Senja Terakhir Bunda

Reads
14
Votes
1
Parts
1
Vote
Report
Senja terakhir bunda
Senja Terakhir Bunda
Penulis Abid Asaduddin

Senja Terakhir Bunda


Kriing! Begitu bel pulang berbunyi, dengan terburu-buru Maya berlari keluar kelas. Melihat anaknya berlari ke arahnya Siska menyambutnya dengan pelukan dan senyum yang hangat.

“Bunda! Aku gambar Bunda pakai krayon temanku!” seru Maya, mengeluarkan gambar dari tasnya.

“Bagus! Anak Bunda memang hebat,” balas Siska sembari mengacungkan jempolnya untuk Maya ‘Ayo pulang,’ Ajak Siska pada gadis tersebut. Maya dengan semangat menggenggam tangan Siska "Senja adalah waktu favorit Bunda," kata Siska sambil melihat langit di tengah perjalanan

"Karena warnanya seperti cinta, meski sebentar." lanjut Siska. Dibalas anggukan oleh Maya
Sesampainya di rumah, Siska menyuruh Maya mandi. Sementara putrinya sibuk di kamar mandi, Siska membuka lemari dengan tergesa, mengobrak-abrik tumpukan pakaian dan buku lama—mencari satu foto usang bersama suaminya yang telah lama pergi merantau dan tak pernah kembali.

Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat rutin, tapi semua berhenti setelah sebuah musibah menimpa dirinya dan Maya. Hingga suatu hari, sebuah toko kecil menawarkan pekerjaan. Tanpa pikir panjang, demi Maya, ia menerimanya.

Terkadang Siska ingin menyerah. Tapi setiap kali melihat Maya tersenyum, ia tahu—anak itu adalah satu-satunya alasan ia masih berdiri.

“Bunda, aku sudah selesai! Aku lapar, Bun…” rengek Maya menarik baju Siska.

“Oh ya sebentar. Bunda siapkan makan dulu.” balas Siska.
Siska mencoba menyiapkan makan malam yang sederhana untuk disantap oleh Maya.

“Memangnya Bunda tadi sudah makan malam? Kok Maya gak tahu?” tanya Maya.
“Sudah, tadi di sekolah, sambil nungguin kamu.” jawab Siska tersenyum, sembari menahan lapar.

Maya pun mulai mengunyah makan nasi bungkus yang Siska beli untuknya. Hanya itu yang bisa Siska beli hari ini. Kondisi keuangan menipis setelah Siska membayar SPP Maya bulan lalu agar putrinya tidak terpaksa tinggal kelas.

Siska terus-menerus menatap Maya kecil yang sedang mengunyah makanan yang ada dimulutnya. Maya berusaha mengunyah daging yang agak keras. Wajah Maya mengingatkanya pada suaminya walau tidak mirip.

“Bunda kenapa? Kok lihatin Maya terus.” tanya Maya. Membuat Siska tersadar.

“Eh gak papa Bunda cuma mau nanya hari ini ada tugas dari sekolah tidak. Kalau ada nanti kita kerjain bersama-sama.” Jelas Siska menjawab seadanya.

“Ada kok, tapi masih di dalam tas. Maya ambilin ya.” ucap Maya.

“Nanti aja. Dihabiskan dulu makananya. Nanti kalau sudah selasai kita kerjain bareng-bareng.” sergah Siska, sebelum Maya beranjak.

Malam itu mereka larut mengerjakan PR bersama. Di dalam remangnya lampu rumah mereka.

“Bundaaa, Maya ngantuk.” ucap Maya sembari menguap lebar.

“Kalau udah mengantuk Maya tidur aja. Besok kan Maya sekolah.” suruh Siska. Maya pun beranjak ke kasur dan bersiap untuk tidur.

“Apa aku sudah cukup baik sebagai Bunda?” pikir Siska, saat menatap Maya yang tidur sambil memeluk boneka robek. “Maafkan Bunda, Nak... Bunda lelah sekali.”

