Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara

Reads
71
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara
Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara
Penulis Voidara

Jatuh Tanpa Sayap

Aditya Pranawa terhuyung-huyung di udara, pesawat latihannya hancur berkeping-keping. Ledakan itu mengguncang langit biru yang sesaat sebelumnya tenang, membakar kulit dan membelah tubuhnya dari panas dan tekanan yang mematikan. Api menari di sekelilingnya, membakar seragam tempur dan sarung tangan kevlar yang menempel erat di kulitnya. Ia terlempar, tanpa kendali, jatuh bebas ke hutan terpencil di bawahnya.

Setiap detik adalah siksaan. Tulangnya nyaris patah, tulang rusuknya berderak di bawah tekanan benturan udara. Darahnya berhamburan, menetes di wajah dan mata, membuat pandangan menjadi kabur. Ia menjerit, suara tertelan oleh gemuruh ledakan yang masih bergemuruh di langit.

Aditya: “Ugh ini tidak mungkin!”

Hanya deru angin yang menjawab.

Kaki dan tangannya tidak lagi bisa digerakkan secara normal. Tapi ada sesuatu suara samar yang mengalir di dalam kepalanya. Suara tua, berat, penuh kemarahan, seperti dari era yang sudah lama hilang dari dunia ini.

Suara Tua: “Bangkit atau hilang dalam debu Aditya Pranawa.”

Aditya terdiam. Suara itu bukan dari radio, bukan dari headset melainkan dari dalam dirinya sendiri, bergetar melalui tulang dan darah yang berceceran. Ia meraba dadanya, dan terasa denyutan hangat dari jantungnya yang berdetak liar. Darahnya meresap ke tanah, menandai jalannya jatuh.

Hutan itu sunyi, kecuali suara ranting patah dan daun tergesek angin. Ia jatuh melalui kanopi pohon tinggi, menabrak cabang, mengoyakkan kulit dan ototnya, tulangnya berderak keras. Beberapa kali kepalanya membentur batang pohon, pandangan menjadi kabur, tetapi ia tetap sadar meski nyawa hampir hilang, tubuhnya menolak menyerah.

Aroma darah dan tanah basah memenuhi hidungnya. Aditya mencoba menggerakkan tangan, tapi rasanya lebih berat dari baja. Ia menatap ke langit, mata terbakar, menatap fragmen pesawat yang masih terbakar di kejauhan. Semuanya hancur latihan, karier, dan harapan yang ia pegang.

Aditya: “Ini… ini bukan latihan ini jebakan siapa… siapa yang melakukan ini?”

Suara itu kembali, lebih jelas kali ini.

Suara Tua: “Yang memilihmu bukan mereka. Aku… aku yang menunggu.”

Aditya tersentak. Ia merasakan energi aneh berdenyut di dalam darahnya. Tanah di bawahnya retak, seolah merespons keberadaan tubuhnya yang sekarat. Sebuah cahaya lembut namun intens muncul dari tanah seperti garis emas yang menyala di antara akar dan batu. Artefak Garuda kuno, tersembunyi selama ribuan tahun, kini terbangun.

Tubuh Aditya jatuh tepat di tengah lingkaran artefak itu. Darahnya menetes ke batuan dan tanah, dan seketika udara di sekitarnya berubah. Aroma besi dan energi murni menyengat hidungnya. Energi Singularitas sesuatu yang bahkan ilmuwan modern tidak bisa jelaskan mengalir melalui setiap pori kulitnya, menyatu dengan tulang, daging, dan jiwanya.

Aditya bergetar hebat. Tubuhnya terasa panas membara dari dalam, seperti api yang tidak bisa padam. Tulangnya terasa nyeri, retak di beberapa bagian, tapi bukan sakit biasa ini seperti tubuhnya sedang direkonstruksi, dibentuk ulang oleh kekuatan yang lebih tua dari manusia.

Aditya: “Apa… apa yang terjadi pada tubuhku?!”

Tiba-tiba, sayap hitam seperti bayangan muncul di punggungnya, menembus pakaian yang tersisa. Mereka berkilau seperti logam cair, bergerak seiring detak jantungnya. Angin berputar liar di sekelilingnya, menimbulkan pusaran yang memotong cabang pohon dan daun.

Suara Tua: “Bangkit dan lihat dunia dengan matamu yang baru. Kau bukan lagi manusia biasa, Aditya Pranawa. Kau adalah Garuda.”

Aditya mencoba bergerak. Ia merasakan sesuatu yang aneh: setiap gerakan menimbulkan dorongan energi, seolah tubuhnya mematuhi hukum baru. Ketika ia menendang tanah untuk mencoba bangkit, kaki dan sayapnya menahan tubuhnya, dan untuk pertama kalinya ia melayang di udara.

Aditya: “Aku terbang?!”

Namun, rasa sakit tidak hilang. Setiap detik di udara adalah siksaan. Tulang dan ototnya belum sepenuhnya siap menampung energi ini. Ia menggenggam kepalanya, menahan jeritan yang ingin keluar, tetapi di matanya ada sesuatu yang baru kekuatan, kemungkinan, dan juga tanggung jawab yang menakutkan.

