Audisi Besar Dimulai
Langit Seoul pagi itu kelabu, seolah-olah tahu bahwa mimpi ribuan gadis muda akan segera dihancurkan di bawah cahaya neon agensi K-Pop raksasa, Starlight Entertainment. Gedung itu menjulang seperti istana kaca yang dingin, tapi di dalamnya, udara terasa lembab oleh keringat ambisi dan air mata yang belum tumpah. Lebih dari seribu peserta dari seluruh dunia berkumpul di halaman depan, tubuh mereka yang ramping dan penuh harap berdesak-desakan seperti domba menuju rumah jagal. Ada yang dari Amerika, Cina, India, bahkan Eropa Timur semua dengan mimpi yang sama: debut sebagai idol, menjadi beast di panggung yang sexy, tapi siapa yang tahu harga sebenarnya?
Ji-eun Park, gadis Korea-Amerika berusia 18 tahun dengan kulit putih cerah seperti salju yang tak ternoda, melangkah keluar dari taksi mewahnya. Rambut hitam panjangnya bergoyang lembut, mata sipitnya memancarkan aura manipulatif yang tersembunyi di balik senyum manis. Dia lahir dari keluarga kaya tapi hancur ayahnya pengusaha yang selingkuh, ibunya pecandu pil tidur. Ji-eun tahu, di dunia ini, tubuh adalah senjata terbaik. Dia memakai rok pendek yang menggoda, memperlihatkan paha mulusnya, seolah-olah sudah siap untuk apa pun yang datang. "Ini hari gue," gumamnya dalam hati, sambil memandang kerumunan dengan tatapan superior.
Di sisi lain, Aisha Kim, 19 tahun, Afrika-Korea dengan kulit gelap yang berkilau seperti cokelat leleh, mendorong tasnya yang lusuh melalui kerumunan. Dia dari latar belakang miskin di pinggiran Seoul, tempat rasisme adalah makanan sehari-hari. Tubuhnya atletis, otot-ototnya terbentuk dari tahun-tahun latihan rap di jalanan. Aisha bukan tipe yang menangis; dia balas dengan kata-kata tajam yang bisa membuat orang tertawa sambil berdarah. "Mimpi ini milik gue, bukan milik cewek putih kaya itu," pikirnya, mata cokelatnya menyipit saat melihat Ji-eun.
Mereka bertemu di antrean pendaftaran, di mana udara panas oleh napas ribuan gadis. Ji-eun tersenggol bahu Aisha secara tak sengaja—orang bilang tak sengaja, tapi Ji-eun selalu punya rencana. "Maaf," kata Ji-eun dengan suara manis, tapi matanya menelanjangi Aisha dari atas ke bawah, seolah-olah menilai potensi saingan. Aisha berbalik, alisnya naik. "Maaf? Lo pikir gue buta? Lo sengaja, ya? Biar gue marah dan gagal audisi?" Jawab Aisha dengan nada kasar, tapi ada senyum kecil di sudut bibirnya chemistry tegang langsung menyala, seperti api yang siap membakar segalanya.
Ji-eun tertawa pelan, suara yang menggoda seperti bisikan di telinga. "Mungkin. Atau mungkin gue cuma pengen lihat reaksi lo. Lo tampak... beastly. Cocok buat grup ini." Aisha mendengus, tapi tak bisa menahan senyum. "Beastly? Lo maksud, gue hitam jadi gue liar? Rasis banget, tapi gue suka. Gue Aisha. Lo?" Ji-eun mengulurkan tangan, jari-jarinya menyentuh lengan Aisha sedikit terlalu lama. "Ji-eun. Kita bakal jadi teman... atau musuh. Tergantung siapa yang debut duluan."
Audisi dimulai di aula besar, di mana cahaya sorot menyilaukan mata. Para juri—eksekutif agensi yang berpakaian rapi tapi mata mereka lapar seperti serigala—duduk di depan. Mereka adalah pria-pria berusia 40-an, dengan senyum palsu yang menyembunyikan niat gelap. "Selamat datang, calon idol!" kata salah satu juri, suaranya bergema. "Hari ini, kalian akan menunjukkan dance dasar. Yang gagal, pulang. Yang lolos... siap bayar harganya."
