4. The Responsibility
Bel istirahat telah berbunyi beberapa waktu lalu. Pelajaran pada jam pertama telah berakhir dan sebagian besar murid dari semua penjuru kelas pergi ke kantin dan tempat lainnya untuk menikmati waktu istirahat.
Di taman belakang sekolah yang tampak sunyi, Ethan berjalan ke arah Imelda yang tengah duduk sembari memainkan ponselnya di kursi taman. Laki-laki itu mengulurkan tangannya ke arah Imelda, memberikan sebuah minuman cincau kalengan kesukaan gadis itu.
Imelda tersenyum tipis dan mengambil alih minuman tersebut. "Makasih, sayang," ujarnya.
'Sayang', begitulah Imelda memanggil Ethan. Ia tak akan memanggil laki-laki itu dengan sebutan istimewa seperti ini jika bukan karena mereka memiliki sebuah hubungan yang lebih dari sekedar teman. Mereka menjalin sebuah hubungan yang telah berlangsung sejak mereka masih berada di bangku tahun pertama di sekolah ini.
Ethan mengangguk. Ia duduk di sebelah Imelda dan menatap gadis itu yang terlihat hendak membuka pengait minuman kaleng. Sejenak, ia membukakan pengait tersebut untuknya.
Imelda tersenyum manis ke arah Ethan. "Makasih," ujarnya yang lantas dibalas dengan anggukan kepala oleh Ethan. Berkatnya, ia tak perlu susah payah membuka kunci pengait tersebut.
Ethan menatap gadis di sebelahnya dengan lekat. Meski terlihat begitu tenang saat ini, namun ia tahu, Imelda tengah memikirkan banyak hal di kepalanya.
"Kamu kelihatan nggak fokus hari ini, kenapa?"
Imelda menggeleng pelan. "Aku nggak papa, kok," balasnya pelan.
"Masih kekeh kalau Sera yang menyusup ke ruang guru?"
Tak ada balasan dari Imelda, bukan berarti Ethan tak memiliki jawaban atas pertanyaannya. Diam, berarti iya.
"Aku nggak yakin, makanya, aku minta kamu buat nggak posting video itu tadi, tapi kamu tetep posting."
Ethan menghela napas pelan. Ia meminum minuman kalengan miliknya sejenak sebelum akhirnya membalas perkataan Imelda. "Karena bagaimanapun juga orang-orang bakal tahu beritanya."
"Tanpa postingan yang kamu buat, mereka juga bakal tahu."
"Aku hanya mempercepat beritanya."
Imelda menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan. Gadis itu menyandarkan punggungnya di kursi dan mendongak, menatap ke arah langit biru di atas sana.
"Proposal yang aku buat hangus, nggak ada salinannya."
Ethan melihat raut Imelda yang muram. Ia tahu, proposal yang pacarnya buat itu bukanlah semata proposal biasa seperti proposal kegiatan acara tahunan anak OSIS, proposal kegiatan classmeet, ataupun semacamnya. Namun, proposal itu berisi rancangan sebuah aplikasi yang hendak Imelda buat bersama pihak sekolah.
Imelda adalah gadis yang pandai. Sebagai anggota OSIS yang juga anggota Jurnalis sekolah, ia sama sekali tak tertinggal pelajaran dan ulangan sekolah. Sampai saat ini, ia masih berada di posisi peringkat pertama, dan tentu saja, penting bagi gadis itu untuk mempertahankannya.
Aplikasi dark document yang sebagian besar dipakai oleh murid-murid di sekolah ini adalah rancangan miliknya. Tak ada ubahnya seperti aplikasi berita pada umumnya, hanya saya, dengan kode akses yang Imelda berikan secara langsung, seseorang baru bisa membuka aksesnya. Lantas proposal yang ia ajukan kemarin, berisikan rancangan aplikasi sistem informasi sekolah yang ia buat dengan versi lebih baik. Namun sayangnya, semuanya hancur dalam semalam sebelum ia berhasil mendapat langkah lebih lanjut.
"Beneran nggak ada salinannya?" tanya Ethan memastikan. Ia berharap mendapatkan jawaban yang positif, namun begitu melihat gelengan kepala dari Imelda, harapan kecilnya tandas.
"Karena belum mesti bakal diterima, jadi aku nggak buat salinannya. Kalaupun ada, mungkin nggak ada kepakai lagi."
"Nggak kepakai lagi?"
Imelda mengangguk. "Kalau proposalnya disetujui, file salinannya nggak bakal kepakai, begitu juga kalau nggak disetujui."
Ethan diam beberapa saat, ia menatap Imelda dengan kerutan di dahinya. "Kenapa? Kan itu hak kamu buat simpan salinannya juga."