Siska membereskan PR Maya yang baru dikerjakan separuh. Lalu Siska kembali menghampiri lemari yang sedari tadi ia biarkan berantakan. Saat Siska merapikan lemari, sehelai kertas jatuh dari tumpukan buku. Ia mengambilnya dan menatapnya lekat-lekat.

Itu adalah foto dirinya dan suaminya, foto itulah yang ia cari sedari tadi. Ia menatap lekat-lekat foto itu sangat lama, sampai ia tersadar bahwa ini sudah larut malam. Siska beranjak tidur menemani Maya yang sudah terlelap sedari tadi.

Malam itu, Siska menatap langit melalui jendela kecil kamarnya. Dalam diam ia berdoa, semoga Hafidz di suatu tempat juga sedang menatap langit yang sama. Esoknya, fajar datang dengan sunyi yang lain…

Fajar mulai menyibak kegelapan. Burung-burung mulai bersahutan di luar jendela, pertanda hari baru telah datang.

“Maya sudah siap, Bunda!” seru suara kecil yang memecah kesunyian. Maya berdiri dengan ransel kecil di punggung, wajahnya ceria menantikan hari di sekolah.
“Iya sebentar lagi Bunda selesai” jawab Siska sembari memakai Sepatu yang menurutnya sudah kekecilan.

“Oke, Bunda sudah siap, ayo berangkat!” ajak Maya dengan penuh semangat. Mereka berdua berjalan bersama menuju sekolah tempat Maya belajar bersama teman-temannya. Tiba-tiba.. Suara nyaring terdengar dari pinggir jalan, memecah ketenangan pagi itu.
“Hei! Masih berani jalan di sini kau?” seru Pak Joko dengan nada sinis, berdiri bersedekap di depan warung. Tatapan matanya menusuk, penuh prasangka. Siska menunduk. Langkahnya sedikit ragu, tapi tetap menggenggam tangan Maya erat. Ia mencoba mengabaikan suara itu, berharap seperti angin lalu. Namun Pak Joko bukanya berhenti. Pak Joko terus melanjutkan perkataannya, kini suaranya lebih tajam.

“Perempuan tak tahu malu! Datang-datang bawa anak, tapi tak jelas siapa suaminya.” Maya menoleh, bingung. Siska langsung menariknya lebih dekat, berusaha melindunginya dari ucapan yang seharusnya tidak didengar anak seusianya.
Pak Joko mendengus dengan kasar, lalu melirik ke arah Maya tanpa berhenti mencemooh.

“Anakmu mana ayahnya? Katanya ia orang baik? Heran, sampai sekarang tak muncul juga.”
Siska berhenti sejenak. Matanya menatap lurus ke depan, tidak menoleh sedikit pun. Suaranya tenang, tapi dalam.

“Tak usah didengarkan, Maya,” ucapnya lembut, meski dalam hatinya bergolak.
Maya, dengan polosnya, bertanya pelan, “Bunda… ayah ada di mana?” Siska menarik napas dalam.
“Ayah sedang berjuang, sayang. Dan Maya harus percaya, kalau ayah itu orang yang baik.”

Setelah perjalanan yang memberatkan, mereka berdua akhirnya sampai di sekolah tempat Maya belajar.

“Belajar yang rajin ya Maya manisku. Jangan nakal di sekolah, nanti pulang sekolah Bunda jemput seperti kemarin.” tutur Siska dengan lembut sembari mengelus kepala Maya. Diciumnya Maya berkali-kali sebelum bel berbunyi. Maya melambaikan tangan pada Siska, yang membalas dengan senyum dan lambaian hangat

Setelah memastikan Maya masuk ke dalam kelas, Siska menghela napas sebentar, menenangkan dirinya. Ia tahu, tak ada waktu lama untuk beristirahat—toko tempatnya bekerja sudah menantinya.