Kompetisi dimulai dengan nada lucu yang gelap. Gadis pertama, seorang remaja dari Thailand, mencoba dance routine sederhana tapi tersandung sepatunya sendiri. Dia jatuh telentang, roknya tersingkap memperlihatkan celana dalam pink. Kerumunan tertawa, tapi tawa itu pahit—seolah-olah mereka senang melihat kegagalan orang lain karena itu berarti satu saingan kurang. "Haha, lihat tuh! Kayak ayam kepleset!" bisik seorang gadis di belakang, tapi matanya penuh iri. Juri menggelengkan kepala. "Next! Kamu terlalu clumsy untuk jadi beast sexy."
Lalu giliran Sofia Ramirez, 18 tahun, Latina-Korea dengan kulit sawo matang yang menggoda. Dia energik, tubuhnya bergerak seperti api, tapi saat jump, dia mendarat salah dan memeluk kakinya kesakitan. "Ay caramba! Ini pasti kutukan dari mantan gue!" katanya sambil tertawa, meski air mata menggenang. Kerumunan tertawa lagi, dark comedy yang menyakitkan—mereka tahu, cedera berarti akhir mimpi. Sofia bangkit, tapi juri acuh. "Bagus humornya, tapi kami butuh tubuh sempurna. Next!"
Mia Thompson, 19 tahun, Kaukasia-Korea dengan kulit putih pucat seperti hantu, tampil selanjutnya. Dia polos, vokalnya indah, tapi dance-nya kaku. Saat berputar, dia menabrak peserta lain, membuat keduanya jatuh berguling. "Maaf! Aku nggak sengaja!" jerit Mia, wajahnya merah. Peserta yang ditabrak, seorang gadis Jepang, bangkit dengan marah. "Lo pikir ini komedi? Gue bisa tuntut lo!" Tapi juri tertawa. "Lucu sekali! Kalian berdua lolos ronde ini. Yang lain, belajar dari kegagalan mereka."
Yuna Lee, 20 tahun, Jepang-Korea dengan kulit cerah dan wajah imut seperti boneka, menari dengan sempurna. Tapi di akhir, dia tersenyum terlalu lebar, seolah-olah menyembunyikan rahasia gelap dari masa lalunya—mystery yang belum terungkap. Zara Patel, 18 tahun, India-Korea dengan kulit cokelat hangat, mengikuti dengan strategi cerdas, tapi salah paham instruksi dan berakhir dengan pose vulgar yang tak disengaja. "Ups, gue pikir beast berarti liar seperti itu!" katanya, membuat ruangan meledak tawa gelap. Elena Novak, 19 tahun, Eropa Timur-Korea dengan kulit putih olive, tampil pemberontak, rap-nya tajam, tapi mata juri melirik tubuhnya dengan lapar.
Lila Chen, 20 tahun, Cina-Korea dengan kulit kuning langsat yang misterius, adalah yang terakhir dari delapan. Dia cantik seperti dewi, gerakannya sensual, seolah-olah sudah tahu rahasia agensi. Saat selesai, dia melirik Ji-eun, dan ada kilatan pengertian—seperti dua predator yang saling mengenal.
Audisi berakhir sore hari. Dari seribu, hanya lima ratus yang lolos, termasuk delapan gadis utama. Mereka dipindah ke dormitori agensi, kamar-kamar sempit yang berbau desinfektan dan mimpi rusak. "Selamat, ladies," kata seorang trainer pria, matanya menyapu tubuh mereka. "Malam ini, istirahat. Besok, latihan keras dimulai. Dan ingat, kami punya mata di mana-mana." Ada nada ancaman di suaranya, mystery yang membuat bulu kuduk merinding.
