Langit Yang Dikhianati
Awan terbentang seperti kapas yang disisir rapi, membiarkan matahari memantul di kanopi pesawat tempur yang melesat di ketinggian tiga belas ribu meter. Di dalam kokpit, Aditya Pranawa bernapas pelan, ritmis seperti yang selalu ia lakukan sebelum dan selama terbang. Tenang. Fokus. Profesional.
Jarum indikator stabil. Mesin meraung halus. Semua normal.
Aditya (dalam hati):
Tiga belas ribu meter. Kecepatan optimal. Langit aman.
Ia sudah menjaga langit ini selama delapan tahun. Dari latihan rutin hingga operasi yang tak pernah muncul di berita. Baginya, udara bukan sekadar ruang kosong ini wilayah hidup. Tempat ia merasa utuh.
Lampu hijau di panel berkedip pelan.
Operator ATC Mayor Rendra (radio):
“Garuda-07, status?”
Aditya:
“Garuda-07 normal, Mayor. Latihan berjalan sesuai rencana.”
Ia menyesuaikan joystick, membuat pesawat sedikit menanjak. Angin menampar badan jet, menghasilkan getaran ringan yang familier. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
Lalu
BEEP.
Nada pendek. Asing.
Di layar HUD, sebuah simbol muncul. Bukan bagian dari skenario latihan.
Koordinat baru.
Aditya mengernyit.
Aditya:
“ATC, saya terima update koordinat. Mohon konfirmasi. Ini tidak ada di flight plan.”
Hening.
Radio hanya berdesis statis selama dua detik. Terlalu lama untuk protokol militer.
Mayor Rendra (radio, akhirnya):
“Garuda-07 konfirmasi terima koordinat baru.”
Nada suara itu datar. Terlalu formal. Tanpa kebiasaan kecil yang selalu muncul setiap mereka berbicara.
Aditya:
“Mayor, ini latihan. Koordinat ini masuk zona merah. Saya butuh otorisasi tertulis.”
Detak jantungnya meningkat. Naluri lamanya mulai menekan dari dalam dada naluri yang jarang salah.
Layar HUD kembali berkedip.
SYSTEM NOTICE:
REMOTE OVERRIDE INITIATED
Aditya membeku.
Aditya:
“Apa-apaan ini?”
Tangannya mencoba mengambil alih kontrol manual. Tuas gas tidak merespons. Joystick terasa mati.
Lampu kuning menyala. Disusul merah.
SYSTEM WARNING:
ENGINE CONTROL TRANSFERRED
Aditya (tegang):
“ATC! Sistem saya diambil alih. Siapa yang memberi perintah override?!”
Keheningan kembali menyergap.
Lalu suara itu muncul. Bukan Mayor Rendra. Bukan operator yang ia kenal.
Suaranya dingin. Terlalu bersih. Seperti dibaca dari skrip.
Suara Tak Dikenal (radio):
“Garuda-07, tetap tenang. Prosedur berjalan sesuai desain.”
Aditya merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya.
Aditya:
“Desain siapa? Identifikasi diri Anda!”
Tidak ada jawaban langsung.
Sebagai gantinya
BEEP BEEP BEEEEEP.
Mesin kiri mati.
Getaran keras menghantam pesawat. Tubuh Aditya terhempas ke sabuk pengaman. Alarm meraung, menusuk telinga.
SYSTEM WARNING:
ENGINE FAILURE – LEFT
Aditya (membentak):
“Ini gila! Aktifkan kembali sistem! Saya masih di udara!”
Pesawat mulai oleng. Ketinggian turun perlahan tapi pasti. Aditya berjuang menstabilkan sayap kanan secara manual satu-satunya yang masih memberi respons.
Aditya (menggeram):
“Aku bisa bawa pulang pesawat ini. Siapa pun kamu.”
Radio kembali hidup.
Suara Tak Dikenal:
“Kapten Aditya Pranawa. Data Anda lengkap. Rekam jejak sempurna. Loyalitas tinggi.”