Dengan langkah cepat namun berat, Siska menyeberang jalan raya. Keringat membasahi wajahnya, matanya sembab oleh lelah yang menumpuk. Ia berdiri di tepi jalan, menunggu waktu yang tepat untuk menyeberang.

“Sedikit lagi…” gumamnya. Saat jalan tampak lengang, ia melangkah ke tengah jalan.
CIIIIITTT!!

Sebuah suara rem keras membelah udara. Diikuti suara GUBRAK!! tubuh Siska terpental, menghantam aspal dengan keras.

Siska merasakan hantaman keras membuat penglihatannya menjadi kurang jelas. Tapi ia masih dapat melihat sesosok bayangan yang ia tunggu-tunggu kedatangannya.

“Hafidz….” rintih Siska. Pandangannya perlahan mengabur.

Suara sirine ambulans memecah hiruk-pikuk jalanan. Orang-orang mulai berkerumun, mencoba melihat siapa yang tergeletak bersimbah darah di pinggir jalan raya. Di tengah keramaian itu.
Siska terbaring lemah. Darah mengalir dari pelipisnya, bajunya lusuh dan basah oleh keringat serta luka. Namun matanya yang mulai meredup justru menunjukkan kilau harapan. Di antara kabur dan jelas, ia melihat sosok pria yang dulu ia tunggu-tunggu… suaminya, Hafidz.

“Maafkan aku, Siska…” ucap suara itu lirih, nyaris tak terdengar di tengah kekacauan. Hafidz berlutut di samping tubuh Siska. Matanya merah, tangannya gemetar. Ia tak menyangka jika kepulangan menjadi seperti ini. Seolah alam semesta mempertemukan mereka di saat yang paling rapuh. Ia menggenggam tangan istrinya yang mulai dingin.

“Aku kembali… Aku janji… Tapi aku terlambat, ya?” suara Hafidz pecah, bercampur dengan isak tertahan. Siska mengerjap pelan, mencoba bicara. Nafasnya berat, tapi hatinya ringan karena Hafidz benar-benar kembali.

“Yang terpenting… kamu telah datang…” bisiknya. “Maya… jaga Dia…” Air mata Hafidz jatuh, membasahi tangan Siska yang masih dalam genggamannya.

“Mas Sabar ya! Tolong! Cepat bawa dia ke rumah sakit!” seru seorang petugas medis sambil menggotong tubuh Siska ke atas tandu meninggalkan Hafidz sendiri dalam keadaan kacau…..
Di sekolah. Di balik riuh tawa anak-anak yang berlari ke sana kemari, Maya ikut tertawa, seolah dunia ini tak punya beban. Namun dari kejauhan, Bu Guru berdiri di ambang pintu kelas, wajahnya pucat dan mata berkaca-kaca. Setelah mendapatkan pesan dari seseorang.

“Maya sayang, kemari sebentar…” panggilnya dengan suara lembut namun berat.

“Iya Bu?” jawab Maya polos. Bu Guru berjongkok dan menatap mata bening yang dimiliki Maya dalam-dalam. “Maya… Ibu perlu ajak kamu ke suatu tempat. Tapi kamu harus kuat ya, Sayang.”
Maya hanya mengangguk, tak sepenuhnya paham, lalu menggenggam tangan Bu Guru saat mereka melangkah meninggalkan sekolah. Dengan langkah kecil yang belum mengerti apa-apa, Maya mengikuti Bu Guru keluar dari sekolah. Mobil yang menjemput mereka melaju tenang, seolah tak mencerminkan gejolak yang akan datang.