Di kamar bersama, delapan gadis berbagi tempat tidur susun. Udara tebal oleh kegembiraan dan ketakutan. Aisha melempar tasnya ke tempat tidur bawah. "Gue capek banget. Audisi ini kayak neraka yang lucu." Sofia tertawa. "Ya, gue hampir patah kaki. Tapi hei, setidaknya gue nggak jatuh seperti cewek Thailand tadi. Kasihan, dia pulang dengan rok terbalik!" Tawa gelap meledak, menyakitkan tapi melegakan.
Ji-eun duduk di tepi tempat tidur, memijat kakinya. "Kita lolos. Tapi ini baru awal. Gue dengar, agensi ini punya rahasia. Peserta hilang tahun lalu." Mata Yuna melebar. "Serius? Gue punya rahasia sendiri, tapi nggak mau cerita sekarang." Lila, yang duduk di sebelah Ji-eun, tersenyum misterius. "Rahasia? Semua orang punya. Yang penting, kita rela apa saja demi debut."
Malam semakin larut. Gadis-gadis mandi bergantian di kamar mandi bersama, air panas yang langka di dorm ini. Ji-eun dan Lila kebetulan masuk bersama, pintu terkunci di belakang mereka. Uap mengepul, membuat udara lembab dan menggoda. Ji-eun melepas bajunya perlahan, tubuhnya yang ramping terpapar—payudara kecil tapi kencang, pinggul yang mengundang. Lila mengikuti, kulitnya halus seperti sutra, mata hitamnya penuh hasrat.
"Mandi bersama? Berani juga lo," kata Lila dengan suara rendah, menggoda. Air mengalir di tubuh mereka, membuat kulit berkilau. Ji-eun mendekat, jari-jarinya menyentuh lengan Lila. "Gue suka tantangan. Lo tampak seperti orang yang tahu cara menikmati... ambisi." Lila tertawa pelan, tawa yang gelap. "Ambisi? Itu kode buat apa, Ji-eun? Lo mau gue cerita gimana gue rela BDSM demi masuk sini?"
Ji-eun menekan tubuhnya ke Lila, dada mereka saling menyentuh, sensasi hangat yang membuat napas terengah. "Cerita. Sambil kita... rileks." Tangan Ji-eun turun ke perut Lila, menyentuh lembut, menggoda. Lila menggigit bibir, matanya menyala. "Gue pernah dengan trainer lama. Dia ikat gue, cambuk pelan. Sakit, tapi nikmat. Lo tahu kan, harga debut mahal." Jari Lila balas menyentuh paha Ji-eun, naik perlahan ke area sensitif.
Mereka saling sentuh erotis, air mandi membasahi segalanya. Ji-eun mengerang pelan saat jari Lila menyusup, membelai klitorisnya dengan gerakan ahli. "Ah... lo jago. Gue rela gangbang kalau perlu, demi lineup." Lila tertawa, suara yang membuat horny. "Gangbang? Gue bayangin lo diikat, dikelilingi eksekutif. Pemerkosaan yang disamarkan sebagai 'kesempatan'." Kata-kata itu menyakitkan, tapi menggoda—suasana penuh godaan, di mana sakit bercampur kenikmatan.
Mereka masturbasi bersama, tangan saling membantu. Ji-eun memejamkan mata, membayangkan adegan gelap: dirinya di atas meja juri, tubuhnya dipaksa, tapi dia menikmati kekuasaan yang datang. "Ya... lebih keras, Lila. Buat gue ingat kenapa gue di sini." Lila menekan lebih dalam, jari-jarinya bergerak ritmis, membuat Ji-eun menggeliat. "Lo beast, Ji-eun. Sexy dan brutal. Ini awal korupsi kita."
Orgasme datang seperti gelombang, tubuh mereka bergetar di bawah air. Tawa gelap Lila bergema. "Lucu ya? Kita mandi untuk bersih, tapi malah kotor." Ji-eun tersenyum, napasnya masih tersengal. "Kotor yang nikmat. Besok, kita lihat siapa yang hilang dulu."