Nama lengkapnya disebut. Tanpa pangkat. Tanpa hormat.
Itu bukan komunikasi militer biasa.
Aditya:
“Kau bukan ATC.”
Suara Tak Dikenal:
“Benar.”
Mesin kanan ikut mati.
Sekarang pesawat benar-benar jatuh.
G-force menghantam tubuh Aditya saat hidung jet menukik. Langit biru berubah menjadi pusaran putih dan abu-abu. Awan menghantam kanopi seperti dinding.
SYSTEM WARNING:
TOTAL ENGINE FAILURE
EJECTION SYSTEM DISABLED
Mata Aditya membelalak.
Aditya (teriak):
“Sistem lontar tidak aktif?! Kalian mau membunuhku?!”
Jawaban datang cepat. Terlalu cepat.
Suara Tak Dikenal:
“Bukan membunuh. Menyelesaikan.”
Ledakan pertama terjadi di bagian belakang pesawat.
BOOM.
Api menyembur. Panel instrumen pecah. Pecahan kaca menghantam wajah Aditya, menyayat pipinya. Darah hangat mengalir, mengaburkan pandangan sebelah mata.
Ia menahan jerit, fokus bertahan.
Aditya (terengah):
“Aku mengabdi delapan tahun… untuk ini?”
Senyap sesaat.
Lalu suara terakhir.
Suara Tak Dikenal:
“Terima kasih atas pengabdianmu.”
Ledakan kedua jauh lebih besar.
DUARRRR.
Pesawat tempur itu hancur di udara. Badannya terbelah dua seperti mainan rapuh. Api melahap logam. Tangki bahan bakar meledak, menciptakan bola api raksasa di langit.
Tubuh Aditya terlempar keluar.
Tanpa pesawat. Tanpa parasut. Tanpa sayap.
Ia berputar di udara, tubuhnya terbakar sebagian. Seragam terkelupas. Kulit melepuh. Daging terbuka di lengan kiri, memperlihatkan serat otot merah yang tercabik angin.
Darah menguap sebelum sempat jatuh.
Langit yang selalu ia jaga kini membunuhnya.
Aditya (dalam hati, terputus-putus):
Jadi… begini akhirnya.
Di bawahnya, hutan hijau terbentang terlalu jauh. Terlalu cepat mendekat.
Kesadarannya mulai terlepas. Dunia meredup.
Namun di tengah raungan angin dan rasa sakit yang melampaui ambang manusia
Ia mendengar sesuatu.
Bukan suara mesin. Bukan radio.
Sebuah suara tua,Berat. Bergema dari bawah tanah.
Suara Misterius (gema):
Darah Garuda akhirnya jatuh kembali ke bumi.
Aditya tersentak. Matanya terbuka lebar meski tubuhnya hampir mati.
Aditya (lemah):
“Siapa kau?”
Langit menghilang. Gelap menelan segalanya.
Tubuhnya menghantam kanopi hutan dengan kekuatan menghancurkan. Cabang-cabang patah, menusuk dagingnya. Tulang rusuk retak. Sebatang dahan menembus paha kanannya, darah menyembur deras, membasahi dedaunan.
Ia menghantam tanah.
BRAK.
Tanah retak. Lumpur dan darah bercampur.
Aditya terbatuk keras. Darah keluar dari mulutnya. Napasnya tersengal, pendek-pendek.
Setiap tarikan udara terasa seperti pisau.
Langit di atasnya berputar. Pepohonan bergoyang.
Ia sekarat.
Di bawah tubuhnya… tanah mulai bergetar.
Retakan tipis muncul, memancarkan cahaya keemasan yang berdenyut seperti jantung raksasa yang terbangun.
Darah Aditya merembes ke celah tanah.
Dan sesuatu menjawabnya.
Suara Misterius (lebih dekat):
Pengkhianatan selalu dimulai dari langit.
Cahaya itu menyala terang.
