Breast Beneath The Spotlight

Reads
64
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Breast Beneath The Spotlight
Breast Beneath The Spotlight
Penulis Sexy Writternim

Seleksi Pertama

Pagi berikutnya di Starlight Entertainment terasa seperti mimpi buruk yang dibungkus gula. Matahari baru saja terbit, tapi aula latihan sudah penuh dengan keringat dan suara serak dari ratusan gadis yang tersisa. Dari seribu peserta kemarin, hanya lima ratus yang bertahan—setengahnya dipulangkan dengan air mata dan mimpi hancur. Ji-eun bangun lebih dulu di dormitori, tubuhnya masih hangat dari kenangan malam tadi dengan Lila. Dia melirik ke tempat tidur sebelah, di mana Aisha mendengkur pelan, kulit gelapnya berkilau di bawah cahaya redup. "Hari ini vokal. Gue harus jadi yang terbaik," gumam Ji-eun, sambil memijat lehernya yang tegang. Korupsi sudah merayap, dan dia tahu, harga debut bukan cuma latihan.

Para gadis dikumpulkan di ruang vokal besar, dindingnya dilapisi busa akustik yang menyerap jeritan diam-diam. Trainer-trainer pria, empat di antaranya—Mr. Kang, Mr. Lee, Mr. Choi, dan Mr. Park—berdiri di depan seperti hakim neraka. Mereka berpakaian rapi, tapi mata mereka lapar, menyapu tubuh gadis-gadis muda yang kelelahan. "Hari ini tes vokal," kata Mr. Kang dengan suara dingin, senyumnya palsu. "Nyanyi lagu standar. Yang suaranya pecah, pulang. Ingat, kami cari beast yang sexy—suara yang menggoda, bukan anak kecil nangis."

Latihan dimulai dengan pemanasan, suara-suara tinggi bergema seperti jeritan yang disamarkan. Sofia Ramirez, dengan energi Latinanya yang tak pernah pudar, berdiri di baris depan. Kulit sawo matangnya berkeringat, rambut ikalnya menempel di dahi. Saat gilirannya, dia menyanyi dengan nada tinggi, tapi salah nada sedikit. Mr. Lee menggelengkan kepala. "Lo terlalu... etnis. Suara lo kayak dari barrio, bukan panggung K-Pop." Sofia tertawa, tawa yang gelap dan menyakitkan, seolah-olah itu lelucon terbaik. "Etnis? Maksud lo, karena gue Latina, suara gue terlalu spicy? Haha, mungkin gue tambahin salsa biar lo suka!" Kerumunan tertawa pelan, tapi Sofia merasakan tusukan rasisme itu dalam-dalam. Dia bercanda untuk menutupi, tapi di balik senyumnya, ada air mata yang mengancam.

Mia Thompson, gadis polos dengan kulit putih pucat, menyanyi selanjutnya. Suaranya indah, seperti malaikat yang tersesat, tapi trainer-trainer meliriknya dengan tatapan aneh. "Bagus, tapi kurang beast," kata Mr. Choi. Mia mengangguk, wajahnya merah. Dia masih polos, tapi malam tadi, setelah adegan Ji-eun dan Lila, dia mulai merasa ada yang salah di agensi ini. Yuna Lee, maknae imut, menyanyi dengan suara manis, tapi ada nada beastly di akhir yang membuat trainer tersenyum licik. Zara Patel, pintar seperti biasa, menganalisis nada orang lain, sambil bergumam, "Gue harus strategis. Suara gue nggak bagus, tapi gue bisa pakai tubuh."

Saat istirahat, misteri mulai muncul. Seorang gadis dari baris belakang, seorang peserta dari Vietnam bernama Lan, tak muncul setelah pemanasan. "Dia kemana?" bisik Mia ke Elena Novak, yang duduk di sebelahnya. Elena, dengan mata pemberontaknya, mengangkat bahu. "Gue dengar dia hilang malam tadi. Dorm sebelah bilang, dia dipanggil trainer pribadi, trus nggak balik." Aisha mendengar dan mendengus. "Hilang? Atau 'hilang' karena nggak bayar harga? Agensi ini penuh rahasia, kayak crime scene yang glamor." Lila tersenyum misterius, matanya menyipit. "Mungkin dia gagal tes malam. Lo tahu kan, vokal bukan cuma suara—kadang mulut lo harus kerja ekstra."