"Nggak bakal kepakai, sayang."
Sejenak, Ethan kembali menghela napas. Kembali meneguk minuman kalengan miliknya.
"Padahal aku harus pertahanin nilai sama poinku ...."
Ethan mengelus puncak kepala Imelda dengan lembut. "Kita cari solusinya sama-sama, okay?"
Meski begitu berat dan tak memiliki tenaga untuk itu, namun pada akhirnya Imelda hanya mengangguk setuju. Lagipula tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini untuk mengembalikan berkas proposalnya yang telah hangus tak bersisa.
"Imel!"
Suara itu mengalihkan atensi keduanya. Mereka menoleh, menatap ke asal suara. Tepatnya, ke arah Sera yang baru saja datang bersama dengan Calvin di belakangnya.
"Lo di sini, gue cari lo di mana-mana da-"
"Ngapain?"
Sera terdiam saat suara Imelda yang dingin berhasil memotong kalimatnya. Benar, ini bukanlah waktunya untuk merasa senang bertemu dengan Imelda setelah mencarinya berkali-kali. Ia tahu, situasi antaranya dengan Imelda tengah jauh dari kata baik saat ini.
"Gue tahu lo pasti percaya sama kata orang kalau gue adalah penyusup itu, tapi, enggak. Bukan gue yang menyusup dan bakar proposal punya lo."
Imelda memincingkan matanya, menatap Sera dengan penuh selidik. "Lo tahu itu proposal gue? Dari mana?"
"Pak Darto."
"Mel, sekarang gini aja, kita cari pelakunya sama-sama, gimana?" Calvin membuka suara.
Imelda bangkit dari duduknya, ia menatap Calvin dengan tatapan yang tak bersahabat. "Lo cari aja sendiri, bukan urusan gue buat ikut cari," balasnya.
Gadis itu melangkah hendak pergi, sejenak, ia berhenti hanya demi menatap Sera-yang juga masih menatapnya. Tanpa melontarkan sepatah katapun, Imelda membuang sampah minuman kaleng miliknya ke tempat sampah dah berlalu pergi. Terlihat dengan jelas bahwa ia tak ingin berbicara dengan kepala dingin bersama Sera saat ini.
"Tuh, kan, udah gue bilang, Sera. Percuma lo ngajak ngomong Imel," ujar Calvin sembari menyibak rambutnya ke belakang. "Firasat gue nggak salah. Dia bahkan pergi sebelum bicara baik-baik sama lo."
Sera menghela napas pelan. Ia sudah menebak respon yang akan Imelda berikan padanya tadi. Namun, di sisi lain, bukan Imelda lah tujuan utamanya ia kemari saat ini. Melainkan ... Ethan.
Laki-laki yang Sera jadikan tujuannya saat ini itu tampak hendak berlalu pergi. Namun, Sera dengan cepat menarik tangannya. Membuat langkah kaki laki-laki itu terhenti. Sebagai gantinya, Ethan beralih menatap Sera dengan alis yang naik ke atas.
"Bantu gue temuin pelakunya," ujar Sera dengan kedua netra yang menatap Ethan dengan lekat. Sebuah permintaan penuh harap terpancar dari balik tatapan mata gadis itu.
"Lo minta gue sebagai cowok Imel?"
Sera menggeleng pelan. "Enggak, tapi sebagai anak jurnalis yang bertanggung jawab dan haus akan kebenaran."
Calvin mengedikkan bahunya acuh tak acuh. "Intinya, lo cuma perlu buktiin kebenaran dari postingan yang lo buat, lo harus bertanggungjawab. Itu aja masak nggak ngerti sih, lo," ujarnya sembari menatap Ethan dengan malas.
"Mungkin gue juga minta lo sebagai cowok Imel, Than. Lo tahu proposal itu penting banget buat dia. Sekalipun barangnya nggak bisa balik, seenggaknya kita cari pelaku sebenarnya."
Ethan menatap Sera yang tingginya sebatas dagunya dengan erat. "Dan setelah lo tahu pelaku aslinya?"
"Gue bakal tangkap dia dan minta pertanggungjawaban dari dia. Atas proposal yang dia bakar, menyusup ruang guru, pencemaran nama baik."
Calvin menepuk bahu Ethan beberapa kali. "Be gentleman, bro. You have made a post on dark document about Sera. Its all is maybe wrong, so ... take your responsibility."
Other Stories
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Kau Bisa Bahagia
Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...
First Snow At Laiden
Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...
Percobaan
percobaan ...
Hantu Dan Hati
Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...
Jatuh Untuk Tumbuh
Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...