Dan kegelapan menutup mata Aditya Pranawa sepenuhnya.
Jarum indikator stabil. Mesin meraung halus. Semua normal.
Aditya (dalam hati):
Tiga belas ribu meter. Kecepatan optimal. Langit aman.
Ia sudah menjaga langit ini selama delapan tahun. Dari latihan rutin hingga operasi yang tak pernah muncul di berita. Baginya, udara bukan sekadar ruang kosong ini wilayah hidup. Tempat ia merasa utuh.
Lampu hijau di panel berkedip pelan.
Operator ATC Mayor Rendra (radio):
“Garuda-07, status?”
Aditya:
“Garuda-07 normal, Mayor. Latihan berjalan sesuai rencana.”
Ia menyesuaikan joystick, membuat pesawat sedikit menanjak. Angin menampar badan jet, menghasilkan getaran ringan yang familier. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
Lalu
BEEP.
Nada pendek. Asing.
Di layar HUD, sebuah simbol muncul. Bukan bagian dari skenario latihan.
Koordinat baru.
Aditya mengernyit.
Aditya:
“ATC, saya terima update koordinat. Mohon konfirmasi. Ini tidak ada di flight plan.”
Hening.
Radio hanya berdesis statis selama dua detik. Terlalu lama untuk protokol militer.
Mayor Rendra (radio, akhirnya):
“Garuda-07 konfirmasi terima koordinat baru.”
Nada suara itu datar. Terlalu formal. Tanpa kebiasaan kecil yang selalu muncul setiap mereka berbicara.
Aditya:
“Mayor, ini latihan. Koordinat ini masuk zona merah. Saya butuh otorisasi tertulis.”
Detak jantungnya meningkat. Naluri lamanya mulai menekan dari dalam dada naluri yang jarang salah.
Layar HUD kembali berkedip.
SYSTEM NOTICE:
REMOTE OVERRIDE INITIATED
Aditya membeku.
Aditya:
“Apa-apaan ini?”
Tangannya mencoba mengambil alih kontrol manual. Tuas gas tidak merespons. Joystick terasa mati.
Lampu kuning menyala. Disusul merah.
SYSTEM WARNING:
ENGINE CONTROL TRANSFERRED
Aditya (tegang):
“ATC! Sistem saya diambil alih. Siapa yang memberi perintah override?!”
Keheningan kembali menyergap.
Lalu suara itu muncul. Bukan Mayor Rendra. Bukan operator yang ia kenal.
Suaranya dingin. Terlalu bersih. Seperti dibaca dari skrip.
Suara Tak Dikenal (radio):
“Garuda-07, tetap tenang. Prosedur berjalan sesuai desain.”
Aditya merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya.
Aditya:
“Desain siapa? Identifikasi diri Anda!”
Tidak ada jawaban langsung.
Sebagai gantinya
BEEP BEEP BEEEEEP.
Mesin kiri mati.
Getaran keras menghantam pesawat. Tubuh Aditya terhempas ke sabuk pengaman. Alarm meraung, menusuk telinga.
SYSTEM WARNING:
ENGINE FAILURE – LEFT
Aditya (membentak):
“Ini gila! Aktifkan kembali sistem! Saya masih di udara!”
Pesawat mulai oleng. Ketinggian turun perlahan tapi pasti. Aditya berjuang menstabilkan sayap kanan secara manual satu-satunya yang masih memberi respons.
Aditya (menggeram):
“Aku bisa bawa pulang pesawat ini. Siapa pun kamu.”
Radio kembali hidup.
Suara Tak Dikenal:
“Kapten Aditya Pranawa. Data Anda lengkap. Rekam jejak sempurna. Loyalitas tinggi.”
Nama lengkapnya disebut. Tanpa pangkat. Tanpa hormat.
Itu bukan komunikasi militer biasa.
Aditya:
“Kau bukan ATC.”
Suara Tak Dikenal:
“Benar.”
Mesin kanan ikut mati.