Di luar kamar mandi, gadis-gadis lain tidur, tak tahu bahwa mystery agensi sudah mulai merayap. Seorang trainer lewat di koridor, tersenyum licik—hint bahwa mata mereka memang di mana-mana. Audisi besar baru dimulai, dan harga mahal sudah menanti.
Ji-eun Park, gadis Korea-Amerika berusia 18 tahun dengan kulit putih cerah seperti salju yang tak ternoda, melangkah keluar dari taksi mewahnya. Rambut hitam panjangnya bergoyang lembut, mata sipitnya memancarkan aura manipulatif yang tersembunyi di balik senyum manis. Dia lahir dari keluarga kaya tapi hancur ayahnya pengusaha yang selingkuh, ibunya pecandu pil tidur. Ji-eun tahu, di dunia ini, tubuh adalah senjata terbaik. Dia memakai rok pendek yang menggoda, memperlihatkan paha mulusnya, seolah-olah sudah siap untuk apa pun yang datang. "Ini hari gue," gumamnya dalam hati, sambil memandang kerumunan dengan tatapan superior.
Di sisi lain, Aisha Kim, 19 tahun, Afrika-Korea dengan kulit gelap yang berkilau seperti cokelat leleh, mendorong tasnya yang lusuh melalui kerumunan. Dia dari latar belakang miskin di pinggiran Seoul, tempat rasisme adalah makanan sehari-hari. Tubuhnya atletis, otot-ototnya terbentuk dari tahun-tahun latihan rap di jalanan. Aisha bukan tipe yang menangis; dia balas dengan kata-kata tajam yang bisa membuat orang tertawa sambil berdarah. "Mimpi ini milik gue, bukan milik cewek putih kaya itu," pikirnya, mata cokelatnya menyipit saat melihat Ji-eun.
Mereka bertemu di antrean pendaftaran, di mana udara panas oleh napas ribuan gadis. Ji-eun tersenggol bahu Aisha secara tak sengaja—orang bilang tak sengaja, tapi Ji-eun selalu punya rencana. "Maaf," kata Ji-eun dengan suara manis, tapi matanya menelanjangi Aisha dari atas ke bawah, seolah-olah menilai potensi saingan. Aisha berbalik, alisnya naik. "Maaf? Lo pikir gue buta? Lo sengaja, ya? Biar gue marah dan gagal audisi?" Jawab Aisha dengan nada kasar, tapi ada senyum kecil di sudut bibirnya chemistry tegang langsung menyala, seperti api yang siap membakar segalanya.
Ji-eun tertawa pelan, suara yang menggoda seperti bisikan di telinga. "Mungkin. Atau mungkin gue cuma pengen lihat reaksi lo. Lo tampak... beastly. Cocok buat grup ini." Aisha mendengus, tapi tak bisa menahan senyum. "Beastly? Lo maksud, gue hitam jadi gue liar? Rasis banget, tapi gue suka. Gue Aisha. Lo?" Ji-eun mengulurkan tangan, jari-jarinya menyentuh lengan Aisha sedikit terlalu lama. "Ji-eun. Kita bakal jadi teman... atau musuh. Tergantung siapa yang debut duluan."
Audisi dimulai di aula besar, di mana cahaya sorot menyilaukan mata. Para juri—eksekutif agensi yang berpakaian rapi tapi mata mereka lapar seperti serigala—duduk di depan. Mereka adalah pria-pria berusia 40-an, dengan senyum palsu yang menyembunyikan niat gelap. "Selamat datang, calon idol!" kata salah satu juri, suaranya bergema. "Hari ini, kalian akan menunjukkan dance dasar. Yang gagal, pulang. Yang lolos... siap bayar harganya."