Sesampainya di rumah sakit, suasana terasa berbeda—sunyi. Maya yang kebingungan menggenggam erat tangan Bu Guru, matanya menatap sekeliling dengan bingung. Tanpa banyak kata, mereka melewati lorong-lorong panjang yang sepi, hanya terdengar langkah kaki dan suara mesin dari kejauhan. Detak jantung Maya semakin cepat, meski ia tak tahu kenapa.
Hingga akhirnya, mereka berhenti di depan sebuah pintu bertuliskan “Ruang ICU”

“Maya… Bunda ada di dalam,” ucap Bu Guru dengan suara berat, membuka pintu perlahan. Maya melangkah masuk dengan ragu. Begitu melihat tubuh bundanya terbaring lemah di ranjang dengan selang dan perban putih di mana-mana, hatinya mencelos. Suasana kamar dipenuhi cahaya putih pucat, seperti menambah dingin pada kenyataan yang menyakitkan.

“Bunda! Bunda kenapa? Bunda sakit? Bunda kenapa pakai plester putih?” rentetan pertanyaan keluar dari mulut Maya saat melihat tubuh Siska dibaluti dengan perban putih dan meninggalkan Bu Guru. “Maya, Bunda mau pesan sesuatu boleh?” Siska memotong pertanyaan dari Maya seolah ini hal yang penting, sembari memegang tangan kecil Maya.
Maya mengangguk sembari menahan air mata yang ingin keluar tanpa sebab.

"Maya janji ya... jangan benci Ayah. Dia tetap ayahmu. Maya bisakan?” tanya Siska Kembali.

“Bisa Bunda.” ucap Maya sembari menahan isak tangis seolah tahu hal buruk akan terjadi.
Siska menghela napas berat, lalu tiba-tiba tubuhnya tersentak oleh batuk hebat. Maya terkejut dan memeluk tangan bundanya dengan panik. Darah mengucur dari mulut Siska. Dengan napas tersisa, ia masih sempat berbisik pelan “Ayahmu adalah orang baik yang pernah Bunda lihat” setelah itu Siska pun menghembuskan nafas terkhir diiringi tangisan Maya yang mengeras.

“Bunda kenapa? Bunda kenapa diam aja? Hiks.” rintih Maya. Dia menangis tersedu-sedu.
Maya masih menangis tersedu di sisi ranjang, memeluk tangan bunda yang kini terasa dingin dan tak lagi menggenggam balik. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi punggung tangan Siska.

Di balik jendela ruang ICU, senja mulai turun perlahan. Cahaya oranye menyapu wajah Siska yang tenang. Seperti pamit lembut kepada dunia yang telah ia beri seluruh cinta. Di luar kamar rumah sakit, anak-anak tertawa di taman. Langit senja, burung beterbangan. Tapi di dalam, Maya kehilangan seluruh dunianya dalam sekejap.

Tiba-tiba, Maya mendengar suara isak lain. Bukan dari dirinya. Perlahan ia menoleh. Di sudut ruangan, berdiri seorang pria dengan wajah lelah, kusut, dan mata sembab. Ia menunduk dalam diam, menahan tangis yang sejak tadi tak mampu ia bendung.
Maya mengedip berusaha mencerna, matanya yang masih basah dan mulutnya masih kelu.

“Kamu siapa?” tanyanya dengan suara serak, polos, tapi menusuk.
Pria itu mendekat perlahan, lututnya gemetar. Ia menatap Maya, lalu melihat secarik kertas yang digenggam erat gadis kecil itu—gambar tiga orang dengan tulisan tangan mungil: Maya - Bunda - Ayah. Tangannya menunjuk gambar itu. Suara dari tenggorokannya nyaris tak terdengar.

“Aku... Ayahmu…” ucapnya lirih, seolah tiap kata adalah luka yang terbuka. Maya menatapnya lama, bola matanya yang besar masih berkilat oleh air mata.
Sesaat hening. Lalu, suara kecil itu pecah dalam satu kata penuh harap dan rindu:

“Ayah…?”


Other Stories
Pahlawan Revolusi

tes upload cerita jgn di publish ...

Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat

Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...

Test

Test ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Painted Distance (tamat)

Dara memutuskan untuk pergi ke Sapporo bukan hanya sekadar liburan. Perjalanannya di kota ...

Separuh Dzrah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...

Download Titik & Koma