Di hutan, suara-suara misterius lain mulai terdengar. Bukan manusia, tapi bisikan energi dari artefak lain yang tersembunyi. Tanah bergetar di bawahnya, dan Aditya menyadari bahwa artefak itu tidak hanya memberinya kekuatan ia memanggilnya. Memanggilnya untuk sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Aditya mencoba berteriak lagi, tetapi suaranya tercekik. Darah yang menetes dari bibirnya membentuk pola aneh di tanah, seperti simbol kuno. Angin di sekitarnya menggila, membentuk pusaran hitam yang menari liar di antara pepohonan. Burung-burung terbang ketakutan, binatang-binatang hutan menghilang di semak.

Ia jatuh ke tanah lagi, kali ini dengan sayap yang menahan tubuhnya. Tubuhnya penuh luka, beberapa tulang retak, kulit terkelupas, darah mengalir deras. Tapi ia bisa bangkit, meski dengan susah payah. Di dalam dirinya, ada sesuatu yang memaksa suatu naluri purba untuk bangkit dan melawan.

Aditya: “Aku harus hidup harus bertahan”

Suara tua itu tertawa, bukan tawa manusia, tapi gema dari masa lalu.

Suara Tua: “Kau akan bertahan karena kau dipilih. Tetapi hati-hati, Aditya Pranawa. Kekuatan ini bukan sekadar hadiah ia adalah kutukan.”

Tiba-tiba, bayangan bergerak di tepi hutan. Figur hitam dengan mata bersinar muncul di sela pepohonan. Bukan manusia, tapi entitas yang tampak seperti siluet monster. Ia menatap Aditya dengan intens, dan pusaran energi di udara merespons kehadiran makhluk itu.

Aditya mencoba mengepakkan sayapnya. Angin memotong, debu dan daun beterbangan. Ia mencoba mendekati sosok itu, tetapi sebelum ia bisa, entitas itu meledak menjadi serpihan energi yang menyerang tanah di sekitarnya. Pohon-pohon tumbang, tanah retak, dan binatang-binatang kecil terseret pusaran kekuatan itu.

Aditya: “Ini… ini apa?!?”

Energi artefak dalam tubuhnya merespons secara otomatis. Sayapnya membesar, otot-otot yang hancur diregenerasi sebagian, meski rasa sakit tetap menusuk. Ia menendang tanah, meloncat, dan terbang menembus hutan. Tubuhnya bergerak dengan naluri predator, setiap serangan, setiap pukulan angin, adalah refleks yang belum ia sadari.

Makhluk itu muncul lagi, kali ini menyerang dari udara. Benturan pertama menghantam Aditya, melemparkan tubuhnya ke batang pohon. Darahnya memercik di udara, tulang retak. Namun energi Singularitas mengalir lebih deras. Tubuhnya menyesuaikan diri, menyembuhkan luka sedikit demi sedikit, meski prosesnya brutal otot dan kulit terasa seperti dipaksa tumbuh kembali, tulang menyesuaikan bentuk, darah mendidih di nadinya.

Aditya: “Aku… aku bisa melawannya!”

Benturan berikutnya membuat pepohonan runtuh. Makhluk itu menembus udara, menyambar Aditya dengan cakar yang bisa menembus logam. Darahnya berhamburan. Setiap luka terasa seperti ribuan pisau menancap di seluruh tubuhnya. Tetapi dengan satu pukulan sayap, Aditya memutar pusaran angin, menghantam makhluk itu dengan kekuatan yang bahkan ia sendiri tidak mengerti sepenuhnya.

Makhluk itu terlempar, menabrak pohon dan hancur menjadi serpihan energi yang lenyap di udara. Hutan sunyi lagi, kecuali desah napas Aditya yang berat.

Ia jatuh ke tanah, sayapnya melipat ke belakang, darah menetes dari setiap luka. Tubuhnya bergetar, energi masih mengalir liar. Namun kali ini ia tersenyum walau lemah, ia selamat. Ia bukan lagi manusia biasa. Ia Garuda.

Dan suara tua itu berbicara sekali lagi, lembut, tetapi penuh ancaman:

Suara Tua: “Ingat, Aditya ini baru permulaan.”

Aditya menatap ke langit yang kini gelap, kabut tipis menyelimuti hutan. Matahari yang tersisa di ufuk barat seolah memberi selamat tinggal, dan ia tahu dunia yang ia kenal telah hilang. Ia bukan lagi penerbang militer. Ia bukan lagi prajurit yang taat. Ia adalah sesuatu yang lebih besar, lebih menakutkan, dan lebih berbahaya.

Dengan sayap yang terbentang lebar, tubuh penuh luka, dan darah yang mengalir deras, Aditya melompat ke udara. Setiap kali sayapnya mengepak, ia merasakan kekuatan baru, sesuatu yang akan membuat dunia baik yang gelap maupun terang menyadari bahwa Garuda Hitam telah lahir.

Dan dari kedalaman hutan, artefak kuno bergetar, menyebarkan energi Singularitas ke seluruh Nusantara. Suara-suara tua lainnya bergema, berbisik tentang pilihan, tentang peperangan, dan tentang pahlawan yang akan datang pahlawan yang belum tahu apa yang harus ia hadapi.

Aditya menatap langit malam pertama dalam hidup barunya. Ia tahu satu hal: tidak ada jalan kembali.

Other Stories
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Bukan Cinta Sempurna

Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...

Penulis Misterius

Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...

Devils Bait

Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...

Melepasmu Dalam Senja

Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...

Download Titik & Koma