Kompetisi dimulai dengan nada lucu yang gelap. Gadis pertama, seorang remaja dari Thailand, mencoba dance routine sederhana tapi tersandung sepatunya sendiri. Dia jatuh telentang, roknya tersingkap memperlihatkan celana dalam pink. Kerumunan tertawa, tapi tawa itu pahit—seolah-olah mereka senang melihat kegagalan orang lain karena itu berarti satu saingan kurang. "Haha, lihat tuh! Kayak ayam kepleset!" bisik seorang gadis di belakang, tapi matanya penuh iri. Juri menggelengkan kepala. "Next! Kamu terlalu clumsy untuk jadi beast sexy."
Lalu giliran Sofia Ramirez, 18 tahun, Latina-Korea dengan kulit sawo matang yang menggoda. Dia energik, tubuhnya bergerak seperti api, tapi saat jump, dia mendarat salah dan memeluk kakinya kesakitan. "Ay caramba! Ini pasti kutukan dari mantan gue!" katanya sambil tertawa, meski air mata menggenang. Kerumunan tertawa lagi, dark comedy yang menyakitkan—mereka tahu, cedera berarti akhir mimpi. Sofia bangkit, tapi juri acuh. "Bagus humornya, tapi kami butuh tubuh sempurna. Next!"
Mia Thompson, 19 tahun, Kaukasia-Korea dengan kulit putih pucat seperti hantu, tampil selanjutnya. Dia polos, vokalnya indah, tapi dance-nya kaku. Saat berputar, dia menabrak peserta lain, membuat keduanya jatuh berguling. "Maaf! Aku nggak sengaja!" jerit Mia, wajahnya merah. Peserta yang ditabrak, seorang gadis Jepang, bangkit dengan marah. "Lo pikir ini komedi? Gue bisa tuntut lo!" Tapi juri tertawa. "Lucu sekali! Kalian berdua lolos ronde ini. Yang lain, belajar dari kegagalan mereka."
Yuna Lee, 20 tahun, Jepang-Korea dengan kulit cerah dan wajah imut seperti boneka, menari dengan sempurna. Tapi di akhir, dia tersenyum terlalu lebar, seolah-olah menyembunyikan rahasia gelap dari masa lalunya—mystery yang belum terungkap. Zara Patel, 18 tahun, India-Korea dengan kulit cokelat hangat, mengikuti dengan strategi cerdas, tapi salah paham instruksi dan berakhir dengan pose vulgar yang tak disengaja. "Ups, gue pikir beast berarti liar seperti itu!" katanya, membuat ruangan meledak tawa gelap. Elena Novak, 19 tahun, Eropa Timur-Korea dengan kulit putih olive, tampil pemberontak, rap-nya tajam, tapi mata juri melirik tubuhnya dengan lapar.
Lila Chen, 20 tahun, Cina-Korea dengan kulit kuning langsat yang misterius, adalah yang terakhir dari delapan. Dia cantik seperti dewi, gerakannya sensual, seolah-olah sudah tahu rahasia agensi. Saat selesai, dia melirik Ji-eun, dan ada kilatan pengertian—seperti dua predator yang saling mengenal.
Audisi berakhir sore hari. Dari seribu, hanya lima ratus yang lolos, termasuk delapan gadis utama. Mereka dipindah ke dormitori agensi, kamar-kamar sempit yang berbau desinfektan dan mimpi rusak. "Selamat, ladies," kata seorang trainer pria, matanya menyapu tubuh mereka. "Malam ini, istirahat. Besok, latihan keras dimulai. Dan ingat, kami punya mata di mana-mana." Ada nada ancaman di suaranya, mystery yang membuat bulu kuduk merinding.
Di kamar bersama, delapan gadis berbagi tempat tidur susun. Udara tebal oleh kegembiraan dan ketakutan. Aisha melempar tasnya ke tempat tidur bawah. "Gue capek banget. Audisi ini kayak neraka yang lucu." Sofia tertawa. "Ya, gue hampir patah kaki. Tapi hei, setidaknya gue nggak jatuh seperti cewek Thailand tadi. Kasihan, dia pulang dengan rok terbalik!" Tawa gelap meledak, menyakitkan tapi melegakan.