Komedi gelap muncul saat Sofia bercanda lagi di ruang istirahat. "Eh, lo pada tahu nggak? Gue dengar trainer suka cewek 'eksotis'. Gue Latina, Aisha hitam, Zara India—kita kayak menu buffet rasis! Haha, siapa yang mau jadi hidangan utama?" Gadis-gadis tertawa, tapi tawa itu pahit, menyakitkan. Sofia melanjutkan, "Gue bayangin, kalau gue gagal, gue bilang, 'Lo rasis! Gue laporkan ke ONU!' Tapi ya, siapa percaya? Kita di Korea, gue cuma imigran." Di balik lelucon itu, Sofia merasa sendirian. Saat yang lain kembali latihan, dia menyelinap ke toilet, duduk di lantai dingin, dan nangis pelan. Air mata mengalir, tubuhnya bergetar. "Kenapa gue harus bercanda? Ini sakit banget," gumamnya. Rasisme itu seperti cambuk yang tak terlihat, meninggalkan bekas di jiwa.

Seleksi berlanjut, suara-suara naik turun seperti gelombang hasrat yang tak terpuaskan. Ji-eun menyanyi dengan sempurna, suaranya menggoda, membuat trainer Mr. Park mengangguk puas. "Lo punya potensi leader," katanya, tapi matanya turun ke dada Ji-eun. Aisha rap dengan kekuatan, kata-katanya tajam seperti pisau, balas rasisme dengan lirik pedas. "Gue hitam, gue kuat, lo putih lemah—itu kata mereka, tapi gue beast!" Trainer tertawa, tapi ada ketakutan di mata mereka.

Malam tiba, dan dari lima ratus, hanya dua ratus yang lolos—tidak, tunggu, outline bilang dari 1000 ke 500 di chapter ini, tapi seleksi vokal ini bagian dari itu. Pengumuman dibacakan di aula, nama-nama bergema seperti vonis mati. Mia lolos, tapi skornya rendah. Dia tahu, dia harus lakukan sesuatu. Saat yang lain tidur, seorang staff mendekati dorm. "Mia Thompson, ikut saya. Trainer ingin bicara pribadi."

Mia mengikuti dengan hati berdegup, tubuhnya yang polos bergetar. Dia dibawa ke ruang kecil di basement, di mana empat trainer menunggu—Mr. Kang, Mr. Lee, Mr. Choi, dan Mr. Park. Pintu terkunci di belakangnya. Udara lembab, bau cologne murah bercampur keringat. "Lo skornya rendah, Mia," kata Mr. Kang, suaranya rendah menggoda. "Tapi lo bisa lolos ronde ini. Bayar biayanya." Mia menelan ludah, mata birunya melebar. "Biaya? Maksud lo apa?"

Mr. Lee mendekat, tangannya menyentuh bahu Mia. "Lo tahu. Mulut lo bagus untuk vokal, pasti bagus untuk yang lain." Mia mundur, tapi dinding menghalangi. "Nggak... gue nggak mau." Tapi Mr. Choi tertawa gelap. "Semua bilang gitu dulu. Ini 'biaya debut'. Lo mau pulang sekarang, atau debut sebagai idol?" Elemen paksaan itu menyakitkan, tapi anehnya, ada godaan—mimpi debut yang begitu dekat.

Mereka mendorong Mia ke lututnya, roknya tersingkap memperlihatkan paha pucat. Mr. Park membuka celananya pertama, penisnya sudah keras, menggoda di depan wajah Mia. "Mulai, gadis kecil. Oral sex yang bagus, dan lo lolos." Mia menangis pelan, tapi tangannya gemetar menyentuh. "Ini... ini pemerkosaan," bisiknya. Mr. Kang tertawa. "Pemerkosaan? Ini kesepakatan. Lo rela kan, demi mimpi?"