Sekarang pesawat benar-benar jatuh.
G-force menghantam tubuh Aditya saat hidung jet menukik. Langit biru berubah menjadi pusaran putih dan abu-abu. Awan menghantam kanopi seperti dinding.
SYSTEM WARNING:
TOTAL ENGINE FAILURE
EJECTION SYSTEM DISABLED
Mata Aditya membelalak.
Aditya (teriak):
“Sistem lontar tidak aktif?! Kalian mau membunuhku?!”
Jawaban datang cepat. Terlalu cepat.
Suara Tak Dikenal:
“Bukan membunuh. Menyelesaikan.”
Ledakan pertama terjadi di bagian belakang pesawat.
BOOM.
Api menyembur. Panel instrumen pecah. Pecahan kaca menghantam wajah Aditya, menyayat pipinya. Darah hangat mengalir, mengaburkan pandangan sebelah mata.
Ia menahan jerit, fokus bertahan.
Aditya (terengah):
“Aku mengabdi delapan tahun… untuk ini?”
Senyap sesaat.
Lalu suara terakhir.
Suara Tak Dikenal:
“Terima kasih atas pengabdianmu.”
Ledakan kedua jauh lebih besar.
DUARRRR.
Pesawat tempur itu hancur di udara. Badannya terbelah dua seperti mainan rapuh. Api melahap logam. Tangki bahan bakar meledak, menciptakan bola api raksasa di langit.
Tubuh Aditya terlempar keluar.
Tanpa pesawat. Tanpa parasut. Tanpa sayap.
Ia berputar di udara, tubuhnya terbakar sebagian. Seragam terkelupas. Kulit melepuh. Daging terbuka di lengan kiri, memperlihatkan serat otot merah yang tercabik angin.
Darah menguap sebelum sempat jatuh.
Langit yang selalu ia jaga kini membunuhnya.
Aditya (dalam hati, terputus-putus):
Jadi… begini akhirnya.
Di bawahnya, hutan hijau terbentang terlalu jauh. Terlalu cepat mendekat.
Kesadarannya mulai terlepas. Dunia meredup.
Namun di tengah raungan angin dan rasa sakit yang melampaui ambang manusia
Ia mendengar sesuatu.
Bukan suara mesin. Bukan radio.
Sebuah suara tua,Berat. Bergema dari bawah tanah.
Suara Misterius (gema):
Darah Garuda akhirnya jatuh kembali ke bumi.
Aditya tersentak. Matanya terbuka lebar meski tubuhnya hampir mati.
Aditya (lemah):
“Siapa kau?”
Langit menghilang. Gelap menelan segalanya.
Tubuhnya menghantam kanopi hutan dengan kekuatan menghancurkan. Cabang-cabang patah, menusuk dagingnya. Tulang rusuk retak. Sebatang dahan menembus paha kanannya, darah menyembur deras, membasahi dedaunan.
Ia menghantam tanah.
BRAK.
Tanah retak. Lumpur dan darah bercampur.
Aditya terbatuk keras. Darah keluar dari mulutnya. Napasnya tersengal, pendek-pendek.
Setiap tarikan udara terasa seperti pisau.
Langit di atasnya berputar. Pepohonan bergoyang.
Ia sekarat.
Di bawah tubuhnya… tanah mulai bergetar.
Retakan tipis muncul, memancarkan cahaya keemasan yang berdenyut seperti jantung raksasa yang terbangun.
Darah Aditya merembes ke celah tanah.
Dan sesuatu menjawabnya.
Suara Misterius (lebih dekat):
Pengkhianatan selalu dimulai dari langit.
Cahaya itu menyala terang.
Dan kegelapan menutup mata Aditya Pranawa sepenuhnya.
Other Stories
Hati Yang Terbatas
Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...
Kucing Emas
Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...
Ryan Si Pemulung
Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...
Tersesat
Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...
Melodi Nada
Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...
Mewarnai
ini adalah contoh uplot buku ...