Ji-eun duduk di tepi tempat tidur, memijat kakinya. "Kita lolos. Tapi ini baru awal. Gue dengar, agensi ini punya rahasia. Peserta hilang tahun lalu." Mata Yuna melebar. "Serius? Gue punya rahasia sendiri, tapi nggak mau cerita sekarang." Lila, yang duduk di sebelah Ji-eun, tersenyum misterius. "Rahasia? Semua orang punya. Yang penting, kita rela apa saja demi debut."
Malam semakin larut. Gadis-gadis mandi bergantian di kamar mandi bersama, air panas yang langka di dorm ini. Ji-eun dan Lila kebetulan masuk bersama, pintu terkunci di belakang mereka. Uap mengepul, membuat udara lembab dan menggoda. Ji-eun melepas bajunya perlahan, tubuhnya yang ramping terpapar—payudara kecil tapi kencang, pinggul yang mengundang. Lila mengikuti, kulitnya halus seperti sutra, mata hitamnya penuh hasrat.
"Mandi bersama? Berani juga lo," kata Lila dengan suara rendah, menggoda. Air mengalir di tubuh mereka, membuat kulit berkilau. Ji-eun mendekat, jari-jarinya menyentuh lengan Lila. "Gue suka tantangan. Lo tampak seperti orang yang tahu cara menikmati... ambisi." Lila tertawa pelan, tawa yang gelap. "Ambisi? Itu kode buat apa, Ji-eun? Lo mau gue cerita gimana gue rela BDSM demi masuk sini?"
Ji-eun menekan tubuhnya ke Lila, dada mereka saling menyentuh, sensasi hangat yang membuat napas terengah. "Cerita. Sambil kita... rileks." Tangan Ji-eun turun ke perut Lila, menyentuh lembut, menggoda. Lila menggigit bibir, matanya menyala. "Gue pernah dengan trainer lama. Dia ikat gue, cambuk pelan. Sakit, tapi nikmat. Lo tahu kan, harga debut mahal." Jari Lila balas menyentuh paha Ji-eun, naik perlahan ke area sensitif.
Mereka saling sentuh erotis, air mandi membasahi segalanya. Ji-eun mengerang pelan saat jari Lila menyusup, membelai klitorisnya dengan gerakan ahli. "Ah... lo jago. Gue rela gangbang kalau perlu, demi lineup." Lila tertawa, suara yang membuat horny. "Gangbang? Gue bayangin lo diikat, dikelilingi eksekutif. Pemerkosaan yang disamarkan sebagai 'kesempatan'." Kata-kata itu menyakitkan, tapi menggoda—suasana penuh godaan, di mana sakit bercampur kenikmatan.
Mereka masturbasi bersama, tangan saling membantu. Ji-eun memejamkan mata, membayangkan adegan gelap: dirinya di atas meja juri, tubuhnya dipaksa, tapi dia menikmati kekuasaan yang datang. "Ya... lebih keras, Lila. Buat gue ingat kenapa gue di sini." Lila menekan lebih dalam, jari-jarinya bergerak ritmis, membuat Ji-eun menggeliat. "Lo beast, Ji-eun. Sexy dan brutal. Ini awal korupsi kita."
Orgasme datang seperti gelombang, tubuh mereka bergetar di bawah air. Tawa gelap Lila bergema. "Lucu ya? Kita mandi untuk bersih, tapi malah kotor." Ji-eun tersenyum, napasnya masih tersengal. "Kotor yang nikmat. Besok, kita lihat siapa yang hilang dulu."
Di luar kamar mandi, gadis-gadis lain tidur, tak tahu bahwa mystery agensi sudah mulai merayap. Seorang trainer lewat di koridor, tersenyum licik—hint bahwa mata mereka memang di mana-mana. Audisi besar baru dimulai, dan harga mahal sudah menanti.
Other Stories
Mak Comblang Jatuh Cinta
“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...
Kelabu
Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...
Wajah Tak Dikenal
Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...
Konselor
Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...
Don't Touch Me
Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...