Adegan itu brutal, menggoda, membuat horny dalam cara yang twisted. Mia membuka mulutnya, lidahnya menyentuh ujung Mr. Park, rasa asin yang asing. Dia mengisap pelan, mata tertutup, sambil membayangkan panggung. Mr. Lee bergabung, penisnya menyodok pipi Mia dari samping. "Dua sekaligus, beastly girl." Mia mengerang, suara yang bercampur sakit dan kenikmatan aneh—paksaan yang dia anggap biaya. Tangan Mr. Choi meremas payudaranya dari belakang, jari-jarinya mencubit puting hingga sakit, elemen BDSM ringan yang tak diminta.

Mereka bergantian, empat penis mengelilingi Mia seperti gangbang oral. Mr. Kang mendorong dalam, membuat Mia tersedak, air mata mengalir. "Lebih dalam, Mia. Ini latihan vokal baru." Komedi gelap muncul saat Mr. Choi bercanda, "Lo suaranya pecah tadi, sekarang mulut lo sempurna! Haha, mungkin ini rahasia idol top." Mia batuk, tapi terus, tubuhnya panas oleh hasrat terlarang. Mr. Lee ejakulasi pertama, cairan panas menyemprot wajah Mia, membuatnya lengket dan terhina. "Bagus, gadis polos. Lo nikmatin ya?"

Mia mengangguk lemah, pikirannya berputar. "Ini biaya... gue harus debut." Mr. Park menyusul, mendorong kasar hingga Mia merasa seperti boneka. Gangbang oral berlanjut, tangan mereka menyentuh tubuhnya, meremas pantat, menyusup ke celana dalam. Mr. Choi menarik rambut Mia seperti cambuk BDSM, "Lebih cepat, atau lo hilang kayak Lan tadi." Misteri Lan muncul lagi, membuat Mia takut—apakah itu nasibnya kalau menolak?

Akhirnya, Mr. Kang selesai di mulut Mia, memaksa dia telan. "Swallow, beast. Ini kontrak diam-diam." Mia melakukannya, rasa pahit yang menyakitkan tapi memuaskan mimpi. Mereka meninggalkannya di lantai, tubuhnya gemetar, wajah berantakan. "Lo lolos ronde ini," kata Mr. Kang sebelum pergi. "Besok, latihan lagi. Dan ingat, rahasia ini milik kita."

Mia kembali ke dorm, membersihkan diri di kamar mandi gelap. Air mengalir, mencuci bukti, tapi trauma tetap. Ji-eun bangun, melihat Mia. "Lo kemana? Wajah lo... aneh." Mia tersenyum palsu. "Latihan pribadi. Biaya debut." Lila, yang terjaga, tersenyum tahu. "Selamat datang di klub, Mia. Korupsi baru mulai."

Di luar, misteri Lan semakin dalam. Elena mendengar bisik-bisik staff, "Dia hilang karena nggak bayar. Mungkin dibawa ke ruang bawah." Aisha bergumam, "Ini crime, bukan agensi." Sofia, yang masih nangis sendirian tadi, mendengar dan tertawa gelap. "Hilang? Mungkin dia jadi 'beast' di tempat lain. Haha, lucu ya, mimpi kita kayak lelucon neraka."

Malam itu, dorm penuh ketegangan menggoda. Mia tidur dengan tubuh sakit, tapi mimpi debut lebih kuat. Harga mahal, tapi dia rela. Besok, seleksi berikutnya menanti, dengan rahasia yang semakin gelap.

Other Stories
Nina Bobo ( Halusinada )

JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...

Manusia Setengah Siluman

Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...

2r

Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...

Saat Cinta Itu Hadir

Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...

Losmen Kembang Kuning

Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...

Love Of The Death

Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...

Download Titik & Koma