuah ruang di mana empat orang murid berpijak di atasnya itu terasa hening hanya untuk beberapa saat hanya karena menunggu balasan dari Imelda. Apakah itu benar? Imelda tak menjawab, namun keheningan yang ia berikan, menjelaskan semuanya.

"Mel ..." Sera berjalan mendekat ke arah Imelda. "Bukan lo, 'kan, yang posting? Itu semua ulah Jaden, kan?"

Mendengar namanya disebut, Jaden lantas memalingkan wajah. Ia tak menatap ke arah Sera maupun Imelda. "Mending lo ke ruang BK sekarang sebelum disamperin," katanya.

"Mel?" Namun suara Jaden tak Sera hiraukan. Ia masih menatap temannya itu dengn serius.

"Gue temen dekat lo, Mel ..."

"Terkadang hal seperti itu bukanlah apa-apa bagi seseorang yang berurusan dengan dunia jurnalistik, Sera," ujar Calvin pelan, kali ini ia tak ingin berkata dengan tidak serius. Ia menarik lengan Sera untuk keluar dari ruang tersebut.

"Gue anterin lo ke ruang BK sekarang," ujarnya.

Sera tak melawan, ia mengikuti langkah Calvin menuju ruang BK. Menuju sebuah ruang pertanyaan penuh tuntutan yang terasa mengintimidasinya.

Other Stories
Wajah Tak Dikenal

Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...

Pintu Dunia Lain

Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang ...

Dream Analyst

Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

People Like Us

Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...

Mentari Dalam Melody

Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...

Download Titik & Koma