Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara

Reads
74
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara
Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara
Penulis Voidara

Kebangkitan

Aditya Pranawa membuka matanya perlahan. Dunia berputar di depannya, aroma hangus memenuhi hidungnya, dan cahaya merah samar menembus pepohonan yang runtuh. Ia terbaring di kawah hutan yang hangus, tanah hitam berkerak, pohon-pohon patah dan terbakar. Sisa ledakan pesawatnya masih menandai langit yang pekat dengan asap dan percikan api. Setiap tarikan napasnya terasa berat, darah masih menetes dari luka-lukanya, membasahi seragam yang koyak.

Tetapi ada sesuatu yang berbeda. Sebuah sensasi baru energi yang tidak bisa ia jelaskan—mengalir di setiap serat tubuhnya. Tulang dan otot yang retak terasa panas, seolah sedang dipadatkan dan direkonstruksi dari dalam.

Aditya menggeliat, mencoba menggerakkan tangan. Ia merasakan sesuatu yang aneh di punggungnya. Sebuah dorongan panas, kemudian sebuah kilau hitam terbentang di sisi tubuhnya. Dengan mata terbelalak, ia melihat… sayap.

Sayap hitam, berkilau seperti logam cair yang bergerak sendiri, membentang luas di belakangnya. Mereka tidak hanya besar; mereka hidup, menatapnya dengan aura keagungan sekaligus ancaman. Angin berputar liar di sekelilingnya, menimbulkan pusaran yang memotong cabang dan daun, menebarkan abu dan percikan api ke udara.

Aditya (berbisik, terkejut): “Apa ini? Aku… aku benar-benar terbang?”

Ia menggeliat lagi, rasa sakit menusuk setiap gerakan. Tulang-tulangnya nyaris patah kembali, otot-otot terbakar, tapi naluri menguasai tubuhnya. Dengan sedikit dorongan, ia melompat dan ia tidak jatuh.

Tubuhnya melayang beberapa meter di atas tanah, sayap mengepak dengan sendirinya, menahan tubuhnya di udara. Pusaran energi mengelilinginya, seakan alam semesta menahan napas. Aditya menelan ludah, rasa sakit membakar setiap sarafnya. Ia mencoba mengepakkan sayap lebih kuat, dan tiba-tiba angin liar menerpa hutan, merobek tanah dan pohon di sekelilingnya.

Aditya: “Ini… ini tidak normal tapi aku bisa terbang”

Ia jatuh lagi, kali ini dengan kontrol lebih baik. Sayapnya menahan benturan, tulang-tulangnya merespons energi yang mengalir. Setiap gerakan terasa menyakitkan, tapi menyatu dengan nalurinya. Ia menatap ke bawah hutan yang hangus terbentang luas. Daun-daun terbakar beterbangan, burung-burung yang tersisa terbang panik, meninggalkan kawah yang kini menjadi medan uji pertama kekuatannya.

Suara Tua (muncul dalam kepala Aditya): “Kau terlahir kembali, Aditya. Tubuhmu bukan milikmu lagi ia milik Garuda.”

Aditya menahan napas, menatap ke langit. Suara itu bukan manusia, tetapi penuh wibawa, seakan datang dari masa yang hilang.

Aditya: “Kekuatan apa yang kau lakukan padaku?!”

Ia mencoba mengepakkan sayap lebih cepat. Angin menimbulkan pusaran yang memotong batang pohon yang tersisa. Tubuhnya melonjak ke udara, tapi rasa sakit membuatnya menjerit. Darah masih mengalir deras dari luka-lukanya, dan kulitnya terbakar saat energi mengalir melalui otot dan tulang yang retak.

Di udara, ia melihat bayangan bergerak siluet hitam yang memantul di antara pepohonan. Sesuatu, atau seseorang, mengamati. Jantungnya berdegup lebih cepat, rasa penasaran dan naluri bertahan hidup menyatu.

Aditya (berteriak ke udara):“Ada siapa di sana?! Tunjukkan dirimu!”

Bayangan itu tidak menjawab. Namun, udara di sekitarnya bergetar, dan ia merasakan serangan energi datang. Bukan manusia, bukan pesawat makhluk purba atau teknologi yang belum ia kenal, meluncur ke arahnya dengan kecepatan luar biasa.

Aditya refleks mengepakkan sayapnya, mendorong diri ke atas, dan pusaran angin menabrak makhluk itu. Tubuhnya terasa nyeri luar biasa, tulang hampir hancur di beberapa bagian, darah memercik dari luka-luka lama. Tetapi makhluk itu lebih cepat. Cakar atau energi tajamnya menyambar tubuhnya, memotong kulit dan menembus otot.

Aditya (teriak kesakitan):“ARGH!!!”

Luka-luka terbuka, darah mengalir deras, menetes ke bawah membentuk garis di tanah hangus. Tapi ada yang berbeda energi dari artefak Garuda merespons. Sayapnya mengepak liar, menghasilkan pusaran angin yang memantulkan serangan itu. Makhluk itu terlempar, menabrak batang pohon dan hancur menjadi serpihan energi yang menghilang di udara.

Aditya (terengah, menatap tangan yang berdarah):“Aku… aku mengendalikan ini tapi sakitnya gila”

Ia jatuh ke tanah lagi, sayap melingkari tubuhnya. Tubuhnya bergetar, darah menetes, tetapi ia merasa lebih kuat. Setiap serangan, setiap dorongan angin, menyatu dengan naluri dan energi baru yang mengalir di tubuhnya.

Suara Tua: “Setiap pukulan, setiap gerakan ingat, Garuda tidak bisa dijinakkan. Ia hidup melalui darahmu, melalui rasa sakitmu.”

Aditya menatap ke punggungnya, melihat sayap itu berkilau di bawah cahaya senja. Mereka hidup seolah logam cair yang bergerak sendiri. Ia merasakan kekuatan yang belum pernah ia bayangkan, tetapi juga tanggung jawab yang menakutkan.

Ia mencoba terbang lebih tinggi, meninggalkan kawah yang hangus. Pusaran angin memutar liar, mencabut tanah dan abu, dan Aditya merasakan rasa sakit di setiap sendi. Darah yang menetes membuat kulitnya terasa terbakar. Tetapi ia terus mengepakkan sayap, memutar tubuh di udara, menguji batasan.

Di kejauhan, hutan yang masih utuh bergetar. Sebuah suara keras terdengar, seperti gemuruh bumi, dan dari balik pepohonan, bayangan lain muncul lebih besar, lebih menakutkan, dan jelas bukan manusia. Tubuhnya terbuat dari energi gelap, mata menyala merah, dan setiap langkahnya meninggalkan retakan di tanah.

Aditya menelan ludah, darah masih menetes dari luka yang terbuka.

Aditya:“Ini aku harus melawannya sekarang”

Makhluk itu melesat ke arahnya. Tanpa berpikir, Aditya mengepakkan sayap, memutar pusaran angin yang memotong pohon dan semak. Benturan pertama terasa seperti ribuan pisau menusuk tubuhnya. Tulangnya retak lagi, darah memercik di udara. Tetapi energi Garuda merespons, menyembuhkan sebagian luka, meski rasa sakit tetap menusuk.

Makhluk (suara berat dan bergema): “Manusia tidak pantas memiliki kekuatan ini”

Aditya mengerang kesakitan, tetapi nalurinya menguasai tubuh. Ia mendorong diri ke depan, sayap mengepak dengan kekuatan baru. Pukulan angin menghantam makhluk itu, memantulkan serangan energi yang mendesis di udara. Tubuh makhluk itu terlempar ke pepohonan, menyebabkan pohon tumbang dan api menyala lebih liar.

Aditya (teriak sambil menahan rasa sakit):
“Aku Garuda Hitam!”

Setiap kata yang keluar dari mulutnya menandai simbol kelahiran pahlawan baru. Makhluk itu mencoba menyerang lagi, tetapi setiap serangan dibalas dengan pusaran angin dan kekuatan dari sayap hitam. Darah mengalir dari luka Aditya, kulitnya terbakar, tetapi energi Garuda membuatnya bertahan.

Akhirnya, makhluk itu mundur, menghilang di balik asap dan abu. Hutan menjadi sunyi, kecuali desah napas Aditya yang berat. Ia jatuh ke tanah, sayap terkulai, tubuh penuh luka, darah menetes deras. Tetapi kali ini, matanya bersinar dengan tekad baru.

Aditya (berbisik lemah, tetapi tegas):
“Aku tidak akan mati Aku Garuda Hitam dan ini baru permulaan”

Suara tua bergema sekali lagi, lembut tetapi penuh ancaman:

Suara Tua: “Kau bangkit tetapi ingat, setiap kekuatan memiliki harga. Dunia ini belum siap dan mereka yang menunggumu di atas sana tidak akan menunggu selamanya.”

Aditya menatap langit gelap di atasnya, mata menyala, sayap terbentang luas, darah mengalir di setiap sudut tubuh. Ia tahu satu hal dunia yang ia kenal telah berakhir. Ia bukan lagi prajurit biasa. Ia bukan lagi manusia. Ia adalah Garuda Hitam, simbol baru yang akan mengubah langit Nusantara selamanya.

Ia melompat lagi ke udara, setiap pukulan sayap menghasilkan pusaran angin yang memotong sisa hutan. Luka-luka masih terasa, tulang nyaris patah, darah masih menetes, tetapi kekuatannya mengalir lebih deras daripada rasa sakitnya.

Dan dari kedalaman hutan yang hangus, artefak kuno bergetar, menyebarkan energi Singularitas ke seluruh Nusantara. Panggilan pahlawan telah dimulai Aditya Pranawa telah lahir kembali, bukan sebagai manusia biasa, tetapi sebagai Garuda Hitam.

Other Stories
Keeper Of Destiny

Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...

Menolak Jatuh Cinta

Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...

Persembahan Cinta

Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...

Kabinet Boneka

Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...

Download Titik & Koma